Wisnu yang tidak fokus menyetir, dimana semalaman Theo bicara kejujuran jika ia sudah menikahi Arini, dari awal hingga akhir ia menjelaskan. Dan lebih gilanya lagi, mengetahui keadaan Arini yang terpuruk adiknya yang berada di rumah sakit karena sakit kanker.
[ Tolong atur dan Jaga Ardan selama di penang, gue mau rayain pernikahan ini, baik itu kolega, keluarga tahu. Nama Arini saat ini adalah Arini Andara, setelah semua selesai gue akan susul ke penang secepat mungkin, Arini juga ga punya paspor ]
Deg ..
Jantung Wisnu berdebar, ia kalah cepat dari Theo. Tapi mungkin perasaan yang di pendam itu memang sudah seharusnya ia kubur sejak lama, tidak sangka jika Theo akan menikahi Arini.
Menyetir langkah ke rumah sakit, dan setelah sampai ia menuju bagian administrasi. Menanyakan keberadaan bangsal 2 dengan nama pasien Ardan Darmanto. Namun mata Wisnu menoleh pada wanita yang memakai baju dress kembang coklat dengan syal di lehernya.
'Arini ..'
"Pasien berada dilantai 3, room vip no 4." ujar suster.
Wisnu pun segera mendekati Arini, dimana Arini pun ikut sadar kala kedatangannya.
'Wisnu .. Ka mu ..?'
"Bagaimana dengan keadaan adik mu?"
"Dia sudah dipindahkan ke ruangan terbaik, ini seperti mimpi. Dan Theo bilang .." terdiam Arini.
"Sudah memanggil nama. Selamat atas pernikahan kamu! Dia pria yang baik, baru kali ini melihat Theo bertingkah laku beda, pantas sering senyum sendiri, sering pergi tanpa asisten. Jadi alasan nya sudah jelas .."
"Itu .."
"Soal Ardan, dia akan di pindah ke penang. Rumah sakit ini juga milik Theo, tetapi peralatan untuk kanker kurang canggih. Jangan cemas soal Ardan, dia pasti sembuh."
"Wisnu bisakah aku juga ikut dampingi Ardan?"
"Bisa .. Bisa untuk jelasin ke Ardan jika nanti yang temani dia adalah Om Wisnu?" senyum, namun Arini terdiam.
"Theo sedang mempersiapkan suatu hal, kamu bisa jenguk dia saat semua urusan selesai. Apalagi setelah tahu status Arini Andara saat ini, akan lebih canggung bicara seperti ini."
Wisnu pun melangkah ke ruangan Ardan, dimana Arini saat ini mematung tak biasa. Dan keadaan yang amat sulit, membuat Arini bingung kenapa Wisnu bicara seperti ini. Dan tak lama langkah Wisnu yang sudah masuk lift, pintu tertutup. Mata Arini terkejut sebuah tangan mungil yang melingkar begitu saja.
"Aunty .."
"Aunty .. Arini jangan sedih lagi ya!"
Arini menoleh, dimana Theo datang bersama anak anak.
"Mina .. Dio .. Panggil apa tadi?" Arini berjongkok.
"Aunty .. Aunty Arini .. "
"Mama .. Panggil mama bisa sayang?!" tegas Theo, membuat mata Arini membulat.
"Theo .. Ini .. Ah .. Jangan terlalu di paksakan?" bisiknya, saat Theo ikut berjongkok.
"Ma-ma .. Apa Dady sudah menikah dengan Aunty Arini? Kenapa kami tidak tahu?" tanya Mina.
"Segera meresmikan, seperti Dady yang bilang tadi. Ayo .."
Aunty Mama .. ( Peluknya, kedua bocah tersebut membuat Arini tersenyum )
Theo sedikit senang, sebab wajah Arini yang kali ini tersenyum tanpa beban, membuat nya ikut lega. Lagi pula entah sejak kapan, ia bisa menyukai Arini, sejak pernikahan itu terjadi bayangan, mimpi tentang Arini selalu ia pikirkan yang membuatnya gila.
"Ayo kita ke ruangan kakak kalian!"
"Hm .." Mina dan Dio mengangguk.
Arini tak bisa menahan air mata bahagia, apalagi Mina merangkul tangannya, dan Dio merangkul tangan sebelah kirinya, sementara satu lagi berpegang erat pada tangan Theo, layaknya keluarga cemara.
'Terimakasih atas semua ini.' bisik Arini, yang membuat Theo senyum, menyentuh hidung Arini dengan telunjuk.
Arini yang di buat perlakuan manis itu, membuat wajahnya semu merah jambu. Sedikit salting, karena perhatian Theo membuatnya salah tingkah. Apalagi Theo entah sejak kapan ia jadi senang dan ingin dekat dengan Arini.
"Dady .. Aunty Mama .. Kenapa senyum senyum saling liat liat sih, kan kita gandengan deket!" Dio.
"Tahu deh, orang dewasa aneh. Emang ada yang lucu naik lift kaya gini?" sambar Mina.
Theo dan Arini, lupa kedua anak yang ia gandeng. Sehingga wajah mereka menahan malu di sindir anak anak saat di lift.
Sampailah di ruangan baru Ardan.
Memang sudah ada Wisnu disana, Theo pun berbicara serius pada Wisnu, yang membuat Arini mendekati Ardan nampak lemas dan bingung.
"Ardan .. Sayang! Gimana hari ini?"
"Kakak .. Ar- dan mau ke - ma - na?"
"Ardan akan pindah ke rumah sakit di penang, Ardan nurut ya sama om Wisnu. Kakak akan menyusul, mengurus paspor dan segalanya untuk berada di dekat Ardan."
Hm ..
Mata Ardan tertuju pada dua anak kecil.
"Kenalin ini namanya Mina .. Dan satu lagi Dio .., keluarga baru kita!"
Ardan menoleh pada wajah kakaknya, senyum dan memegang erat tanpa sepatah katapun.
Hai kak Ardan .. Aku adik Mina.
Hai kak Ardan .. Cepet sembuh ya! Aku adik Dio.
Mata Arini begitu tak tahan menangis lagi, dimana Ardan juga ikut menangis terharu.
"Terima-kasih adik kecil, apa kita bisa bermain se-telah kakak ke-luar dari ru-mah sa-kit ini?"
"Pasti .."
Tak lupa Ardan dikenalkan pada Theo, serta Wisnu yang kelak menjaga, mengurus Ardan selama di penang. Bahkan untuk pertama kalinya Arini gugup, sedikit frustasi karena ia tidak bisa ikut.
"Saya akan mengurus semuanya mungkin besok pagi Ardan pindah ke penang, semoga persiapan kalian lancar! Dan jangan khawatir soal Ardan!"
"Wisnu tolong kabari setiap detik soal Ardan."
"Pasti .. Video, kegiatan apapun saya akan kirimkan nyonya Arini." pamit Wisnu.
Eh .. Terdiam Arini saat itu akan panggilan barunya.
Beberapa jam di rumah sakit menemani Ardan. Jam besuk pun habis, maka semua berada di luar. Ardan yang terlihat senyum bahagia, membuat wajah Arini senang dan berterima kasih pada Theo.
"Ini pertama kalinya Ardan senyum, merasa senang. Terimakasih atas semua ini Theo."
"Ini sudah impian ku, membahagiakan orang yang berada di sisiku dengan cinta ketulusan, semoga kamu juga menyusul menyadarinya aku ada disini!" Theo menunjuk hati Arini.
Deg .. ( Lagi lagi Arini dibuat diam seribu basa. )
Hingga sampailah semua ada di mansion, anak anak yang tertidur. Membuat Theo menggendong bergantian membawa anak anak. Mereka seharian tidur, membuat Arini membersihkan Dio dan Mina yang sudah pulas.
Arini juga nampak bingung, sebab bibi pelayan dan supir di sana ikut menunduk tak seperti biasa, seolah canggung adaptasi kembali.
"Anak anak sudah tidur." kode Theo.
"Hah ..?"
"Tidur di kamarku, maksudku kamar kita! Semua penghuni sudah tahu kita. Dan piyama dan pakaian yang aku beli kemarin, semoga cukup untukmu!"
Hah .. Arini seolah oleng, atas perkataan Theo saat ini.
"A-aku .." gugup.
"Ayo kita ke kamar sebelah, disini kamar anak anak." meraih pinggang Arini, dan membawanya masuk ke kamar kilat.
Ck ..
"Theo .."
Arini yang sudah di dalam kamar, matanya menutup ketakutan, apakah malam ini ia akan dilahap oleh Theo seperti malam malam kemarin, pikirannya sudah kemana mana. Apalagi Theo melewatinya sudah membuka celana di depannya dengan santai.
Ah ..
"Kenapa ..?" tanya Theo, saat Arini berteriak.
"Jangan buka celana sembarang!"
"Hah ..?" terkejut Theo saat Arini menutupi wajah.
BERSAMBUNG ...
💥 Happy Reading All .. 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fadly
ajiiib
2023-11-20
2
cinta ariani
ya ampun tipis tipis bikin salting.lagi tor lagi belum kena unboxing jadi nunggu nih aku sampe kembali baca di awal seseru itu🤭
2023-11-19
1
nyai ajeng
maraton baca ulang tapi sungguh seru endingnya ajaib napa arini malu pas teo merosotin celana.emang laki kalau buka celana baju sembarang si
2023-11-19
1