"Hm .. Kami bobo bareng bolehkan?"
"Hmm .. Masuklah anak anak, kalian kenapa belum tidur?" tanya Theo.
"Daddy habis mandi ya? Malam malam?" tanya Dio.
"Hm .. Daddy habis mencret, maaf ya lama bukain pintunya. Dan mama .. Juga pasti ketiduran."
Deg .. Arini menoleh ingin tertawa namun ditahan.
Dan malam itu mereka tidur bersama, ada anak anak yang membuat Theo menahan dan padam. Arini yang sudah terlelap tidur memeluk anak anak, membuat Theo frustasi karena Arini bisa ketiduran meninggalkan ia menanggung beban.
"Hah .. Dasar anak anak, haruskah ku titip mereka di bulan untuk tidak ganggu." racau Theo, ia keluar berdiri di balkon mencari angin segar.
***
Di rumah sakit penang, pengobatan kanker dimulai. Ardan yang terlihat bahagia, nampak raut wajahnya sangat bercahaya, meski beberapa tubuhnya semakin kurus dan rambutnya rontok parah.
Arini yang memegang tangan adiknya begitu kuning, dan kerangka tangan terlihat membuat sangat sedih. Tapi bisikan Theo membuat Arini yakin jika Ardan akan sembuh.
'Jangan menangis sayang! aku pastikan Ardan akan dirawat dengan baik disini, kamu percayakan padaku!'
Hmm ..
"Ka Kak! Ardan sangat baik kok."
"Iya, Ardan anak baik, kamu pasti bisa melewatinya ya sayang!" mengecup jemari tangan mungil.
Sebab Arini yakin, tubuh sekecil itu menahan beberapa alat dan rasa dari Kemo adalah hal yang menyakitkan, terlihat juga dari tatapan wajah pucat memerah, saat Ardan berteriak tanpa suara.
'Pa nas .. Kak.'
'Sa Kit .. Kak.'
Tangan Arini pun yang menggenggam harus dilepas, kala tubuh mungil itu melemas. Apalagi beberapa dokter memintanya keluar dari ruangan, sebab Ardan dalam penanganan kembali.
"Apa tubuh sekecil itu bisa bertahan dengan alat semua yang menyakitkan dokter?" tatap Arini, kala suster dan dokter yang akan mengecek kondisi pasien.
"Sayang .. Kita percayakan pada dokter! Maaf dokter kami segera keluar." sambar Theo, menarik lembut Arini.
"Saya dan tim medis akan mengupayakan semaksimal mungkin, reaksi kemo akan menyulitkan tapi setelahnya insyallah kita berusaha dan kembali berdoa, semoga pasien bisa melewati semua ini. Kekebalan imun tubuh Pasien sangat lebih baik dari pasien yang saya pernah tangani." jelas dokter, membuat Arini pun keluar.
Dan untuk beberapa jam kemudian, terlihat ketika jam besuk habis. Wisnu yang menjaga anak anak di lantai ground khusus menunggu anak anak seperti playground taman bermain, membuat Arini senang ketika melihat anak anak melihatnya berlarian memeluk.
'Ardan .. Semoga kamu bisa melewatinya, kakak tidak sanggup melihat kamu terbaring terus di rumah sakit, kakak ingin melihat kamu bermain seperti anak pada umumnya.' batin Arini.
"Mama .. Daddy .. Gimana kakak Ardan?"
"Lebih baik, nanti saatnya tiba kalian bisa menjenguk kakak Ardan ya!" Theo.
"Wisnu terimakasih sudah membantu. Ayo ikut, ada hal yang saya harus bahas soal pabrik!" Kembali Theo.
Arini pun menunggu dengan anak anak, bermain bersama dimana Theo dan Wisnu mungkin berbicara serius soal pekerjaan.
Dan waktu pun sudah semakin malam, hari mereka lewati tanpa bisa berdua tenang dengan sang istri. Apalagi sejak semalam Arini sudah tidur duluan, yang membuat Arini kali ini merasa berdosa.
"Sudah bangun sayang? Cup .." wajah Theo yang sudah dekat pada sang istri pagi itu.
"Semalam .. Maaf, kenapa kamu tidak bangunin aku mas ..?"
"Mas .. Adalah kata kata panggilan manis, hah .. Sepertinya memang kita belum bisa honeymoon. Kita pasti akan ada waktu yang tepat, tidak usah dipikirkan. Aku sabar kok!" bisik Theo, yang Arini rasa itu hanya dibibir, bagaimana bisa mata panda suaminya terlihat jelas frustasi.
"Sayang .. Kalian bangun? Hmm .. Maaf .. mama ga dengar." menoleh ketika anak anak sudah duduk di belakangnya.
"Kata daddy kita mau pergi ya mama?" tanya Mina.
"Pergi .." bingung Arini melihat wajah Theo yang aneh.
Ting Nong ..
"Aku lihat dulu siapa yang datang!"
Dan tak lama .. "Anak anak ayo bersiap, lihat siapa yang datang!"
Mina dan Dio pun bergegas keluar, dengan wajah bantal yang membuat mereka tertawa bahagia.
"Paman Robi .. Nenek .. Kakek .." teriak Dio, dan Mina.
"Maaf kami terlambat datang, Theo selamat atas pernikahan kamu. Tante sudah dengar semuanya, bagaimana dua hari ini Tante culik mereka untuk tinggal bersama, rindu kami tak tertahan begitu tahu kabar dari Wisnu, kalian berada disini."
Deg .. Theo senyum melirik Arini, yang wajahnya penuh arti.
"Baik .. Lagi pula, dua hari lagi Theo akan kembali tante, sebab pabrik .."
"Bisa di mengerti."
Dan mereka pun berbincang, apalagi Arini yang dikenalkan pada Tante Meri, mereka datang melihat keponakan dan cucu mereka. Sebab mereka adalah keluarga mendiang istri kak Yusman, yakni kakak dari Theo yang meninggal kan Mina dan Dio kini tinggal bersamanya.
Arini bahkan melihat foto keluarga, dimana Theo dan mendiang kakaknya benar benar mirip, pantas saja anak anak memanggilnya Daddy.
Kembali seperti biasa, setelah semua pamit. Arini dan Theo mengantar sampai loby, di hotel tersebut mereka kini tinggal berdua saja. Apalagi ini baru pukul sebelas siang, yang membuat Arini gugup dengan ketar ketir.
"Sayang kamu lapar?" tanya Theo, yang merangkul Arini menuju lift.
"Hm .. Sedikit."
"Baik .. Aku pesankan makanan, aku minta pihak hotel mengantar lengkap makanan dan buah."
Arini hanya mengangguk, bahkan sepanjang jalan tangan Arini terus saja dikecup, apakah mungkin Theo menantikan ini semua. Tapi wajar, sebab ia sudah berstatus resmi.
Dan sampailah di kamar, Arini yang membuka sweater tiba saja di peluk dengan terasa yang janggal, dimana sesuatu benar benar terasa menempel meski dibelakangnya.
"Mas .."
"Hmm .."
"Aku .. mm .. Bagaimana jika pelayan makan datang?"
Cup .. Tidak tahan, mungkin ini yang di tunggu Theo, sebab gemetar itu sudah menjulur ke darah Arini saat ini. Apalagi matanya sudah tak bisa berkata kata saat Theo sudah mengacak dirinya yang berdiri hingga lemas terasa.
Arini segera memundurkan tubuhnya takut ketika Theo mendekatinya dengan posisinya kini duduk, bahkan mata pria itu sudah melebarkan kakinya.
Arini ketakutan setengah mati ketika melihat Theo, yang sudah mulai menanggalkan setiap pakaiannya dan melemparnya ke sembarang arah.
Dia mendekati Arini yang sudah tidak bisa bergerak lagi. Dengan segera dia meraih dagu wanita itu dan mendekatkan wajahnya.
Cukup lama Theo menatap wajah istri amat dekat.
Theo melahap bi-bir itu dengan brutal, meskipun beberapa kali Arini menggeser lu-matan itu, namun Theo mengabaikannya. Tangan Arini pun tak henti menahan da-da Theo untuk melepas pagutan mereka.
"Aakkhh!!!" Arini memekik karena rasa sakit dan perih menghantam inti tubuhnya. Dia mencengkram sprei dengan kuat hingga kukunya berubah memutih.
"Sakiit!!! Hentikan!!" pinta Arini.
Ia merintih kesakitan karena ulah Theo yang semakin lama lembut dan kini tiada kelembutan menjamah tubuhnya. Pria itu dengan brutal mendorong inti tubuhnya yang sangat sakit keras, mungkin sudah di ujung tanduk, hanya bisa menahan adalah cara pengabdian Arini, terlebih pertamakalinya Arini merasakan pasangan suami istri harus melakukan semua ini.
Ck ..
"Apa tadi aku menyiksamu sayang?"
"Entahlah .. Kamu terlalu brutal mas, aku ingin berdiri untuk membersihkan sangat tak sanggup."
"Cup .. Maaf! Aku akan membantumu! Terimakasih karena sudah menjaga semua ini untuk suamimu, mulai nanti kita lakukan, kamu jangan tegang. Sebab itu akan membuatmu semakin sakit." bisik Theo, mata Arini penuh tanya.
BERSAMBUNG ..
💥 Happy Reading All 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
obiz
jomblo sad baca part ini
2023-11-27
1
Miss GH
Hehehe .. namanya juga pria
2023-11-24
0
nyai ajeng
wah haaha sudah direncakan ya
2023-11-24
1