Dua pekan sudah berlalu, Theo yang hari ini tidak mempunyai kesibukan, bermaksud ingin mengajak anak anak ke taman safari, akan tetapi nampak acuh ketika Arini sibuk di dapur. Bahkan melihat beberapa makanan tersedia seluruhnya disiapkan, membuat dirinya bertanya.
"Arini .. Bisa ikut aku menjaga anak anak nanti?"
"Maaf Theo, sepertinya setelah ini saya harus pergi, tapi sebelum ashar tiba saya pastikan semua sudah beres, saya minta maaf!"
"Dady .. Ayo kita pergi! Kita bertiga aja, aku enggak mau ada yang lain." Mina menarik baju Theo.
"Kakak kenapa? Mbak ikut aja, jangan dengerin kakak!" sambar Dio, yang membuat Arini dan Theo mematung.
Nampak Arini terlihat senyum sebab ia sadar diri hanya pengasuh, dimana Theo sendiri yakin akan sulit menjaga anak anak, namun permintaan Mina membuatnya menurut.
"Oke .. Pastikan kerjaan semua beres, seperti biasa! Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, gesek saja kartu yang aku beri. Jangan sungkan untuk memakainya." tegas Theo, lalu mengambil satu box keranjang berwarna coklat yang sudah Arini siapkan.
'Apa maksudnya, kenapa dia jadi baik begini. Mengingatkan kartu hitam tetap padaku? Apa tadi aku ga salah dengarkan?' batin Arini.
Dan Arini yang melamun kembali sadar, mengejar langkah Theo.
"Tunggu pak Theo! Satu tas ini adalah keperluan Dio dan Mina, tidak ada satupun yang saya lupakan ini pasti akan dibutuhkan nanti."
Theo mengangguk tanpa ia cek dahulu, hingga nampak lah mereka semua pergi. Dan saat itu Arini pun melepas celemek nya, dimana pikirannya benar benar stress keadaan Ardan yang tak kunjung sembuh.
Tidak butuh waktu lama, beberapa jam kemudian Arini sudah ada di rumah sakit setia kasih, dimana saat ini ia menunggu dr Ridwan yang sedang mengecek pasien lain. Apalagi kondisi Ardan baru saja mendapat obat bius, yang berlanjut kemo beberapa jam lagi.
Dan saat Dr Ridwan keluar dari ruang prakteknya, ia pun melihat Arini yang berdiri dengan wajah sedih.
"Dokter .. Saya ingin berbicara sesuatu!"
"Baik .. Silahkan masuk Arini!"
Beberapa saat pun terdiam, Arini bahkan dengan berat hati ia meminta dokter memberi saran atau menghentikan semuanya.
"Sampai berapa lama proses Kemo dokter? Ardan masih saja semakin lemas, saya takut. Saya takut semua gagal sia sia saja! Saya merasa kemo tidak berpengaruh pada Ardan."
Dokter terdiam, ia melepas kacamatanya dan menatap lekat pada keluarga pasiennya saat ini.
"Apa yang kamu pikirkan Arini, kemo pada umumnya hanyalah Menghentikan atau memperlambat pertumbuhan dan pembelahan sel kanker yang tumbuh dan berkembang dalam tubuh penderita. Obat-obatan dari kemoterapi akan mengalir ke dalam aliran darah dan menyerang sel kanker yang sedang tumbuh atau merusak bagian pusat kendali sel. Ardan baru kemo 5x, dan kamu yakin semua tidak ada hasilnya? Ingin berhenti di tengah jalan?"
"Saya yakin semua sia sia, saya minta maaf! andai ayah dan ibu masih ada... Ah .." tidak tahan untuk menangis.
"Saya benar benar sulit, ingin Ardan tetap di rumah sakit untuk di rawat, tapi saya tidak mampu. Saya ingin akhiri Ardan berobat jalan saja, sebab saya sudah tidak sanggup!"
Hiks ..
Tangisan Arini pun pecah, dimana dokter iba dan ikut sesak.
Mereka berbincang dimana Arini harus bertahan karena pengobatan pasien yang sudah di tengah jalan, tapi Arini tak kuasa ia benar benar kesulitan biaya yang tidak mungkin ia berhutang budi pada orang lain lagi apalagi memakai atm milik Theo, hanya karena ia mengganti rugi atas pernikahan yang terjadi.
'Maafkan kakak Dek! Kakak harus hentikan semua pengobatan ini, tapi kakak janji akan selalu ada di sisi kamu!' batin Arini, yang kali ini sudah di ruangan Ardan, memegang tangan mungil yang masih lemas saat itu.
Tak lama mata Ardan si tangan mungil itu tahu ketika kakaknya sedang kesulitan, hatinya tak bisa membohongi jika keadaan wajah sang kakak benar bener rapuh.
Mata Ardan pun menetes, ia membuka mata sambil bicara terbata bata yang kesulitan karena beberapa selang infus. 'Maa-fin a-dek kak! A-dek ba-ngga sa-ma ka-kak! Ka-kak ja-ngan se-dih ya!'
Mata Arini yang sadar ucapan Ardan, ia ikut menangis dan menciumi telapak tangan Ardan, mengusap kepala rambutnya. "Kakak bangga sama kamu dek! Bertahan untuk kakak, kita sama sama lagi tinggal ya! tolong bertahan jangan tinggalin kakak! Cup .." lirihnya membuat Ardan senyum menahan tangis.
Sambil menatap langit langit, andai kedua orangtuanya masih ada, mungkin Ardan bisa diselamatkan.
***
Sementara di tempat lain :
Theo yang mengajak ke taman safari ia tidak jadi karena sulit menggandeng dua bocah rempong yang berlari kesana kemari, alhasil mengajak ke taman bermain di luar out door. Namun nampak dari Mina dan Dio tidak anteng seperti anak lain pada umumnya. Kerap bertengkar, kerap berlarian yang membuat Theo kehilangan kesabaran dan sebentar sebentar selalu berteriak tak tahan, sebab hampir mereka tertabrak sepeda motor yang membuat darah tingginya kumat.
Ayo .. Kak Mina jahat deh, Dio ga suka main itu. Plug .. ( Dio melempar makanan yang membuat Mina terkena minuman berwarna. )
Adek .. Kak Mina balas ya! Pugh .. Makanan kue berwarna krim biru pun mengenai wajah Dio, yang mana kue itu terkena tablet Theo yang sedang ikut duduk, dan Theo geram kembali menoleh dengan wajah seram.
"Kalian berdua, apa tidak ada mainan lagi selain membuang buang makanan ..?" keras Theo, membuat kedua anak itu menunduk.
"Dady .. Ma-af!"
"Dady .. Ma-af! Tapi tadi kita lari larian, Dady teriak juga karena ga boleh, kita duduk main ini kenapa juga enggak boleh. Ah .. Dady ga asiik .."
Theo yang sedari tadi hilang kesabaran, ia segera melepas baju Dio untuk berganti pakaian, dan meminta Mina mengganti di mobil dimana ia mengambil tissue basah untuk membersihkan. Theo pun jadi ingat kata kata pengasuh, dimana semua yang dibutuhkan semuanya ada.
"Oke .. Kita pulang sekarang!" teriak Theo, mengemasi semuanya.
Enggak Dady .. Kita baru sebentar?! Rengek bocah tersebut.
"Dady marah marah terus, ga kaya mbak Arini sabar, lembut sama kita. Ga pernah marah .. Dady jahat .. !!" teriak Dio pergi.
Mina ikut lari mengejar Dio sampai jaraknya mereka lupa untuk kembali, sehingga Dio dan Mina .. Ia pun kesal, yang nyatanya mereka nyasar.
Dio ..
Mina ..
"Dio .. Mina .. Kembali nak! Kalian jangan lari begitu saja!"
Theo yang berusaha mengejar, meninggalkan barang barang dibawah rerumputan, ia segera menelpon Wisnu, sebab kehilangan jejak Mina dan Dio yang begitu cepat berlari, bahkan tak ditemukan.
Argh .. ( Frustasi Theo. )
BERSAMBUNG ..
💥 Happy Reading All ..💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Turisa
jelas banget ini penjelasan medisnya
2023-11-27
1
nyai ajeng
dari sini teo udah kasih nafkah tanpa banyak tanya loyal juga dia
2023-11-19
0
Meriam
sumpah kesel abis loh lagi serius baca iklannya banyak bener😏
2023-11-18
2