Benar saja, pernikahan yang berawal tamu undangan sang mantan. Membuat mereka berdua diam seribu basa di dalam mobil, apalagi Arini masih syok atas apa yang terjadi begitu mendadak. Theo masih menunduk kepalanya di setir mobil, lalu menyalakan mesin mobil.
"Apa ini sah, pernikahan ini begitu .. Aneh."
"Hm .. Ini memang asing, apalagi dia sangat berarti. Untuk saat ini dia sudah tidak penting, aku yang bodoh. Ah .. Untuk pernikahan ini anggap saja memang hadiah, tenang saja aku tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuan. Tapi cepat atau lambat aku akan mengumumkan dan meresmikan pernikahan ini harus dihadapi. Maaf sudah melibatkan masalahku ini. Tugas ku adalah anak anak, sebab dia adalah hal tersulit menerima apalagi bicara kita menikah malam ini. Dan jika semua keadaan tidak baik, semakin asing dalam tiga bulan, kita bercerai dan aku berikan kerugian padamu atas kekacauan ini!"
Deg ..
Arini yang sudah tidak bisa berkata kata lagi, ia sedih entah harus bahagia atau bagaimana, sebab benar benar dirinya merasa pernikahan ini tidak sakral. Tidak ada keluarga yang datang, bahkan hanya wali bayaran, sudah jelas jika pernikahan tadi itu resmi dan terdaftar detik itu juga.
'Apa kekuatan orang kaya sekeren ini, dalam hitungan detik karena uang berbicara semuanya berjalan.' batin Arini.
"Kau ingin aku antar pulang atau bagaimana?"
"Saya ingin anda turunkan di halte dekat sekolah Dio dan Mina. Tapi, saya ingin berganti baju dulu. Saya ingin sendiri tuan! Anda juga pasti begitu terkejut, karena menikahi wanita yang hanya seorang pengasuh."
Deg ..
Theo pun menurut tak mampu untuk berdebat malam ini, sebab pikirannya juga saat ini kacau, yang mana saat itu membiarkan Arini benar benar turun di tempat yang di inginkan. Dimana sempat Theo keluar mobil, karena Arini berganti pakaian formal yang ia kenakan sebelum ke butik.
"Kau yakin ingin turun disini? Tidak ingin saya antar. Bagaimanapun .."
"Saya sudah memesan ojek pak. Keadaan sama sama syok, saya rasa anda juga perlu pulang menemani Dio dan Mina."
"Baiklah, hati hati. Kembali besok seperti biasa."
Mobil pun pergi, setelah ojek online Arini datang. Benar benar bukan pengantin, dimana setelah acara mereka resmi jadi pasangan sah. Mereka akan sama sama kembali asing, melakukan kegiatan semestinya.
"Hah .. Apa ini? Kenapa ujian ini semakin rumit." lirihnya yang memakai helm, menuju suatu tempat.
***
Esok harinya, Arini mengambil cuti, dan di izinkan Theo karena mungkin hanya itu yang harus mereka lakukan beberapa saat untuk kembali tenang.
Arini juga benar benar ada rasa bahagia, ketika ia bisa menjaga sang adik di rumah sakit 24 jam penuh, dimana ia bisa pulang sebentar membuat kue yang biasa ia titipkan, dan kembali menemani Ardan dijam besuk habis.
Akan tetapi hatinya remuk, ketika salah satu perawat mendatangani Arini.
"Suster .. Keadaan adik saya, bagaimana apa masih belum ada perubahan untuk dia bisa berdiri, dia sudah kemo 3 x, akan tetapi kenapa masih lemas terus, terbaring terus di sana."
"Maafkan saya Nona, kondisi pasien setelah kemo berbeda beda, dan perlu membutuhkan kesabaran. Oh .. Iya saya kemari untuk menyuntikan imun pasien, sekaligus memberikan ini!"
Arini menerima selembar kertas, dimana masih lekat menatap Ardan yang kali ini di suntik imun, cairan infus pun diganti membuat Arini lemas duduk ketika melihat sebuah kertas tagihan.
Deg ..
"Apa deposit 50 juta lagi, untuk satu bulan sekaligus biaya Kemo."
Arini pun keluar dari ruangan Ardan, dimana kali ini nafasnya sangat lambat jantungnya berdetak dan di pukul pukul oleh tangannya sendiri, jika ia tidak membayar dengan batas 3 hari, artinya pengobatan Ardan serta pengobatan Kemo di cabut, yang mana kali ini Arini menuju ruangan dokter Ridwan.
"Dr Ridwan, saya mohon bantu kali ini!"
"Saya bukan pemilik rumah sakit ini Arini, saya sudah meminta keringanan biaya satu bulan, dimana kemo dua kali dalam seminggu, pengobatan dan lainnya sudah di cover. Bahkan selama satu bulan Ardan di rawat akan dijamin. Meski kemungkinan sembuh 50%, tapi kanker ganas dapat di lumpuhkan. Kami belum bisa operasi Ardan karena kondisi Imun. Maafkan saya, saya hanya bisa bantu pengobatan lain. Tapi jika ingin pengobatan rawat jalan, saya akan gratis kan obat untuk sang pasien, tapi jika kemo dan biaya lain saya minta maaf!"
Arini pun terdiam, lagi lagi pengobatan Ardan harus terhenti di tengah jalan, lalu bagaimana bisa ia melihat sang adik sembuh. Jika kondisi materi benar benar sulit ia dapatkan, maka Arini keluar dari ruangan sang dokter.
Arini mau tidak mau, berusaha pulang ke kontrakan sebentar untuk menarik uang kue, bahkan berganti baju dan mencuci pakaian Ardan yang kotor.
Melihat Ardan yang kali ini sedang istirahat, Arini pulang berjalan kaki, apalagi jam besuk untuk ia menunggu di jam seperti ini hanya boleh di luar.
'Ayah .. Ibu, Arini bingung. Bagaimana Arini bisa melewati ini semua, lalu jika Ardan pulang. Arini akan menyesal, merasa bersalah karena sebagai kakak tidak bisa melindunginya. Kenapa kalian tidak hadir di mimpi ku meski sebentar, setidaknya beri senyuman untuk aku kuat menjalani ini semua.'
Batin Arini yang berkecamuk, melangkah kaki sudah berkilo kilo membuat ia berhenti di tengah warung. Warung 1 .. Warung 2 .. Warung 3 .. Hingga warung terakhir, tak pernah lupa akan senyuman dan sapa yang sopan pada pemilik warung ketika menarik kue yang ia titip. Terkadang kue habis semua, terkadang masih ada sisa, itu ia akan makan sendiri sebagai pengganjal rasa lapar.
Hingga warung ke 5, dimana bu Siti yang berdekatan dengan kontrakannya, yang melihat Arini nampak lelah.
"Arini, gimana kondisi adik kamu?"
"Belum tahu teh, masih perlu di rawat penuh. Tapi, sepertinya Arini harus berobat jalan. Biaya yang membuat Arini harus berhenti, biayanya sangat mahal. Apalagi urus bpjs dalam proses, tetap saja kanker tidak di cover."
"Sabar ya Ar. Kalau kamu kesulitan jagain adik kamu, saat kamu anter pesanan, jangan sungkan sama teteh ya! Kamu banyak berdoa supaya dikasih jalan biar adik kamu sembuh."
"Iya .. Makasih ya teh Siti. Arini masuk dulu!"
"Eh .. Iya tunggu tunggu .. Uang kue kamu nih, hari ini ludes."
Siti memberikan beberapa uang receh pada Arini, yang membuatnya senyum.
"Ya ampun, terimakasih. Aku jadiin bahan kue aja seperti biasa teh, paling aku mau buat lagi hari ini, boleh kan?"
"Eh .. Kamu emang pekerja keras, ya udah nanti teteh siapin dulu ya!"
Arini pun mengangguk, hingga dimana saat ia masuk ke rumah meraih kunci. Seseorang pun memanggil Arini dari belakangnya saat itu juga!!
Mbak Arini ..
Mbak Arini ..
Teriakannya semakin keras, dimana mata Arini pun menoleh, apalagi warung sebelah kepo ikut melihat siapa yang datang.
BERSAMBUNG ...
💥 Happy Reading All .. 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Jenica Vanya
duh sungguh di luar nurul 50jta😅 bahkan uang 500ribu aja q ga punya😂😂😂
2024-04-19
2
Fifid Dwi Ariyani
trussehat
2024-04-05
0
Usi gonzales
sejauh ini baca dari awal bikin nagih.terus up tor sumpah sampe mikir bayangin tiap bab ngena
2023-11-19
0