"Ar-Arini kan, lo beneran Arini teman baik gue?" mode peluk.
"Huhuhu .. A-Amel, gak sangka lo masih anggap gue teman baik gue, di saat .. "
"Lo ngomong apa sih, ya pasti lah gue inget. Elo itu bukan cuma baik, hati lo dan semuanya. Lo mau kemana, kenapa lo nangis kaya gini sih! gimana kita mampir di rumah makan deket sini, meski bukan cafe keren. Tapi gue yakin, kalau warung makannya juga nyaman dan bersih kok."
Arini mengangguk, dimana Amel mengajaknya ke warung makan, tak lupa Amel memesan dua minuman dan mie goreng kegemaran mereka di saat masa masa sekolah, sementara Arini hanya diam duduk menunggu masih dengan pikiran yang beratnya.
Beberapa saat mereka makan karena Amel memintanya untuk mengisi perut dulu, namun nampak terlihat Arini hanya menjawab sekenanya, bahkan senyumnya saja pudar dan berat, dan setelah mereka makan pun barulah Amel menanyakan keadaan Arini yang terlihat berbeda.
"Sebenarnya lo kenapa Arini, loh makanannya enggak abis, sorry gue gak pernah berkabar selama beberapa tahun ini, sebab gue lagi kerja di malaysia."
"Hm .. Ma- malaysia?"
"Iya, semenjak nyokap meninggal gue jadi tulang punggung, bahkan gue enggak lanjut kuliah demi adek adek gue. Terus, loh harus cerita sama gue, kenapa sama lo Arini, kita teman baik kan? Lo percaya gue kan?"
Meski beberapa saat terdiam, Arini bahkan menangis dan Amel memeluk seolah ia membiarkan Arini tenang lebih dulu.
Huhuhu .. Tangis Arini pecah.
"Kalau lo ga sanggup bilang apa masalah berat lo ga usah Ar, ta-tapi seenggaknya beban lo bisa keluar, meski gue ga bisa bantu secara materi."
Sejenak terdiam tenang setelah menangis, Arini pun berkata."Gue ga jauh beda sama lo Amel, dan lebih parahnya lagi Ardan, adek gue kena kanker hati stadium 3, itu yang dokter bilang. Apalagi gue gak sanggup untuk bayar tagihan rumah sakit. Huhuhu .. Kemana gue harus cari uang 35 juta dalam waktu singkat." jelas Arini membuat Amel nanar mata merah, dimana ia juga cukup terkejut.
"A-apa .. Kanker hati? O- operasi ..?"
Amel cukup menenangkan Arini dimana kenyataannya, ia cukup terkejut akan kisah Arini yang ia kenal. Dimana Arini menjelaskan tentang dirinya beberapa tahun ini, yang membuat Amel ikut sedih akan sahabat baiknya itu tanpa ia tahu.
"Gue .. " terdiam Amel, kala suara ponsel Arini berdering.
Dredth ..
"Hallo dokter, a- apa ..?" kagetnya membuat ia meraih tas rajut.
"Amel, gue harus pergi sekarang."
"Gue ikut, tenang aja ya! Gue akan support dan mau jenguk adek lo juga."
Arini dan Amel segera berangkat ke rumah sakit, dimana kali ini hanya itungan puluhan menit. Hal ini membuat Amel masih memerhatikan Arini yang nampak di rumah sakit, bulak balik ke ruangan dokter dan sibuk. Sementara Amel berjam jam ia menunggu Arini, di ruangan bangsal dua, sambil menatap Ardan adiknya Arini yang masih sekecil dan mungil itu, harus menahan rasa sakit.
Dan kini Arini kembali ke ruangan bangsal dimana Ardan masih terbaring lemas, dan Amel tersadar kala Arini sudah mendekat.
"Ar .. Lo yang sabar ya!"
"Gue harus kerja Mel, tapi kalau gue kerja gimana adek gue? lo bisa bantu gue kerjaan gak? Kerja apa aja, yang penting gue bisa kasbon 35 juta buat operasi Ardan."
Deg .. "Hah .. Kasbon?" terdiam Amel, dimana ia sendiri ikut bingung.
"Dokter bilang apa?"
Kemoterapi bisa dilakukan dengan menyuntikkan obat kemo ke pembuluh darah vena yang terdapat di lengan Adik anda Arini. Namun, obat kemo juga bisa diberikan dalam bentuk obat yang harus diminum oleh sang pasien. Biasanya, pengobatan ini dilakukan untuk pasien kanker hati pada stadium yang cukup parah, namun karena operasi perlu tahap, maka deposit sepuluh juta untuk kemoterapi Ardan, kamu dapat remisi untuk mencicil secara bertahap, apalagi keadaan tidak stabil dan naik turun kondisi pasien.
Maka Arini pun menyampaikan semua perkataan dokter tadi, dimana Amel cukup ikut lemas keadaan Arini yang cukup prihatin.
"Gue cukup prihatin keadaan lo, tapi gue bisa pinjemin lo uang 5 juta, minta sama dokter lo buat kemo adik lo. Sisanya kita pikirin ya!"
"Gak Mel, gue .. Tahu lo juga butuh uang itu, lo juga sama tulang punggung keluarga." menolak Arini.
"Gue masih punya tabungan, dan gue ada di sini semingguan, gue bisa balik kerja lagi dan kasbon sama majikan gue. Ta- tapi, gue punya kartu nama bekas majikan gue dulu, hanya aja lo harus kebal sama majikan prianya, orangnya sedikit arogan, percaya sama bocah nakal itu ketimbang pekerjanya. Ta- tapi dia majikan kaya, kalau lo mau coba silahkan aja ngelamar, gue masih simpen kartu namanya kok. Apalagi gue sempet liat history bibi disana, lagi bikin lowongan pengasuh."
"Hah .. Serius pengasuh gaji berapa Mel?"
"Seingat gue belasan juta sih."
"Thank ya Amel, lo emang temen baik. Padahal gue minta tolong pinjem uang ke Bella, Nara dan Lina mereka malah ngomong kasar dan acuh sama gue, ta- tapi lo baik banget. Berita di kartu nama ini juga udah cukup, besok gue bakal ke alamat ini."
"Semoga membantu ya, maafin gue Ar, gue ga bisa bantu banyak, padahal dulu .."
"Ga usah inget yang lama lama, gue seneng karena lo tetap inget gue Mel. Dan kalau udah ada uangnya, gua bakal ganti uang yang lo dah pinjemin ini. Sekali lagi makasih ya Mel."
"Ssst .. Udah jalannya, gue emang kangen banget sama lo Arini, kita best friend dari dulu, ga usah inget temen yang lain yang cuma toxic. Sekarang kita ke ruang admin, biar adek lo bisa mulai Kemo, sisanya kita pikirin lagi ya!" ucapan Amel, membuat Arini penuh syukur, dan tak lupa menatap sebuah kartu nama.
BERSAMBUNG ...
💥 Happy Reading All 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussssbar
2024-04-05
2
Usi gonzales
cukup keren ada keterangan penyakit. setiap masalah ada aja jalan penolong entah dari mana yang diharapkan tidak membantu malah dari tangan lain tak disangka
2023-11-19
2
Fadly
akhirnya ditemuin juga temen care keren tor
2023-11-12
0