"Tuan, tapi saya lakukan kesalahan apa Tuan, saya benar benar tidak mengerti, yang saya tahu saya pernah salah menukar bekal den Dio dan Non Mina. Saya juga lalai dalam membersihkan kamar yang tidak berkali kali. Saya mohon Tuan beri saya kesempatan." cercah Arini yang berlutut memohon.
"Boong Dady, mbak pengasuh suka ngilang enggak ada di sekolah, bahkan aku udah keluar sekolah mbak pengasuh enggak ada loh, dia pasti ga nunggu kita. Pasti main pergi pergi an dan ga niat jagain kita."
Deg ..
Mata Arini yang kini membulat, membuat tamparan dirinya yang lalai kedua kalinya, jadi Dio memahami saat ia tidak ada disekolah ketika menjenguk Ardan di rumah sakit diam diam.
"Betul .. Mbak pengasuh juga kalau masak enggak enak, kita maunya sama Dady aja. Please Dady .. Aja yang anter kita. Ayo suruh mbak pengasuh pergi!" rengek Mina membuat Theo semakin murka saja.
Mata Arini berlinang, mulutnya tak dapat berkata kata lagi untuk kali ini. Dengan begitu Arini pun segera pamit ketika Theo kembali mengusirnya dan meminta Arini malam ini pergi dari mansion tersebut.
"Keluar sekarang juga! Peraturan di awal sudah jelas, jadi saya tidak butuh pengasuh pembohong dan tidak menjaga anak anak dengan benar."
Arini yang melihat Dio dan Mina senyum, dimana memeluk tuan Theo, posisi Theo pun membelakangi Arini, maka Arini pun pamit tanpa mengambil amplop coklat tersebut.
"Baik saya minta maaf karena tidak bisa menjaga amanah, dan saya pamit Tuan, mbak pamit ya anak anak manis."
Langkah Arini pun berat ketika keluar, dimana teriakan Theo kali ini membuat dirinya kaget.
"Amplop itu jangan dilupakan!" teriak Theo, membuat Arini kembali menoleh, dan mengambilnya yang ia pikir akan menahan.
Arini pun segera mengepak pakaian ke dalam tas, ia juga pamit pada bibi Yani, dimana sang bibi memeluk Arini untuk bersabar. "Sabar ya mbak, sebelum sebelumnya juga seperti ini, tapi saya tahu dan yakin mbak Arini itu terbaik, jika masih rejeki pasti mbak akan di panggil!"
"Makasih ya bibi sudah merangkul saya, saya pamit!"
Dan beberapa jam kemudian, Arini yang sudah keluar dari mansion tersebut ada rasa sedih karena ia tidak punya penghasilan tetap, namun ada senangnya karena ia bisa seharian menjaga Ardan di rumah sakit. Tapi bagaimana dengan biaya selanjutnya dan Arini melupakan atm yang masih ia pegang saat Wisnu memberikan tempo lalu.
'Astaga .. Atm ini harus aku kembalikan.'
Arini pun segera kembali ke mansion, dan ia meminta bibi untuk bicara pada pak Theo, jika ia mau menemuinya karena ada hal yang penting. Dan hal ini pun membuat sang bibi membantu Arini.
Tok ..
Tok ..
"Den .. Maaf! Tapi Arini kembali, katanya mau bicara penting yang enggak bisa di titip." dibalik pintu.
Theo yang bersandar di kursi hitam, ia melihat alat monitor di dinding dan segera memakai piyama karena Arini kembali ke mansion nya.
Tlith .. ( balasan alat monitor )
"Suruh dia ke ruangan saya!"
Tanpa menunggu lama, mata Arini terpejam kala bangunan menuju kamar Theo, debaran jantung Arini semakin keras ketika si bibi mengantarnya hanya depan pintu dan kembali turun.
Cekleg.
Suara pintu, dan terlihat kuncinya sudah terbuka otomatis.
"Masuklah .. Apa yang membuat kamu datang kembali? memohon tidak di pecat?" menoleh Theo dengan piyama biru mendekat ke arah Arini.
"Tuan .. Maksud saya .. Pak Theo maaf! Tapi sepertinya saya harus memberitahu dan mejelaskan jika atm yang anda berikan lewat pak Wisnu masih saya pegang, tapi maaf uangnya saya sudah pakai 35 juta." menunduk Arini takut, sebab mata Theo sudah amat dekat sekali.
Semakin maju langkah Theo, Arini dibalik pintu hanya merenggut tidak berani menatap majikan, diam berdiri di tempatnya bagai patung.
Deg ..
Theo melupakan atm tersebut, dimana ia jadi ingat kata kata Wisnu soal Arini. Theo pun diam kembali meraih ponselnya, ia mengecek debet transaksi di tanggal Arini mulai bekerja yang membuat Theo melirik wanita pengasuhnya itu.
"Kau gunakan 35 juta untuk apa? Shoping .. Perhiasan?"
"Maaf tuan, anggaplah begitu. Tapi saya minta maaf tidak bisa mengembalikan 35 juta dalam waktu dekat. Saya pasti akan menggantinya." lirihnya ketakutan.
"Baiklah kau boleh pergi, lupakan soal ini. Kembalilah bekerja, ada tugas yang harus kau lakukan jika ingin membayar uang yang kamu pakai itu! Sebab saya tidak suka orang yang menunda berhutang padaku berlama lama."
Deg ..
Mata Arini pun terdiam, jadi ia harus kembali." Saya kembali jadi pengasuh pak?"
"Datanglah besok! Saya akan kirimkan lokasi untuk kamu datang!"
Arini mencerna, apa pekerjaan itu tidak bisa langsung diberitahu sekarang, kenapa harus besok.
"Keluar sekarang, kembali besok ke alamat yang saya berikan! Sebelum saya berubah pikiran, yang mungkin saya akan melapor polisi karena kau mencuri uang majikan."
Deg ..
"Ba- baik Pak Theo."
Kepergian Arini, membuat Theo menghubungi Wisnu dan meminta data Arini. Tak menunggu lama, berkas yang di kirim pun tiba lewat surelnya, Theo memahami klien besar bernama Darmanto. Theo pun mencari di rak buku kerjasama pabrik, apakah benar nama Darmanto itu klien besar yang berjasa pada pabriknya yang ia jalani saat ini, sekaligus Klien besar kak Yusman.
'Apa benar dia anak pak Darmanto, lalu kenapa dia bilang shoping. Padahal jelas dia menggesek atm dengan nama tagihan Rs. Tunggu ini nama Rs yang aku beli tempo lalu.'
Theo pun segera menghubungi pihak rumah sakit, apakah ada nama keluarga pasien atas nama Arini.
Sementara di tempat lain Arini sedikit bingung, menuju kontrakan petaknya ia masih terbayang kata kata pak Theo dengan kembali kerja, dan tunggu pesan ia harus kemana. Hal ini membuat jantung Arini tidak karuan.
Tlith ..
Pesan begitu saja tampil, yang membuat mata Arini sedikit terbuka dan mulutnya ternganga.
( Hotel Langit Bintang 5! Pukul 7 malam ) pesan itu tampil, tanpa nama.
Arini sedikit bingung, apa yang ingin Theo lakukan kenapa ia harus ke alamat tersebut, apalagi dengan tanda kutip, "Enggak bisa dibiarin, apa jangan jangan dia anggap aku ..?"
Arini yang terlewat kesal, tapi tak bisa berkutik. Sehingga kali ini ia mencoba menelpon ke nomor tersebut, dimana tak begitu lama suara serak pria itu terdengar jelas.
"Hmm .. Kenapa, apa masih kurang jelas?"
"Pak, saya bukan wanita yang seperti anda kira. Saya tidak bisa menerima karena .." terpotong.
"Kau pikir saya mau, lakukan sebelum ashar sudah bersiap. Lakukan seperti biasa menjadi pengasuh. Orang ku akan membawa mu bersiap, ada tugas yang harus kau lakukan. Dan tugas ini agar kasbon 35 juta lunas."
Tut .. ( Suara ponsel dimatikan, yang membuat mata Arini diam tak bergerak )
BERSAMBUNG ..
💥 Happy Reading All .. 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusdabar
2024-04-05
1
Usi gonzales
duh kenapa di hotel? 😡😡 majikan kagak ada ahlak
2023-11-19
1
nyai ajeng
belagu si beo ini awas aja kalau nanti lope
2023-11-12
1