"Sudah keluar ya, ini jam istirahat. Gimana makanan nya suka?"
"Heh .. Enak dari mana, orang makanan kita tertukar, mbak Arini sengaja mau bikin Mina kelaparan ya, Mina itu alergi seafood. Sekarang Mina laper harus gimana coba?" cetus Mina dengan kemarahannya.
"Apa iya tertukar .. Maafkan mbak ya!"
"Ga usah, di dalam ada penyelamat. Udah aku minta tadi, udah hubungi dady juga buat transfer ke ibu kantin, dasar pengasuh menyebalkan. Enggak bisa apa apa di rumah aja, ayo Dik, kita masuk!" teriak Mina dengan bertolak pinggang.
Deg ..
Ada rasa sesak, kala hari pertama ini membuat Arini harus kembali berhati hati dalam bekerja, untuk tidak punya celah kesalahan, sudah pasti anak kecil itu akan mengadu pada dady nya.
Kali ini Arini menanyakan pada beberapa staff kebersihan dimana kelas Dio dan Mina bubar, sehingga Arini bisa mencuri waktu untuk pergi sebentar, yang jelas sebelum pukul 1 siang, ia sudah kembali ke sekolah ini.
"Pak, jadi anak Tk A dan B, pulang jam satu siang pas ya?"
"Betul mbak, sebenarnya TK A, lebih awal kadang setengah satu pas, sudah keluar. Tapi kalau Dio biasanya menunggu di area taman menunggu kakaknya Mina, yang ada di kelas sebelah." jelasnya, membuat Arini paham.
Tanpa lama lama, Arini segera bergegas menuju ojek pangkalan, menuju rumah sakit setia kasih. Dimana jam besuk masih ada waktu satu jam ke depan, untuk Arini menemani Ardan kali ini. Benar saja ia segera menemui bangsal di lantai 2, dimana sesampainya ia melihat satu ranjang rumah sakit dengan sebuah tirai, dimana dokter Ridwan menoleh saat Arini datang.
"Dokter bagaimana keadaan Ardan sekarang?" tanya Arini, langsung duduk dan mendekap tangan mungil itu.
'Ka- kak!' lirih Ardan.
"Kakak disini sayang, maaf kakak lama jenguknya! Karena kakak harus jalani pekerjaan dulu baru bisa menemui kamu sayang, lekas sembuh ya! Ardan anak kuat, kamu terus kuat, pengobatan ini enggak akan lama, ini bisa membuat kamu tidak sakit lagi!"
Ardan mengangguk dimana kali ini dr Ridwan yang selesai mengecek, dan suster menyuntikan obat khusus pada tubuh mungil itu, bahkan Ardan nampak duduk miring, lemas dan pucat akibat Kemo.
"Ini biasa terjadi pada Kemo tahap awal, perlu beberapa kali untuk melihat kondisi kedepannya, semangati adiknya, itu sudah cukup untuk pemulihan pasien!"
"Baiklah kalau begitu terimakasih dokter, dokter tolong jaga Ardan, karena saya juga bekerja, tapi saya mengantar dua anak anak majikan saya tak jauh dari sini, jadi saya hanya bisa besuk di jam seperti ini, saya mohon bantuannya dok! Tolong jika ada sesuatu kabari saya ke nomor ini!"
"Baiklah, saya akan membantu sebisa mungkin, meski satu hal. Kondisi pasien akan ada sangat lemah, dan dia butuh dukungan anda dengan di temani saja sudah cukup!"
Penjelasan itu membuat Arini sedih, bingung dengan kegundahan keadaan ini. Apalagi dengan begitu waktu yang harus ia bagi bagi membuat Arini mengelus, menciumi Ardan.
Cup ...
"Kamu anak kuat, adik kakak yang kuat dan paling kakak sayangi. Bertahanlah sayang, maafkan kakak tidak sehari penuh menemani kamu!" kecup Arini pada kening Ardan, bahkan Ardan sendiri hanya mengeluarkan air mata dan diam saja seolah kasihan pada kakaknya itu.
"Kakak temani satu jam ke depan, nurut sama suster ya, nanti malam kakak akan curi waktu untuk keluar menemui kamu, tapi jika kakak tidak datang, kamu lekas tidur ya!"
Ardan pun mengangguk sambil menangis, rasa tangisan yang membuatnya sama seperti Arini, bahkan waktu hampir habis, membuat tangan Ardan seolah tak ingin melepaskan tangan sang kakak.
"Maafin kakak Ardan, kakak akan segera kembali besok ya!"
Dimana tangisan tak bersuara itu, membawa Ardan tertidur selain obat tidur dari obat yang disuntikan sang suster, apalagi pelukan hangat Arini terhadap Ardan yang membuatnya tenang, dari berbagai rasa sakit.
***
Sekembalinya Arini dari sekolah Dio dan Mina yang kali ini masuk dengan wajah kesal, berlarian meninggalkan Arini yang membopong kedua tas, dan dua pasang sepatu, membuat Bibi Yani menegurnya.
"Anak anak kenapa begitu, gimana hari pertama kamu Ar, ada kesulitan?"
"Bukan masalah besar sih bi, hanya saja Mina marah karena aku salah taro bekalnya, bekal tertukar. Jadi .." terdiam.
"Yang sabar! Mina memang agak keras kepala, kalau Dio memang bicaranya suka ga disaring tapi banyak diamnya, cuma kalau non Mina suka bentar bentar ngadu ke den Theo, kamu harus banyak sabar aja ya kalau dia pulang!"
"Iya bi, kalau gitu Arini ke atas dulu ya, untuk siapin yang lain." pamitnya.
Setelah Arini sampai di kamar dua anak tersebut, Arini syok mendapati kamar Mina berantakan, seingatnya tadi pagi sudah rapih tanpa ada pakaian, mainan dan seluruh selimut bantal yang berserakan.
Aaargggh ...!! Teriak Mina, dimana Dio seolah merekamnya.
"Non Mina kenapa, ini ada apa?" tanya Arini, dimana Dio terkejut memegang tablet digital ponsel.
"Liat deh Dady, kamar kita berantakan. Terus tadi kak Mina hampir salah makan bekal nasi goreng aku, kan kak Mina alergi seafood. Jadi dia makan burger dari tante Inggrid." celoteh Dio, sambil memperlihatkan wajah Arini, berserta seluruh ruangan kamarnya.
'Astaga .. Apa anak anak ini sedang mengadu domba, memanipulasi sejak dini.' batin Arini, tak percaya akan tingkah kedua anak anak ini melakukan.
Ckrek .. "Kita udah buat video ke dady, pokoknya dady pulang pasti mbak pengasuh dipecat, denger ya mbak kita tetep ga suka ada pengasuh." ucap Dio, dimana Mina tertawa dan loncat loncat diatas kasur, yang membuat kepala Arini pening.
"Betul dik, kerjaannya ga becus. Kita buat dady pulang yang anter kita terus ya!" senyum Mina, kepada Dio dimana Arini masih mematung tak percaya.
Dan kali ini mata Arini, melihat ke arah lain. Sebab ia tahu apa yang harus ia lakukan pada kedua anak anak tersebut.
BERSAMBUNG ..
💥 Happy Reading All .. 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-04-05
1
Usi gonzales
bocil yang ngeselin
2023-11-19
0
Syabla
😭😭😭😭
2023-11-10
0