Hari demi hari pun Arini lewati bekerja menjadi pengasuh. Kali ini, sampingan dirinya membuat kue sudah tidak ke pegang, namun masih mencari cara agar waktu malam ia bisa pulang ke kontrakan untuk membuat kue, setidaknya tidak menginap.
"Bibi, boleh Arini bicara?"
"Kenapa mbak Arini, ada yang mau ditanyakan soal Den Dio dan Non Mina..?"
"Eh .. Bukan itu, boleh enggak ya kalau aku pulang beberapa hari sekali, tidak menginap terus menerus?"
"Hm .. Emangnya kenapa, ga betah tinggal disini mbak?"
"Bukan begitu, sayang sekali kontrakan tidak terawat. Lagi pula .."
Bibi ...
Bibi ...
Seketika pembicaraan berhenti, di kala Mina berteriak, yang membuat bibi Yani mencuci tangannya dan bicara pada Arini.
"Ayo kita lihat Mina dulu, ada apa .. Soal itu nanti kita tanyain, minta persetujuan Den Theo."
Arini yang kali ini mengekor si bibi, mencari sumber teriakan keberadaan Mina. Membuat pikirannya amburadul, apalagi di hari libur seperti ini membuat Arini kebingungan mencari alasan keluar sebentar, padahal jam besuk Ardan hari ini belum ia kunjungi.
"Ada apa non Mina, kok teriak teriak sih?"
"Ada kecoak di kamar Mina, ini pasti mbak pengasuh ga bersih deh rapih kamarnya. Jijik tahu gak, aku benci pengasuh baru. Pengasuh baru bikin Mina muak, bikin Mina ga nyaman."
Deg ..
"Nanti di bersihin lagi ya Non Mina, jangan takut dan benci mbak nya dong, janji deh mbak Arini akan bersihin berkali kali."
"Ga apa apa bi, biar Arini bersihkan lagi. Nanti ruangannya saya pel lagi, steril higienis." kembali Arini menoleh pada bi Yani.
"Ya udah, saya kebawah dulu bawa Mina ya mbak."
Arini membalas dengan senyuman, sebab bukan tanpa alasan dirinya menyapu lagi, banyak makanan di dalam toples berserakan di bawah meja belajar, bahkan sampah permen dan coklat tergeletak begitu saja, sampah dari kertas kertas basah bercampur kering sudah dimana mana dan lengket. Dimana ingin marah, rasanya tidak bisa, bagaimanapun ia bekerja memang untuk mengasuh anak anak, yang termasuk mengurus kamar anak anak selalu bersih dan rapih.
Beberapa saat Arini yang selesai menyapu, ia segera mengepel sembari melap bersih kaca dan meja meja dengan alat semprotan dan kain, bahkan pengharum ruangan tak lupa Arini ganti. Namun bukan main saat Arini hampir selesai, tiba saja Dio datang dengan pakaian yang kotor. Ya .. Dio yang baru saja main bola di lapangan komplek, nampak di lantai tersebut berceceran kotor dan bau tercium, bahkan sepatu bolanya pun masih kotor bercampur tanah, dimana Arini melihat jejak kaki itu melewati lantai yang masih basah.
'Eh .. Mansion elite kok masih ada tanah becek?'
Tap ..
Tap ..
Tap ..
"Hehehe .. Lucu banget deh, ada cetakan kaki sepatu Dio dong." polosnya anak itu tanpa rasa bersalah bicara.
"Duh Den Dio, ayo ke kamar mandi ya. Mbak siapin handuknya, nanti pakaian nya yang kering mbak taro di tempat biasa ya, ruangan ganti sebelah kamar mandi. Hati hati nanti kalau lewat kamar, takut licin karena masih basah." ucapan Arini masih mode senyum dan sabar.
Hmm ..
Dio hanya menatap saja, tanpa sepatah katapun seperti biasanya, wajah anak anak yang belum bisa diajak berbicara dan bersahabat pada pengasuh barunya, tidak seperti bibi Yani yang sudah lama, mereka bisa memanggilnya dan menurut kata kata nya saat bicara, namun pada Arini seolah dianggap tembok dan tak ada. Akan tetapi Arini tetap bersabar, untuk menyikapi anak anak majikannya ini.
'Waktu akan membuat hati anak anak lembut, sabar Arini, ini ujian.'
Melihat waktu yang sudah melewati jam besuk Ardan, Arini memutar pikiran setelah mengepel, ia masih mencari cara agar siang nanti ia bisa keluar dari mansion, dimana jam anak anak biasanya akan tidur selama dua jam ke depan, yang mungkin Arini bisa minta bantuan bibi untuk mengambil baju atau barang yang ia perlukan di kontrakannya.
Dan saat Arini turun ke lantai bawah, tiba saja dikejutkan dengan seseorang yang membuat suasana mencekam dan hawa yang sangat tak enak, yang membuat Arini salah tingkah berdiri mematung dan menatap keramik marmer.
Akan tetapi langkah seseorang membuat mata Arini menoleh, sebab bukan langkah anak anak pada umumnya.
"Hey Kau Pengasuh .. Jangan berdiri disana. Tunggu sepuluh menit!" ujar Theo, yang baru saja tiba dengan wajah tak enak menunjuk arah teras.
"Baik .."
Ada rasa berdebar, sebab ini adalah hari minggu dimana Arini yang tadinya ingin izin ke luar mansion untuk menjenguk Ardan setelah merapihkan kamar, lagi lagi tertunda ketika majikan sudah pulang dari negeri tetangga.
Huuuftt ... Arini masih saja berdiri.
"Mbak .. Mbak .. Mbak Arini."
"Eh .. Iya bibi ada apa ya?"
"Di panggil ke ruangan Tuan sekarang!"
"Loh bukannya tadi saya di suruh tunggu disini ya?"
"Udah gih turuti aja, mungkin Den Theo capek turun tangga."
Arini pun mengangguk, kali ini bukan tanpa alasan dirinya menuju ke ruangan yang diminta, dimana setelah sampai di depan pintu ada rasa berdebar, kala melihat pintu besar raksasa yang menuju kamar majikan.
'Eh .. Apa enggak apa apa aku ke dalam?' bimbang nya Arini, yang masih termenung di depan pintu.
"Tuan ada apa saya di panggil, apa saya buat kesalahan. Dan saya minta maaf tuan!"
"Heh .. Belum saya tanya, kau sudah ketakutan ya, saya ingin pecat kamu sekarang juga, karena tidak becus bekerja mengasuh dua anak anak saya!"
Deg ..
'Tidak becus, bagaimana?' perasaan yang tak karuan, ingin membela tapi ia tak punya kuasa, sebab inilah ciri khas orang berduit yang semena mena pada pelayannya.
"Jadi sekarang pergi ambil barang barangmu, ini uang satu pekan mu saya bayarkan!"
Plak ..
Sebuah amplop coklat tipis itu membuat mata Arini membulat, dimana ia lemas dan kebingungan untuk berbicara, kala uang yang dilempar begitu saja di atas meja, apalagi jatuh tepat mengenai kaki Arini.
Sa-ya .. Di- pEcat Tuan?!
"Hmm .. Pergilah, kesalahan kau itu fatal!"
BERSAMBUNG ...
💥 Happy Reading All .. 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabst
2024-04-05
2
Usi gonzales
kecil kecil kaya cabe nih bocil pedeees
2023-11-19
0
manami ntiq
bocil sejak dini dah songong😌
2023-11-14
1