Dan untuk pertama kalinya, ini kedua kalinya Arini mengunjungi bangunan putih yang membuat hidupnya rapuh.
"Mohon maaf bu, tagihannya bisa dilanjut ke bagian administrasi. Dan segera tanda tangani di sini jika ada tindakan operasi!"
Deg .
"O- operasi. Suster separah apa adik saya, dia hanya pingsan. Kenapa harus di operasi ?"
"Dokter, katakan pada saya. Kenapa Ardan harus di operasi, dia baik baik saja kan?"
"Arini, mari ikut ke ruangan saya!"
Arini pun mengangguk, dimana bukan tanpa alasan ia melihat sedikit ruangan instalasi gawat darurat sebelum tertutup rapat. Ardan nampak terbaring lemas dengan beberapa selang infus di sekitar hidungnya.
"Jadi, ada apa dengan Ardan dok? Dia baik baik saja kan?"
"Tenanglah! Saya tahu ini sedikit kabar yang buruk, tapi saya minta anda tenang! Sabar, tapi saya sebagai dokter hanya bisa mengatakan sesuai apa yang saya kerjakan sebagai tenaga medis, Adik anda mengidap kanker hati! Dan saya rasa, ini sudah stadium 3, saya rasa tidak ada kata terlambat untuk di lakukan kemo sebelum operasi."
"Cukup dokter! Tolong cu-kup! Dan katakan jika itu bohong! Anda salah mendiagnosa adik saya! Sudah cukup kedua orangtua saya dengan kabar buruk saat itu, tanpa saya kenali. Tolong jangan katakan adik saya kini mengidap penyakit ganas itu. Huhu.. Tolong .. Saya tidak sanggup kehilangan, dan katakan sekali lagi berita itu salah!" deru tangis Arini, sesenggukan kali ini.
Bahkan tangannya gemetar menutupi wajahnya yang akhirnya ia menangis juga, bahkan dokter pun membiarkan Arini menangis hingga tenang.
"Hffttt .. Maafkan saya dok! Lalu saya harus bagaimana, berapa biaya yang harus saya bayarkan?"
"Saya tahu ini sangat berat, sebagai putri sulung, saya paham situasi anda nona. Saya minta maaf harus mengabarkan berita tidak enak."
"Hmmm .. Saya punya uang ratusan ribu di tas ini, apa ini cukup untuk uang muka di awal. Sebentar ya dok! saya hitung dulu! Seratus, dua ratus, lima puluh, tiga puluh lima, dan ini dompet kecil lima ratus ribu, ini tadinya untuk aku belikan adonan kue. Totalnya 885 ribu dokter. Apa boleh saya berikan ini dulu?"
Tatapan sendu, sedih dengan banyak arti membuat dokter Ridwan menghela nafas. Sebab ia tahu sosok Arini adalah putri dari sahabatnya yang hidupnya kini sangat memprihatinkan.
"Tiga puluh lima juta, untuk deposit di awal. Saya akan bantu untuk bicara pada pihak rumah sakit, ta-tapi saya akan berikan kamu waktu tiga hari dari sekarang. Deposit kanker biasanya mencapai 50 juta lebih, tapi saya pastikan adik kamu aman di sini. Saya akan pastikan adik kamu aman di rawat di rumah sakit ini! Tapi saya minta kerja samanya, tiga hari kamu harus menyelesaikan deposit itu untuk adik mu segera di operasi!"
Deg ..
"Hah .. "
Jantung Arini lemah, setelah membaca beberapa syarat dari sebuah kertas. Bahkan kali ini ia keluar dari ruangan dokter memikirkan banyak hal, yang utama adalah adiknya harus segera Kemo.
Dan Arini kembali ke ruangan dokter, dimana dokter Ridwan sudah akan keluar juga dari ruangannya. Dimana Arini kembali memastikan.
"Dokter Ridwan, anda berjanji kan akan merawat adik saya, tolong jaga dia selama saya tak ada?"
"Ya Arini! saya janji, Ardan adik kamu akan saya pindahkan ke bangsal kelas dua. Ta- tapi waktu kamu tiga hari, karena saya juga hanya pekerja tenaga medis yang tidak punya wewenang. Jika saya pemilik rumah sakit ini, sudah pasti saya akan gratiskan untuk pengobatan adik kamu."
"Saya janji akan segera kembali, tolong sembuhkan adik saya dok!"
Pamitnya Arini, ia segera cepat ke suatu tempat. Tujuannya kini adalah ke tempat teman temannya yang ia anggap baik, yang pernah ia tolong dulu, setidaknya mereka dekat dan Arini mengenal baik.
"Berhenti disini pak!" ujar Arini, yang beberapa saat naik ojek, mengeluarkan satu lembar uang berwarna hijau.
Arini nampak memencet bel, dimana butuh waktu untuk pagar itu terbuka, yang membawa Arini senang dan yakin teman baiknya itu bisa membantunya.
Krek ..
"Cari siapa ya non?"
"Bella nya ada bu? Saya Arini, saya boleh ketemu dengannya?"
"Oh, sebentar ya bibi panggilkan. Tunggu disini saja!"
Arini mengangguk, dimana tidak dipersilahkan masuk hanya boleh menunggu di depan pintu pagar, panas cuaca tersebut membuat Arini tetap bersabar. Hingga datanglah seorang wanita dengan celana hotpants pendek, dan baju berwarna putih menatap sinis.
"Bella .. Ini aku Arini." senyumnya.
"Lo Arini Darmanto? Serius loh Arini, aneh banget tampilan lo semenjak.. ?" terdiam Bella.
"Iya gue Arini, gue sejak kejadian itu. Ah .. Ceritanya panjang pastinya, gue kesini karena gue yakin lo bisa bantu gue. Please Bel .. Tolong gue, adik gue sakit. Gue butuh tiga puluh lima juta, ta- tapi gue janji bakal gantiin begitu uangnya ada."
"Anjir .. Begitu uangnya ada, elo mau bayar pake apa Arini. Cari duit susah, bokap gue aja kena phk sejak bapak lo mati. Uuups .. Pokoknya gue aja dulu bergantung sama lo, emang sih lo baik. Ta- tapi nyokap gue ga akan punya tabungan sebanyak itu, gaji pembantu aja sering nunggak. Sorry ya, lo mending minta tolong ke teman lain aja. Atau enggak lo jual diri, cara paling cepet gue bisa bantu kenalin ke om om." senyum miring Bella, lalu menutup pagar rapat kencang.
"Ga usah, makasih Bella kalau begitu."
Bugh ..
'Bisa bisanya dia nagih kesini, dasar Arini Gila.' gumam Bella cepat masuk ke dalam rumah.
Mata Arini pun melihat telepon umum, di persimpangan. Arini mencoba mengingat dua nomor temannya, yang Arini yakin masih aktif. Lama ia berada di telepon umum, hal itu membuat Arini frustasi karena tidak ada teman teman nya yang dulu mendekatinya, tak satupun mau membantunya saat ini. Bahkan hanya omongan kasar yang Arini dapati ketika ia hendak meminjam uang.
"Aku harus cari kemana, Ardan harus segera Kemo sebelum operasi. Dua hari lagi, waktu aku kumpulin. Aku harus gimana ya Allah .. Kenapa cobaan yang diberikan begitu sulit. Belum lama kau cabut semua nikmat dunia, ayah dan ibu tiada dengan keadaan tragis. Dan kenapa kau ingin ambil Ardan dengan cara seperti ini?" teriak Arini, ia yang duduk di trotoar menatap langit mendung.
Bahkan banyak orang orang lewat, melihat aneh pada Arini yang bicara sendiri, bahkan menangis di tengah jalan.
Sesaknya Arini, membuat ia bingung dan kepikiran Ardan di rumah sakit. Jika uang tidak ia dapatkan, maka operasi tidak akan dijalankan. Artinya Arini harus siap kehilangan sang adik.
"Aku ga boleh nyerah, aku tahu kemana aku harus pergi. Aku yakin, aku bisa dapatin uangnya. Yah .. 35 juta, aku harus bisa dapatin uangnya sampe besok. Ardan harus sembuh!" lirihnya kembali bangkit berdiri.
Dan dalam itungan langkah dirinya berjalan, tiba saja sosok wanita yang terlihat naik di sebuah ojek memanggilnya.
Ariiini ...
Bersambung ...
💥 HAPPY READING ALL 💥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabsr
2024-04-05
3
Soraya
mampir thor
2024-03-03
1
Usi gonzales
kang kue
2023-11-19
0