Apa aku harus minta maaf?

Arkana berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah lebih dulu mengantarkan Hanna pulang.

Awalnya Hanum, mamanya Hanna meminta dirinya untuk singgah, tapi dengan sangat sopan Arkan menolak dengan alasan ada sesuatu yang sangat penting dan harus diselesaikan. Padahal, sebenarnya sesuatu itu tidak terlalu penting.

"Kak, lama sekali kamu pulang? dari mana aja sih?" baru saja kakinya menapak di lantai rumah, dirinya sudah disambut dengan celotehan Adelia, adik perempuan satu-satunya.

"Kan kamu tahu sendiri tadi aku harus kemana lebih dulu," sahut Arkan santai, sembari berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuh ke sofa itu.

"Eh, iya ya," sahut Adelia begitu mengingat alasan kenapa kakak laki-lakinya itu baru tiba di rumah. "Kakak kenapa sih mau-mau aja mengantarkan si lampir itu pulang? Padahal dia kan sudah dijemput sama supirnya," lanjut Adelia lagi sembari ikut duduk di sofa.

"Ya, tidak Apa-apa. Seharusnya kamu tidak perlu bertanya tentang hal itu lagi. Aku yakin kamu sudah tahu jawabannya, "sahut Arkana.

"Iya sih, tapi kan tidak harus selalu bersedia memenuhi kemauan dia. Yang ada semakin dimauin, dia makin ngelunjak. Aku aja yang adik kamu sampai mengemis waktu Kakak gara-gara dia," sungut Adelia dengan bibir mengerucut.

"Sudahlah, jangan dibahas lagi! Kakak capek," Arkana melemaskan tubuhnya dengan cara menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa dan kaki panjangnya dibiarkan memanjang ke depan.

"Oh ya, tumben kamu menyambutku. Biasanya aku pulang sekolah, kamu sudah mengeram di kamarmu. Ada apa? Apa ada sesuatu yang mau kamu sampaikan? Apa kamu mau mengajakku jalan-jalan? Sebelum kamu ajak, kakak mau bilang, 'aku tidak mau'. Langit berbicara panjang lebar tanpa jeda tidak memberikan waktu untuk Adelia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pria itu lontarkan sebelummya.

"Apaan sih, Kak. Aku tidak ada maksud untuk mengajak Kakak kemana-mana, karena aku juga lagi malas," Adelia mengerucutkan bibirnya.

"Oh iya, aku hampir lupa. Aku cuma mau memperlihatkan sesuatu untuk Kakak. tunggu sebentar!" Adelia meraih ponselnya dan mulai sibuk menggeser-geser layar ponselnya.

"Nih, coba lihat Kak! bukan Senja yang memutuskan rem sepeda itu tapi Chelsea dan Yuni." Tenyata Adelia menunjukkan video CCTV di parkiran sekolahnya. Nama yang disebutkan olehmu Adelia itu tampak celingukan di parkiran yang kebetulan sepi. Setelah dirasa sudah aman, Yuni terlihat memotong tali rem sepeda menggunakan gunting. Sedangkan Chelsea berdiri dengan kepala yang celingukan, memastikan tidak ada orang yang datang ke parkiran.

Arkana bergeming diam seribu bahasa. Seketika hatinya merasa sangat bersalah ketika mengingat bagaimana dirinya tadi sempat menuduh Senja adik kelasnya itu.

"Haish, mana aku tadi sempat mendatanginya dan menuduhnya lagi," gumam Arkana, yang masih bisa didengar oleh telinga Adelia.

"Apa? Kakak mendatanginya? Bagaimana bisa?" pekik Adelia, terkesiap kaget.

"Aku lihat dia lagi menunggu angkot. Niatku hanya ingin bertanya, tapi caraku salah. Pertanyaanku, justru lebih ke arah menuduh," terang Arkana sembari mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kakak sih kebiasaan. Lebih mendahulukan emosi dibandingkan logika. Harusnya Kakak ingat dong, sejak kapan aku suka naik sepeda. Hampir tidak pernah kan? Jadi tidak mungkin, Senja memutuskan kabel rem itu,"

"Masalahnya, dia tidak tahu kan kalau kamu tidak suka naik sepeda. Jadi, aku pikir bisa aja dia mengira kalau kamu akan menaikinya,"jawab Arkana.

"Masalahnya, Senja tahu, Kak. Kenapa dia mau menerima sepeda itu? Ya itu karena aku bilang ke dia kalau aku tidak suka naik sepeda dan bahkan tidak pernah naik sepeda. Aku bahkan mengakui kalau sepeda itu sepeda bekasku. Makanya dia mau terima. Karena itulah, aku sedikit ragu dengan yang kakak katakan tadi malam, tentang Senja yang membohongi kita demi bisa menarik simpati kita," terang Adelia panjang lebar tanpa jeda.

Arkan bergeming, berusaha mencerna ucapan adik perempuannya itu. Ia kembali menghubungkan keraguan Adelia dengan ucapan Senja yang mengatakan kalau gadis itu yatim piatu.

"Kenapa jadi semakin membuat pusing begini ya? Kalau Senja mau menerima sepeda itu karena Adelia bilang itu bekas, berarti dia memang tidak berniat memanfaatkan pertemanan. Kalau dia mengatakan orangtuanya sudah meninggal, jadi laki-laki yang memeluknya kemarin itu siapa? Di samping laki-laki itu juga ada seorang wanita. Apa mereka bukan orangtua Senja? Kalau bukan, jadi dua orang itu siapanya Senja?" Arkana mulai bermonolog. Kening putra sulung dari Arsenio Reymond Prayoga itu berkerut saking pusingnya memikirkan semua tentang Senja.

"Kakak, kenapa diam?" Adelia melemparkan bantal sofa ke wajah Arkana, hingga membuat kakak laki-lakinya itu tersadar dari lamunannya.

"Tidak apa-apa," sahut Arkana singkat. Laki-laki kembali diam berpura-pura sibuk dengan ponselnya.

"Emm, aku tadi sampai berpikir keras apa ini ada kaitannya dengan Hanna?" Adelia kembali buka suara, tidak perduli dengan kakak laki-lakinya yang masih diam saja

"Sudahlah, jangan su'udjon dulu," sahut Arkana dengan suara yang sangat pelan.

"Bukannya bermaksud su'udjon, Kak. Tapi, masalahnya Si Hanna itu nggak menyukai Senja. Sedangkan si Yuni dan si Chelsea itu kan gengnya di Hantu," terang Adelia. Sepertinya gadis itu memang benar-benar tidak menyukai Hanna, sampai-sampai dia menyebut putri dari sahabat mama dan papanya itu 'hantu'.

Arkan terdiam untuk beberapa saat. Sepertinya ucapan adiknya barusan menarik perhatiannya. Dia merasa apa yang dikatakan adiknya itu ada benarnya.

"Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi. Kakak mau ke kamar dulu, Kakak cape, soalnya," pungkas Arkana, mengakhiri pembicaraan. Remaja berusia 18 tahun itu, langsung bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan Adelia yang asik menggerutu karena ditinggalkan begitu saja.

"Kakak, jangan main pergi begitu saja, napa? malas banget sumpah! Harusnya Kakak tanya tuh si manja. Aku yakin kalau kak Chelsea dan Kak Yuni itu diminta si hantu itu buat mutusin remnya, agar Senja celaka. Keyakinanku sudah seratus persen!" suara Adel sampai memenuhi ruangan, agar ucapannya masih bisa didengar oleh Kakaknya yang sama sekali tidak berhenti melangkah.

"Kak, Kakak dengar aku nggak sih?" teriak Adelia lagi.

Arkana mau tidak mau akhirnya menghentikan langkahnya dan kembali berbalik. Karena dia tahu benar bagaimana karakter adik perempuannya itu yang tidak akan berhenti mengoceh, sebelum ocehannya ditanggapi

"Aku dengar, Adel. Tapi, tidak mungkin kan aku tanya Hanna sekarang? Kalaupun dia dalangnya, apa kamu yakin kalau dia akan ngaku, jika aku hanya tanya dari telepon? Pasti tidak kan? Jadi besok saja kakak tanya ya. Sekalian kakak tanya Chelsea dan Yuni. Kamu kirimkan saja dulu videonya pada Kakak. Untuk bagaimana caranya membuat mereka mengaku, Kakak akan cari sendiri caranya,"

"Ya, udah deh," sahut Adelia pasrah.

Setelah adiknya berhenti mengoceh, Arkana kembali menaiki undakan anak tangga, menuju kamarnya.

Setelah berada di kamar, pria itu langsung menghempaskan tubuhnya, berbaring terlentang di atas ranjang dengan mata yang menerawang ke langit-langit kamarnya.

"Aku sudah menuduh Senja tadi. Apa itu berarti aku harus tetap minta maaf? terlepas kalau dia benaran berbohong tentang kondisi keluarganya, itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah sepeda tadi kan? Tetap saja aku salah karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak. Lagian, tidak mungkin dia berbohong tentang kondisi keluarganya sampai membawa-bawa kematian orangtuanya demi menarik simpati," bisik Arkana pada dirinya sendiri. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, sakit pusingnya.

Tbc

Terpopuler

Comments

Sita Sit

Sita Sit

kasian senja

2024-11-17

0

Serena Oficall

Serena Oficall

𝗸𝗼𝗸 𝗹𝗮𝗻𝗴𝗶𝘁𝘁??

2024-04-14

2

Leng Loy

Leng Loy

Kasian dech Lo pusing sendiri kan mikirin Senja,Senja aja santuy

2024-03-27

1

lihat semua
Episodes
1 Murid baru
2 Kena hukum
3 Kurir bunga
4 Mengantarkan bunga
5 Dipecat
6 Mengikuti Senja
7 Kehidupan Senja
8 liciknya Sukma
9 Ambil jambu
10 Kalah adu gombal
11 Kekesalan Hanna
12 Licik teriak licik
13 Mengikuti Senja lagi
14 Pulangnya paman Senja
15 Salah paham
16 Cuek
17 Mengembalikan sepeda
18 Merasa ganjil
19 Tidak mau dijemput
20 Apa aku harus minta maaf?
21 terjebak sendiri
22 Kehilangan teman
23 Masa senang yang akan berakhir.
24 Bertemu Satrio di restoran
25 Arkana tahu yang sebenarnya
26 Minta maaf
27 Hanna panas
28 Rahasia Bea siswa
29 Tamparan sebagai pembuktian
30 Kena lagi.
31 Begal
32 Perkelahian sengit
33 Perih yang mendatangkan tawa
34 Capek tapi harus tetap diselesaikan
35 Kehebohan Aozora dan Adelia
36 Tidak romantis sama sekali
37 Berubah manis
38 Kepulangan yang tiba-tiba
39 Kemarahan Satrio
40 Kekagetan Sukma
41 Alasan Sabiru menjemput Senja
42 Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43 Peringatan Sabiru
44 Aku tidak mau tahu
45 tidak bisa dibandingkan
46 Aku tidak peduli
47 Ketumpahan Cat
48 Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49 mencoba bunuh diri
50 Kencan
51 Double date
52 Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53 Keinginan Arkan
54 mengungkit-ungkit balas budi
55 Rencana Darren
56 Terbongkar
57 Permintaan Daren
58 Pikiran Senja terganggu
59 Senja tahu yang sebenarnya
60 Mengantarkan pulang
61 mengundang Aldo masuk ke rumah.
62 Memberikan pengertian
63 Perjodohan demi bisnis
64 Gelang
65 Serba salah
66 Enam tahun kemudian
67 menguping
68 CEO baru
69 Mengantarkan laporan
70 Sama-sama kaget
71 Dipaksa jadi sekretaris
72 Kemunculan Ella
73 Tolong bertahan sebentar lagi
74 Mengungkapkan cinta
75 Arkan tahu siapa Ella
76 Berusaha menyingkirkan...
77 Senja tahu yang sebenarnya
78 Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79 Draft
80 Benar-benar hancur
81 Pengakuan Hanna
82 Arkan panik
83 Acara penyambutan Arkan
84 Kejutan.
85 Kamu wanita yang aku cintai
86 Tenang saja, aku punya cara
87 Aku kecewa ke kamu.
88 Memasak makan siang
89 permohonan Hanna
90 Kamu hanya bisa mencintaiku
91 Ide jahil Aldo
92 Kekesalan Arkan
93 memajukan hari pernikahan
94 Hanna sakit
95 Jangan pergi lagi
96 The wedding
97 Meminta maaf
98 Hal yang tidak disangka-sangka
99 Akhirnya
100 Akhir hidup Ella
101 Berubah menyebalkan
102 Mungkin saja dia hamil.
103 Hasil pemeriksaan
104 Bab 104
105 Ending
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Murid baru
2
Kena hukum
3
Kurir bunga
4
Mengantarkan bunga
5
Dipecat
6
Mengikuti Senja
7
Kehidupan Senja
8
liciknya Sukma
9
Ambil jambu
10
Kalah adu gombal
11
Kekesalan Hanna
12
Licik teriak licik
13
Mengikuti Senja lagi
14
Pulangnya paman Senja
15
Salah paham
16
Cuek
17
Mengembalikan sepeda
18
Merasa ganjil
19
Tidak mau dijemput
20
Apa aku harus minta maaf?
21
terjebak sendiri
22
Kehilangan teman
23
Masa senang yang akan berakhir.
24
Bertemu Satrio di restoran
25
Arkana tahu yang sebenarnya
26
Minta maaf
27
Hanna panas
28
Rahasia Bea siswa
29
Tamparan sebagai pembuktian
30
Kena lagi.
31
Begal
32
Perkelahian sengit
33
Perih yang mendatangkan tawa
34
Capek tapi harus tetap diselesaikan
35
Kehebohan Aozora dan Adelia
36
Tidak romantis sama sekali
37
Berubah manis
38
Kepulangan yang tiba-tiba
39
Kemarahan Satrio
40
Kekagetan Sukma
41
Alasan Sabiru menjemput Senja
42
Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43
Peringatan Sabiru
44
Aku tidak mau tahu
45
tidak bisa dibandingkan
46
Aku tidak peduli
47
Ketumpahan Cat
48
Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49
mencoba bunuh diri
50
Kencan
51
Double date
52
Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53
Keinginan Arkan
54
mengungkit-ungkit balas budi
55
Rencana Darren
56
Terbongkar
57
Permintaan Daren
58
Pikiran Senja terganggu
59
Senja tahu yang sebenarnya
60
Mengantarkan pulang
61
mengundang Aldo masuk ke rumah.
62
Memberikan pengertian
63
Perjodohan demi bisnis
64
Gelang
65
Serba salah
66
Enam tahun kemudian
67
menguping
68
CEO baru
69
Mengantarkan laporan
70
Sama-sama kaget
71
Dipaksa jadi sekretaris
72
Kemunculan Ella
73
Tolong bertahan sebentar lagi
74
Mengungkapkan cinta
75
Arkan tahu siapa Ella
76
Berusaha menyingkirkan...
77
Senja tahu yang sebenarnya
78
Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79
Draft
80
Benar-benar hancur
81
Pengakuan Hanna
82
Arkan panik
83
Acara penyambutan Arkan
84
Kejutan.
85
Kamu wanita yang aku cintai
86
Tenang saja, aku punya cara
87
Aku kecewa ke kamu.
88
Memasak makan siang
89
permohonan Hanna
90
Kamu hanya bisa mencintaiku
91
Ide jahil Aldo
92
Kekesalan Arkan
93
memajukan hari pernikahan
94
Hanna sakit
95
Jangan pergi lagi
96
The wedding
97
Meminta maaf
98
Hal yang tidak disangka-sangka
99
Akhirnya
100
Akhir hidup Ella
101
Berubah menyebalkan
102
Mungkin saja dia hamil.
103
Hasil pemeriksaan
104
Bab 104
105
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!