Sementara itu, Senja berdiri untuk menunggu angkot, yang entah kenapa dari tadi selalu saja penuh.
Tiba-tiba ponsel berbunyi dan ia melihat di layar kalau pamannya yang sedang menghubunginya.
"Iya, Paman!" sapa Senja sembari sesekali melihat ke arah tempat dari mana biasanya angkot jurusan ke rumahnya datang.
"Kamu sudah pulang, Senja?" tanya sang paman, lembut.
"Iya, Paman. Ini lagi menunggu angkot. Daei tadi angkotnya penuh paman," sahut Senja.
"Kebetulan Paman lagi di luar dan tidak terlalu jauh dari sekolahmu. Kamu tunggu di sana ya, biar paman menjemputmu,"
Tangan Senja seketika bergetar. Raut wajah wanita itu seketika seperti ketakutan. Keringat dingin menetes di pelipisnya, ketika mendengar pamannya yang hendak menjemputnya.
"Ti-tidak perlu Paman. Aku bisa pulang sendiri. Aku tidak mau Paman nanti sampai kenapa-napa karena menjemputku," ucap Senja dengan suara bergetar.
Tidak terdengar sahutan dari sang paman di ujung sana, untuk sepersekian detik. Detik berikutnya Senja mendengar helaan napas berat dari Satrio pamannya.
"Nak, aku tahu kalau kamu masih trauma. Tapi, Paman minta agar kamu berusaha untuk menyingkirkan pemikiran-pemikiran yang membuatmu trauma itu. Paman jemput kamu ya!" suara Satrio terdengar sangat lembut.
"Ti-tidak, Paman. Tolong mengerti aku. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Paman kalau menjemputku. Aku tidak mau sampai kehilangan paman karena nekad menjemputku. Keluarga sekarang hanya Paman dan aku juga tidak mau dianggap pembawa sial lagi, kalau nanti terjadi sesuatu pada Paman. Jadi, please jangan menjemputku!" mohon Senja dengan mata yang berembun siap untuk menumpahkan cairan bening dari wadahnya.
"Senja, jangan pernah berpikir kalau kamu pembawa sial. Apa yang menimpa mama dan papamu itu adalah sebuah takdir yang tidak bisa dihindari. Jadi, stop untuk menyalahkan dirimu sendiri.
"Tapi, mama dan papa kecelakaan sampai meninggal karena buru-buru mau menjemputku, Paman. Coba kalau aku bersikeras minta dijemput, pasti papa dan mama masih ada sekarang. Aku memang pantas dipanggil pembawa sial, Paman," ucap Senja sembari menyeka air matanya. Gadis itu sampai tidak sadar ada angkot yang tidak terlalu ramai penumpang sudah melewatinya.
"Stop, menghujat dirimu sendiri. Sekali lagi paman mau bilang, kamu bukan penyebab orang tuamu meninggal. Kamu masih kecil saat itu dan memang pantas untuk dijemput. Tidak mungkin dibiarkan pulang sendiri. Semuanya sudah jadi takdir, dan kamu sekarang berusahalah untuk ikhlas menerima takdir itu,"
Senja menggeleng-gelengkan kepalanya, padahal pamannya tidak mungkin bisa melihat apa yang dia lakukan sekarang.
"Tidak paman, tidak! semuanya memang salahku. Saat itu aku marah dan meminta papa dan mama menjemputku secara langsung, bukan meminta supir. Padahal jelas-jelas saat itu supir yang digaji papa untuk antar jemput aku sudah datang tapi aku mengusirnya dan meminta papa sama mama untuk tetap menjemputku. Coba saja saat itu aku nggak egois, Paman. Papa dan mama saat ini pasti masih hidup. Jadi, aku minta tolong agar paman jangan menjemputku. Aku tidak mau Paman sampai kenapa-napa," lagi-lagi angkot yang biasa dinaiki Senja lewat di depan gadis itu, tapi dia sama sekali tidak mencegatnya saking seriusnya bicara dengan Satrio pamannya.
"Baiklah, Nak. Tapi jangan naik angkot. Paman pesan taksi online aja ya! Nanti biar paman yang bayar ongkosnya di rumah," pungkas Satrio akhirnya mengalah.
"Tapi, Paman ...."
"Tidak ada tapi-tapi! yang ini kamu uangan tolak, kalau kamu tolak, paman sendiri yang akan menjemputmu," tegas Satrio yang menyelipkan sedikit ancaman.
"Baik deh, Paman. Terima kasih ya!" pungkas Senja akhirnya mengalah.
Panggilan akhirnya terputus dan Senja mengirimkan lokasinya sekarang pada sang paman. Setelah itu, ia memasuk kan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Emm, sembari menunggu, aku bisa duduk di mana ya?" Senja melihat ke sekeliling mencari tempat yang bisa dia duduki.
"Oh, itu ada!" serunya begitu melihat ada sebuah kursi yang terbuat dari besi sedang kosong.
"Senja!" Senja yang nyaris melangkah mengurungkan niatnya dan langsung menolej ke arah suara yang baru saja memanggil namanya.
"Ada apa, Kak?" Senja mengerenyitkan keningnya, melihat Arkan yang tiba-tiba muncul bersama dengan Hanna yang ada di boncengannya.
Arkan tidak langsung menjawab. Pemuda itu menepikan motornya dan turun. Sementara Hanna terlihat mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan Arkan yang mengajak gadis yang sudah dia anggap musuh, berbicara.
"Aku mau tanya, apa alasanmu mau mencelakai, Adelia?" tukas Arkana tanpa bertanya dulu, apa gadis di depannya itu yang memutuskan kabel rem sepeda atau tidak.
Senja mengerenyitkan keningnya, bingung ke arah mana pembicaraan kakak kelasnya itu.
"Maksudnya? Sejak kapan aku berniat mencelakai Adel? Emangnya apa yang sudah aku lakukan?"alis Senja semakin bertaut tajam.
"Kamu jangan berpura-pura sok tidak tahu. Kamu sengaja kan memotong kabel rem sepeda yang dikasih Adel sebelum kamu mengembalikannya? Ayo ngaku!" bukannya Arkan yang menjawab, melainkan Hanna.
"Aku? Memutuskan rem? Untuk apa? Jangan seenaknya menuduh! Aku sama sekali tidak melakukannya!" tegas Senja.
"Alahhh, kamu ngaku aja deh. Untuk apa kamu bilang? Ya untuk mencelakai Adelia lah, ya untuk apa lagi coba?" Hanna menatap sinis ke arah Senja.
"Apa alasanku mencelakai Adel? aku bilang jangan asal tuduh!" kesabaran Senja mulai terusik, mendengar tuduhan yang sama sekali tidak pernah dia lakukan.
"Alasannya gampang. Kamu kesal padanya karena hari ini kamu diabaikan dan dikatakan pembohong sama Adelia. Kamu tidak terima lalu berniat mencelakainya. Ayo, ngaku aja!" desak Hanna, semakin memojokkan Senja.
Senja menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara, berusaha untuk meredam emosinya.
"Apa Kak Arkan percaya?" bukannya melakukan pembelaan diri, Senja malah bertanya lebih dulu ke arah Arkan.
"Aku tidak punya alasan untuk tidak percaya. Karena memang kamu itu pembohong. Kamu suka bersandiwara seakan kamu adalah orang yang paling menyedihkan, tapi ternyata ...ah aku lah yang tahu tentang itu. Jadi, tidak tertutup kemungkinan yang dikatakan Hanna tadi benar," ucap Arkana yang terasa ambigu di telinga Senja. Sementara Hanna terlihat semakin merasa berada di atas angin sekarang.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Kakak maksud. Yang jelas seingatku, aku tidak pernah bersandiwara seakan diriku adalah orang yang paling menyedihkan. Itu Kakak sendiri yang menyimpulkan. Tapi, aku sama sekali tidak peduli apapun penilaian kalian padaku. Kalian pandang aku buruk sekalipun aku tidak peduli. Silakan hina aku sesuka kalian, aku tidak akan peduli karena aku sudah kebal dengan itu semua. Fitnah dan gunjingan sudah menjadi makanankymu sehari-hari," ucap Senja dengan panjang lebar dan napas memburu.
"Dan untuk tadi ... masalah aku memutuskan rem sepeda. Aku berani bersumpah demi apapun kalau aku tidak pernah melakukannya! Terserah Kakak mau percaya atau tidak. Karena aku yakin, sekeras apapun aku melakukan pembelaan diri, tidak akan ada yang percaya," lanjut Senja lagi.
"Aku tidak menuduh, tapi aku bertanya," sangkal Arkana yang entah kenapa merasa sakit mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut gadis bertubuh mungil di depannya itu.
"Kakak sama sekali tidak bertanya. Coba kakak telaah pertanyaan Kakak di awal. Aku rasa Kakak tidak terlalu bodoh untuk mengerti arah pertanyaan Kakak, yang secara tidak langsung sudah menuduh," Senja menyeringai sinis, membuat Arkana terdiam.
"Hei, kamu yang sopan dong sama kakak kelas! Kamu tidak diajarkan sopan santun ya sama orang tuamu?" bentak Hanna.
Wajah dan mata Senja sontak memerah. Rahang gadis itu juga mengeras serta tangannya terkepal kencang. Gadis itu melangkah menghampiri Hanna dengan tatapan sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.
Melihat hal itu Hanna sontak merinding dan refleks bersembunyi di belakang punggung Arkana.
"Jangan macam-macam, Senja! Aku tidak akan segan-segan, kalau kamu melukai Hanna!" bentak Arkana, melindungi Hanna.
"Aku tidak akan macam-macam kalau dia tidak membawa-bawa kedua orangtuaku yang sudah tiada. Siapapun boleh menghinaku, tapi jangan pernah membawa-bawa almarhum orangtuaku. Aku tidak akan pernah terima!" suara Senja mulai meninggi.
Arkan sontak bergeming, mematung mendengar ucapan yang terlontar dari mulut adik kelasnya itu.
"Mama papanya sudah meninggal? Jadi yang kemarin itu siapanya?" batin Arkana sampai tidak sadar kalau tangan Senja sudah berhasil menjangkau rambut Hanna, lalu menariknya dengan kencang.
"Maaf, yang namanya Senja di sini siapa?" Senja sontak menghentikan aksinya, ketika mendengar ada yang menyebut namanya.
"Saya, Pak!" sahut Senja pada seorang pria yang dia yakini adalah supir taksi online yang sudah dipesan oleh pamannya.
"Bapak, supir taksi online ya?" namun, walaupun sudah bisa menduga, Senja masih tetap bertanya untuk memastikan.
"Benar, Dek! Ayo naik!" ucap supir taksi online itu.
Senja kembali menoleh ke arah Hanna yang wajahnya sudah pucat.
"Selamat kamu sekarang!" cetus Senja sembari melangkah menuju taksi online pesanan pamannya.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Abinaya Albab
sekali² mulutnya Hanna perlu disumpal tuh, anak orang kaya berpendidikan tp gk punya tata krama sopan santun sesama teman
2024-09-23
0
Rita
bknnya tau sok tau
2024-08-01
2
Alifah Azzahra💙💙
Kalau aku boleh kasih saran sih mending kamu jaga jarak dlu deh sama Adel dan Arkana itu senja
2024-05-22
3