Saat berjalan menuju kelas, tanpa sengaja Senja berpapasan dengan Arkana beserta ke tiga sahabatnya.
Senja pun seketika tersenyum ke arah kakak kelasnya itu. Namun, Arkana sama sekali tidak membalas senyum Senja dan malah membuang wajahnya ke arah lain dan melenggang pergi.
"Dia kenapa sih? Kenapa sikapnya bisa samaan seperti Adelia? Aku ada salah ya?" batin Senja, dengan kening berkerut.
"Kasihan deh, dicuekin. Makanya jangan besar kepala dulu, karena kemarin-kemarin Kak Arkana dan Adelia baik padamu," tiba-tiba dari arah belakang Senja, terdengar suara seorang perempuan yang sudah dikenal oleh Senja. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Hanna, gadis yang dari awal sudah tidak menyukainya.
Senja berbalik dan tersenyum sinis ke arah wanita rese itu. Tampak gadis itu tersenyum meledek ke arahnya.
"Apa aku terlihat peduli?" ucap Senja cuek, membuat Hanna menggeram.
"Tidak sama sekali. Kenapa? Ya karena aku sudah terbiasa. Tahu ya,kalau itu kamu. Mungkin kalau Kamu dicuekin sekali, kamu akan guling-guling, merajuk dan mogok makan. Sorry, aku tidak selemah kamu! Hatiku sudah terlatih untuk menghadapi segala hal yang terjadi, termasuk dicuekin. Itu mah kecil," lanjut Senja, mengejek balik.
"Kamu ...." Hanna mengangkat tangannya hendak memukul wajah Senja. Namun, tiba-tiba dia teringat kalau mereka ada di lokasi sekolah, dan dia harus menjaga imagenya sebagai perempuan yang lembut.
"Kenapa tidak jadi?" raut wajah Senja terlihat menantang.
"Awas kamu ya!" Hanna menggeram.
"Iya, aku awasin," sahut Senja, santai.
"Ihh," Hanna melakukan gerakan hendak mencakar wajah Senja. "Kamu beruntung ini ada di sekolah, kalau tidak, wajahmu tidak akan selamat dari cakaranku. Selamat kamu hari ini," lanjut Hanna.
"Hei, dengar! Justru wajah kamu mungkin yang tidak akan selamat! Bisa-bisa sia-sia kamu pakai skincare, kalau berani macam-macam denganku! Jadi sebaiknya kamu berpikir ulang sebelum bertindak yang aneh-aneh. Aku tidak selemah yang kamu pikirkan," bisik Senja, sembari berjalan melewati Hanna, yang mengepalkan tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di lain sisi, tampak Ketiga sahabat Arkan saling silang pandang melihat sikap Arkana tadi pada Senja.
"Dia kenapa sih?" bisik Sabiru.
"Entah," Kevin mengangkat bahunya. "Coba kamu tanya dia," imbuhnya.
"Ka, kamu kenapa?" tanya Sabiru.
"Emangnya aku kenapa?" tanya Arkana balik.
"Kamu aneh hari ini. Senja tadi senyum dan mau menyapa kamu, tapi kamu langsung buang muka. Kamu dan Senja ada masalah?" tanya Sabiru lagi.
"Apanya yang aneh? Aku rasa tidak ada yang aneh sama sekali. Bukannya sikapku sudah terbiasa seperti ini? Sikapku ke Senja, sama seperti sikapku ke adik kelas yang lain, karena Senja tidak seistimewa itu harus mendapatkan perlakuan khusus. MOS sudah selesai itu berarti urusanku dengannya selesai. Urusanku sekarang hanya mengurus kegiatan OSIS," tutur Arkana sembari tetap mengajak tungkai kakinya untuk melangkah.
"Tapi kemarin aku lihat-lihat perlakuanmu pada Senja berbeda dengan perlakuanmu ke siswa baru lainnya,"
"Iya, benar. Kamu bahkan sampai mengajak dia makan di kantin berdua," Aldo buka suara menimpali ucapan Sabiru.
"Itu hanya kebetulan saja. tidak ada unsur lain," sahut Arkana.
"Tapi ___"
"Tidak ada tapi-tapi! Intinya, aku sama sekali tidak tertarik padanya. Jadi stop bicara tentang dia lagi!" belum selesai Kevin bicara, Arkana sudah menyela lebih dulu.
"Padahal, kita tidak bilang kalau kamu tertarik padanya, Lho. Kamu sendiri yang menyimpulkan," ujar Kevin.
Arkan terdiam, dan langsung mempercepat langkahnya.
"Eh, Ka, tungguin kita!" seru Sabiru sembari mengejar Arka, disusul oleh Aldo dan Kevin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senja masuk ke dalam kelasnya dan mengitari seluruh ruangan untuk mencari tempat di mana dia akan duduk.
"Permisi, apa aku boleh duduk di sini?" tanya Senja pada teman sekelasnya yang sengaja duduk di meja paling depan.
"Tidak boleh! Di sini sudah ada orangnya," sahut teman sekelasnya itu.
"Oh, Oke," ucap Senja. Kemudian, dia kembali melihat ke sekeliling mencari kursi kosong.
"Oh, itu ada!" batin Senja sembari melangkah menuju meja yang masih dihuni oleh satu orang.
Tanpa bertanya lagi Senja langsung meletakkan tasnya dan duduk.
"Eh, kamu jangan di sini! Ini sudah ada orangnya. Kamu cari tempat lain saja, sana!" usir Teman sekelasnya itu.
"Di mana orangnya?" tanya Senja.
"Sebentar lagi mungkin akan datang," sahut temannya tadi.
"Oh, berarti belum datang dong ya? Kalau begitu, kamu tidak punya hak melarangku duduk di sini. Siapa yang lebih cepat, dia yang dapat," ucap Senja, sama sekali tidak bergerak dari tempat dia duduk.
"Ihh, masalahnya aku tidak sudi duduk di dekat orang miskin seperti kamu," ucap murid perempuan yang dilihat dari name tag nya, bernama Cintya.
"Emm, apa aku terlihat peduli? Tidak kan? Kalau kamu tidak sudi, kamu punya hak untuk pindah," sahut Senja cuek dan santai.
"Aku lebih dulu duduk di sini, jadi aku punya hak untuk memintamu mencari meja yang lain, karena aku pasti tidak akan nyaman duduk di dekatmu," gadis bernama Cintya itu terlihat mulai geram.
"Who cares? Kamu tidak punya hak untuk mengusirku dari kursi yang sama sekali bukan hakmu. Di meja ini sama sekali tidak tertulis ada namamu dan sudah ditandatangani pemilik sekolah ini. Kalau kamu tidak nyaman duduk di dekatku, ya kamu tinggal pindah. Susah amat!" ucap Senja yang malah justru mengeluarkan bukunya.
"Ihh, kamu ya ...." gadis bernama Cintya itu meraih tasnya dan memilih untuk mencari meja lain. Sementara Senja tetap berusaha untuk tidak peduli. Padahal sebenarnya perasaan hati wanita itu benar-benar sedih.
"Ya, Tuhan, sampai kapan aku berpura-pura kuat seperti ini? apa segitu menjijikkannya aku, makanya untuk duduk di sampingku aja tidak ada yang sudi?" batin Senja menundukkan kepalanya, berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya.
"Senja, kamu harus kuat. Jangan lemah lagi! Jangan mau ditindas dan jadi down dengan sikap-sikap teman-teman kamu. Bukannya kamu sudah terbiasa mendapatkan penolakan seperti itu? Jadi seharusnya kamu kamu kuat kan? Ayo, angkat kepalamu dan tunjukkan kalau kamu wanita yang tidak mudah ditindas!" Senja memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Dia pun mengangkat kepalanya.
Di saat bersamaan, tampak Adelia berjalan masuk dan melihat sekeliling untuk mencari tempat dia duduk. Matanya seketika berhenti di samping Senja yang kursinya masih kosong.
Sebenarnya masih ada kursi kosong tapi posisinya ada di paling belakang, dan Adelia sama sekali tidak suka duduk di kursi paling belakang.
"Haish, kenapa tadi aku harus lama-lamain di luar sih? Aku lupa kalau hari ini hari pertama masuk kelas, dan harus cari tempat duduk sendiri. Apa aku harus duduk di samping Senja ya?" batin Adelia.
Sementara Senja, berusaha untuk bersikap biasa saja. Gadis itu bahkan tidak berniat untuk memanggil Adelia untuk duduk di sampingnya.
Dengan langkah gontai, akhirnya Adelia memutuskan untuk berjalan menuju meja yang ditempati Senja.
Gadis berlesung pipit itu meletakkan tasnya dan duduk di samping Senja. Dua gadis itu sama sekali tidak terlibat pembicaraan apapun dan suasana itu benar-benar membuat keduanya merasa tidak nyaman.
Tbc
Zhao Lusi as Senja
Terry Liu as Arkan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Citraleka Dhami
aku suka baca noveltoon karna ada ftonya jadi suka aku bacanya 🤣
2024-09-03
0
Rita
Bener hnya qt yg bs mensupport diri sndri
2024-08-01
2
Leng Loy
Sabar Senja kamu gadis yang kuat
2024-03-27
2