Pulangnya paman Senja

Arkana masih saja membuntuti Senja dan sepertinya gadis itu sama sekali tidak menyadari kalau dirinya dibuntuti.

Arkana mengernyitkan keningnya, ketika melihat gadis itu berhenti di depan sebuah warung makan, kalau biasa disebut orang Jakarta, Warteg. Gadis itu juga memasukkan sepeda yang dia tahu diberikan oleh adiknya pada gadis itu, ke dalam warung makan itu.

"Terima kasih ya, Bu! besok pagi aku ambil lagi sepedanya," samar-samar Arkan mendengar suara Sena menyerukan ucapannya itu.

"Kenapa dia meninggalkan sepedanya di warung itu? Kenapa dia tidak bawa sekalian? dia benar-benar aneh!" batin Arkana. "Dan kenapa aku bisa sepenasaran ini? sepertinya aku yang lebih aneh. Bisa-bisanya aku tertarik untuk mengetahui kehidupan perempuan yang baru saja aku kenal," Arkan menggerutu, merutuki dirinya sendiri sembari menggaruk-garuk dagunya.

Arkana baru saja hendak memutar balik motor sportnya, memutuskan untuk berhenti mengikuti Senja. Namun entah kenapa, rasa penasaran laki-laki itu lebih besar dari keinginannya untuk pulang. Ia pun kembali mengurungkan niatnya untuk pulang dan memutuskan untuk mengikuti Senja.

Senja berjalan kaki dengan sedikit cepat atau lebih tepatnya sedikit berlari dan berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup besar. Di depan rumah itu juga terparkir dua buah mobil berwarna putih dan abu-abu.

Arkana melihat jelas, Senja berlari ke arah seorang pria paruh baya yang merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan gadis berusia 16 tahun itu. Di samping pria paruh baya itu, terlihat juga seorang wanita paruh baya yang menyambut Senja tanpa ekspresi.

"Apa itu orangtua Senja? kalau dilihat-lihat dia bukan orang miskin. Dia cukup berada. Mereka punya mobil, tapi kenapa Senja kemarin-kemarin naik angkot ke sekolah? Dan kenapa dia tidak punya uang? Atau jangan-jangan, dia berpura-pura hidup prihatin agar orang-orang bersimpati padanya?" Arkana mulai berpikir yang tidak-tidak.

"Tapi, untuk apa dia melakukannya? kalau memang dia sudah berencana untuk menarik simpati orang padanya, bisa saja kan dia memasang wajah memelas? Tapi dia tidak melakukannya," batin Arkana lagi.

"Atau jangan-jangan, dia sudah menyelidiki sejak awal dan tahu kalau aku dan Adelia anak dari seorang pengusaha besar, makanya dia mendekati Adelia lebih dulu. Kalau iya, berarti dia itu perempuan licik. Aku harus secepatnya mengabari Adelia tentang teman barunya ini, agar dia bisa waspada," Arkana sepertinya salah paham dan menarik kesimpulannya sendiri. Dia pun berbalik dan pergi meninggalkan rumah Senja.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Bagaimana sekolah kamu, Nak? Apa kamu suka dengan sekolahmu?" tanya Satrio, paman Senja. Satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh Senja sekarang.

"Baik-baik saja kok, Paman. Dan tentu saja aku menyukai sekolahnya. Aku bahkan sudah punya teman yang baik," terang Senja dengan raut wajah berbinar.

"Syukurlah, kalau kamu suka. Oh ya, nih Paman bawa oleh-oleh untukmu. Untuk adikmu Keysha sudah dia ambil tadi," Satrio memberikan paper bag berisi dua stel dress pada keponakannya itu.

Senja menerima paper bag itu dengan ekspresi bahagia. Inilah yang membuat Senja berat meninggalkan rumah Pamannya. Walaupun bibi dan adik sepupunya, tidak menyayanginya, tapi pamannya sangat menyayanginya, dan tidak pernah membedakan dirinya yang hanya keponakan sendiri Keysha yang putrinya sendiri

"Paman lama kan di Jakarta?" tanya Senja penuh harap. Setidaknya dia tahu selama pamannya ada di Jakarta, dia tidak akan terancam kelaparan.

"Maunya sih Lama, Nja. Tapi, sayangnya paman dikasih cuti hanya seminggu, setelah itu paman akan kembali ke Jogja lagi," ucap Satrio sembari tersenyum.

"Oh, begitu ya, Paman?" raut wajah Senja seketika berubah sedih.

"Kamu jangan sedih, Nak. Kan di sini masih ada bibimu dan adikmu Keysha? Jadi kamu tidak akan kesepian," Satrio mengelus lembut surai panjang dan hitam milik keponakannya itu.

"Iya, Paman. Memang ada bibi dan Keysha di sini. Tapi, mereka tidak pernah memperlakukanku dengan baik, Paman," ucap Senja yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.

"Iya, bibi kan ada, Senja. Lagian, pamanmu kan memang harus kerja.Kalau pamanmu tidak kerja kita mau makan apa coba? bibi tahu kamu sangat merindukan Pamanmu, tapi jangan buat bibi sedih dong. Bibi merasa kalau pamanmu pulang, kamu jadi melupakannya Bibi. Bibi jadi cemburu," ucap Sukma, berpura-pura memasang wajah merajuk.

"Cih, mulai lagi deh sandiwara wanita culas ini," umpat Senja dalam hati.

Sementara Satrio terkekeh, mendengar ucapan istrinya. "Tuh, Senja, kamu jadinya membuat Bibimu sedih kan? Tuh lihat dia, merajuk karena cemburu. Ayo peluk bibimu, biar gak cemburu lagi," ucap Satrio dengan binar bahagia.

Dengan langkah yang sangat terpaksa, Senja menghampiri bibinya yang memasang senyum palsunya seraya merentangkan tangannya. "Kalau bukan karena pamanmu di sini, bibi malas memelukmu. Ingat, jangan sampai ngadu yang macam-macam!" Sukma masih sempat berbisik tepat ke telinga keponakannya itu.

"Oh ya Senja, kamu ke sekolah naik apa, Sayang?" tanya Satrio tiba-tiba, membuat raut wajah Sukma panik seketika. Wanita paruh baya itu benar-benar takut kalau Senja sampai keceplosan.

"Oh, aku naik angkot, Paman," sahut Senja jujur, membuat Sukma semakin panik.

"Apa? Naik angkot? Kenapa harus naik angkot?" Satrio menoleh ke arah Sukma untuk meminta penjelasan.

"Oh, anu, Pah. Senjanya yang gak mau diantar naik mobil. Katanya dia lebih suka naik angkot. Padahal, Mama sudah memaksa agar mama yang mengantarkan di ke sekolah, tapi dia tetap menolak. Ya, jadi mama tidak bisa memaksa dia," tutur Sukma dengan raut wajah yang cukup meyakinkan.

"Benar itu Senja?" tanya Satrio memastikan.

Senja tidak langsung menjawab, dia lebih dulu melihat ke arah Sukma yang sudah melotot padanya, menatap penuh ancaman.

"Iya, Paman. Aku memang yang ingin naik angkot," sahut Senja akhirnya. Bukannya dia takut pada wanita bibinya itu. Dia sengaja mengikuti permainan wanita paruh baya itu, karena demi menjaga agar rumah tangga paman dan bibinya itu baik-baik saja.

"Oh seperti itu. Kamu memang persis seperti mamamu waktu muda, sukanya hidup sederhana," puji Satrio yang tanpa menyadari membuat Sukma geram. Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya, kesal mendengar suaminya yang lagi-lagi memuji Dania, wanita yang sangat dia benci.

"Dania terus, Dania terus! Capek aku lama-lama!" umpat Sukma.

"Ya udah sekarang kamu makan dulu. Kamu pasti lapar kan, pulang sekolah?" ucap Satrio lagi.

"Emm, aku makan nanti saja, Paman. Aku masih kenyang soalnya," tolak Senja

"Hah, dia masih kenyang? Bagaimana bisa? Bukannya dia tidak makan apapun dari tadi malam?" batin Sukma menatap curiga ke arah Senja.

"Oh, begitu. Baiklah! Kalau nanti kamu sudah lapar kamu makan ya," Senja tersenyum dan menganggukkan kepala, mengiyakan.

"Oh ya, sebelum Paman lupa, ini uang untuk keperluanmu sekolah dan keperluan lainnya. Paman sudah menyiapkannya. Kamu pasti butuh beli buku-buku dan keperluan sekolah lainnya, karena bea siswa kamu tidak mencakup buku-buku dan yang lainnya," Satrio memberikan amplop berwarna coklat yang cukup tebal untuk Senja.

"Terima kasih, Paman!" ucap Senja sembari melirik ke arah bibinya yang kini menatapnya dengan sinis.

Seperti biasa, Senja yakin setelah Pamannya berlalu, bibinya itu pasti mengambil uang itu dari tangannya.

"Kali ini aku tidak mau bodoh lagi. Sebelum bibi meminta uang ini, aku akan menyembunyikannya sebagian," bisik Senja pada dirinya sendiri.

Ya, inilah salah satu alasan Senja meninggalkan sepedanya di warung makan, yang pemiliknya sudah dikenal baik oleh gadis itu. Dia tidak ingin bibinya itu mengambil sepedanya yang pasti harganya mahal dan menjualnya

Tbc

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

hmmmm

2024-08-01

0

Febby Fadila

Febby Fadila

arkan salah paham..

2024-06-06

0

Leng Loy

Leng Loy

Salah paham si Arkan

2024-03-27

1

lihat semua
Episodes
1 Murid baru
2 Kena hukum
3 Kurir bunga
4 Mengantarkan bunga
5 Dipecat
6 Mengikuti Senja
7 Kehidupan Senja
8 liciknya Sukma
9 Ambil jambu
10 Kalah adu gombal
11 Kekesalan Hanna
12 Licik teriak licik
13 Mengikuti Senja lagi
14 Pulangnya paman Senja
15 Salah paham
16 Cuek
17 Mengembalikan sepeda
18 Merasa ganjil
19 Tidak mau dijemput
20 Apa aku harus minta maaf?
21 terjebak sendiri
22 Kehilangan teman
23 Masa senang yang akan berakhir.
24 Bertemu Satrio di restoran
25 Arkana tahu yang sebenarnya
26 Minta maaf
27 Hanna panas
28 Rahasia Bea siswa
29 Tamparan sebagai pembuktian
30 Kena lagi.
31 Begal
32 Perkelahian sengit
33 Perih yang mendatangkan tawa
34 Capek tapi harus tetap diselesaikan
35 Kehebohan Aozora dan Adelia
36 Tidak romantis sama sekali
37 Berubah manis
38 Kepulangan yang tiba-tiba
39 Kemarahan Satrio
40 Kekagetan Sukma
41 Alasan Sabiru menjemput Senja
42 Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43 Peringatan Sabiru
44 Aku tidak mau tahu
45 tidak bisa dibandingkan
46 Aku tidak peduli
47 Ketumpahan Cat
48 Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49 mencoba bunuh diri
50 Kencan
51 Double date
52 Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53 Keinginan Arkan
54 mengungkit-ungkit balas budi
55 Rencana Darren
56 Terbongkar
57 Permintaan Daren
58 Pikiran Senja terganggu
59 Senja tahu yang sebenarnya
60 Mengantarkan pulang
61 mengundang Aldo masuk ke rumah.
62 Memberikan pengertian
63 Perjodohan demi bisnis
64 Gelang
65 Serba salah
66 Enam tahun kemudian
67 menguping
68 CEO baru
69 Mengantarkan laporan
70 Sama-sama kaget
71 Dipaksa jadi sekretaris
72 Kemunculan Ella
73 Tolong bertahan sebentar lagi
74 Mengungkapkan cinta
75 Arkan tahu siapa Ella
76 Berusaha menyingkirkan...
77 Senja tahu yang sebenarnya
78 Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79 Draft
80 Benar-benar hancur
81 Pengakuan Hanna
82 Arkan panik
83 Acara penyambutan Arkan
84 Kejutan.
85 Kamu wanita yang aku cintai
86 Tenang saja, aku punya cara
87 Aku kecewa ke kamu.
88 Memasak makan siang
89 permohonan Hanna
90 Kamu hanya bisa mencintaiku
91 Ide jahil Aldo
92 Kekesalan Arkan
93 memajukan hari pernikahan
94 Hanna sakit
95 Jangan pergi lagi
96 The wedding
97 Meminta maaf
98 Hal yang tidak disangka-sangka
99 Akhirnya
100 Akhir hidup Ella
101 Berubah menyebalkan
102 Mungkin saja dia hamil.
103 Hasil pemeriksaan
104 Bab 104
105 Ending
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Murid baru
2
Kena hukum
3
Kurir bunga
4
Mengantarkan bunga
5
Dipecat
6
Mengikuti Senja
7
Kehidupan Senja
8
liciknya Sukma
9
Ambil jambu
10
Kalah adu gombal
11
Kekesalan Hanna
12
Licik teriak licik
13
Mengikuti Senja lagi
14
Pulangnya paman Senja
15
Salah paham
16
Cuek
17
Mengembalikan sepeda
18
Merasa ganjil
19
Tidak mau dijemput
20
Apa aku harus minta maaf?
21
terjebak sendiri
22
Kehilangan teman
23
Masa senang yang akan berakhir.
24
Bertemu Satrio di restoran
25
Arkana tahu yang sebenarnya
26
Minta maaf
27
Hanna panas
28
Rahasia Bea siswa
29
Tamparan sebagai pembuktian
30
Kena lagi.
31
Begal
32
Perkelahian sengit
33
Perih yang mendatangkan tawa
34
Capek tapi harus tetap diselesaikan
35
Kehebohan Aozora dan Adelia
36
Tidak romantis sama sekali
37
Berubah manis
38
Kepulangan yang tiba-tiba
39
Kemarahan Satrio
40
Kekagetan Sukma
41
Alasan Sabiru menjemput Senja
42
Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43
Peringatan Sabiru
44
Aku tidak mau tahu
45
tidak bisa dibandingkan
46
Aku tidak peduli
47
Ketumpahan Cat
48
Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49
mencoba bunuh diri
50
Kencan
51
Double date
52
Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53
Keinginan Arkan
54
mengungkit-ungkit balas budi
55
Rencana Darren
56
Terbongkar
57
Permintaan Daren
58
Pikiran Senja terganggu
59
Senja tahu yang sebenarnya
60
Mengantarkan pulang
61
mengundang Aldo masuk ke rumah.
62
Memberikan pengertian
63
Perjodohan demi bisnis
64
Gelang
65
Serba salah
66
Enam tahun kemudian
67
menguping
68
CEO baru
69
Mengantarkan laporan
70
Sama-sama kaget
71
Dipaksa jadi sekretaris
72
Kemunculan Ella
73
Tolong bertahan sebentar lagi
74
Mengungkapkan cinta
75
Arkan tahu siapa Ella
76
Berusaha menyingkirkan...
77
Senja tahu yang sebenarnya
78
Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79
Draft
80
Benar-benar hancur
81
Pengakuan Hanna
82
Arkan panik
83
Acara penyambutan Arkan
84
Kejutan.
85
Kamu wanita yang aku cintai
86
Tenang saja, aku punya cara
87
Aku kecewa ke kamu.
88
Memasak makan siang
89
permohonan Hanna
90
Kamu hanya bisa mencintaiku
91
Ide jahil Aldo
92
Kekesalan Arkan
93
memajukan hari pernikahan
94
Hanna sakit
95
Jangan pergi lagi
96
The wedding
97
Meminta maaf
98
Hal yang tidak disangka-sangka
99
Akhirnya
100
Akhir hidup Ella
101
Berubah menyebalkan
102
Mungkin saja dia hamil.
103
Hasil pemeriksaan
104
Bab 104
105
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!