Ambil jambu

Sepanjang MOS di hari kedua ini, Senja terlihat sangat lesu. Bagaimana tidak, pagi ini gadis itu sama sekali tidak makan apapun. Dia hanya minum air putih saja sama seperti malam tadi. Dan kondisi gadis itu tidak lepas dari perhatian Arkana.

"Arka, kamu dari tadi kurang fokus, dan kalau aku lihat-lihat pandangan kamu dari tadi sama si Senja," bisik Sabiru, tapi masih bisa disentuh oleh Hanna yang kebetulan berdiri di samping Arka.

"Ah, itu hanya perasaanmu saja," sangkal Arka dengan wajah datar. Pria itu berpura-pura melihat ke arah berbeda, tapi tetap saja ekor mata pria itu menyempatkan waktu untuk melirik sekilas ke arah Senja.

"Dia kenapa ya? Kenapa dia terlihat lemas seperti itu? Apa karena masalah dia dipecat kemarin?" bisik Arkana pada dirinya sendiri.

Melihat Arkana yang melirik ke arah Senja, membuat Hanna semakin kesal. Gadis itu sontak mengepalkan tangannya dan wajahnya merengut menatap tidak suka ke arah Senja yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

"Dasar perempuan pick me. Sok polos padahal aku yakin kalau dia sengaja terlihat lemas untuk menarik perhatian Kak Arkana," umpat Hanna. "Awas aja, kalau dia berniat mendekati Kak Arkan. Aku tidak akan tinggal diam," lanjut Hanna lagi, mengajak hatinya berdialog.

Di lain sisi, ekspresi wajah Hanna dilihat jelas oleh Adelia. Dia menatap Hanna dengan alis yang bertaut dan melihat ke arah mana tatapan perempuan yang selalu menempel ke kakak laki-lakinya itu.

"Idih, si gadis manja sepertinya membenci Senja. Sepertinya dia menganggap Senja saingannya. Kalau begitu, itu artinya kehidupan Senja tidak akan nyaman karena akan selalu dikacaukan oleh si manja ini.

"Hei, kamu lihatin apa?"

"Lihat si manja!" jawab Adelia, menjawab pertanyaan Senja dengan cepat dan tanpa sadar. Sampai dirinya pun kaget sendiri ketika tersadar.

"Si manja? Si manja yang kamu maksud siapa? tanya Senja lagi.

"Lupakan! Aku tadi hanya bercanda. Tidak ada yang si manja di sini. Oh ya, nanti jangan langsung pulang ya! Aku mau kasih sepeda yang aku janjikan kemarin," Adelia tersenyum, sembari mengalihkan pembicaraan.

"Kamu jadi kasih aku sepeda?" Senja mengerjab-erjabkan matanya. Gadis itu benar-benar tidak menyangka kalau perempuan yang baru di kenalnya sehari kemarin itu, begitu baik padanya. Seumur-umur baru kali ini dia baru kali ini dia dianggap manusia oleh orang lain, setelah mama dan papanya meninggal.

"Ya jadilah. Aku kan sudah janji. Yang namanya janji kan harus ditepati,"

Senja mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Adelia.

"Sudah, kita jangan berisik lagi, nanti kena hukum lagi seperti kemarin," pungkas Adelia menghentikan pembicaraan mereka.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Jam istirahat sudah tiba. Banyak murid SMA Angkasa sudah keluar dari kelas masing-masing. Ada yang langsung ke kantin ada yang ke lapangan dan ada juga yang hanya duduk di depan kelas mereka.

"Kak, kamu mau kemana? kita ke kantin yuk!"

Hanna bergelayut manja di lengan Arkana dan memasang raut wajah menggemaskan.

"Maaf, Han. Kalian bisa pergi dulu ke sana, nanti aku akan nyusul," Tolan Arkana sembari menepis tangan Hanna dari lengannya dengan halus. Pemuda berusia 18 tahun itu, kelihatannya risih dengan sikap yang ditunjukkan oleh Hanna padanya.

"Emangnya kakak mau kemana? Aku ikut kakak aja. Nanti kita sama-sama nyusul mereka ke kantin,"

Sabiru, Aldo dan Kevin memutar bola mata mereka jengah mendengar keinginan Hanna.

"Han, kamu bisa nggak sih gak nempel terus ke Arkana? Kamu buat Arka risih tahu nggak," protes Sabiru yang langsung diiyakan oleh Aldo dan Kevin.

"Apaan sih? Kak Arka gak mungkin risih. Dia gak pernah protes kok jadi situ yang protes?". Ucap Hanna ketus.

"Iya kan, Kak?" tanya Hanna yang kembali manja.

"Emm, sudah dulu ya! Aku mau pergi dulu!" bukannya menjawab pertanyaan Hanna, Arkana dengan sengaja menghindar.

"Kakak mau kemana? Aku ikut!" Hanna menggerakkan tungkainya hendak mengikuti Arkana.

Arkana sontak menghentikan langkahnya dan berbalik. "Hanna, tolong kamu ke kantin saja duluan. Aku mau ke toilet, kamu tidak mungkin ikut," ucap Arkana, dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Hanna.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

"Kemana cewek gila itu pergi? Sepertinya tadi dia melangkah ke arah sini," Arkana mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Senja. Namun, dia sama sekali tidak melihat keberadaan gadis itu di manapun.

"Kenapa aku jadi bodoh seperti ini ya? Aku mencarinya untuk apa coba? kalau aku menemukannya, emangnya aku mau ngomong apa?" Arkana merutuki kebodohannya sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

Arkana kemudian berbalik dan kembali melangkahkan kakinya hendak menyusul sahabat-sahabatnya ke kantin.

Tiba-tiba pemuda remaja itu dikagetkan dengan suara patahan ranting yang berasal dari atas dan ranting itu jatuh tepat di depannya. Laki-laki berusia 18 tahun itu sontak mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat apa penyebab ranting itu patah.

"Astaga, ngapain kamu di atas sana!" seru Arkana dengan ekspresi kaget melihat kalau tenyata gadis yang dicarinya dari tadi sudah bergelantungan di atas pohon jambu air yang sedang berbuah lebat.

"Eh, ada kak Arka. Kakak ngapain di sini? Kaka mau ambil jambu juga?" bukannya menjawab pertanyaan Arka, Senja malah balik bertanya.

"Turun, Senja! kamu sudah seperti monyet bergelantungan di atas sana!" titah Arkana.

"Nanti, Kak. Sebentar lagi. Sayang, jambunya gak ada yang makan. Kasihan jambunya diabaikan," sahut Senja, absurd.

"Dasar perempuan gila! Turun aku bilang turun! Kamu punya nyawa cadangan ya, sampai berani manjat seperti itu?" sumpah Arkana benar-benar kesal sekarang.

"Iya, Kak tenang saja, aku punya nyawa cadangan kok. Aku sudah bersahabat dengan bumi, jadi dia tidak akan menyakitiku kalau aku terjatuh," sahut Senja, penuh makna yang dalam. Namun, Arkana tidak mengerti makna ucapan Senja.

Senja terlihat kembali berusaha menjangkau jambu air yang sangat merah dan besar, sehingga terlihat sangat menggugah selera. Melihat aksi gadis itu, Arkana sulit untuk bernapas, dan jantungnya seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat. Pria itu benar-benar tidak bisa membayangkan kalau gadis yang masih berusia 16 tahun itu, terjatuh hanya karena sebiji buah jambu.

"Yes, akhirnya dapat juga kamu!" sorak Senja gembira, sementara di bawah sana Arkana mengembuskan napas lega seakan dadanya baru terlepas dari himpitan batu besar.

"Senja, sekarang aku minta kamu turun, cepat! Kalau tidak, aku akan memberikan kamu hukuman!" kali ini Arkana terpaksa mengancam, agar gadis di atas sana mau turun.

"Aduh, jangan, Kak. Iya deh aku turun! Tapi, aku ambil satu lagi ya? Eh enggak dua aja, eh tiga deh," Senja melakukan penawaran.

"Kenapa jadi menghitung sih? Ayo turun! Kamu seperti orang yang kelaparan dan tidak pernah makan jambu. Kalau mau makan jambu air, jangan membahayakan diri sendiri!" bentak Arkana lagi.

"Cie, cie, Kak Arkana perhatian ni yeee. Jadi terharu aku. Kakak naksir aku ya?" goda Senja masih tetap ada di posisi atas.

"Senja! Aku bilang turun ya turun! Jangan bercanda!" suara Arkana sudah mulai meninggi. Pemuda itu benar-benar geram sekarang.

"Iya, Kak aku turun. Tapi, agak menjauh sedikit! Jangan mengintip!"

"Baru sekarang kamu bilang seperti itu? Aku tahu kamu pakai celana pendek di balik rokmu , ayo cepat turun!" titah Arkana lagi.

"Cie, Kak Arkan perhatian sekali, sampai tahu aku pakai celana di dalam rokku! Aku benar-benar terharu lho ini!" Senja masih saja berusaha untuk bercanda.

"Senja!" Arkana menatap Senja dengan tatapan yang sangat tajam.

"Iya, iya aku turun!" pungkas Senja akhirnya.

"Tapi, aku masih lapar, Kak. Aku benar-benar lapar. Aku hanya ingin makan jambu ini biar kenyang," ucap Senja yang tentu saja dia ucapkan dalam hati.

Tbc

Terpopuler

Comments

Abinaya Albab

Abinaya Albab

othor tega bgt ya bikin anak gadis 16th semenderita itu... untung anaknya tahan banting, kasihan bgt bener deh

2024-09-23

0

Citraleka Dhami

Citraleka Dhami

senja aku sedih bacanya seselit itu hidupmu /Cry/

2024-09-03

1

Rita

Rita

susah ngungkapin ya Sen

2024-08-01

3

lihat semua
Episodes
1 Murid baru
2 Kena hukum
3 Kurir bunga
4 Mengantarkan bunga
5 Dipecat
6 Mengikuti Senja
7 Kehidupan Senja
8 liciknya Sukma
9 Ambil jambu
10 Kalah adu gombal
11 Kekesalan Hanna
12 Licik teriak licik
13 Mengikuti Senja lagi
14 Pulangnya paman Senja
15 Salah paham
16 Cuek
17 Mengembalikan sepeda
18 Merasa ganjil
19 Tidak mau dijemput
20 Apa aku harus minta maaf?
21 terjebak sendiri
22 Kehilangan teman
23 Masa senang yang akan berakhir.
24 Bertemu Satrio di restoran
25 Arkana tahu yang sebenarnya
26 Minta maaf
27 Hanna panas
28 Rahasia Bea siswa
29 Tamparan sebagai pembuktian
30 Kena lagi.
31 Begal
32 Perkelahian sengit
33 Perih yang mendatangkan tawa
34 Capek tapi harus tetap diselesaikan
35 Kehebohan Aozora dan Adelia
36 Tidak romantis sama sekali
37 Berubah manis
38 Kepulangan yang tiba-tiba
39 Kemarahan Satrio
40 Kekagetan Sukma
41 Alasan Sabiru menjemput Senja
42 Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43 Peringatan Sabiru
44 Aku tidak mau tahu
45 tidak bisa dibandingkan
46 Aku tidak peduli
47 Ketumpahan Cat
48 Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49 mencoba bunuh diri
50 Kencan
51 Double date
52 Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53 Keinginan Arkan
54 mengungkit-ungkit balas budi
55 Rencana Darren
56 Terbongkar
57 Permintaan Daren
58 Pikiran Senja terganggu
59 Senja tahu yang sebenarnya
60 Mengantarkan pulang
61 mengundang Aldo masuk ke rumah.
62 Memberikan pengertian
63 Perjodohan demi bisnis
64 Gelang
65 Serba salah
66 Enam tahun kemudian
67 menguping
68 CEO baru
69 Mengantarkan laporan
70 Sama-sama kaget
71 Dipaksa jadi sekretaris
72 Kemunculan Ella
73 Tolong bertahan sebentar lagi
74 Mengungkapkan cinta
75 Arkan tahu siapa Ella
76 Berusaha menyingkirkan...
77 Senja tahu yang sebenarnya
78 Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79 Draft
80 Benar-benar hancur
81 Pengakuan Hanna
82 Arkan panik
83 Acara penyambutan Arkan
84 Kejutan.
85 Kamu wanita yang aku cintai
86 Tenang saja, aku punya cara
87 Aku kecewa ke kamu.
88 Memasak makan siang
89 permohonan Hanna
90 Kamu hanya bisa mencintaiku
91 Ide jahil Aldo
92 Kekesalan Arkan
93 memajukan hari pernikahan
94 Hanna sakit
95 Jangan pergi lagi
96 The wedding
97 Meminta maaf
98 Hal yang tidak disangka-sangka
99 Akhirnya
100 Akhir hidup Ella
101 Berubah menyebalkan
102 Mungkin saja dia hamil.
103 Hasil pemeriksaan
104 Bab 104
105 Ending
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Murid baru
2
Kena hukum
3
Kurir bunga
4
Mengantarkan bunga
5
Dipecat
6
Mengikuti Senja
7
Kehidupan Senja
8
liciknya Sukma
9
Ambil jambu
10
Kalah adu gombal
11
Kekesalan Hanna
12
Licik teriak licik
13
Mengikuti Senja lagi
14
Pulangnya paman Senja
15
Salah paham
16
Cuek
17
Mengembalikan sepeda
18
Merasa ganjil
19
Tidak mau dijemput
20
Apa aku harus minta maaf?
21
terjebak sendiri
22
Kehilangan teman
23
Masa senang yang akan berakhir.
24
Bertemu Satrio di restoran
25
Arkana tahu yang sebenarnya
26
Minta maaf
27
Hanna panas
28
Rahasia Bea siswa
29
Tamparan sebagai pembuktian
30
Kena lagi.
31
Begal
32
Perkelahian sengit
33
Perih yang mendatangkan tawa
34
Capek tapi harus tetap diselesaikan
35
Kehebohan Aozora dan Adelia
36
Tidak romantis sama sekali
37
Berubah manis
38
Kepulangan yang tiba-tiba
39
Kemarahan Satrio
40
Kekagetan Sukma
41
Alasan Sabiru menjemput Senja
42
Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43
Peringatan Sabiru
44
Aku tidak mau tahu
45
tidak bisa dibandingkan
46
Aku tidak peduli
47
Ketumpahan Cat
48
Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49
mencoba bunuh diri
50
Kencan
51
Double date
52
Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53
Keinginan Arkan
54
mengungkit-ungkit balas budi
55
Rencana Darren
56
Terbongkar
57
Permintaan Daren
58
Pikiran Senja terganggu
59
Senja tahu yang sebenarnya
60
Mengantarkan pulang
61
mengundang Aldo masuk ke rumah.
62
Memberikan pengertian
63
Perjodohan demi bisnis
64
Gelang
65
Serba salah
66
Enam tahun kemudian
67
menguping
68
CEO baru
69
Mengantarkan laporan
70
Sama-sama kaget
71
Dipaksa jadi sekretaris
72
Kemunculan Ella
73
Tolong bertahan sebentar lagi
74
Mengungkapkan cinta
75
Arkan tahu siapa Ella
76
Berusaha menyingkirkan...
77
Senja tahu yang sebenarnya
78
Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79
Draft
80
Benar-benar hancur
81
Pengakuan Hanna
82
Arkan panik
83
Acara penyambutan Arkan
84
Kejutan.
85
Kamu wanita yang aku cintai
86
Tenang saja, aku punya cara
87
Aku kecewa ke kamu.
88
Memasak makan siang
89
permohonan Hanna
90
Kamu hanya bisa mencintaiku
91
Ide jahil Aldo
92
Kekesalan Arkan
93
memajukan hari pernikahan
94
Hanna sakit
95
Jangan pergi lagi
96
The wedding
97
Meminta maaf
98
Hal yang tidak disangka-sangka
99
Akhirnya
100
Akhir hidup Ella
101
Berubah menyebalkan
102
Mungkin saja dia hamil.
103
Hasil pemeriksaan
104
Bab 104
105
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!