Kalah adu gombal

Senja dengan perlahan menginjakkan kakinya, di ranting-ranting yang sebelumnya dia sudah gunakan untuk naik. Sementara Arkan di bawah sana kembali menahan napasnya melihat gadis itu turun.

"Awas, Kak, menjauh sedikit, aku mau lompat!" seru Senja ketika dirinya sudah tidak terlalu jauh di atas lagi.

"Jangan macam-macam deh, Senja! Turun yang benar, tidak ada namanya melompat!" Arkana memasang wajah sangar.

"Ahh, Kak Arkan jangan disangar-sangarin wajahnya. Bagaimanapun Kakak tetap tampan kok," Senja mengerlingkan matanya ke arah Arkan. Entah kenapa, pipi Arkan memerah mendengar gombalan Senja. Ia pun langsung mengalihkan wajahnya ke tempat lain agar merah di pipinya tidak terlihat oleh gadis itu.

"Sial, bisa-bisanya aku tersipu mendengar gombalan bocah gila ini," umpat Arkan pada dirinya sendiri.

"Cepat turun Senja! Tidak waktunya untuk bercanda lagi. Dan berhenti menggombal, karena aku tidak akan tergoda," ucap Arkan dengan tegas, membuat Senja mengerucutkan bibirnya. Bukannya turun, Senja malah kembali duduk di cabang pohon yang sedang di injaknya, dan memeluk batang pohon itu.

"Senja, kenapa kamu duduk lagi? ayo turun!" bentak Arkana. Seumur-umur baru kali ini dia merasa sangat kesal, hanya karena seorang gadis remaja yang bahkan tingginya hanya sebahunya.

"Iya aku akan turun, tapi kakak harus mau adu gombal dulu denganku," tantang Senja.

"Tidak mau! Ayo turun!" tolak Arkana dengan tegas.

"Ih, Kakak takut ya? Cemen ah! Gak seru!" Senja dengan sengaja mengacungkan jari jempol ke bawah.

"Bukan takut, tapi aku memang tidak bisa menggombal. Ayo sekarang turun atau aku hukum kamu seperti kemarin!" lagi-lagi Arkana terpaksa mengeluarkan ancamannya.

"Terserah. Aku gak Pa-pa kok dihukum lagi. Yang penting Kakak mau adu gombal denganku. Yang kalah traktir makan," tantang Senja lagi.

"Aku yakin aku akan menang. Lumayan bisa dapat makan sekali," bisik Senja pada dirinya sendiri. Gadis itu begitu yakin kalau dia akan menghadapi si ketua OSIS yang kaku itu.

Arkan mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan dan mengusap wajahnya dengan kasar.

"Baiklah, aku terima tantanganmu, tapi cukup satu kali. Kamu mulai dulu!" Arkan akhirnya menerima tantangan Senja.

"Haish, aku kenapa sih? Kenapa aku pakai terima tantangan dia. Harusnya aku bodo amat dia mau turun dari pohon atau tidak," Arkan seketika menggerutu merutuki kebodohannya.

"Kak, kamu tahu nggak bedanya kamu dan bensin?" Senja memulai gombalannya.

"Ya kamu pun aneh, ya jelas bedalah. Dari namanya aja sudah beda. Anak TK aja tahu kalau aku dan bensin berbeda. Aku manusia sedangkan bensin __"

"Stop, kakak nggak seru. Ini adu gombal kak, adu gombal! Harusnya kakak jawab, 'nggak tahu, emang apa bedanya?' dan aku jawab 'kalau bensin makin lama makin habis, kalau Kakak makin lama makin manis' gitu kak," Senja menjelaskan dengan penuh berapi-api dan berteman dengan rasa kesal.

"Kalau begitu, bukannya itu termasuk pembodohan ya?" Arkana menggaruk-garuk kepalanya.

"Kak, ngerti kata gombal gak sih? cape juga lama-lama ngomong sama kanebo kering," Senja mulai mengomel tidak jelas, membuat sudut bibir Arkana tanpa sadar melengkung membentuk sebuah senyuman. Pemuda itu sepertinya sangat menikmati ocehan Senja yang seperti sedang membaca mantra.

"Sekarang giliranku kan?" tanya Arkan.

"Iya," sahut Senja singkat. "Hehehe aku mau lihat apa si kaki ini bisa ngegombal atau tidak," Batin Senja, tersenyum meremehkan ke arah kakak kelasnya itu.

Arkan terlihat diam seribu bahasa, seakan sedang berpikir keras. Ekspresi yang ditunjukkan pemuda itu tentu saja membuat Senja semakin di atas angin dan yakin kalau dia akan menang.

"Kakak kenapa diam? Tidak jadi ngegombalnya atau emang nggak tahu cara ngegombal?" ledek Senja tersenyum meremehkan.

"Bukan tidak tahu. Tapi setelah dipikir-pikir, kamu tidak pantas digombalin," ucap Arkan dengan wajah datar.

"Hah, tidak pantas? Jadi aku pantasnya diapain?" wajah Senja mulai memerah, kesal karena merasa direndahkan.

"Kamu pantasnya diseriusin," ucap Arkan, seraya tersenyum.

Mata Senja sontak membesar, terkesiap kaget mendengar gombalan Arkan yang sama sekali tidak dia sangka-sangka. Saking kagetnya pegangannya di pohon terlepas dan dia tidak dapat lagi menahan keseimbangannya hingga akhirnya dia pun terjatuh.

Arkana yang menyadari hal itu, sontak bergerak dengan cepat untuk menangkap tubuh gadis itu. Namun naas, dia justru jug kehilangan keseimbangannya saat tubuh Senja sudah ada ditangannya. Arkana terjatuh , demikian juga dengan Senja yang juga terjatuh tepat di atas tubuh Arka. Saking kagetnya, mereka berdua sama-sama mematung dan seakan sulit untuk menggerakkan tubuh masing-masing.

"Singkirkan tubuhmu Senja, kamu berat!" ucap Arkana setelah tersadar. Pria itu berusaha untuk tetap bersikap biasa padahal detak jantungnya sekarang sudah tidak bisa bekerja normal lagi seperti biasa

"Ah, i-iya, Kak. Maaf!" ucap Senja sembari berdiri dengan cepat.

"Badan kamu kecil, tapi ternyata kamu berat juga!" ucap Arkana lagi seraya menepuk-nepuk celananya untuk menyingkirkan debu yang mengotori celananya itu.

Senja tidak menjawab sama sekali. Gadis itu seketika mendadak bisu karena masih shock dengan yang baru saja terjadi.

"Kamu sudah kalah kan? Sekarang kamu traktir aku makan!"

Senja sontak tersadar begitu mendengar ucapan pemuda yang baru dikenalnya kemarin itu. Wajah gadis itu seketika pucat, mengingat dia tidak memiliki cukup uang. Uang yang ada padanya hanya cukup untuk ongkos angkot.

"Bagaimana ini? Ini sekolah elit, pasti makanannya juga mahal-mahal. Bagaimana caranya aku membayarnya?" tanpa sadar, Senja merogoh saku roknya untuk melihat uang yang dia miliki.

Arkan juga melirik ke arah uang yang lusuh di tangan Senja. Semua pergerakan gadis itu tidak luput dari pandangan pemuda itu.

"Apa dia hanya punya uang segitu? Kalau iya, Bagaimana dia bisa menjalani hidup dengan uang segitu?" bisik Arkana pada dirinya sendiri.

"Senja, bagaimana? Kamu berubah pikiran ya?" tanya Arkana, memancing kejujuran gadis itu.

"Te-tentu saja tidak! Ayo aku traktir!" sahut Senja, dengan tegas.

"Nanti biarlah aku mencuci piring kalau tidak sanggup bayar. Setidaknya aku harus komitmen dan bertanggung jawab dengan taruhan yang aku buat sendiri," Senja mengajak hatinya untuk berdialog.

"Baiklah,nanti aku akan makan sesuka hatiku. Nanti aku akan pesan makanan yang termahal di kantin. Kamu mau kan bayarin?" ucap Arkan membuat wajah Senja semakin pucat.

"Yang termahal itu kira-kira berapa harganya kak?" tanya Senja.

"Emm, gak mahal-mahal amat kok, satu porsinya hanya dua ratus ribu," sahut Arkana dengan entengnya.

"Hah, dua ratus ribu?" pekik Senja, kaget.

"Iya, kenapa? Gak mahal-mahal amat kan? Ayo aku sudah lapar," ucap Arkan, tersenyum misterius.

"Emm, gimana ya, Kak? bukannya mau kabur dari perjanjian. Kalau utang dulu di kantin boleh nggak, Kak?" tanya Senja dengan suara yang sangat pelan, membuat Arkana tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak tertawa. Ekspresi panik gadis di depannya itu benar-benar terlihat lucu di matanya. Dan tanpa Arka sadari, seumur-umur baru kali ini dia bisa tertawa selepas ini. Pemuda itu juga tidak menyadari kalau dia yang selama ini kaku dan hanya berbicara seperlunya saja saat berbicara dengan orang yang baru dikenalnya, kini bisa secair ini dan bahkan bisa berbicara panjang lebar pada Senja.

"Kak, aku tidak bercanda. Jangan tertawa ih!" Senja mulai kesal.

"Sudah-sudah, ayo kita ke kantin. Untuk kali ini aku saja yang traktir kamu!" pungkas Arkana akhirnya.

"Serius kak? kalau aku makan mie ayam dua mangkuk boleh nggak?" raut wajah Senja seketika berbinar.

Arkan tidak menjawab, melainkan hanya menganggukkan kepalanya.

"Yes! Akhirnya aku bisa kenyang hari ini!" sorak Senja tanpa sadar.

"Bisa kenyang hari ini? Maksud dia apa? Apa hari-hari sebelumnya dia kelaparan?" tanya Arkana pada hatinya sendiri.

Tbc

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

nah lho Sen 😂

2024-08-01

1

Rita

Rita

😅🤣🤣🤣🤣🤣jengkel sendiri

2024-08-01

0

bhunshin

bhunshin

senja😭

2024-06-15

0

lihat semua
Episodes
1 Murid baru
2 Kena hukum
3 Kurir bunga
4 Mengantarkan bunga
5 Dipecat
6 Mengikuti Senja
7 Kehidupan Senja
8 liciknya Sukma
9 Ambil jambu
10 Kalah adu gombal
11 Kekesalan Hanna
12 Licik teriak licik
13 Mengikuti Senja lagi
14 Pulangnya paman Senja
15 Salah paham
16 Cuek
17 Mengembalikan sepeda
18 Merasa ganjil
19 Tidak mau dijemput
20 Apa aku harus minta maaf?
21 terjebak sendiri
22 Kehilangan teman
23 Masa senang yang akan berakhir.
24 Bertemu Satrio di restoran
25 Arkana tahu yang sebenarnya
26 Minta maaf
27 Hanna panas
28 Rahasia Bea siswa
29 Tamparan sebagai pembuktian
30 Kena lagi.
31 Begal
32 Perkelahian sengit
33 Perih yang mendatangkan tawa
34 Capek tapi harus tetap diselesaikan
35 Kehebohan Aozora dan Adelia
36 Tidak romantis sama sekali
37 Berubah manis
38 Kepulangan yang tiba-tiba
39 Kemarahan Satrio
40 Kekagetan Sukma
41 Alasan Sabiru menjemput Senja
42 Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43 Peringatan Sabiru
44 Aku tidak mau tahu
45 tidak bisa dibandingkan
46 Aku tidak peduli
47 Ketumpahan Cat
48 Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49 mencoba bunuh diri
50 Kencan
51 Double date
52 Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53 Keinginan Arkan
54 mengungkit-ungkit balas budi
55 Rencana Darren
56 Terbongkar
57 Permintaan Daren
58 Pikiran Senja terganggu
59 Senja tahu yang sebenarnya
60 Mengantarkan pulang
61 mengundang Aldo masuk ke rumah.
62 Memberikan pengertian
63 Perjodohan demi bisnis
64 Gelang
65 Serba salah
66 Enam tahun kemudian
67 menguping
68 CEO baru
69 Mengantarkan laporan
70 Sama-sama kaget
71 Dipaksa jadi sekretaris
72 Kemunculan Ella
73 Tolong bertahan sebentar lagi
74 Mengungkapkan cinta
75 Arkan tahu siapa Ella
76 Berusaha menyingkirkan...
77 Senja tahu yang sebenarnya
78 Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79 Draft
80 Benar-benar hancur
81 Pengakuan Hanna
82 Arkan panik
83 Acara penyambutan Arkan
84 Kejutan.
85 Kamu wanita yang aku cintai
86 Tenang saja, aku punya cara
87 Aku kecewa ke kamu.
88 Memasak makan siang
89 permohonan Hanna
90 Kamu hanya bisa mencintaiku
91 Ide jahil Aldo
92 Kekesalan Arkan
93 memajukan hari pernikahan
94 Hanna sakit
95 Jangan pergi lagi
96 The wedding
97 Meminta maaf
98 Hal yang tidak disangka-sangka
99 Akhirnya
100 Akhir hidup Ella
101 Berubah menyebalkan
102 Mungkin saja dia hamil.
103 Hasil pemeriksaan
104 Bab 104
105 Ending
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Murid baru
2
Kena hukum
3
Kurir bunga
4
Mengantarkan bunga
5
Dipecat
6
Mengikuti Senja
7
Kehidupan Senja
8
liciknya Sukma
9
Ambil jambu
10
Kalah adu gombal
11
Kekesalan Hanna
12
Licik teriak licik
13
Mengikuti Senja lagi
14
Pulangnya paman Senja
15
Salah paham
16
Cuek
17
Mengembalikan sepeda
18
Merasa ganjil
19
Tidak mau dijemput
20
Apa aku harus minta maaf?
21
terjebak sendiri
22
Kehilangan teman
23
Masa senang yang akan berakhir.
24
Bertemu Satrio di restoran
25
Arkana tahu yang sebenarnya
26
Minta maaf
27
Hanna panas
28
Rahasia Bea siswa
29
Tamparan sebagai pembuktian
30
Kena lagi.
31
Begal
32
Perkelahian sengit
33
Perih yang mendatangkan tawa
34
Capek tapi harus tetap diselesaikan
35
Kehebohan Aozora dan Adelia
36
Tidak romantis sama sekali
37
Berubah manis
38
Kepulangan yang tiba-tiba
39
Kemarahan Satrio
40
Kekagetan Sukma
41
Alasan Sabiru menjemput Senja
42
Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43
Peringatan Sabiru
44
Aku tidak mau tahu
45
tidak bisa dibandingkan
46
Aku tidak peduli
47
Ketumpahan Cat
48
Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49
mencoba bunuh diri
50
Kencan
51
Double date
52
Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53
Keinginan Arkan
54
mengungkit-ungkit balas budi
55
Rencana Darren
56
Terbongkar
57
Permintaan Daren
58
Pikiran Senja terganggu
59
Senja tahu yang sebenarnya
60
Mengantarkan pulang
61
mengundang Aldo masuk ke rumah.
62
Memberikan pengertian
63
Perjodohan demi bisnis
64
Gelang
65
Serba salah
66
Enam tahun kemudian
67
menguping
68
CEO baru
69
Mengantarkan laporan
70
Sama-sama kaget
71
Dipaksa jadi sekretaris
72
Kemunculan Ella
73
Tolong bertahan sebentar lagi
74
Mengungkapkan cinta
75
Arkan tahu siapa Ella
76
Berusaha menyingkirkan...
77
Senja tahu yang sebenarnya
78
Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79
Draft
80
Benar-benar hancur
81
Pengakuan Hanna
82
Arkan panik
83
Acara penyambutan Arkan
84
Kejutan.
85
Kamu wanita yang aku cintai
86
Tenang saja, aku punya cara
87
Aku kecewa ke kamu.
88
Memasak makan siang
89
permohonan Hanna
90
Kamu hanya bisa mencintaiku
91
Ide jahil Aldo
92
Kekesalan Arkan
93
memajukan hari pernikahan
94
Hanna sakit
95
Jangan pergi lagi
96
The wedding
97
Meminta maaf
98
Hal yang tidak disangka-sangka
99
Akhirnya
100
Akhir hidup Ella
101
Berubah menyebalkan
102
Mungkin saja dia hamil.
103
Hasil pemeriksaan
104
Bab 104
105
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!