Kena hukum

"Ada apa, Kak?" tanya Senja setelah berdiri tepat di depan Arkana, yang kini menatap temannya tadi dengan sorot mata yang sangat tajam. Sementara gadis berlesung pipi itu hanya bisa menunduk, tidak membalas tatapan Arka.

"Kalian berdua aku perhatikan dari tadi sama sekali tidak memperhatikan sedikitpun yang dikatakan oleh panitia. Apa yang kalian bicarakan di belakang sana? Apa ada yang lucu di sini?" tanya seorang pemuda yang di dadanya tertulis nama Sabiru.

Senja menggelengkan kepalanya.

"Sekarang, coba ulangi apa yang dari tadi Arka jelaskan!" titah Sabiru lagi.

"Mampus gue!" umpat Senja. Raut wajah wanita itu berubah pucat, karena dia sama sekali tidak tahu apa yang dijelaskan oleh Arkana si ketua OSIS.

"Ayo jawab! Kenapa kamu diam saja!" bentak Sabiru lagi.

"Emm, apa ya, Kak?" Senja memicingkan matanya, berpura-pura berpikir.

"Emm, aku lupa kak, saking banyaknya dia bicara," jawab Senja membuat mata Arkana dan yang lainnya, membesar. Sumpah, baru kali ini mereka tahu ada murid baru yang bar-bar seperti Senja, yang terkesan tidak ada takut-takutnya pada kakak kelas.

"Hei, kamu jangan main-main ya! kami serius berbicara satupun kamu tidak ingat? Sekarang, aku mau tanya, tadi sudah ditunjukkan di mana arah Laboratorium. Sekarang kamu kasih tahu, dimana arah laboratorium itu!" Sabiru, yang merupakan sahabat Arkana mulai terpancing emosinya.

"Oh, arah laboratorium ya?" Senja mengitari segala penjuru lapangan untuk mencari keberadaan laboratorium yang kakak kelasnya itu maksud.

"Di mana laboratoriumnya? Kamu tahu nggak?" Senja menyikut gadis yang tadi jadi temannya bicara.

"Laboratoriumnya di __"

"Kamu diam, biarkan dia yang menunjuk!" Arkana yang dari tadi diam saja, buka suara, membuat gadis berlesung pipi itu terdiam dan kembali menundukkan kepalanya.

"Ayo jawab!" kali ini Arkana bicara ke arah Senja dengan nada dingin dan sorot mata yang tajam.

"Oh, iya kak! Sabar napa sih? Buru-buru amat. Aku tahu kalau aku cantik dan itu sudah mulai dari orok. Tapi, gak seburu-buru itu. Tenang aku masih ada di sini untuk kakak, dan tidak akan pergi ke mana-mana!" ucap Senja, asal. Membuat wajah Arkana memerah. Sementara gadis berlesung pipi itu, cekikikan tidak kuat menahan tawa. Sabiru dan yang lainnya yang awalnya kesal kini ikut tertawa.

"Baru kali ini ada yang terang-terangan berani menggoda Arkana!" batin Sabiru.

"Kalian jangan tertawa!" titah Arkana lagi, membuat tawa gadis berlesung pipi dan yang lainnya berhenti seketika.

Arkana kembali menatap ke arah Senja yang kini juga tengah menatapnya dengan memperlihatkan puppy eyes nya.

"Siapa namamu?" tanya Arka dengan nada yang masih dingin dan ekspresi datar.

"Cie, cie, si akang nanya nama. Nanti ujung-ujungnya, kamu tinggal di mana, nomor handphonemu berapa, habis itu nomor sepatu kamu berapa," bukannya menjawab, Senja malah membalas dengan bercanda, membuat wajah Arka semakin merah padam.

"Hei, aku tidak lagi bercanda! Cepat siapa namamu, biar aku blacklist dari kegiatan apapun nanti di sekolah ini. Buruan!" bentak Arka, yang mulai hilang sabar.

"Pada waktu kapan Langit akan berubah berwarna jingga?" lagi-lagi Senja tidak memberikan jawaban, malah balik bertanya.

"Hei, kamu jangan pancing kesabaranku ya! Aku tanya namamu, bukan ngakak kamu untuk berteka-teki!"

"Ya, dijawab dulu, Kak! Karena jawabannya adalah namaku," sahut Senja.

"Senja!" bukan Arkana yang menjawab, melainkan Sabiru.

"Yaaa, kakak benar! Namaku Senja Mentari Chairani."

Arkana menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan napas, berusaha meredam emosinya.

"Baiklah, nama kamu sudah aku catat di buku hitam. Sekarang, kamu jawab pertanyaan di awal. Dimana arah letak Laboratorium?" Arka mengulangi pertanyaannya.

"Emm, di mana ya? Kakak mau tahu banget atau mau tahu aja,"

"SENJA!" bentak Arkana, yang kembali terpancing emosinya.

Mendengar suara Arkana yang mulai meninggi membuat Senja terjengkit kaget. Gadis yang tadinya terlihat berani itu kini menundukkan kepalanya, merasa gentar juga melihat tatapan Arkana yang semakin tajam.

"Ayo jawab!"bentak Arka lagi.

"Emm, maaf Kak, aku lupa!" akhirnya Senja, mulai serius.

"Kamu lupa atau tidak dengar sama sekali?" tukas Arkana dengan sorot mata yang semakin tajam.

"Maaf, Kak. Aku kurang perhatikan sih, karena dari tadi aku tidak fokus pada apa yang dikatakan Kak Arka. Aku terbuai sama wajah kak Arka yang tampan," ucap Senja yang seketika menimbulkan suara riuh di lapangan itu.

Wajah Arka kembali memerah, mendengar ucapan adik kelasnya yang menurutnya terlalu frontal.

"Sial! Beraninya dia berkata seperti itu! Biasanya murid baru itu, takut kalau dihadapkan masalah seperti ini. Ini dia malah sempat-sempatnya menggombal," batin Arkana.

"Lagian kenapa kakak masih bertanya di mana arah laboratorium sih ke aku? Aku kan murid baru, jadi mana tahu. Harusnya aku yang tanya Kakak di mana arah Laboratorium?"

Arkana mengepalkan tangannya, dan mengembuskan napasnya dengan sangat keras. Adik kelasnya yang bernama Senja itu benar-benar berhasil memancing kesabarannya kali ini.

"Sabiru, kamu urus dia! bisa-bisa pecah kepalaku menghadapi cewe gila seperti dia!" Arkana memilih untuk menyerah. Pria tampan yang memiliki postur tubuh yang tinggi itu memilih untuk mundur dan duduk di sebuah kursi.

"Senja, sekarang kamu jelaskan dengan baik-baik di mana letak Laboratorium?" kali ini Sabiru yang bertanya.

"Em, dimana ya? mati aku, aku benar-benar tidak tahu lagi. Sepertinya aku sudah tidak bisa bercanda lagi" bisik Senja pada dirinya sendiri.

"Emm, di sana Kak!" Senja menunjuk ke arah di mana terletak ada toilet khusus siswa yang kelasnya ada di lantai satu.

"Oh, toilet ya? Jadi Laboratoriumnya di mana dong?" Senja menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Heh, kami yang tanya kamu, kenapa kamu malah tanya balik?" bentak Sabiru.

"Sudahlah! jangan ditanya lagi. Buang-buang waktu! Yang jelas dia dari tadi tidak mendengar apapun. Kasih saja dia hukuman!" Arkana yang masih kesal kembali buka suara sembari berdiri dari tempat duduknya.

"Hah, hukuman? Jangan dong Kak!" Senja mulai merengek.

"Tidak, kamu harus tetap dihukum!" pungkas Arkana tak terbantahkan.

"Baiklah! Tapi, hukumannya disuruh duduk di dekat Kakak setiap hari ya," Senja mengerjab-erjabkan matanya.

"Itu bukan hukuman, tapi itumah maunya kamu. Arka mana mau dekat-dekat dengan gadis petakilan seperti kamu!" kali ini yang bersuara adalah seorang gadis berparas cantik yang memang dari awal dirinya menggoda Arkana, sudah memasang wajah kesal.

Senja sontak menoleh ke arah gadis itu, dan melihat ke arah dadanya. Tampak di dada itu tertulis nama Hanna.

"Kalian berdua, aku hukum untuk membersihkan toilet wanita yang ada di lantai atas, setelah pulang sekolah!" ucap Arkana, tegas.

"Hah, bersihkan toilet? Tapi, Kak __"

"Tidak ada tapi-tapi! Sekolah sudah memberikan hak pada kami untuk memberikan pengarahan pada murid baru, dan juga memberikan hak untuk memberikan hukuman pada siapapun yang dianggap melakukan kesalahan, selama hukuman itu masih masuk akal. Nah, membersihkan toilet, aku anggap masih hukuman yang wajar," pungkas Arsen, memotong gadis berlesung pipi yang siap untuk membantah.

"Biarkan aku saja yang melakukannya. Dia tidak salah, karena aku yang asik mengajak dia bicara. Jadi ini murni kesalahanku!" ucap Senja, yang kali ini terlihat sangat serius.

"Tidak bisa! Dia harus tetap ikut dihukum. Karena dia punya hak untuk memutuskan untuk meladeni kamu bicara atau tidak. Dengan dia memilih meladenimu, itu berarti dia sudah siap untuk kena hukum juga,"

"Sudahlah, Senja! Aku tidak apa-apa! Nanti kita bersihkan toilet sama-sama," sahut gadis berlesung pipi itu.

"Maaf ya! Aku sudah membuatmu kena hukuman," Senja memasang wajah merasa bersalah.

"Ahh, tidak apa-apa! Justru aku senang, karena ini pengalaman pertamaku membersihkan toilet. Pasti rasanya menyenangkan!" mata Senja membesar, terkesiap kaget sekaligus merasa aneh pada teman barunya. Seumur-umur baru kali ini dia tahu ada orang yang senang membersihkan toilet.

"Oh ya, dari tadi kita bicara tapi aku tidak tahu siapa namamu. Nama kamu siapa?" tanya Senja.

"Namaku Adelia, kamu bisa panggil aku Adel!" sahut gadis berlesung pipi yang ternyata bernama Adelia.

"Dari tadi kalian ngobrol di belakang, tapi belum kenalan?" celetuk Sabiru.

"Urusan ke Kakak apa?" sahut Adelia menatap Sabiru dengan tajam.

Bukannya kesal, Sabiru malah terdiam dan memilih untuk mundur.

"Ayo Senja, kita ke belakang lagi!" Adelia menggandeng tangan Senja dan menatap ke arah Arkana dengan sorot mata kesal dan tidak kalah tajam dari tatapan yang tadinya ditujukan pada Sabiru.

"Del, untuk nomor Kak Arkana, gak jadi deh. Ternyata dia memang benar-benar menyebalkan seperti yang kamu katakan tadi," Senja sengaja berbicara seperti itu tepat ketika mereka lewat di depan Arka.

"Kan sudah kubilang dari tadi, kalau dia memang menyebalkan!" sahut Adelia, membuat Arkana kesal.

"Sialan! Dasar adik durhaka. Bisa-bisanya dia menjelekkan kakak sendiri ke orang lain," umpat Arkana.

tbc

Terpopuler

Comments

Suriani Lahusi Lajahiti

Suriani Lahusi Lajahiti

baru menyimak
tapi lucu 😂😂😂😂

2025-01-01

0

𝑮𝒊𝒖𝒍𝒊𝒂𝒏𝒐𝒗𝒂🌷

𝑮𝒊𝒖𝒍𝒊𝒂𝒏𝒐𝒗𝒂🌷

apa ini sepupunya arkana ya 🤔

2024-08-06

0

Rita

Rita

🤣🤣🤣🤣🤣br hr pertama

2024-08-01

0

lihat semua
Episodes
1 Murid baru
2 Kena hukum
3 Kurir bunga
4 Mengantarkan bunga
5 Dipecat
6 Mengikuti Senja
7 Kehidupan Senja
8 liciknya Sukma
9 Ambil jambu
10 Kalah adu gombal
11 Kekesalan Hanna
12 Licik teriak licik
13 Mengikuti Senja lagi
14 Pulangnya paman Senja
15 Salah paham
16 Cuek
17 Mengembalikan sepeda
18 Merasa ganjil
19 Tidak mau dijemput
20 Apa aku harus minta maaf?
21 terjebak sendiri
22 Kehilangan teman
23 Masa senang yang akan berakhir.
24 Bertemu Satrio di restoran
25 Arkana tahu yang sebenarnya
26 Minta maaf
27 Hanna panas
28 Rahasia Bea siswa
29 Tamparan sebagai pembuktian
30 Kena lagi.
31 Begal
32 Perkelahian sengit
33 Perih yang mendatangkan tawa
34 Capek tapi harus tetap diselesaikan
35 Kehebohan Aozora dan Adelia
36 Tidak romantis sama sekali
37 Berubah manis
38 Kepulangan yang tiba-tiba
39 Kemarahan Satrio
40 Kekagetan Sukma
41 Alasan Sabiru menjemput Senja
42 Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43 Peringatan Sabiru
44 Aku tidak mau tahu
45 tidak bisa dibandingkan
46 Aku tidak peduli
47 Ketumpahan Cat
48 Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49 mencoba bunuh diri
50 Kencan
51 Double date
52 Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53 Keinginan Arkan
54 mengungkit-ungkit balas budi
55 Rencana Darren
56 Terbongkar
57 Permintaan Daren
58 Pikiran Senja terganggu
59 Senja tahu yang sebenarnya
60 Mengantarkan pulang
61 mengundang Aldo masuk ke rumah.
62 Memberikan pengertian
63 Perjodohan demi bisnis
64 Gelang
65 Serba salah
66 Enam tahun kemudian
67 menguping
68 CEO baru
69 Mengantarkan laporan
70 Sama-sama kaget
71 Dipaksa jadi sekretaris
72 Kemunculan Ella
73 Tolong bertahan sebentar lagi
74 Mengungkapkan cinta
75 Arkan tahu siapa Ella
76 Berusaha menyingkirkan...
77 Senja tahu yang sebenarnya
78 Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79 Draft
80 Benar-benar hancur
81 Pengakuan Hanna
82 Arkan panik
83 Acara penyambutan Arkan
84 Kejutan.
85 Kamu wanita yang aku cintai
86 Tenang saja, aku punya cara
87 Aku kecewa ke kamu.
88 Memasak makan siang
89 permohonan Hanna
90 Kamu hanya bisa mencintaiku
91 Ide jahil Aldo
92 Kekesalan Arkan
93 memajukan hari pernikahan
94 Hanna sakit
95 Jangan pergi lagi
96 The wedding
97 Meminta maaf
98 Hal yang tidak disangka-sangka
99 Akhirnya
100 Akhir hidup Ella
101 Berubah menyebalkan
102 Mungkin saja dia hamil.
103 Hasil pemeriksaan
104 Bab 104
105 Ending
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Murid baru
2
Kena hukum
3
Kurir bunga
4
Mengantarkan bunga
5
Dipecat
6
Mengikuti Senja
7
Kehidupan Senja
8
liciknya Sukma
9
Ambil jambu
10
Kalah adu gombal
11
Kekesalan Hanna
12
Licik teriak licik
13
Mengikuti Senja lagi
14
Pulangnya paman Senja
15
Salah paham
16
Cuek
17
Mengembalikan sepeda
18
Merasa ganjil
19
Tidak mau dijemput
20
Apa aku harus minta maaf?
21
terjebak sendiri
22
Kehilangan teman
23
Masa senang yang akan berakhir.
24
Bertemu Satrio di restoran
25
Arkana tahu yang sebenarnya
26
Minta maaf
27
Hanna panas
28
Rahasia Bea siswa
29
Tamparan sebagai pembuktian
30
Kena lagi.
31
Begal
32
Perkelahian sengit
33
Perih yang mendatangkan tawa
34
Capek tapi harus tetap diselesaikan
35
Kehebohan Aozora dan Adelia
36
Tidak romantis sama sekali
37
Berubah manis
38
Kepulangan yang tiba-tiba
39
Kemarahan Satrio
40
Kekagetan Sukma
41
Alasan Sabiru menjemput Senja
42
Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43
Peringatan Sabiru
44
Aku tidak mau tahu
45
tidak bisa dibandingkan
46
Aku tidak peduli
47
Ketumpahan Cat
48
Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49
mencoba bunuh diri
50
Kencan
51
Double date
52
Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53
Keinginan Arkan
54
mengungkit-ungkit balas budi
55
Rencana Darren
56
Terbongkar
57
Permintaan Daren
58
Pikiran Senja terganggu
59
Senja tahu yang sebenarnya
60
Mengantarkan pulang
61
mengundang Aldo masuk ke rumah.
62
Memberikan pengertian
63
Perjodohan demi bisnis
64
Gelang
65
Serba salah
66
Enam tahun kemudian
67
menguping
68
CEO baru
69
Mengantarkan laporan
70
Sama-sama kaget
71
Dipaksa jadi sekretaris
72
Kemunculan Ella
73
Tolong bertahan sebentar lagi
74
Mengungkapkan cinta
75
Arkan tahu siapa Ella
76
Berusaha menyingkirkan...
77
Senja tahu yang sebenarnya
78
Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79
Draft
80
Benar-benar hancur
81
Pengakuan Hanna
82
Arkan panik
83
Acara penyambutan Arkan
84
Kejutan.
85
Kamu wanita yang aku cintai
86
Tenang saja, aku punya cara
87
Aku kecewa ke kamu.
88
Memasak makan siang
89
permohonan Hanna
90
Kamu hanya bisa mencintaiku
91
Ide jahil Aldo
92
Kekesalan Arkan
93
memajukan hari pernikahan
94
Hanna sakit
95
Jangan pergi lagi
96
The wedding
97
Meminta maaf
98
Hal yang tidak disangka-sangka
99
Akhirnya
100
Akhir hidup Ella
101
Berubah menyebalkan
102
Mungkin saja dia hamil.
103
Hasil pemeriksaan
104
Bab 104
105
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!