Senja, mengembuskan napas berat sembari memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Wajah wanita itu terlihat muram, dan tentu saja itu mengundang tanda tanya pada Arkan. Apalagi ketika Senja tanpa bicara sedikitpun meraih sepeda yang dia pakai, lalu berlalu pergi tanpa permisi.
Arka menatap kepergian Senja, sampai tubuh wanita itu menghilang dari pandangannya. Sementara, Hanna semakin memberengut kesal saat melihat tatapan laki-laki yang dia kagumi itu tidak lepas dari arah kemana Senja pergi.
"Kak, ayo kita pulang! aku sudah malas di sini!" Hanna mulai merengek sembari menguncang-guncang pundak Arkana.
"Kamu bisa pulang lebih dulu kan?" ucap Arka, membuat bibir Hanna semakin mengerucut.
"Aku nggak mau! Aku maunya pulang sama Kak Arka. Ayo, Kak pulang!" Hanna semakin merengek manja.
"Han, kamu pulang dengan Sabiru dulu ya? Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu kali ini,"
"Kok jadi sama aku?" protes Sabiru dengan ekspresi tidak senang.
"Aku juga tidak mau sama Kak Biru. Aku maunya diantar sama Kak Arka, Weee!" Hanna menjulurkan lidahnya ke arah Sabiru.
Arkana mengembuskan napasnya dan menepis dengan lembut tangan Hanna yang melingkar di lengannya. "Hanna, terserah kamu mau pulang sama siapa. Kalau kamu tidak mau pulang dengan Sabiru, dengan Aldo atau Kevin juga gak pa-pa. Yang jelas dengan sangat aku minta maaf, kalau aku tidak bisa mengantarkanmu pulang. Maaf ya!" ucap Arkan.
"Tapi, kan papa tahunya aku pergi sama kak Arkan. Harusnya Kakak harus bertanggungjawab mengantarkanku pulang. Kakak sudah janji tadi sama Papa akan menjagaku. Pokoknya aku tidak mau tahu, Kakak harus mengantarkanku pulang!" tegas Hanna, dengan tangan bersedekap di dada dan bibir mengerucut.
"Tolong mengerti kali ini, Hanna. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri! Aku memang sedang tidak bisa mengantarkanmu pulang. Tolong kamu pilih mau pulang dengan siapa!" suara Arkan terdengar tegas dan sedikit keras membuat mata Hana berkaca-kaca hendak menangis.
"Ihh, Kak Arka jahat! Kaka Arka tega membentakku. Nanti aku adukan sama Tante Zora," Hanna kini sengaja menyebut nama wanita yang melahirkan laki-laki yang dikaguminya itu, karena dia tahu kalau Arka akan melemah kalau dirinya melibatkan mama pria itu
"Terserah deh, Hanna. Aku capek, setiap saat kamu selalu melibatkan mama kalau keinginan tidak aku iya kan. Sekarang, terserah kamu mau mengadu apapun ke Mama terserah. Sekarang yang jelas aku memang tidak bisa mengantarkanmu pulang, maaf!" tegas Arkan tak terbantahkan.
Hanna tercenung, terdiam seribu karena kali ini nama Zora tidak bisa mempengaruhi Arkan lagi.
Arkana kemudian menoleh pada Sabiru, Kevin dan Aldo bergantian. "Siapa di antara kalian bisa mengantarkannya pulang? Tolong salah satu dari kalian. Aku ingin langsung pulang, karena aku kurang enak badan. Tolong!" ucap Arkan, sembari meraih buket mawar yang ditinggalkan pria yang mengganggu Senja tadi dari tanah.
Pria itu membolak-balikkan bunga itu, kemudian mengangkat bahunya lalu berjalan menuju tong sampah.
"Aku pergi dulu ya semua!"Arkan langsung menaiki motor besarnya, kemudian melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Tapi, Bu, aku lah yang jadi korban di sini. Aku hanya melindungi diriku sendiri karena sudah dilecehkan. Apa menurut ibu aku salah? tolong jangan pecat aku, Bu!" Senja menangkupkan kedua tangannya, memohon kemurahan hati pemilik toko bunga itu.
"Tidak! aku sudah keluar uang banyak untuk mengganti rugi atas masalah yang kamu buat. Aku tidak mau semakin rugi lagi kalau dia tahu kamu Masib kerja di sini. Sana, keluar!" usir pemilik toko bunga itu tanpa rasa kasihan sedikitpun.
"Ibu ini juga seorang perempuan. Seharusnya sesama perempuan memiliki empati kalau perempuan lainnya dilecehkan hari dirinya. Tapi, sepertinya tidak dengan Ibu. Baiklah, aku akan pergi dari sini. Mudah-mudahan, toko ibu ini semakin sukses ke depannya, permisi!" Senja berbalik dan meninggalkan wanita pemilik toko bunga, yang seketika mematung mendengar ucapan Senja tadi.
"Haish, hari ini aku tidak dapat apa-apa! Apa yang harus aku lakukan? nenek lampir itu nanti pasti akan menghukumku dan tidak akan memberikan aku makan. Sepertinya aku harus puasa lagi malam ini. Mana tadi siang aku pun belum makan lagi," keluh Senja sembari berjalan gontai keluar dari dalam toko bunga. Senja memang sudah biasa dengan kehidupannya, tapi bohong kalau dia tidak sedih. Keceriaan yang dia tunjukkan selama ini hanyalah topeng untuk menutupi kerapuhannya, agar dirinya tidak terlihat menyedihkan.
Ketika Senja keluar dari dalam toko bunga itu, tanpa dia sadari ada sepasang mata milik Arkana yang menatapnya dari balik helmnya.
"Sepertinya dia dipecat. Aku penasaran kenapa dia harus bekerja sebagai kurir bunga? bagaimana kondisi keluarganya sebenarnya?" batin Arkana, dengan pandangan yang tak lepas dari tubuh Senja yang sepertinya berjalan menuju halte bus.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di kediaman keluarga Pramana, tampak seorang gadis remaja yang merengek-rengek pada seorang wanita yang sudah berumur, tapi masih terlihat sangat cantik.
"Ma, boleh ya aku beli sepeda untuk teman baruku itu kasihan dia!" ternyata gadis remaja itu adalah Adelia. Pada siapa gadis itu merengek? tentu saja pada Aozora, mamanya.
Aozora yang tadi berpura-pura fokus pada ponselnya, akhirnya tidak bisa mengabaikan rengekan putrinya itu.
"Kenapa kamu sangat ingin membelikan sepeda untuk temanmu itu? Padahal kamu baru saja mengenalnya hari ini. Apa dia yang meminta sendiri padamu?" tanya Aozora dengan alis bertaut menyelidik.
Adelia menggelengkan kepalanya. "Dia tidak meminta sama sekali. Aku yang menawarkannya sendiri. Aku bahkan bilang kalau aku memberikannya sepeda bekasku yang sama sekali tidak pernah aku pakai. Tapi, aku merasa tidak enak memberikannya barang bekas. Boleh ya, Ma? Kasihan dia!" Adelia memohon sembari mengerjab-erjabkan matanya, memasang wajah menggemaskan.
Aozora sontak tersenyum dan akhirnya menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Jauh di lubuk hatinya, wanita itu bahagia melihat putrinya yang tumbuh dengan memiliki rasa empati yang tinggi.
"Yeee, terima kasih, Mama!" Adelia mencium pipi Aozora dengan senyum merekah.
"Kalau begitu aku mau nelpon kak Danisa dulu. Aku mau minta ditemenin," ucap Adelia seraya meraih ponselnya.
"Kenapa tidak meminta Kak Arkan aja? Dia kan masih di luar, jadi minta saja dia beli sepeda, daripada kamu nyusahin Danisa," ucap Aozora, memberikan saran. Danisa yang dimaksud adalah kakak sepupu dari Adelia, yaitu putri dari adiknya, Tsania. Yang lahir di hari yang sama dengan Arkana putranya.
"Ah, aku nggak mau! Kak Arkan sekarang pasti lagi sama si cewek manja dan menyebalkan itu," ucap Adelia dengan bibit yang mengerucut.
"Hush, tidak boleh bicara seperti itu. Tidak baik!" tegur Aozora.
"Iya, iya, maaf, Ma. Tapi emang benar dia manja kan?" Adelia tetap saja menekan kata manja membuat Aozora berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah, sekarang kamu telepon Kak Danisa saja, biar kalian cepat pergi. Biar nanti nggak kemalaman," pungkas Aozora akhirnya.
"Ai, ai, siap kapten!" sorak Adelia sembari melakukan gerakan menghormat.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Rita
sebenernya rapuh tp berusaha kuat dan tegar klo ngga gitu pasti depresi
2024-08-01
5
Rita
gmn Arkan mau suka
2024-08-01
0
Vira Zulfiyanti
yg bener danisa adik sepupu Adelia lah Thor, bukan kakak sepupu
2024-06-23
0