"Non, bagaimana dengan sepedanya? Apa kita bawa saja pulang?" tanya supir keluarga Arkana.
"Ya, mau bagaimana lagi. Ya kita bawa balik, Pak. Tidak mungkin juga kita tinggalkan di sini kan? " sahut Adelia, diiringi dengan helaan napas berat.
"Ayo, Pak masukkan ke mobil sepedanya!" imbuhnya.
"Baik, Non!" pria paruh baya, supir keluarga Arkana itu menganggukkan kepalanya, kemudian menggiring sepeda itu ke arah mobil yang terparkir tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.
"Del, kenapa sepedanya kembali padamu?" tiba-tiba sepeda motor yang ditunggangi Arkana muncul dan berhenti tepat dekat mobil Adelia terparkir. "Kamu memintanya kembali dari Senja?" Arkana mengernyitkan keningnya.
Adelia menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sendu.
"Jadi?" kening Arkana semakin berkerut melihat gelengan kepala adiknya itu.
"Senja sendiri yang mengembalikannya tadi. Belum sempat aku menolak, dia sudah keburu pergi," Adelia menghela napasnya dengan berat.
"Oh, begitu. Ya udah deh. Kakak, duluan ya!" kemudian Arkana menatap ke arah Tino supir keluarga yang sudah lama mengabdi di keluarga mereka.
"Pak Tino, hati-hati bawa mobilnya ya!" titah Arkana, tersenyum di balik helmnya.
"Baik, Den," sahut pria paruh baya bernama Tino itu.
Arkana baru saja hendak menutup kembali kaca helmnya, tiba-tiba seorang gadis berlari ke arahnya. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Hanna.
"Kak Arka, aku boleh ikut kamu? Kali ini antar aku pulang, please!" mohon Hanna, sembari memasang puppy eyes nya.
Arkana diam untuk beberapa saat, seperti tengah berpikir. "Emm, tapi aku tidak punya helm untukmu. Sepertinya tidak bisa," tolak Arkana, halus.
"Kakak tenang saja, aku selalu sedia helm kok di mobil. Nanti aku akan minta supirku untuk antar helmnya ke sini. Mau ya, Kak antar aku pulang," Hanna mengerjab-erjab kan matanya, memasang wajah yang menurutnya menggemaskan, tapi tidak bagi Adelia. Adik perempuan Arkana itu justru jengah melihat Hanna yang merengek manja.
"Oek!" Adelia sengaja mau muntah di depan Hanna begitu mendengar ucapan gadis yang selalu dia panggil si manja.
"Adel, kok gitu sih. Kak, lihat Adel! kenapa sih dia tidak menyukaiku, padahal aku kan tidak pernah menjahatinya," rengek Hanna sembari menarik-narik lengan kemeja yang dipakai oleh Arkan.
"Hei, sifat manjamu yang membuatku geli sekaligus muak melihatnya. Kamu juga suka playing victim. Semuanya kamu cemburui, bahkan aku juga sulit dekat dengan kakakku sendiri kalau sudah ada kamu, menyebalkan!" umpat Adelia diiringi dengan dengkusan kesal.
"Apaan sih? Aku tidak pernah menjauhkau dengan Kak Arkan. Itu hanya perasaanmu saja," sangkal Langit.
"Sudah-sudah, jangan ribut di sini! Sekarang kalau kamu mau ikut, kamu suruh supirmu untuk antar helmmu sekarang!" Arkana buka mulut untuk menghentikan perdebatan kedua gadis remaja itu.
"Yeee, iya, Kak!" sorak Hanna yang disusul dengan dirinya yang melakukan panggilan pada supirnya. Sementara itu Adelia berdecih dan menatap sinis ke arah Hanna.
"Sebentar lagi supirku ke sini, Kak!" Hanna memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
Sementara itu menarik napas dalam, kemudian mengembuskan kembali dengan pelan dan berat.
"Kalau begitu aku duluan ya, Kak!" ucap Adelia lagi dan langsung mendapat anggukan kepala dari Arkana.
"PaK Tino, kenapa sepedanya tidak jadi Bapak masukkan ke bagasi?" Adelia mengernyitkan keningnya.
"Eh, iya, maaf Non!" pria paruh baya bernama Tino itu cengengesan dan kembali berjalan ke arah belakang mobil.
"Eh, tunggu dulu!" cegah Hanna tiba-tiba, membuat Pak Tino yang nyaris melangkah, seketika menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Non Hanna?" tanya PaK Tino dengan alis bertaut.
"Emm, sepertinya ada yang aneh-aneh dengan sepedanya. Coba aku lihat!" Hanna mengayunkan kakinya mendekat ke arah sepeda.
"Kan, benar yang aku bilang, kalau ada yang aneh dengan sepedanya. Lihat, kabel remnya putus," ucap Hanna berpura-pura kaget.
Arkana yang ada di atas motor, sontak turun dari motornya, menghampiri sepeda untuk memastikan kebenaran ucapan Hanna.
Raut wajah Arkan terlihat dingin dan memerah setelah melihat kalau yang dikatakan oleh Hanna benar.
"Mampus kamu, Senja! Kamu pasti akan dapat murkanya Arkan. Dan kamu akan dibenci oleh Adelia dan Arkana. Makanya jangan pernah berurusan denganku," Hanna menyeringai sinis.
"Emm, sepertinya Senja sengaja melakukannya. Dia berniat mencelakai kamu, Del, karena dia sakit hati denganmu yang tiba-tiba mendiamkannya. Untung aku lihat tadi kan? Coba kalau kamu sempat pakai, aku gak bisa bayangin kalau kamu celaka," Hanna bergidik, berusaha memprovokasi adik dari pria pujaannya itu. Dia berharap dengan kejadian ini, Adelia berubah baik padanya, dan mereka bisa akrab.
Adelia tidak menanggapi sama sekali. Gadis itu bergeming diam seribu bahasa, menatap ke arah sepeda dengan ekspresi datar.
"Ih, kenapa dia diam saja sih? Harusnya dia memelukku dan berterima kasih berkali-kali kan? kalau begini sama saja rencanaku untuk memprovokasi dia, gagal." Hanna menggerutu di dalam hati.
Ya, Hanna memang tadi sedikit kesal ketika melihat Adelia tidak jadi menaiki sepeda itu. Jadi, akhirnya dia memiliki ide pura-pura melihat kejanggalan yang ada di sepeda, lalu memprovokasi Arkan dan adiknya itu dengan menuduh Senja yang sengaja merusak kabel rem di sepeda itu. Hanna sengaja memanfaatkan kesalahpahaman yang terjadi di antara Senja dan Adelia, untuk memperkeruh masalah.
Sementara itu, diamnya Adelia bukan tanpa alasan. Gadis berlesung pipi itu merasa ada ganjil dengan apa yang baru saja dituduhkan oleh Hanna pada Senja.
"Ini tidak boleh dibiarkan, Arkan. Kamu harus bertindak tegas pada Senja. Dia ternyata gak sebaik yang dilihat. Ternyata hatinya penuh kedengkian," Hanna masih berusaha memprovokasi.
"Sudahlah! Jangan diperpanjang lagi. Lagian aku tidak kenapa-napa kan?" Adelia akhirnya buka suara.
"Sekarang kamu boleh selamat Del, karena aku lihat tadi. Tapi, tidak tertutup kemungkinan hari-hari berikutnya. Dia pasti akan berusaha untuk mencelakai kamu lagi. Dan kemungkinan caranya lebih parah dari ini. Jadi, kamu harus tetap hati-hati dengan manusia licik berwajah sok baik itu. Coba kalau aku tidak lihat tadi sepedamu, kemungkinan besar kamu akan celaka," Hanna masih berusaha untuk memanas-manasi.
"Iya, iya. Aku kan lebih hati-hati. Kamu jangan cerewet lagi. Sekarang lebih baik kamu pulang saja," pungkas Adelia.
"Adel, yang sopan!" tegur Arkana. "Harusnya kamu berterima kasih pada Hanna!" imbuh pria berpostur tinggi itu. Pembelaan Arkan tentu saja membuat perasaan Hanna melambung tinggi.
"Iya, terima kasih!" sahut Adelia, ketus.
Arkana, berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo, Hanna. Kita pulang sekarang!" Arkana berjalan kembali ke arah motornya disusul oleh Hanna yang senyum semringah. Gadis itu bahkan sampai melambaikan tangannya ke arah ke tiga temannya yang masih melihat dari arah tempat mereka berdiri di awal.
Setelah motor Arkana melaju pergi, Adelia masih tetap mematung di tempatnya. Sumpah demi apapun, dia masih merasa ada yang ganjil dengan tuduhan Hanna yang dialamatkan pada Senja.
"Sewaktu aku menawarkan sepeda pada Senja, aki sudah bilang padanya kalau aku tidak suka naik sepeda, makanya aku tidak pernah pakai. Jadi, mustahil Senja memutuskan kabel rem itu. Untuk apa coba dia memutuskannya sedangkan dia tahu kalau aku tidak mungkin naik sepeda itu. Sama aja buang-buang waktu kan?" pikiran Adelia mulai berisik.
"Emm, atau jangan-jangan ...." mata Adelia membesar, memikirkan sesuatu yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Aku harus cari tahu," pandangan Adelia seketika mengitari sekeliling, seakan sedang mencari sesuatu.
"Yes, ada. Kalau begitu akan cari sendiri kebenarannya," batin Adelia, tersenyum smirk
"Non Adel mau kemana lagi?" tanya Pak Tino begitu melihat Adelia yang hendak pergi meninggalkannya.
"Ada urusan sebentar, Pak. Bapak tunggu di sini dulu. Tenang saja, aku tidak akan lama," ucap Adelia sembari beranjak pergi dengan setengah berlari.
Tbc
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Citraleka Dhami
Kpan terbongkarnya sih kasihan senja loh
2024-09-03
1
Rita
nah lho kebongkar ngga tuh
2024-08-01
1
Febby Fadila
pasti adel lihat cctv de
2024-06-06
1