Salah paham

Senja masuk ke dalam kamarnya dan hal yang pertama dia lakukan adalah menyembunyikan sebagian uang yang diberikan pamannya padanya. Sisanya ia biarkan tetap di dalam amplop dan sengaja dia letakkan di atas nakas, seakan dia belum menyentuh sedikitpun uang di dalamnya.

"Aku sudah pernah berjanji kalau aku akan lebih cerdik dan tidak mau ditindas nenek lampir itu lagi. Aku tidak mau lemah dan bodoh seperti dulu lagi," batin Senja seraya menyeringai sinis.

Seperti dugaannya, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang tanpa mengetuk lebih dulu, dan dia sudah tahu siapa yang datang.

"Mana uang yang dikasih pamanmu tadi? Sini kasih ke Bibi!" Sukma menengadahkan tangannya ke arah Senja.

"Uangnya ada di atas nakas itu, Bi," Senja menunjuk ke arah nakas.

Sukma tersenyum, dengan wajah berbinar dan langsung melangkah ke arah nakas. Kemudian, wanita paruh baya itu meraih amplop itu dan mengernyitkan keningnya.

"Sepertinya tadi amplop ini tidak setebal ini, tapi lebih tebal. Kamu sembunyikan sebagian ya?" tukas Sukma, dengan mata memicing.

"Aku mana berani, Bi. Aku tidak menyentuh sama sekali uang di dalam amplop itu," sangkal Senja dengan memperlihatkan raut wajah meyakinkan.

Sukma tidak langsung percaya begitu saja. Wanita paruh baya itu semakin memicingkan matanya, pertanda kalau dia masih curiga.

"Aku akan periksa dulu kamarmu ini. Awas kalau kamu ketahuan menyembunyikan sebagian uangnya," ancam Sukma seraya berjalan ke arah lemari.

Sesaat kemudian, wanita paruh baya itu tampak sudah sibuk mengacak-acak pakaian Senja dan barang lainnya untuk memastikan kecurigaannya. Namun, ternyata hasilnya nihil. Wanita paruh baya itu pun bahkan tidak lupa memeriksa tubuh keponakan dari suaminya itu, kali aja gadis remaja itu menyembunyikannya di pakaian yang dia kenakan. Namun, lagi-lagi hasilnya nihil.

"Tidak ada kan, Bi? Aku tidak bohong, Bi. Karena aku tidak mungkin berani untuk berbohong," sahut Senja, lagi-lagi dengan ekspresi semeyakinkan mungkin.

"Emm, benar juga apa yang kamu katakan. Kamu tidak mungkin berani karena kamu sudah tahu akibatnya. Baiklah, aku percaya kamu kali ini," Sukma berbalik hendak beranjak pergi keluar dari kamar Senja.

"Bibi, apa aku tidak bisa meminta sedikit uangnya? Sedikit saja, untuk ongkos angkot seminggu ini dan jajan," ucap Senja, membuat langkah Sukma berhenti.

"Heh, kamu berani minta uang padaku? Punya keberanian dari mana kamu? Kalau mau punya ongkos kamu harus kerja dan menghasilkan uang sendiri. Ingat itu!" ucap Sukma, tegas.

"Maunya sih seperti itu, Bi. Tapi, kan Bibirnya sendiri yang bilang kalau selama paman di sini, aku harus terlihat seperti biasa dan jangan cari kerja dulu. Pulang sekolah, langsung pulang ke rumah. Jadi, bagaimana aku bisa mendapatkan uang kalau begitu? Mau tidak mau nanti aku terpaksa minta ke paman. Bibi mau kalau nanti paman curiga dan mempertanyakan uang yang dia kasih? Bisa-bisa paman jadi tahu nanti kalau uangnya Bibi ambil," ucap Senja dengan sengaja memasang wajah memelas.

"Ihh, kamu ya! Ya udah ini uangnya aku kasih sebagian. Cukup tidak cukup, kamu harus cukupkan. Bila perlu, kamu tidak usah jajan," Sukma memberikan beberapa lembar uang berwarna merah ke arah Senja.

"Terima kasih, Bi!" ucap Senja sembari tersenyum samar.

"Kali ini aku kecoh kamu dulu. Asik, aku dapat uang tambahan selain yang aku sembunyikan tadi. Rasain kamu nenek lampir, kena tipu!" Senja meledek Sukma dan menertawakan kebodohan wanita paruh baya itu di dalam hatinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Senja mengayuh sepedanya memasuki kawasan sekolahnya dengan wajah cerah, secerah mentari pagi.

Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan tatapan para siswa dan siswi yang menatapnya dengan tatapan sinis, karena hanya dia yang datang sekolah menggunakan sepeda.

Setelah memarkirkan sepedanya, Senja berjalan sembari bersiul-siul dan sesekali berdendang.

"Pagi, Adel!" sapa Senja, begitu melihat Adelia keluar dari dalam mobil.

"Pagi," balas Adelia, singkat dan dingin.

Senja sontak mengernyitkan keningnya, melihat sikap dingin gadis remaja berlesung pipit itu.

"Kamu kenapa? Apa kamu ada masalah?" tanya Senja dengan alis bertaut.

"Tidak ada! Maaf, aku pergi dulu!" ucap Adelia sembari melangkah meninggalkan Senja yang kebingungan.

"Heh? Dia kenapa ya?" batin Senja.

Kemudian dengan sedikit berlari gadis itu mengejar Adelia dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah adik perempuan Arkana itu.

"Del, kamu kenapa? Kenapa kamu tidak mengajakku sama-sama. Bukannya kemarin pembagian kelas, kita dapat kelas yang sama?" cecar Senja dengan pertanyaan beruntun.

Adelia sama sekali tidak menjawab. Gadis berlesung pipit itu terus saja melangkah seakan tidak mendengar pertanyaan Senja.

"Del, kamu kenapa sih? Aku ada salah ya sama kamu? Kenapa kamu tiba-tiba diam seperti ini ke aku? Perasaan kemarin kita baik-baik saja, tidak ada masalah," Senja akhirnya berinisiatif berdiri di depan Adelia untuk menghadang langkah teman barunya itu.

"Senja, kamu bisa minggir nggak? Jangan menghalangi jalanku!" titah Adelia dengan dingin dan raut wajah sinis.

"Tidak mau! Kamu kasih tahu dulu, aku salah apa, sampai kamu bisa bersikap ketus seperti ini padaku!" Senja menolak untuk menyingkir.

"Senja, aku bilang minggir ya minggir! aku mau lewat! Ini masih pagi, jadi jangan buat aku kesal!" tatapan Adelia terlihat begitu bengis.

"Aku salah apa sih? Kamu lagi datang bulan ya? Dan ada yang buat kamu kesal, makanya aku juga kena imbasnya?" tanya Senja, yang sama sekali tetap tidak mau berpindah dari tempat dia berdiri.

"Tidak ada hubungannya sama datang bulan. Intinya aku tidak mau berteman dengan pembohong seperti kamu,"

"Pembohong? Maksudnya?" kening Senja tampak berkerut.

Adelia berdecih kemudian mendengkus lalu menyeringai sinis. "Masih saja sok mau memasang wajah polosnya. Kamu berbohong tentang statusmu. Kamu terlihat menjadi perempuan kuat di tengah kehidupan kamu yang memprihatinkan. Ternyata itu semua palsu. Kamu sengaja terlihat memelas untuk bisa menarik simpati kan? Kamu juga sengaja untuk mendekati Kak Arkana karena tahu dia anak orang kaya kan. Aku bersyukur, sebelum terlanjur jauh aku percaya padamu, sifat busukmu cepat terlihat," ucap Adelia yang terdengar ambigu di telinga Senja.

"Aku berpura-pura terlihat memelas? Sejak kapan?dari awal sekolah aku terlihat biasa saja kan? Dan aku tidak pernah mengumbar dengan bercerita kalau aku ini orang miskin, hanya untuk mendapatkan simpati. Kamu yang mengikutiku dan melihat apa yang aku lakukan. Kamu bertanya dan aku jawab. Aku sengaja memasang wajah memelas, terlihat dari sisi mananya?"

Adelia seketika bergeming, tidak bisa menjawab. Karena memang yang dikatakan oleh gadis di depannya itu benar adanya.

"Oh, aku sudah menemukan jawabannya. Mungkin, kamu sengaja berkata seperti itu, karena memang baru sadar kalau kamu tidak pantas berteman dengan orang sepertiku. Tenang saja, dari awal aku memang sudah menduganya dan tidak akan kaget. Untuk sekedar informasi, aku sudah biasa tidak dianggap. Orang-orang malu berteman denganku.Jadi, kalau kamu malu, aku sudah tidak kaget lagi. Aku sudah terbiasa dengan teman yang datang dan pergi," tutur Senja sembari tetap berusaha tersenyum.

"Oh ya, untuk masalah aku miskin, aku tidak berbohong, tapi aku tidak malu akan hal itu. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Oh ya, sepeda yang kamu kasih kemarin, kamu tenang saja, aku akan kembalikan padamu," pungkas Senja seraya berlalu pergi meninggalkan Adelia yang terpaku. Seketika perasaan bersalah menyeruak masuk ke dalam hatinya.

"Kenapa sih bisa seperti ini? apa benar yang dikatakan kak Arkan tadi malam? Tapi tadi sepertinya ucapan Senja cukup meyakinkan, tapi video Senja yang masuk ke rumah mewah dan disambut hangat papanya juga lebih meyakinkan," batin Adelia sembari melangkah dengan langkah gontai.

Tbc

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

nah loh Del fitnezs lbh kejam sakitnya

2024-08-01

2

Rita

Rita

ditunggu penyesalan mu Del

2024-08-01

0

Bang Ipul

Bang Ipul

pasti indah pada waktunya nanti

2024-06-16

0

lihat semua
Episodes
1 Murid baru
2 Kena hukum
3 Kurir bunga
4 Mengantarkan bunga
5 Dipecat
6 Mengikuti Senja
7 Kehidupan Senja
8 liciknya Sukma
9 Ambil jambu
10 Kalah adu gombal
11 Kekesalan Hanna
12 Licik teriak licik
13 Mengikuti Senja lagi
14 Pulangnya paman Senja
15 Salah paham
16 Cuek
17 Mengembalikan sepeda
18 Merasa ganjil
19 Tidak mau dijemput
20 Apa aku harus minta maaf?
21 terjebak sendiri
22 Kehilangan teman
23 Masa senang yang akan berakhir.
24 Bertemu Satrio di restoran
25 Arkana tahu yang sebenarnya
26 Minta maaf
27 Hanna panas
28 Rahasia Bea siswa
29 Tamparan sebagai pembuktian
30 Kena lagi.
31 Begal
32 Perkelahian sengit
33 Perih yang mendatangkan tawa
34 Capek tapi harus tetap diselesaikan
35 Kehebohan Aozora dan Adelia
36 Tidak romantis sama sekali
37 Berubah manis
38 Kepulangan yang tiba-tiba
39 Kemarahan Satrio
40 Kekagetan Sukma
41 Alasan Sabiru menjemput Senja
42 Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43 Peringatan Sabiru
44 Aku tidak mau tahu
45 tidak bisa dibandingkan
46 Aku tidak peduli
47 Ketumpahan Cat
48 Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49 mencoba bunuh diri
50 Kencan
51 Double date
52 Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53 Keinginan Arkan
54 mengungkit-ungkit balas budi
55 Rencana Darren
56 Terbongkar
57 Permintaan Daren
58 Pikiran Senja terganggu
59 Senja tahu yang sebenarnya
60 Mengantarkan pulang
61 mengundang Aldo masuk ke rumah.
62 Memberikan pengertian
63 Perjodohan demi bisnis
64 Gelang
65 Serba salah
66 Enam tahun kemudian
67 menguping
68 CEO baru
69 Mengantarkan laporan
70 Sama-sama kaget
71 Dipaksa jadi sekretaris
72 Kemunculan Ella
73 Tolong bertahan sebentar lagi
74 Mengungkapkan cinta
75 Arkan tahu siapa Ella
76 Berusaha menyingkirkan...
77 Senja tahu yang sebenarnya
78 Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79 Draft
80 Benar-benar hancur
81 Pengakuan Hanna
82 Arkan panik
83 Acara penyambutan Arkan
84 Kejutan.
85 Kamu wanita yang aku cintai
86 Tenang saja, aku punya cara
87 Aku kecewa ke kamu.
88 Memasak makan siang
89 permohonan Hanna
90 Kamu hanya bisa mencintaiku
91 Ide jahil Aldo
92 Kekesalan Arkan
93 memajukan hari pernikahan
94 Hanna sakit
95 Jangan pergi lagi
96 The wedding
97 Meminta maaf
98 Hal yang tidak disangka-sangka
99 Akhirnya
100 Akhir hidup Ella
101 Berubah menyebalkan
102 Mungkin saja dia hamil.
103 Hasil pemeriksaan
104 Bab 104
105 Ending
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Murid baru
2
Kena hukum
3
Kurir bunga
4
Mengantarkan bunga
5
Dipecat
6
Mengikuti Senja
7
Kehidupan Senja
8
liciknya Sukma
9
Ambil jambu
10
Kalah adu gombal
11
Kekesalan Hanna
12
Licik teriak licik
13
Mengikuti Senja lagi
14
Pulangnya paman Senja
15
Salah paham
16
Cuek
17
Mengembalikan sepeda
18
Merasa ganjil
19
Tidak mau dijemput
20
Apa aku harus minta maaf?
21
terjebak sendiri
22
Kehilangan teman
23
Masa senang yang akan berakhir.
24
Bertemu Satrio di restoran
25
Arkana tahu yang sebenarnya
26
Minta maaf
27
Hanna panas
28
Rahasia Bea siswa
29
Tamparan sebagai pembuktian
30
Kena lagi.
31
Begal
32
Perkelahian sengit
33
Perih yang mendatangkan tawa
34
Capek tapi harus tetap diselesaikan
35
Kehebohan Aozora dan Adelia
36
Tidak romantis sama sekali
37
Berubah manis
38
Kepulangan yang tiba-tiba
39
Kemarahan Satrio
40
Kekagetan Sukma
41
Alasan Sabiru menjemput Senja
42
Hanna mengetahui hubungan Arkan dan Senja
43
Peringatan Sabiru
44
Aku tidak mau tahu
45
tidak bisa dibandingkan
46
Aku tidak peduli
47
Ketumpahan Cat
48
Nikmati saja waktumu yang hanya sebentar lagi
49
mencoba bunuh diri
50
Kencan
51
Double date
52
Sahabat Aozora yang tidak Arsen tahu
53
Keinginan Arkan
54
mengungkit-ungkit balas budi
55
Rencana Darren
56
Terbongkar
57
Permintaan Daren
58
Pikiran Senja terganggu
59
Senja tahu yang sebenarnya
60
Mengantarkan pulang
61
mengundang Aldo masuk ke rumah.
62
Memberikan pengertian
63
Perjodohan demi bisnis
64
Gelang
65
Serba salah
66
Enam tahun kemudian
67
menguping
68
CEO baru
69
Mengantarkan laporan
70
Sama-sama kaget
71
Dipaksa jadi sekretaris
72
Kemunculan Ella
73
Tolong bertahan sebentar lagi
74
Mengungkapkan cinta
75
Arkan tahu siapa Ella
76
Berusaha menyingkirkan...
77
Senja tahu yang sebenarnya
78
Lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya
79
Draft
80
Benar-benar hancur
81
Pengakuan Hanna
82
Arkan panik
83
Acara penyambutan Arkan
84
Kejutan.
85
Kamu wanita yang aku cintai
86
Tenang saja, aku punya cara
87
Aku kecewa ke kamu.
88
Memasak makan siang
89
permohonan Hanna
90
Kamu hanya bisa mencintaiku
91
Ide jahil Aldo
92
Kekesalan Arkan
93
memajukan hari pernikahan
94
Hanna sakit
95
Jangan pergi lagi
96
The wedding
97
Meminta maaf
98
Hal yang tidak disangka-sangka
99
Akhirnya
100
Akhir hidup Ella
101
Berubah menyebalkan
102
Mungkin saja dia hamil.
103
Hasil pemeriksaan
104
Bab 104
105
Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!