Ujian: Part 3

Perasaan ibu Rudi mulai tidak enak, dia memanggil suaminya, dengan cepat Ayah Rudi mendobrak pintu kamar anaknya, pintu kamar terbuka.

"Rudi?!!" Kata Ayah Rudi.

Ruangan sangat gelap, mereka tidak bisa melihat apapun, ayah Rudi lalu memencet tombol saklar lampu, dan betapa terkejutnya mereka melihat anak semata wayangnya, tergantung di langit-langit kamar. Ibu Rudi menangis memeluk ayah Rudi.

"RUUDIII." Teriak ibu Rudi.

#########################################

Pagi hari kembali tiba, Rudi terbangun dari tidurnya, terdengar suara ibunya yang sejak tadi memanggil namanya dari luar kamar, dan suara alarm smartphone yang terus berdering di atas meja. Dia merasakan sesuatu yang aneh, seperti bermimpi tetapi terasa sangat nyata baginya.

"De javu?" Rudi bergumam.

Rudi mengabaikan perasaannya, dia kemudian mengambil handuk di atas kursi, masuk mandi di dalam kamar mandi, dan bersiap untuk pergi ke kampusnya yang tidak jauh dari rumah, berangkat untuk ujian akhir semester.

Beberapa menit berlalu, Rudi telah selesai mandi dan berpakaian, kali ini dia tidak melupakan smartphonenya, dia mengambilnya di atas meja, lalu beranjak menuruni tangga sambil membawa tas ransel di punggungnya menuju dapur, sekali lagi terlihat di ruang tamu ayah dan ibunya saling berdebat, berteriak ke arah satu sama lain, mereka bertengkar.

"Pokoknya aku mau cerai." Kata ibu Rudi dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.

"SILAHKAAAN!! SAYA TIDAK PEDULI!!!" Balas ayahnya, dengan berteriak sambil melotot ke arah ibu Rudi.

"Kamu itu laki-laki egois."

Semua terasa seperti apa yang di alami Rudi kembali, yang dia anggap mimpi, ayah dan ibunya melakukan dan mengatakan hal yang sama, semua terasa semakin aneh baginya. bapaknya juga melempar vas bunga yang ada di atas meja ke dinding rumah, hingga hancur berantakan. Ibu Rudi menangis.

Tanpa melerai pertengkaran kedua orang tuanya, Rudi duduk di kursi meja makan, memakan roti dengan selai kaya dan meminum susu yang sudah tersedia di atas meja. Setelah itu, tanpa pikir panjang dia memakai sepatu hitam, memakai masker hitam, dan berjalan keluar dari rumahnya seperti seolah tidak terjadi apa-apa.

Rudi berjalan keluar dari gerbang kompleks perumahan, dia mendengar suara yang tidak asing bagi telinganya, pak Kasim yang menjadi satpam puluhan tahun di perumahan tersebut berteriak ke arah Rudi.

"Hati-hati di jalan Rudi." Ujarnya sambil tersenyum.

Rudi tidak menjawab perkataan pak Kasim, dia hanya melihat pak Kasim dengan perasaan curiga, tetapi pak Kasih hanya tersenyum dari kejauhan.

Rudi menginjakkan kakinya di atas trotoar jalanan, kali ini dia kembali melewati laki-laki pengemis tua yang setiap hari duduk di trotoar, badan yang kotor dan berbau, baju robek-robek compang camping yang masih dia kenakan, pengemis itu hanya duduk melamun beralaskan kardus tipis sambil melihat orang-orang berlalu lalang di hadapannya.

Rudi menatap pengemis itu, pengemis itu mengangkat kepalanya, dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, pengemis itu tersenyum meyeringai, membuat bulu kuduk Rudi sedikit merinding, dia langsung memalingkan wajahnya,dan berjalan cepat meninggalkan pengemis tersebut.

Kali ini Rudi tidak menempelkan headphone ke telinganya, dia terus berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi. Setelah berjalan beberapa meter, Kevin datang berlari menghampiri Rudi. Sahabatnya yang sering menemaninya sejak kecil.

"Pagi broww." Kata Kevin tersenyum kepada Rudi.

Rudi tidak merespon perkataan Kevin.

"Hei kau sudah belajar tadi malam??"

"I.....iya...." Jawab Rudi yang tergagap.

"Ini ujian penting."

Tanpa memperhatikan jalanan di sekitarnya, Kevin tersandung sebuah batu, tetapi Rudi langsung refleks menarik pundak Kevin dengan tangan kanan, menahan badannya, membuat Kevin tidak terjatuh.

"Hampir aja, makasih brow." Kevin tersenyum.

"Eee....iya."

Kevin merasa semua yang terjadi seperti deja vu, persis seperti apa yang terjadi di dalam mimpinya. Dia terus berpikir.

"Kevin, kamu pernah merasakan deja vu?" Tanya Rudi.

"Semua manusia pernah lah merasakan deja vu brow."

"Iya tetapi kalau kejadiannya terus terjadi berturut-turut?"

"Yaa berarti kau sudah mati hehehe...." Kevin tertawa.

Namun, wajah Rudi tampak serius, dia tidak tertawa sedikit pun, Rudi tidak menganggap perkataan Kevin sebagai lelucon. Kevin yang merasa aneh dan curiga dengan yang di katakan sahabatnya itu, merasa tidak enak.

" Memang kenapa kau bertanya soal deja vu?" Kevin penasaran dengan sikap Rudi.

Rudi tidak menjawab, dia melamun sambil berjalan, dahinya sedikit berkeringat, dia memikirkan apa yang di katakan Kevin, bisa saja itu benar, kalau ternyata dirinya sudah mati.

" Rudi!!" Kevin menegur Rudi.

"Hemmm.....tidak, tidak ada apa-apa." Kata Rudi sambil tersenyum menatap Kevin.

Beberapa menit kemudian, Rudi baru sadar, dia dan Kavin sudah berada di depan kampus mereka, suasana yang sangat ramai seketika membuat Rudi ingat dengan seorang perempuan, Rudi menghentikan langkah kakinya, dia berbalik, mencari wajah perempuan di sisipan orang-orang yang berlalu lalang bergegas masuk ke dalam kampus. Sampai akhirnya, tatapannya berhenti mencari, dia melihat perempuan itu yang jarak lokasinya tidak jauh dengan mereka. Kevin yang melihat Rudi juga ikut berhenti.

"Kenapa brow?" Ucap Kevin yang merasa bingung.

"Kevin cepat tolong itu cewek." Ujar Rudi sambil menunjuk ke arah perempuan tersebut.

Kevin mengerutkan dahinya, dan merasa aneh mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Sementara itu, perempuan tersebut masih berjalan dengan keadaan baik-baik saja.

"Hah......tolong?!!" Kevin tidak percaya dengan perkataan Rudi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara perempuan berteriak yang seketika membuat orang-orang di sekitar terkejut, termasuk Kevin. Dia kaget melihat apa yang di katakan Rudi benar-benar terjadi.

"Bagaimana bisa?" Kevin masih terkejut.

Akan tetapi tanpa pikir panjang, dia langsung pergi menolong perempuan itu. Sedangkan Rudi merasa tidak beres dengan semua hal-hal aneh yang terjadi hari ini. Dia meninggalkan Kevin, berjalan masuk ke dalam kampus, menuju ruangannya.

Sesampainya di dalam ruangan, dia duduk di tempatnya, menyimpan tas di atas meja, lalu memukul meja dengan keras, seisi ruangan bergema, membuat orang-orang di dalam ruangan kaget melihat Rudi, tetapi Rudi tidak peduli, dia merasa semua yang terjadi karena ada alasan dan penyebabnya.

Rudi kembali teringat dengan Ana, dan sekali lagi, apa yang dia pikir akan terjadi, benar-benar terjadi, tiba-tiba Ana masuk, bersama dengan seorang laki-laki di belakangnya, dia terlihat menangis, sementara laki-laki itu terus mengikuti Ana sampai Ana duduk di tempatnya di belakang Rudi.

"Sayang aku minta maaf." Kata laki-laki itu mencoba menenangkan Ana yang tertunduk sedih.

Rudi tidak peduli dengan Ana, tetapi dia merasa muak semuanya, dia langsung berdiri dari tempat, pergi keluar ruangan, dan berlari ke dalam kamar mandi. Rudi ingin memastikan jika apa yang dia alami sekarang adalah cuman mimpi, dia mendekati wastafel, melihat wajahnya di cermin, menyalakan keran air, lalu membasuh wajahnya dengan air berkali-kali, sampai kerah bajunya basah.

"Bangun, bangun, banguuuun, semuanya cuman mimpi." Ucapnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!