Kardi juga belum memperlihatkan dirinya sama sekali, karena yang di inginkan Rita hanya sederhana, meminta maaf kepada Kardi, sesimpel itu, apapun yang terjadi, dia harus melakukannya, Rita sudah membulatkan tekadnya saat ini. Sementara itu di hadapannya ibu Kardi masih duduk sambil sesekali kali menatap smartphonenya dan sesekali melihat ke Rita dan tersenyum.
Ibu Kardi memang tidak terlalu banyak berubah dari ingatan Rita, cincin emas dan gelang yang terlihat mengkilap di tangannya, rambut hitamnya yang pendek sebahu, walaupun umurnya sudah lima puluhan, tetapi wajahnya putih, kerutan yang tidak terlalu terlihat karena tertutupi oleh senyumannya yang manis, ibu Kardi masih terlihat awet muda, akan tetapi Rita tahu, dia adalah seseorang yang selalu menyamarkan rasa amarahnya.
Beberapa menit berlalu, Rita merasa semakin gugup duduk berdua dengan ibu Kardi di ruang tamunya, sampai kapan dia harus duduk menunggu Kardi, tiba-tiba ibu Kardi berdiri dari tempatnya.
"Sebentar ya, tante ke dapur dulu siapkan minuman." Kata ibu Kardi.
"Eh tidak usah repot-repot tante." Balas Rita dengan sungkan.
"Tidak apa-apa nak, justru tante yang tidak enak kalau Rita tidak minum apa-apa, tunggu sebentar yaa."
"Ehh iya tante, makasih." Rita merasa tidak enak jika dia menolak.
Ibu Kardi lalu berjalan menuju dapur yang bisa terlihat dari ruang tamu. Sementara itu, perasaan Rita semakin tidak enak, firasatnya mengatakan bahwa dia tidak harus lama-lama berada di tempat tersebut, Rita kemudian memikirkan sebuah ide. Tanpa sepengetahuan ibu Kardi yang ada di dapur, Rita pelan-pelan melangkahkan kakinya, berjalan ke atas tangga menuju kamar Kardi.
Rita bergegas menaiki tangga, tapi semakin lama, dia semakin mencium bau aneh, bau busuk yang dengan cepat menusuk hidung Rita, sampai-sampai dia harus menutup hidungnya dengan tisu yang dia ambil dari saku celananya, arahnya datang dari lantai dua, kamar Kardi. Entah bau apa itu, seperti ada sesuatu yang mati di atas sana, apakah itu bau tikus mati, apakah Kardi tidak pernah membersihkan kamarnya, tidak mungkin karena setahu Rita Kardi adalah orang yang perfeksionis, dan selalu menjaga kebersihan sekitarnya, ataukah itu dari sampah yang ada di kamar Kardi, apapun itu Rita tidak peduli. Rita sampai di depan pintu kamar Kardi dan langsung mengetuk pintunya dengan pelan dua kali.
"Assalamualaikum, Kardi? Kardi?!!" Ucapnya.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Kardi.
"Kardi? Kardi?!!" Rita mengetuk pintu kembali.
Masih belum ada jawaban, Rita kemudian nekat membuka pintu kamar Kardi, yang ternyata tidak terkunci. Perlahan dia mendorong membuka pintu kamar Kardi, bau busuk yang tadi tercium, semakin menampar hidung Rita, lampu kamar yang mati, membuat Rita tidak bisa melihat apapun.
"Kardi?!!" Ucapnya.
Perasaannya semakin aneh dan ganjil, ibu Kardi tadi mengatakan bahwa Kardi sakit di kamarnya, ataukah Kardi sedang tertidur, tapi bisakah seseorang tidur dengan bau yang sangat busuk, di dalam pikirannya Rita terus menebak dan bertanya tentang keberadaan Kardi. Dia cukup mengenal kamar Kardi, meskipun sudah setahun lebih dia tidak berkunjung tetapi dia masih ingat suasana yang dulu sangat menyenangkan baginya.
Rita tidak menyerah, pelan-pelan dia masuk ke kamar Kardi, meraba dinding, mencari tombol saklar lampu kamar.
"Kardi? Kamu tidur?!!" Rita bertanya kembali.
Akhirnya Rita menemukan saklar lampu, dan menekannya. Lampu menyala, dia seketika terkejut, melihat seseorang yang terbungkus selimut putih, dari atas kepala sampai kaki, terbaring di atas ranjang kamar Kardi, sampai-sampai dia tidak bisa melihat wajah orang ada di atas ranjang tersebut. Rita memberanikan dirinya mendekati ranjang sambil terus memanggil nama Kardi, dan berharap itu adalah dia.
Perasaannya semakin tidak enak, dengan bau tidak sedap yang sejak tadi mengelilingi ruangan tersebut, Rita menyentuh selimut tersebut dengan tangannya, dengan cepat dia menariknya, dan betapa terkejutnya dia melihat Kardi terbaring di atas ranjang.
"Kardi?!!" Kata Rita dengan mata berkaca-kaca.
Rita syok, tangannya gemetar, jantungnya berdebar-debar, deru napas terdengar cepat, pandangan matanya mulai buram, keringat mulai keluar dari dahinya. Rita tidak menyangka melihat Kardi yang setengah wajahnya di bagian kiri tersisa tulang, tubuhnya yang sangat kurus, sebagian badannya memperlihatkan tulang rusuk, Rita masih berharap bahwa apa yang dia alami saat ini hanya mimpi, mimpi buruk dari realita kenyataan bahwa Kardi sudah lama mati.
Rita terjatuh, dia menyadanrkan dirinya di tembok sambil menangis, orang yang dulunya selalu ada untuk dirinya, orang yang dulu dekat dengannya, sudah tidak ada. Dia masih ingat terakhir kali melihat Kardi tersenyum, menampakkan wajahnya yang rupawan, sekarang terlihat mengerikan.
"AAAAAAKH!!!" Rita berteriak keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments