Ujian: Part 2

"Dasar perempuan tidak tahu diri, semua yang kau dapat selama ini karena aku, dasar pelacur."

Laki-laki itu kemudian pergi keluar, meninggalkan Ana yang tertunduk menangis menyembunyikan wajahnya di atas meja. Rudi yang duduk di depannya, tidak sekalipun peduli menengok melihat mantannya tersebut, dia sudah tidak menganggap Ana sebagai apapun, bahkan tidak sebagai teman. Beberapa saat kemudian, seorang dosen masuk ke dalam ruangan, semua mahasiswa dan mahasiswi bergegas duduk ke tempat masing-masing, Kevin terlihat bergegas masuk dan duduk di samping Rudi.

"Hampir saja terlambat." Kata Kevin yang tersengah-engah.

"Selamat pagi, ok ujiannya kita mulai." Ujarnya.

Dosen itu lalu membagikan selebaran soal dan jawaban ke setiap mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam ruangan, termasuk Rudi. Rudi tidak belajar sama sekali, bahkan dia tidak membawa buku satu pun.

"Oke, waktunya satu jam dari sekarang." Ucap dosennya sambil duduk.

Rudi mencoba mencari smartphonenya di dalam tas dan saku celananya, dia sadar, smartphonenya tertinggal di kamarnya di atas meja.

Satu jam berlalu, waktu ujian berakhir.

"Silahkan di kumpul, hasilnya akan saya sampaikan ke ketua tingkat kalian nanti malam."

Setiap orang mengumpulkan kertas jawaban mereka di atas meja dosen, setelah itu mereka keluar dari ruangan. Rudi dan Kevin berjalan di lorong kampus sambil mengobrol bersama.

"Brow itu Ana kenapa tadi di ruangan, mukanya sedih begitu?" Tanya Kevin kepada Rudi.

"Entah, mungkin habis jatuh dari tangga." Jawab Rudi.

"Owh.....eh kita makan di kantin?"

"Saya tidak lapar." Jawab Rudi dengan ekspresi datar.

"Brow, bukan soal makanannya, banyak cewek di sana, ayok lah." Kevin memaksa Rudi.

"Tidak dulu untuk hari ini Kevin."

Merasa kesal dengan sikap Rudi, Kevin berhenti melangkahkan kakinya.

"Brow, berhentilah jadi orang yang menyebalkan." Tegur Kevin.

Mendengar itu, Rudi juga berhenti, dan menengok melihat Kevin.

"Menyebalkan?? Menyebalkan bagaimana?" Tanya Rudi yang jengkel.

"Yaaa kau itu berubah, cuek, kau dulu tidak seperti ini bro."

"Owh ya, sorry bro kalau saya menyebalkan, tapi tidak semua orang hidupnya seperti kau." Rudi menatap Kevin.

"Saya? Kau kira hidup ku juga selalu baik-baik terus, terkadang memang dalam hidup ada yang menyebalkan, tapi tidak harus kau marah ke orang yang di sekitarmu." Kevin mencoba menenangkan Rudi.

Rudi tidak merespon perkataan Kevin, dia terdiam mendengar sahabatnya berbicara seperti itu, sejenak dia berpikir kalau Kevin juga tidak mengatakan hal yang salah, tetapi Rudi juga tidak ingin melakukan apapun, dia tidak ingin ikut campur dalam hal apapun.

"Ayolah, apa ini karena Ana? Sudahlah brow move on, masih banyak cewek di luar sana."

Rudi marah, dia langsung melempar tasnya, dan tanpa pikir panjang mendekati Kevin, dan mencengkeram kerah baju kemeja sahabatny tersebut.

"Apa kau bilang? Kau kira ini semua karena cewek berengsek itu?!!" Rudi merasa jengkel dengan ucapan Kevin.

Kevin terkejut, dia tahu ucapannya sudah kelewatan, dia juga tahu bahwa hati Rudi sedang terluka, dan tidak ingin di ganggu.

"Sorry bro, saya tidak bermaksud......."

Belum sempat Kevin menyelesaikan kalimatnya, Rudi melepaskan genggaman tangannya, dan memperbaiki baju kemeja sahabatnya.

"Sorry." Kata Rudi.

Rudi mengambil tasnya di lantai, dan langsung beranjak pergi meninggalkan sahabatnya. Kevin hanya diam mematung melihat Rudi meninggalkan lorong kampus. Saat hendak melewati tempat parkir kampus untuk pulang ke rumah, Rudi tanpa sengaja bertemu dan berpapasan dengan Ana, mata Ana berkaca-kaca, terlihat dia masih sedih, wajahnya masih cantik bagi Rudi, rambut hitam yang terurai lurus, dan bibirnya yang merah, Rudi masih tidak menyangka, perempuan secantik itu memberikan luka di hatinya, begitu dalam, begitu membekas, tetapi dia sudah bertekad untuk melupakannya.

"Hai Rudi." Kata Ana sambil membersihkan pipinya yang lembab dengan tisu.

Rudi tidak berkata apa-apa, dia membuang wajahnya, dan berjalan pergi mengabaikan Ana. Melihat Rudi, Ana hanya diam sekali lagi dia merasa sakit hati.

Rudi berjalan kembali pulang ke rumahnya, berbeda dengan beberapa anak-anak mahasiswa lainnya, Rudi tidak suka menghabiskan waktu dengan orang lain, dia selalu merasa agar tiap hari berlalu dengan cepat, agar hidupnya juga berakhir, dia tidak merasa begitu berharga, dan tidak menganggap ada hal yang harus dia tuju atau perjuangkan.

Sesampainya di rumah, Rudi mengetuk pintu, lalu membukanya perlahan.

"Assalamualaikum." Ucapnya dengan pelan.

"Waalaikum salam." Jawab ibu Rudi yang mendengar anaknya pulang.

Lagi-lagi dia melihat ibunya menangis, dia di dapur, sambil memegang selembar tisu, menampung semua kesedihan yang tiada hentinya. Rudi berjalan selangkah melihat ibunya lebih dekat.

"Ibu harap kamu bisa hidup mandiri, tanpa ibu atau ayah, jangan jadi laki-laki seperti ayahmu." Kata ibu Rudi sambil membelakangi Rudi.

Rudi hanya bisa menghela napas, mendengar seorang ibu menangis dan ingin pergi meninggalkan dirinya, rumahnya sudah begitu sepi dengan dia sebagai anak tunggal, apalagi tanpa orang tua, Rudi tidak bisa membayangkan kesepian yang akan menantinya. Dia kemudian menaiki tangga, membuka pintu kamarnya dan masuk dengan perasaan marah dengan dirinya sendiri. Dia mulai melampiaskan semua amarahnya ke barang-barang di sekitarnya, melemparnya, buku, tas, vas bunga, gelas, mencoba menghilangkan rasa sedih di hatinya, sampai akhirnya dia lelah, dan duduk bersandar di dinding kamarnya sambil menangis.

Rudi lalu memikirkan sebuah ide yang menurutnya akan menyelesaikan semua masalah dan penderitaannya saat ini, dia ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga, di dalam kamarnya.

"Lebih baik saya mati." Ucapnya dengan suara pelan.

Rudi mengunci kamarnya dari dalam, mengambil tali, naik ke atas kursi, membuat gantungan di langit-langit kamarnya, dia mengikatnya dengan erat, menggenggam untuk memastikan tali tersebut kuat, setelah dia cukup yakin, Rudi menarik napas dalam, jantungnya berdebar-debar, dia mengaitkan tali tersebut di bawah lehernya, dan menendang kursi yang ada di bawah kakinya.

Rudi menggantung dirinya sendiri, dia mulai kesulitan bernapas, tali mencekik lehernya, badannya bergetar, memberontak, Rudi terus memegang tali tersebut, bola matanya mulai memutih, dan akhirnya Rudi tidak bergerak lagi, dia telah meninggal.

Malam hari tiba, ibu Rudi menaiki tangga, memanggil anaknya untuk bersiap makan malam, ibu Rudi mengetuk-ngetuk pintu.

"Rudi waktunya makan malam." Ucapnya.

Tetapi tidak ada balasan dari dalam kamar Rudi, terlihat dari sela-sela bawah pintu, lampu kamar Rudi tidak menyala, ibu Rudi merasa curiga, dia menggenggam gagang pintu kamar, mencoba membukanya, tetapi tidak bisa, akhirnya dia berteriak.

" RUDIIII!!"

Perasaan ibu Rudi mulai tidak enak, dia memanggil suaminya. Ayah Rudi mendobrak pintu kamar anaknya, dan betapa terkejutnya mereka melihat anak semata wayangnya, tergantung di langit-langit kamar. Ibu Rudi menangis memeluk ayah Rudi.

"RUUDIII." Teriak ibu Rudi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!