Dia mencoba memperhatikan sekitarnya, akan tetapi tidak ada orang lain di sekitarnya, yang ada hanya lorong ruangan bangsal 1 yang sepi, gelap, dan dingin.
Andre kemudian melihat lebih dekat sepatu yang ada di tempat penyimpanan tersebut, dari 7 pasang sepatu tersebut, satu pasang sepatu terlihat tidak asing, terlihat seperti sepatu mantannya sekaligus temannya yang dinas di ruang bangsal 1, yaitu Mira.
“Ini kan sepatunya Mira,” Ucapnya pelan.
Andre mengingat dia pernah memberikan sepatu tersebut kepada Mira, mantannya saat ulang tahun, beberapa tahun yang lalu sebelum dia berpacaran dengan Karin.
“Iya, tidak salah lagi ini sepatunya,” Lanjutnya.
“Kenapa Andre??” Teriak Ilham.
“Ini sepatu Mira kenapa masih ada di sini ya??” Andre bertanya kembali.
“Hemmm….Mira kan tadi dinas siang, tapi mungkin dia buru-buru pulang jadi lupa dengan sepatunya.” Ilham mencoba meyakinkan Andre.
Andre tidak merespon perkataan Ilham, dia memalingkan wajahnya, melihat kembali sepatu yang pernah dia berikan kepada Mira.
Terlihat sepatu putih tersebut masih bersih, meskipun warnanya sudah mulai sedikit kusam, namun dia tahu bahwa Mira adalah perempuan cantik, disiplin, dan selalu menjaga barang-barangnya.
Sehingga Andre merasa tidak bisa mempercayai perkataan Ilham, yang menganggap bahwa Mira melupakan sepatunya, dia pun juga merasa aneh, karena ada banyak sepatu putih yang tertinggal.
“Berarti sepatu ini semuanya tertinggal oleh temannya,” Ucapnya pelan.
Tiba-tiba Andre mendengar suara pintu terbuka dari kamar 10, di iringi oleh suara seorang perempuan yang meringis kesakitan.
Pelahan-lahan perempuan itu merangkak keluar dari kamar sambil menyeret kakinya yang tak bisa dia gerakkan, bekas tusukan dan bercak darah penuh di sekujur tubuhnya, wajahnya penuh dengan bekas goresan benda tajam, darah berceceran di sekitar perempuan tersebut.
Melihat tersebut, Andre hanya berdiri, diam, dadanya berdegup dengan kencang, napasnya terdengar cepat, dia melihat perempuan tersebut merangkak perlahan ke arahnya.
“Andre tolooong,” Kata perempuan itu dengan suara pelan sambil mencoba menyentuh Andre dengan tangannya.
Wajah perempuan tersebut terlihat tidak asing bagi Andre, seketika dia mengingatnya.
“Mira??” Ucapnya.
Tiba-tiba Andre merasakan kembali sakit yang luar biasa pada kepalanya, dia terjatuh menunduk memegang kepalanya sambil meringis kesakitan.
“AAAKH!!” Teriak Andre.
Bayangan-banyangan dan potongan-potongan gambar muncul kembali saat dia menutup matanya, namun kali ini terlihat sedikit lebih jelas, dia juga sedikit melihat Karin terbaring di ruangan ICU.
Andre mencoba membuka kembali membuka matanya, sekilas dia melihat bayangan Karin didepannya, dan perlahan rasa sakitnya menghilang.
Sementara itu dari belakang Ilham mencoba mencari sesuatu di ruangan lain.
“Tunggu Andre, saya akan ambil sesuatu,” Sahut Ilham.
Andre kemudian mencoba membantu Mira, dia kemudian membalik posisi Mira menjadi terlentang, terlihat luka yang terdapat di perut sebelah kanan bawah Mira terus mengeluarkan darah.
“Mira, Kenapa bisa seperti ini??” Kata Andre sambil membabat luka perut Mira.
“Lari…” Ucap Mira dengan suara pelan.
Mira mulai kehilangan kesadaran, akibat perdarahan dari luka disekujur tubuhnya. Napasnya terengah-engah, perlahan darah mulai keluar dari mulutnya.
“Apaa Mira?? Kamu jangan berbicara dulu, atur napas kamu perlahan,” Ujar Andre.
“Ilham cepat ambil berankar, kita harus membawa Mira ke UGD, dia mengalami pendarahan,” Teriaknya.
Andre menoleh kebelakang, namun Ilham tak kunjung datang, dia kemudian mencoba mengangkat Mira, tapi Mira menolak, dia menggelangkan kepalanya.
“La..lari Ndre, ini perbuatan….” Mira tiba-tiba batuk dan mengeluarkan darah.
Andre menadah kepala Mira di pahanya.
“Ini perbuatan siapa Mira??” Andre bertanya.
“Ilham, da…dan Ani,” Ucap Mira dengan suara perlahan.
Andre terkejut mendengar perkataan Mira.
Seketika Andre merasa seseorang berdiri dibelakangnya, dia adalah Ilham.
Andre perlahan menoleh melihat Ilham.
“Hey Andre.” Kata Ilham sambil memegang tabung gas pemadam kebakaran atau APAR.
Dia menatap Andre dengan mata melotot dan tersenyum.
Ilham dengan cepat langsung mengayunkan APAR menghantamkannya ke kepala Andre.
Andre terseungkur, darah perlahan keluar dari mulutnya.
“ANII!!” Teriak Ilham.
Ani kemudian berlari menghampiri Ilham, sambil memegang perutnya sebelah kiri yang terluka.
“Tidak usah berteriak, ada apa??” Tanya Ani.
“Ini karena pekerjaan kamu tidak beres.”
“Iya iya sorry, soalnya aku kira tadi Mira sudah mati,” Balas Ani.
“Cepat bius Andre, supaya kita bisa bereskan cepat di sini, jangan sampai ada orang luar yang melihat,” Ujar Ilham, sambil terus menghantamkan APAR yang di pegangnya ke kepala Mira.
Sedangkan Mira sudah tidak berkutik lagi, lantai penuh dengan darah, dan Ilham terus melakukan tanpa henti, untuk memastikan bahwa Mira tidak bisa bergerak lagi.
Ani langsung pergi menutup semua pintu ruangan, kemudian mengambil suntikan, lalu perlahan membius Andre.
Andre mulai kehilangan kesadaran, dia tak bisa bergerak, pandangannya mulai terlihat kabur, sekilas dia melihat Mira di seret Ilham dan dibawa kembali masuk ke kamar no 10. Andre akhirnya dalam keadaan tidak sadar.
Bayangan-bayangan mimpi buruknya kembali muncul. Namun kali ini dia melihat Karin disebuah ruang perawatan terbaring tak sadarkan diri dengan banyak luka goresan diwajah dan wajahnya, terlihat alat bantu pernapasan terpasang mulut Karin.
Orang-orang disekitarnya mulai menangis, sementara itu Andre hanya diam berdiri di tengah-tengah ruangan tersebut, merasa bingung dengan apa yang terjadi, dokter dan perawat datang menghampiri Karin, melepaskan semua perlatan medis yang terhubung dengan Karin, semua orang mulai menangis histeris, Andre pun merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi kekasihnya itu, dia langsung mendekati Karin, menggenggam tangannya dengan erat.
“Bangun….kamu harus bangun Karin,” Ucapnya.
Tiba-tiba Karin bangun dengan mata melotot ke arah Andre, dan berteriak “BANGUUN!!”
Andre terbangun seketika dari mimpi buruknya, dia kembali sadar.
“Karin.,” Gumam Andre.
Andre merasakan sakit di kepalanya, dia kemudian memegang kepalanya dan melihat darah ditangannya.
Dia mencoba melihat disekitar, untuk memastikan keberadaannya. Andre sadar dia sedang berada di dapur ruangan bangsal 1, dia mulai mengingat kembali kejadian gila yang baru saja dia alami, begaimana ilham langsung menghantam dirinya dan Mira, serta Ani yang ternyata ikut membantu Ilham dalam menjalankan aksinya.
Andre tidak begitu terkejut dengan kelakuan Ani yang rela membantu Ilham, mengingat mereka berdua memang adalah sepasang kekasih, namun dia lebih terkejut dengan Ilham, karena selama ini hubungan mereka layaknya saudara adik dan kakak, selain itu Ilham juga merupakan Kakak dari Karin, kekasihnya.
Tapi, dia sudah mulai mengabaikan itu semua, karena semuanya sudah terjadi. Andre mulai memikirkan keadaan para pasien, teman-temannya yang dinas di siang hari, apakah mereka semua baik-baik saja, ataukah mereka tidak selamat.
Satu hal yang pasti Andre pikirkan untuk saat ini adalah cara untuk melarikan diri dan keluar dari bangsal 1.
Dia mulai berdiri, mencoba mencari alat untuk melindungi dirinya dari Ilham. Andre kemudian menemukan sebuah pisau yang tergeletak di atas meja, dia lalu mengambilnya.
Andre perlahan melangkah menuju pintu, mencoba mengintip dari jendela melihat keadaan di luar pintu.
Terlihat di luar Ani sedang mengepel, membersihkan bekas darah di lantai. Sedangkan Ilham sedang mengunci pintu di ujung ruangan.
Andre kemudian bergegas membuka pintu kamar, lalu bergerak cepat menuju Ani.
Ani merasa kaget, dan berteriak.
“ILHAAM!!”
Ilham berbalik.
Andre langsung menyergap Ani, dia menahannya dari belakang menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kananya menyodorkan pisau ke leher Ani.
“Andre??” Kata Ilham sambil beranjak mendekati Andre.
“Jangan maju Ilham,” Ujar Andre.
Mendengar perkataan Andre, Ilham menghentikan langkahnya.
“Kalau kamu maju, pacar mu ini menjadi taruhannya,” Lanjutnya.
“Tolong aku sayang.” Ani memohon dengan mata berkaca-kaca.
“Silahkan lakukan Ilham, kau pikiri saya peduli dengan dia,” Balas Ilham.
“Jangan dengarkan dia Andre, tolong lepaskan saya.” Ani kembali memohon sambil menangis.
“Cukup Ilham, kamu itu sudah gila. Kamu kenapa seperti ini??” Tanya Andre sambil perlahan mundur kebelakang.
“Kenapa saya seperti ini?? Hahaha….kamu sangat lucu Andre.” Kata Ilham sambil tertawa.
“Semua ini karena kamu.” Lanjutnya.
“Karena saya?? Maksudnya??” Ucap Andre.
“Karena kamu, Karin mati, karena kamu adikku menderita, karena kamu sekarang ibuku terus merasa sedih di rumah.” Jawab Ilham.
“Apa maksudmu?? Sekarang Karin di rumah, dan dia baik-baik saja.” Andre mencoba menyangkal perkataan Ilham.
Melihat tangan dan lengan Andre yang meregang, Ani langsung menggigit tangan Andre dengan keras, melepaskan rangkulan dari Andre, lalu merebut pisau dari tangannya.
“AAAKH!!” Teriak Andre sambil memegang tangan yang terluka akibat gigitan Ani.
Ani kemudian berlari menghampiri Ilham.
“Ini sayang pisaunya.” Kata Ani sambil memberikan pisau kepada kekasihnya itu.
Ilham hanya tersenyum menatap Ani lalu perlahan memeluknya dengan erat.
Dia kemudian menggenggam erat pisau tersebut lalu dengan cepat menusuk perut Ani.
“Ke…kenapa sa…sayang??” Ucap Ani dengan terbatah-batah dan meringis kesakitan.
“Kamu hanya beban, dasar cewek g*blok.” Ilham menatap tajam Ani.
Ilham lalu menusuk kembali perut Ani berkali-kali tanpa henti, Sesekali dia melihat Ani dengan wajah menahan rasa sakit, dan memberontak ingin melepaskan pelukan Ilham. Tetapi Ilham tidak peduli.
Darah perlahan keluar dari mulut dan perut Ani, lantai yang tadinya bersih, kembali penuh dengan darah, sedangkan Ani hanya bisa terus menahan rasa sakit yang luar biasa.
Andre hanya bisa terdiam melihat kegilaan Ilham yang tega menusuk kekasihnya sendiri.
Ilham akhirnya berhenti menusuk Ani, dia perlahan menarik pisaunya, melepaskan pelukannya, lalu mendorong Ani.
Ani kemudian jatuh terlentang, lalu kesadarannya mulai hilang.
“INI SEMUA KARENA KAMU ANDRE!!” Ilham berteriak keras, dengan menunjuk Andre menggunakan pisau ditangannya.
“Kamu tidak ingat kejadian 2 tahun yang lalu, saat kamu duduk berdua dengan Karin di dalam mobil,” Ujar Ilham.
Tiba-tiba kepala Andre terasa sakit, dia terjatuh sambil memegang kepalanya dengan wajah meringis kesakitan. Namun akhirnya dia bisa mengingat kembali sekilas kejadian 2 tahun yang lalu.
Saat itu Andre dan Karin duduk bersama di dalam mobil, mereka bercanda gurau dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk dinas malam.
Akan tetapi, Andre yang menyetir tidak memperhatikan jalan yang ada di hadapannya, tiba-tiba ada mobil yang seketika membuat Andre kaget dan sontak membanting setir kea rah kiri yang akhirnya membuat mobil mereka menabrak sebuah pohon besar. Mereka berdua tidak sadarkan diri.
Akhirnya Andre dan Karin di bawa ke rumah sakit, oleh penduduk disekitar yang melihat kejadian itu.
Andre gegar otak yang membuat dia amnesia sementara, melupakan ingatannya jangka panjang. Sementara itu Karin mengalami kondisi yang kritis karena luka yang terlalu parah di kepalanya, membuat Karin akhirnya meninggal di ruang ICU.
Andre kemudian mulai menyadari hal-hal disekitarnya, seperti kasir warkop, yang menganggap Andre sering berbicara seendiri, berhalusinasi setiap malam.
Dia juga menyadari mengapa begitu trauma melihat ruangan ICU, Andre juga sadar bahwa sebenarnya hari ini dia tidak dinas malam, karena dia sudah tidak bekerja di rumah sakit.
Namun, akibat amnesia yang dia derita, Andre selalu mengulangi kejadian yang sama, menganggap setiap malam, adalah waktunya dia untuk berkerja, dinas malam.
“Kenapa, kamu sudah ingat??” Kata Ilham.
Rasa sakit di kepala Andre sudah mulai hilang, dia kemudian tertunduk dan menangis. Dia menyadari bahwa Karin, orang yang dia cintai, kekasih yang akan dia nikahi itu, sudah tiada.
“Kariiin,” Gumam Andre.
Tiba-tiba pintu gerbang bangsal tersebut perlahan terbuka.
Ilham berbalik, dan melihat seorang satpam masuk memakai sarung tangan.
“Owh hey pak Kasim, uangnya sudah saya transfer,” Kata Ilham.
Pak Kasim langsung mengeluarkan pistol dari saku celananya, lalu dengan cepat menembak Ilham.
“DOR.”
Ilham jatuh tersungkur, darah mengalir keluar dari lubang peluru di dadanya.
Pak Kasim berjalan menghampiri Ilham.
“Mohon maaf pak perjanjian kita di telpon batal.” Ucapnya samba menatap Ilham yang mulutnya terus mengeluarkan darah.
“DOR!!”
“DOR!!”
“DOR!!”
Pak Kasim menembak kepala Ilham sebanyak 3x tanpa belas kasihan.
Sementara itu Andre hanya bisa tertunduk dan terus menangis, mengingat Karin.
Pak Kasim kemudian membuang semua peluru yang ada di dalam pistolnya, dia berjalan mendekati Andre, lalu menyimpan pistol di hadapan Andre.
Andre hanya terus tertunduk dan memegang kepalanya, mencoba menyalahkan dirinya sendiri akibat kejadian yang menghampiri Karin.
Melihat Andre, Pak Kasim hanya diam, dengan ekspresinya yang datar, dia lalu beranjak pergi meninggalkan Andre, dan keluar dari bangsal 1.
END
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Husain
lanjut
2023-03-02
0
Joanne March⚘
jejak like ke 4
2020-09-17
1
Pink Panther
like, kutunggu likebacknya di The Macaws ya kakak😄😄
2020-08-28
1