Bangun Untukmu: Terima Kasih

Setelah mereka keluar, air mataku terus mengalir, kesedihanku semakin dalam kurasakan. Sesekali ku coba hapus air mata yang mengalir di wajahku, namun air mata itu kembali keluar dan terus mengalir.

Tiba-tiba Aldi menyodorkan ku tissue sambil tersenyum, meyeringai.

Saya mengambil beberapa lembar tissue, mencoba menghapus kesedihan di wajahku, tapi tidak di dalam hati.

Saya lalu kembali berbaring di ranjang, lalu menangis sambil melihat bingkai foto ku berdua dengan Intan di meja samping ranjang.

Foto yang menjadi penanda awal persahabatan kami, awal pertemuan kami berdua, meskipun akhirnya dia sendiri yang membuat persahabatan kami menjadi berantakan, tapi aku tetap tidak menyesal bersahabat dengan Intan, aku ikhlas, aku memaafkan Intan.

Walaupun air mata ini terus mengalir, dan entah mengapa hati ini terus merasa sedih, seperti seolah-olah belum bisa menerima keadaan yang telah terjadi, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu, membiarkan semuanya mengalir.

Aldi menyodorkan tissue kepadaku, tanpa basa basi aku langsung mengambilnya, lalu menutup seluruh badanku dengan selimut ranjang, kemudian menangis.

“Hana…” Aldi memanggilku dengan suara pelan.

“Hanaa…”

Saya tidak ingin menjawab panggilan Aldi, dan tidak peduli dengan keberadaannya.

“Hemm….sebaiknya minum air putih dulu biar tenang,” Lanjut Aldi.

“Tidak usah, terima kasih.” Balasku.

Tidak ada yang membuatku tenang saat ini, aku hanya ingin berbaring, dan kembali tidur, mungkin sebaiknya aku tidak pernah bangun kembali, dan merasakan kesedihan ini.

Beberapa saat kemudian ibuku masuk ke kamar.

Aku melepaskan selimutku.

“Hanaa….” Kata ibu, langsung memelukku di atas ranjang.

“Iya buuu…” Ucapku sambil menangis.

“Kamu kenapa nak??” Tanyanya.

Aku tidak sanggup menjawab pertanyaannya, rasanya berat, aku hanya terus menangis dan memeluknya dengan erat.

“Hust…..sudah sudah.” Ibu mencoba menenangkan ku.

Semakin lama, tangisan dan kesedihanku semakin berkurang, mungkin karena pelukan hangat dari seorang ibu yang membuatku tenang.

Aldi kemudian menyodorkan ku segelas air putih.

“Hana, kamu minum dulu,” Ujar Ibuku.

Aku kemudian meminum air putih yang di berikan Aldi, persaanku menjadi sedikit tenang dan lega.

“Kamu tau engga’, yang selalu membantu ibu selama ini dan menemani kamu selama tidur, itu Aldi,” Kata Ibu.

“Hah, serius??” Saya terkejut.

Bagaimana bisa Aldi yang selama ini menemani dan membantu ibu, patasan dia selalu ada saat ku terbangun.

“Iya, dia yang selalu bantu ibu, dia itu anaknya baik lo,” Ujar ibuku.

“Eeh….bisa aja ko’ tante hehe,” Kata Aldi dengan salah tingkah dan malu.

“Owh iya ibu mau ke bawah lagi yaa, siapkan makanan dulu ya.” Ucapnya, sambil belajar keluar dari kamar.

Suasana seketika menjadi hening.

Aldi terus melihatku dengan senyumannya, dia seperti mencoba untuk menghiburku, membuatku tersenyum, tapi sepertinya dia malah terlihat aneh dan canggung.

Kami saling bertatap muka.

“Kamu dari tadi di sini??” tanyaku kepada aldi.

“Heemmm.....iya.” Jawabnya.

“Kenapa??” Tanyaku balik.

“Kenapa apa??”

“Yaa kenapa kamu dari tadi di sini??” Ucapku dengan nada meninggi.

“Oh itu, saya di suruh Pak Bambang, untuk sesekali mengunjungi kamu, apalagi kita kan ada tugas kelompok sama-sama.” Balas Aldi.

“Memangnya sampai sekarang tugasnya masih ada??” Saya bertanya kembali.

“Iya masih ada.” Aldi tersenyum menatapku.

“Owh begitu...” Ucapku.

Entah mengapa menurutku ada yang aneh dengan Aldi, kenapa dia harus selalu ada di sampingku disaat saya terbangun, kenapa bukan Ibuku,Intan ataupun......ah sudahlah. Saya tidak ingin mengingat nama itu, Intan ataupun Angga.

Saya harus mulai melupakan semua hal yang membuatku kecewa.

“Aldi, kamu ada kagiatan apa hari ini??” Tanyaku kepadanya.

“Eh saya sebanarnya agak sibuk hari ini, saya ada kagiatan memancing, nonton film, stand up komedi, dan ada.......” Aldi mencoba memikirkan kata-kata yang akan dia ucapkan.

Sedikit lucu, aneh melihat Aldi berbicara, membuatku sedikit tersenyum dan melupakan sedikit kesedihanku hari ini.

“Kamu mau ke taman??” Ucapku kepada aldi.

“Ke taman?” Aldi terkejut.

“Iya, mau enggak??” Tanyaku kembali.

“Eeh....” Aldi berpikir.

“Kecuali kamu mau sendiri di sini kerja tugas, soalnya saya mau keluar,” Jelasku.

“Hemmm....iya,” Balasnya.

“Kalau begitu kamu tunggu dibawah, saya mau siap-siap dulu,” Ujarku kepada Aldi.

“Hemmm.....terus tugasnya nanti....”

“Gak usah di pikir,” Ucapku memotong perkataan Aldi.

“Iya...” Kata Aldi sambil berjalan keluar dari kamarku, dan menunggu di ruang tamu.

Beberapa saat kemudian saya turun dan menemui Aldi diruang tamu.

“Ayo...” Ujarku kepada Aldi.

“Eeh...a...ayo,” Ucap aldi terbatah-batah.

Saya kemudian meminta izin ke Ibu lalu pergi bersama dengan Aldi di taman. Aldi memboncengku dengan motornya, dan beberapa menit kemudian kami sampai di taman.

Sesampainya di taman, kami langsung berjalan-jalan menikmati suasana taman yang sejuk dan hangat, membuat lupa akan kesedihan ku beberapa saat yang lalu.

Aldi terlihat gugup dan sesekali menunduk, sesekali juga dia melihatku, lalu kembali memalingkan wajahnya, dia terlihat malu saat ku menatapnya, mungkin dia baru pertama kali jalan dengan seorang perempuan, pikirku.

“Sorry yaa, tadi di rumah kamu harus melihat ku marah ke Intan dan Angga.” Ucapku sambil menatap Aldi.

“Hemmm....iya tidak apa-apa, saya tidak terlalu peduli ko’,” Ucapnya.

“Maksudnya??” Tanyaku.

“Eh....tidak, maksudnya saya peduli, tapi saya gak mau ikut campur.” Kata Aldi lalu menunduk dan merasa malu.

“Owh begitu...”

“Owh iya, terima kasih ya sudah sering bantu ibu di rumah,” Lanjut ku.

“Eh....engga apa-apa, saya suka ko’,” Balas Aldi.

“Hah kamu suka sama ibu aku??”

“Eh tidak, maksudnya saya suka bantu ibu kamu.” Jawab Aldi, terlihat gugup dan salah tingkah.

“Hehehe.....saya cuman bercanda, santai aja bicaranya,” Ujarku kepada Aldi.

Aldi terlihat tersenyum malu.

“Kita makan yuk, di depan ada tukang bakso,” Lanjutku.

“Tapiii...”

“Sudah, ayo, saya gak pernah makan bakso lagi.” Ucapku sambil menarik tangan Aldi menuju ke gerobak bakso.

Kami berdua kemudian duduk dan makan bakso bersama, Aldi terlihat masih malu, dan gugup makan dihadapanku.

“Kamu pertama kali jalan-jalan sama cewek yaa??” Tanyaku.

“Eeh....iya,” Jawab Aldi.

“Iya keliatan sih, santai aja, kamu rileks, tarik napas perlahan, kemudian hembuskan, terus anggap saja saya temanmu seperti biasa, coba deh,” Ujarku.

“Hemmm.....iya.”

Aldi kemudian melakukan apa yang kukatakan, dia menarik napasnya perlahan lalu menghembuskannya dengan pelan, kemudian menatapku sambil tersenyum.

Saya membalas senyumannya.

“Gimana, merasa lebih baik??” Saya bertanya kepada Aldi.

“Iya, lumayan,” Jawabnya.

Kami akhirnya mengobrol dengan santai sambil menghabiskan makanan bakso yang ada dihadapan kami, Aldi mulai sedikit terlihat santai dan nyaman berbicara dengan ku, sesekali dia membuatku tertawa dengan kata-katanya.

Dia juga mulai sedikit menghiburku, dengan cerita dan pengalamannya dalam komunitas stand up komedinya, saat dia tampil di hadapan banyak orang, dan tak ada satupun orang yang ketawa melihat penampilannya di atas panggung.

Tanpa terasa kami mengobrol selama hampir satu jam, hari mulai menjelang sore, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Terpopuler

Comments

HotBaby

HotBaby

lanjooootttttttttt terussssss
salam dari basecamp

2020-11-18

0

⃟nyingッ

⃟nyingッ

Mampir Thor, semangat..

2020-10-15

1

V᭄ᭃ͢dєͮvͥiͤl₲₲»̶̳͓✧ᴾᴳ ⃫⃟ ⃟⅌

V᭄ᭃ͢dєͮvͥiͤl₲₲»̶̳͓✧ᴾᴳ ⃫⃟ ⃟⅌

like buat kk

2020-10-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!