Bangun Untukmu: Sedih, Marah, dan Kecewa

“KRIIIIING”

Suara jam weker berbunyi begiitu lenting.

Saya langsung kaget, dan sontak terbangun dari tidurku, suara napasku terengah-engah, keringat bercucuran di dahi dan leherku.

Saya mencoba melihat sekitar, mencari ibuku, akan tetapi betapa kagetnya saya melihat Aldi yang duduk sendiri di sampingku ranjangku.

“Hemm….hey Hana, selamat malam.” Kata Aldi sambil tersenyum.

“Aldiii??” Ucapku.

Aldi hanya terus menahan senyumannya.

“Kamu kenapa disini??”

“E….eh….be…begini.” Aldi tergagap.

“Ibuku kemana??” Saya bertanya kembali kepada Aldi.

“E….eh…di…dia…” Aldi kembali tergagap.

Aldi menggaruk kepalanya, dia terlihat gugup, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun kata-kata tersebut tertahan di mulutnya.

Tiba-tiba ibuku dan Dokter berjalan masuk ke kamar ku.

“Hana, kamu sudah bangun nak.” Kata ibuku yang langsung datang menghampiriku, lalu memelukku dengan erat.

Terasa pelukannya sangat hangat, pelukan yang sangat membuatkku tenang, yang kurindukan.

Ibu perlahan melepaskan pelukannya, “Bagaimana perasaanmu??” Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Alhamdulillah bu, Hana baik-baik saja.” Jawabku tersenyum.

Melihat mata ibuku yang berkaca-kaca, yang perlahan meneteskan air mata, membuatku terharu, dan membuatku pun juga meneteskan air mata.

Dokter dan Aldi hanya diam melihat kami, melihat seorang ibu dan anak yang saling melepas kerinduan.

Entah mengapa ibu terlihat begitu sedih, apa yang terjadi, apakah mungkin saya tertidur cukup lama hingga membuat ibuku merasa khawatir. Tanya ku dalam hati.

“Ibu kenapa?? Ibu jangan menangis, Hana baik –baik saja bu.” Ucapku, mencoba menenangkan perasaan ibuku.

“Ibu cuman takut Hana ninggalin ibu sendirian,” Kata ibu sambil membelai rambutku.

Air mata ibu kembali menetes di selimut kasurku, saya kembali memeluknya. “Engga’ bu, tenang Hana baik-baik saja, Hana gak akan meninggalkan ibu sendirian,” Ucapku pelan.

Saya melepaskan pelukan ibu, lalu perlahan menghapus air mata dipipinya.

Ibu tersenyum melihatku.

“Hana tidur berapa lama bu??” Saya bertanya kepada ibu.

“Kamu tidur satu minggu nak, sekarang hari minggu,” Jawab ibuku.

“Satu minggu??” Saya terkejut mendengarnya.

Apa yang sudah kulewati selama ini, hidup ini jadi terasa semakin singkat, tanp bisa ku nikmati sedikitpun Ucapku dalam hati.

“Iya, tapi semua itu sudah tidak penting nak, yang penting sekarang Hana bisa melakukan apa yang Hana suka,” Lanjut ibu.

“Mohon maaf bu, sepertinya itu bukan hal baik untuk Hana,” Potong dokter tersebut.

Dokter yang sama, yang seminggu lalu berada di kamar ini membawa kabar yang kurang baik bagi saya dan ibuku. Dia masih terlihat botak, dengan papan nama di jas dokternya, bertuliskan Dokter Irfan.

“Saya menyarankan agar dek Hana untuk saat ini tidak keluar dari rumah, agar menghindari resiko kecelakaan terhadap Hana, mengingat kondisi dan kelainan yang dek Hana saat ini, kita belum bisa tau kapan Hypersomnia ini muncul kembali.” Ujar dokter Irfan.

Ibu lalu menoleh menatap Dokter Irfan, “Oke dok saya mengerti.” Sahut ibu mengangguk.

“Hana gapapa bu, Hana mengerti, mulai sekarang Hana tidak akan keluar dari rumah, sampai kondisi Hana membaik.” Ucapku sambil menatap ibuku.

Ibu kembali tersenyum melihatku.

“Saya sudah menyiapkan beberapa obat diatas meja yang bisa membantu Hana dalam meringankan kondisi yang di hadapinya,” Sahut Dokter Irfan.

“Iya terima kasih dokter,” Balas ibu.

“Kalau begitu saya pamit dulu ya bu,” Lanjut Dokter Irfan.

“Iyaa…” Ucapku dan ibu bersamaan.

Dokter Irfan kemudian berjalan keluar dari kamarku.

Tiba-tiba ibu menoleh melihat ke arah Aldi yang duduk di sebelah kanan ranjangku.

“Aldi, Intan dan Angga kemana yaa??” Tanya ibu kepada Aldi.

“Hemmm…..tadi katanya mereka mau keluar sebentar bu, saya kurang tau kemana.” Jawab Aldi.

Mendengar nama Intan dan Angga, membuatku mengingat sebuah kejadian yang terakhir ku alami, di cafe malam itu. Kejadian yang membuatku sedih, kecewa, dan marah kepada mereka berdua.

Beberapa saat kemudian, Intan dan Angga berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamarku dengan membawa bungkusan kotak berisi kue donat kesukaan ku.

“Hanaa….” Kata Intan sambil berjalan menghampiriku.

Dia kemudian memelukku, sedangkan Angga berdiri di samping ranjangku.

“Oke, kalau begitu ibu ke bawah dulu ya, ibu mau menyelesaikan masakan ibu.” Kata ibuku sambil berjalan keluar dari kamar.

“Iya bu,” balasku.

Saat ibu keluar, seketika suasana menjadi hening.

Intan kemudian melepaskan pelukannya, memperbaiki posisi kacamatanya, lalu tersenyum melihatku. “Hana kamu baik-baik saja??” Tanya Intan.

Saya hanya menghela napas, mencoba untuk tidak membalas senyuman dan tatapannya.

“Hanaaa, kamu marah??” Tanya Intan kembali.

Saya kembali tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut, sebuah pertanyaan yang konyol dari seorang yang rela menyakiti hati sahabatnya sendiri.

“Hanaa sayang, kamu baik-baik saja kan??” Kata Angga sambil menyentuh pundakku.

Mendengar kata-kata omong kosong yang keluar dari mulut Angga, membuat jantungku berdebar kencang, napasku menjadi terengah-engah, membuatku marah.

Saya lalu menoleh, menatap tajam mata Angga, dengan rasa amarah yang dalam dan cukup banyak ku pendam.

“Jangan sentuh aku.” Ucapku dengan nada tinggi.

Angga menarik tangannya. “Kamu kenapa sayang??” Kata Angga.

“Cukup, kamu jangan pernah panggil aku sayang lagi.” Ucapku dengan mata berkaca-kaca.

“Hana, coba tenangkan diri dulu.” Intan mencoba menenangkan ku.

Mendengarkan perkataan Intan membuat semakin marah, palagi dengan melihat wajah mereka, wajah yang mencoba menyembunyikan kesalahan mereka.

“Tenang?? Aku gak bisa tenang Intan, melihat kamu dan Angga waktu malam itu,” Saya menjelaskan kepada Intan dengan nada yang tinggi.

Saya menatap mata Intan, tapi Intan hanya menunduk, dan menghelas napasnya. Angga juga hanya diam.

Suasana menjadi hening kembali.

Dadaku semakin terasa sesak, ingin mengeluarkan semua perasaan yang kurasakan saat ini, sedih, marah dan kecewa. Namun, saya mencoba untuk menahan semua itu, mencoba untuk terlihat kuat di hadapan mereka, bahwa tanpa mereka saya bisa bertahan.

Karena merasa tidak enak dengan situasi tersebut, Aldi mencoba untuk berjalan keluar dari kamarku. “EEh, sepertinya saya lebih baik keluar yaa,” Ucapnya dengan suara pelan.

“Iya, sebaiknya kamu keluar dari sini.” Kata Angga dengan nada tinggi dan ekspresi kesal melihat Aldi.

“Aldi kamu jangan keluar, biar mereka yang keluar.” Ucapku sambil menatap tajam Angga.

“Hanaaa, tolong dengarkan dulu penjelasanku dulu….” Angga mencoba membela dirinya.

“Tidak ada yang harus di jelaskan, kamu itu laki-laki berengsek, aku gak mau melihat wajahmu kembali.” Ujarku kepada Angga.

Angga hanya diam, di kemudian bergegas keluar dari kamarku.

Terdengar suara tangisan dari Intan, dia membuka kacamatanya, air matanya mulai menetes di selimutku. “Maafkan aku Hana, aku adalah sahabat yang paling buruk, aku menyakiti perasaanmu.” Kata Intan, sambil meneteskan air matanya melihatku.

Melihat Intan menangis dihadapanku sendiri, membuatku sangat sedih. Saya mencoba untuk memalingkan wajahku untuk tidak melihatnya, dan menahan semua kesedihan yang kurasakan, tapi akhirnya air mata ini perlahan keluar, dan mengalir dari pipiku.

Tangisan Intan terus terdengar, saya tidak ingin melihat wajahnya, saya benci untuk melakukan ini, namun, dia juga harus merasakan sakit hati yang kurasakan.

Intan kemudian perlahan beranjak dari kasurku, lalu berjalan keluar dari kamarku, bersama dengan Angga.

Setelah mereka keluar, air mataku terus mengalir, kesedihanku semakin dalam kurasakan. Sesekali ku coba hapus air mata yang mengalir di wajahku, namun air mata itu kembali keluar dan terus mengalir.

Tiba-tiba Aldi menyodorkan ku tissue sambil tersenyum.

Terpopuler

Comments

kiki rizki

kiki rizki

next thor..

salam dari "wanita seribu luka"

2020-10-01

1

Gazelle

Gazelle

datang dengan 5 like yang tertunda dan 5 rate
semangat kaka
aku suka ceritanya.

2020-09-27

1

Mai_Lita

Mai_Lita

kok nggk up lagi sih

2020-09-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!