Permintaan Maaf: Kasih Sayang

Rita terjatuh, dia menyadanrkan dirinya di tembok sambil menangis, orang yang dulunya selalu ada untuk dirinya, orang yang dulu dekat dengannya, sudah tidak ada. Dia masih ingat terakhir kali melihat Kardi tersenyum, menampakkan wajahnya yang rupawan, sekarang terlihat mengerikan.

"AAAAAAKH!!!" Rita berteriak keras.

Tiba-tiba ibu Kardi muncul, dengan tatapan tajam melihat Rita yang duduk menangis tak sanggup melihat Kardi. Ibu Kardi marah, sambil menggenggam sebuah pisau di tangan kanannya, wajahnya yang tadi terlihat ramah, berubah seketika, dia berdiri di pintu kamar Kardi.

"Dasar perempuan sialan, apa yang kau lakukan di sini?" Ucapnya sambil menunjukkan pisau ke arah Rita.

"Ma....maaf tante, sa...saya....." Jawab Rita yang mencoba menahan air matanya.

Belum selesai Rita berbicara, ibu Kardi menghampiri anaknya di atas ranjang, dia mengelus elus kepala anaknya tersebut dengan tangan kiri, memperbaiki posisi Kardi yang sudah terbaring tak bernyawa, mencium keningnya anaknya tanpa rasa jijik, dan menyelimuti kembali tubuh Kardi dengan selimut putih.

"Ka.....kardi.....kenapa?" Rita tergagap, masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.

Ibu Kardi sekejap berbalik menoleh melihat Rita, dengan amarah dendam yang sudah lama dia rasakan, dia simpan di lubuk hatinya yang paling dalam, Ibu Kardi menghampiri Rita.

"Dasar perempuan brengsek, kau masih bertanya kenapa?!!" Kata ibu Kardi yang menunjuk Rita dengan pisau di tangannya.

Rita ketakutan.

"Ini semua karena kau yang meninggalkan anakku tersayang, kau yang membuatnya sakit hati, dan bunuh diri dasar perempuan anjing." Lanjutnya.

Air mata perlahan keluar dari wajah ibu Kardi, seorang ibu dengan kasih sayangnya yang tulus, kehilangan anak satu-satunya, yang membuatnya kehilangan akal, dan tidak rela anaknya pergi dari sisinya. Sementara itu, Rita tidak merespon perkataan ibu Kardi, dia tahu ini salahnya, tetapi dia tidak menyangka Kardi masih terbaring di ranjangnya dengan kondisi yang mengenaskan.

"AAAAAAKH." Ibu Kardi berteriak.

Dia menghancurkan barang-barang di sekitarnya, melemparnya semua ke tembok, foto-foto dan beberapa barang anaknya. Ibu Kardi terlihat tidak waras, pelan-pelan Rita mengambil kesempatan tersebut selagi ibu Kardi mengamuk dan membelakanginya, dia merangkak dengan cepat menuju ke pintu, tapi ibu Kardi yang menyadari hal tersebut, langsung berbalik.

"Mau kemana kau anak sialan." Tegurnya.

Ibu Kardi langsung berlari dan menendang perut Rita.

"Jangan harap kau lari dari sini."

"Akh." Rita meringis kesakitan.

"Ini juga karena kesalahan mu sendiri, kau yang dulu tidak pernah merestui hubungan kami." Kata Rita sambil memegang perutnya dan bersandar di pintu kamar Kardi.

Ibu Kardi marah, dia langsung menusuk kaki Rita dengan pisau.

"AAAAAAKH?!!!!" Rita kembali berteriak.

Pisau tertancap di kakinya, Ibu Kardi melompat di atas tubuhnya, menekan badan Rita dan mencekik lehernya sekuat tenaga dengan rasa kebencian yang besar. Rita mencoba melawan, melepaskan genggaman tangan ibu Kardi, tetapi dia tidak mempunyai kekuatan lebih.

"MATI KAU PEREMPUAN JAHANNAM!!"

Wajah Rita mulai memerah, kesadarannya mulai menurun, pandangan di sekitarnya mulai terlihat buram, di hadapannya dia hanya melihat wajah ibu Kardi tersenyum meyeringai. Rita mencoba menggapai beberapa barang dan benda-benda di sekitarnya, melempar ke wajah ibu Kardi, tetapi genggaman tangannya masih tidak lepas, seketika Rita dengan cepat mencabut penjepit rambutnya yang tajam, dan menusuk mata kiri ibu Kardi.

"AAAAAAAAAKH." Teriak ibu Kardi sambil memegang matanya kedua tangan.

Genggaman tangan ibu Kardi lepas, Rita lalu mendorongnya, ibu Kardi jatuh tergeletak. Darah keluar mata bu Kardi, dia menarik penjepit rambut yang menusuk matanya sambil berteriak kesakitan, dan menutup matanya dengan tangan kiri.

"DASAR PEREMPUAN BERENGSEK!!" Ucapnya.

Rita melepas pisau yang menancap di kakinya.

"AAAAAAKH." Rita berteriak kesakitan.

Rita memegang pisau tersebut untuk melindungi dirinya dari ibu Kardi. Meskipun begitu, dia ketakutan, dia lalu berdiri, dan berjalan mundur perlahan sambil menyeret kakinya yang terluka menjauh dari ibu Kardi.

"Mundur!!" Rita mengancam ibu Kardi.

Namun, ibu Kardi langsung bangkit kembali, dengan rasa amarahnya yang tinggi sambil menahan rasa sakit, dia langsung berlari ke arah Rita yang berada di depan kamar. Rita langsung reflek menghindari terjangan ibu Kardi. Sementara itu ibu Kardi yang tidak bisa berhenti, menabrak pembatas tangga, dan akhirnya terlempar jatuh ke lantai satu. Rita terkejut melihat hal tersebut, dia tidak melakukan apapun, dia hanya diam melihat ibu Kardi yang tergeletak di lantai.

Tengkorak kepala retak, kaki, tangan dan tulang rusuknya patah, darah mengalir membasahi sekujur tubuhnya dan lantai keramik yang terasa dingin di malam hari, ibu Kardi masih sadar. Rasa sakit membuatnya tidak bisa bergerak dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, perlahan-lahan semua yang di lihatnya mulai kabur, ibu Kardi mulai kesulitan bernapas, dia juga memuntahkan semua darah yang ada di mulutnya, beberapa saat kemudian, dia tidak sadar lagi, dengan tatapan mata yang terbuka, pupil mata melebar, ibu Kardi telah mati.

Sambil menyeret kakinya, Rita menuruni tangga, dia menangis melihat tubuh dan darah ibu Kardi yang menyatu. Entah dia harus merasa senang karena orang yang di bencinya telah mati atau merasa sedih karena telah membunuh orang, Dia ingin mengambil smartphonenya untuk menghubungi Ray, tetapi dia baru ingat, dia menyimpannya di dalam tas yang berada di dalam mobil.

Rita tidak berkata apa-apa, perasaannya sedikit lega, karena sudah berakhir, dia lalu memaksa badannya yang lelah bergerak, melangkahkan kaki yang terasa berat sekuat tenaga, dia melupakan tujuannya yang awalnya ingin meminta maaf, dan ingin segera pergi dari rumah terkutuk tersebut, apapun yang sudah terjadi dengan Kardi, biarkanlah.

Rita sampai di pintu rumah Kardi, tapi saat hendak menyentuh gagang pintu, seseorang membuka pintunya terlebih dahulu, bapak Kardi, napasnya terengah-engah, wajahnya babak belur, seperti habis berkelahi dengan seseorang, bajunya penuh dengan bekas darah, kedua tangannya memerah karena darah yang mengering, dia terlihat menarik sebuah karung yang besar, karung tersebut terus meneteskan darah.

"Mohon maaf menunggu lama." Kata bapak Kardi dengan suara pelan.

Rita terkejut, karena merasa ketakutan, dia berjalan mundur kembali, memberikan jarak dengan bapak Kardi. Tetapi bapak Kardi pun ikut terkejut, tatkala melihat di belakang Rita, istrinya tercinta, tergeletak tak bernyawa.

"Sa...saya minta maaf pak, sa...saya...." Rita mencoba menenangkan bapak Kardi.

Namun, semuanya terlambat, matanya melotot tajam menatap Rita, dia menjatuhkan karung yang tadi dia genggam, mengepalkan kedua tangannya dengan erat, air matanya perlahan menetes, menyentuh pipinya, dia dengan cepat menghampiri Rita, meninjau wajahnya dengan keras, Rita jatuh pingsan.

Beberapa menit berlalu, Rita akhirnya kembali sadar, dengan tubuh terikat di kursi meja makan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!