Permintaan Maaf: Perempuan Bergaun Hitam

Rita akhirnya sampai di tempat yang dia inginkan, di rumah Kardi. Rumahnya terletak di daerah pinggiran kota, terpencil, tidak ada rumah di sekitarnya, hanya ada rumah Kardi yang begitu besar, pagar besi yang menjulang tinggi, bangunan berlantai dua dengan cat biru yang sudah terlihat buram, halamannya penuh dengan rumput liar dan beberapa bunga yang layu sudah tidak di rawat, Rita ingat, bapak Kardi dulu adalah anggota DPR yang sekarang sudah pensiun, tetapi dia tidak menyangka, sekarang rumah mantannya tersebut tidak seindah yang dulu dia sering kunjungi.

Perlahan dia memarkirkan mobilnya di depan rumah Kardi dan mematikan mesin mobil, tetapi belum sempat dia keluar, Rita melihat dari kaca jendela mobil bapak Kardi berjalan keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa, berjalan cepat masuk ke dalam mobil, kemudian mengendarainya keluar melewati pagar dan mobil Rita pergi ke suatu tempat. Rita tidak curiga, dia lalu membuka pintu mobil tanpa membawa tasnya, dengan perasaan gugup, jantung berdebar, dan rasa bersalah ingin meminta maaf kepada Kardi.

Rita melangkahkan kakinya melewati pagar rumah Kardi. Dia tidak melihat siapapun di sana, suasana terlihat sepi, hanya suara hembusan angin menjelang malam yang terdengar, padahal dulu di rumah Kardi ada banyak orang yang tinggal, begitu ramai dalam ingatan Rita, meskipun Kardi adalah anak satu-satunya, tetapi ada banyak orang-orang yang bekerja di rumahnya, pembantu, satpam, dan tukang kebun yang menambah keramahan suasana rumah Kardi.

Rita melangkahkan kakinya dengan pelan, menuju ke pintu rumah Kardi, menarik nafas dalam, lalu memencet bell. Terdengar suara bell dari dalam rumah, tetapi pintu rumah belum terbuka, dia menekan tombol bell kembali.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, seorang perempuan memakai gaun berwarna hitam menyambut Rita. Rambut hitam kincir kuda, lipstik merah, dengan wajah putih tanpa make up, perempuan itu terlihat berumur dua pulahan, lebih muda di banding Rita.

"Assalamualaikum." Kata Rita sambil tersenyum.

Perempuan tersebut tidak menjawab, dia hanya berdiri diam dengan wajah datar tanpa ekspresi menatap Rita dari alas kaki sampai atas kepala. Rita merasa canggung.

"Iya ada keperluan apa?" Tegur perempuan tersebut.

"Saya mau ketemu dengan Kardi."

Sekejap ekspresi perempuan itu berubah, dia tersenyum, menyambut Rita mempersilakannya masuk ke dalam rumah.

"Oh Rita ya, silahkan masuk." Ujarnya.

Rita mengerutkan dahinya, dia merasa bingung, kenapa perempuan tersebut bisa mengenali dirinya, dia sendiri bahkan tidak pernah bertemu dengannya, tetapi Rita mengabaikan rasa penasarannya, dengan berjalan masuk ke dalam rumah Kardi. Keadaan di dalam rumah Kardi tidak ada yang berubah, semuanya sama seperti saat terakhir Rita berkunjung, hanya saja dia merasakan ada sesuatu yang aneh, tapi dia tidak tahu apa itu.

Pintu tertutup, perempuan tersebut mengajak Rita ke ruang tamu, rasa penasaran Rita bertambah dengan terus melihat perempuan itu, berkali-kali dia ingin menanyakan nama dan kepentingan perempuan bergaun hitam itu di rumah Kardi, tapi dia mengurungkan niatnya, karena takut menyinggung perasaannya. Siapa perempuan tersebut, apakah dia pembantu, tetapi tidak mungkin, bagi Rita dia terlalu cantik untuk menjadi seorang pembantu, ataukah Kardi sudah menikah tanpa mengundang dirinya, ada banyak pertanyaan dalam otak Rita yang menunggu untuk dia ungkapkan.

"Silahkan duduk." Ucap perempuan itu sambil tersenyum menatap rita

"Iya makasih." Balasnya.

Rita kemudian duduk di kursi sofa ruang tamu, dengan perasaan tidak nyaman, dengan perempuan yang terus melihat dirinya duduk di hadapannya.

"Dia sering cerita tentang kamu." Kata perempuan itu.

"Dia??" Rita merasa bingung.

"Iya dia, Kardi, dulu tiap kali kami bertemu, dia tidak berhenti membicarakanmu."

"Hemm iya." Rita merasa canggung dan heran.

"Dulu? Berarti kamu belum pernah ketemu Kardi?" Tanya Rita.

Sejenak perempuan tersebut diam, tatapannya kosong.

"Eh, permisi." Tegur Rita.

"Oh iya, maaf saya kadang suka banyak pikiran." Kata perempuan tersebut sambil kembali tersenyum ke arah Rita.

"Kardi senior saya di kampus, tetapi sudah beberapa bulan dia tidak pernah datang ke kampus, karena itu saya sering datang ke sini untuk menemuinya, hanya saja ibu Kardi......"

"Hanya saja kenapa?"

"Ehh ibu Kardi tidak pernah......."

Belum sempat perempuan itu menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki dari tangga terdengar, membuat perempuan tersebut diam, tidak melanjutkan percakapan ya dengan Rita. Dia adalah ibu Kardi, orang yang dulu paling menentang hubungan Rita dan Kardi, perempuan tersebut menuruni tangga, dan berjalan pelan menuju ke arah Rita.

"Ada Rita ya." Ucapnya dengan senyum manis di wajahnya.

"Iya tante." Dengan sungkan Rita menyalami tangan ibu Kardi.

"Gimana kabarnya nak Rita?"

"Alhamdulillah bu, baik."

"Sudah lama di sini?"

"Tidak tante, saya baru datang." Jawab Rita.

"Tini kamu kenapa tidak langsung tanya saya, kalau ada Rita?" Ibu Kardi langsung menatap Tini, perempuan bergaun hitam yang sejak tadi menemani Rita di ruang tamu.

"Eh, saya baru mau kasih tau tante."

Tangan Tini bergetar, keningnya sedikit mengeluarkan keringat, Tini terlihat agak ketakutan berada di dekat ibu Kardi.

"Rita belum makan kan?" Kata ibu Kardi yang langsung duduk di samping Rita.

"Eh...." Rita merasa gugup.

"Makan dulu ya nak, kebetulan baru tante sudah masak tadi." Lanjutnya sambil merangkul Rita.

"Eh mohon maaf tante, saya di sini cuman sebentar, saya hanya mau bicara sama Kardi, ada sedikit keperluan." Rita melepaskan tangan ibu Kardi dari badannya dengan pelan.

"Oh Kardi, sebentar ya, soalnya dia sedang tidak enak badan tadi tante dari kamarnya." Kata ibu Kardi, sambil tersenyum menyeringai.

Tatapan ibu Kardi entah kenapa membuat perasaan Rita menjadi tidak enak, dia seperti mengeluarkan aura yang membuat Rita sedikit merinding.

"Tini, tolong kamu pulang dulu ya." Ujarnya.

"Tapi bu....."

"Sudah, kamu pulang dulu, besok bisa datang lagi." Ibu Kardi menatap tajam Tini.

"Iya bu." Tini tertunduk.

Tini langsung berdiri, tanpa berkata apa-apa lagi, dia hanya mengikuti perkataan ibu Kardi meskipun agak berat dia lakukan, tetapi dia tahu, harus menurutinya, demi Kardi orang yang sejak dulu dia kagumi. Matanya mulai berkaca-kaca, perlahan air matanya keluar, meskipun dia menunduk dan berjalan cepat keluar dari rumah Kardi, Rita tetap tahu perasaan Tini terluka.

Melihat itu Rita hanya terdiam, perasaannya semakin tidak enak, entah karena suasana rumah Kardi saat ini, atau karena sikap ibu Kardi dan Tini, yang membuat Rita penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka, Kardi juga belum memperlihatkan dirinya sama sekali, karena yang di inginkan Rita hanya sederhana, meminta maaf kepada Kardi, sesimpel itu, apapun yang terjadi, dia harus melakukannya, Rita sudah membulatkan tekadnya saat ini.

Terpopuler

Comments

Husain

Husain

Gas terus. Horornya seru

2023-03-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!