Kencan Buta

Malam yang buruk bagi Rian, setelah merencanakan untuk bertemu dengan seorang perempuan cantik, dia malah terjebak di kondisi yang tidak dia inginkan.

“Tolong…a..a…ampun, saya tidak akan mengatakan ke siapa-siapa, sa..ya….saya janji, tolonglah saya hanya ingin pulang.” Rian memohon dengan posisi tengkurap di lantai ruang makan.

Sesekali dia memuntahkan darah, menahan sakit dari bekas luka tusuk di pinggang dan perutnya. Bajunya penuh dengan warna merah dari darah, suaranya napas yang mulai sesak, Rian mencoba membalikkan badannya.

Terlihat seorang perempuan berdiri di hadapannya, menggenggam erat pisau yang penuh dengan darah, menatap tajam Rian dengan amarah, dendam, dan tanpa belas kasihan. Terlihat jelas dari matanya, perempuan tersebut seperti pernah merasakan sakit hati.

“Saya minta maaf.” Kata Rian sambil batuk mengeluarkan darah.

“TOLOOONG……” Rian berteriak, meskipun dia tahu bahwa tidak ada yang bias mendengarnya.

Perempuan tersebut meletakkan pisau di meja makan.

“Sssshhh……” Perempuan tersebut mengisyaratkan Rian untuk diam.

Dia lalu mengambil Garpu diatas meja makan. “Laki-laki seperti kamu tidak pantas untuk hidup.” Ucapnya.

Perempuan tersebut lalu menusuk bola mata Rian dengan cepat. Rian tak berkutik.

Jasad laki-laki tersebut hanya terbaring bersimbah darah.

Perempuan tersebut tidak peduli, dia kembali mengambil pisau diatas meja makan, lalu kembali menusuk jasad Rian tanpa henti, melampiaskan semua amarah, kekecewaan, dan sakit hatinya terhadap laki-laki tersebut.

“Sudah cukup.” Tiba-tiba seorang laki-laki datang merangkul perempuan tersebut dari belakang.

Perempuan itu terdiam.

“Sudah cukup, cukup kamu butuh istirahat.” Tangan laki-laki itu mengambil pisau dari genggaman perempuan tersebut, lalu membuangnya.

Hari-hari berlalu, suara mesin cuci dan minyak penggorengan terdengar dari salah satu rumah di pinggiran kota.

“Angga kamu mau kemana, ini masih siang?” Tanya ibunya.

“Saya ada janji sebentar bu.” Angga merapikan bajunya, didepan cermin kamarnya.

“Kamu tidak makan dulu??”

“Enggak bu, nanti aja.” Angga mengambil jaket dan kunci motor sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.

Di ruang tamu kakaknya, Andi sedang duduk di depan televisi menonton acara berita.

“Hati-hati kamu Angga, sekarang tuh banyak penculikan, itu di berita sudah ada lima orang laki-laki yang hilang, sampai sekarang belum di temukan.” Andi menasehati adiknya.

“Yaa tidaklah.” Kata Angga sambil memakai sepatu.

“Memangnya kamu mau kemana lagi Angga? Kemarin kamu juga keluar, hampir setiap hari keluar janjian ketemu cewek yang berbeda setiap hari.” Andi melihat Angga.

“Yaa namanya juga nyari cewek yang pas.” Balasnya.

“Iya tapi kan…..”

“Saya keluar dulu, assalamu alaikum.” Tanpa mendengar perkataan kakaknya, Angga beranjak keluar, menaiki motor maticnya, dan pergi menemui seorang perempuan yang dia kenal dari sosial media.

Beberapa menit kemudian, Angga sampai di sebuah cafe, tempat di mana dia berjanji untuk bertemu dengan perempuan itu.

Angga masuk, duduk, lalu memesan makanan dan minuman untuk dua orang. Sesekali dia memperhatikan sekitar, mencoba melihat apakah perempuan tersebut sudah datang atau belum, dia lalu membuka hpnya, dan melihat pesan singkat dari perempuan bernama Sinta, bertuliskan; “Sebentar lagi aku sampai.”

Dari foto profilnya, perempuan bernama Sinta tersebut terlihat cantik. Rambut hitam pendeknya yang sebahu, senyumannya yang manis, Angga begitu yakin, kali ini pertemuannya akan berbeda dari biasanya. 

Angga menyimpan hp di sakunya, dan menunggu Sinta datang.

Beberapa menit berlalu. Seorang perempuan berjalan masuk ke cafe. Angga memperhatikan perempuan itu, dia memakai pakaian yang rapi, baju putih bersih, rambutnya pendek sebahu, dan wajahnya cantik, sama dengan foto profil yang Angga lihat di hpnya.

“Heyy…..” Angga memanggilnya.

Perempuan tersebut berbalik tersenyum. Dia berjalan ke tempat Angga.

“Kamu Angga ya??” Kata perempuan itu.

“Iya.” Balas Angga.

“Saya Sinta.” Tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Iya, saya tahu, silahkan duduk.” Angga tersenyum sambil menggenggam tangan Sinta.

“Kamu dari tadi menunggu?”

“Engga’ ko’, cuman sebentar.”

“Hmmm…..sorry tadi saya ada urusan sebentar di rumah.” Sinta tersenyum.

“Hehehe…..gapapa, santai aja, munum dulu jus jeruknya.” Angga menyodorkan minuman ke Sinta.

“Iya makasih, oh iya kamu sudah sering blank date begini?”

“Tidak sih, ini baru juga. Oh iya, kamu katanya suka suka main game juga ya?” Angga mengalihkan pembicaraan.

“Iya kadang-kadang kalau ada malam ada waktu luang.” Sinta meminum jus jeruk dihadapannya.

“Wah bagus nih kapan-kapan kita mabar bareng.”

“Hahaha….iya bisa-bisa.” Sinta tertawa.

“Saya rela ko’ begadang demi temanin kamu mabar, hehe..” Kata Angga tersenyum.

“Hahaha….kamu lucu ya, baru pertama sudah menggombal.” Balas Sinta.

“Dari pada diam gak jelas kan.”

“Hehe….iya juga sih, diam…..diam tiba-tiba mati.” Sinta tersenyum.

“Hahaha….” Angga tertawa.

Beberapa jam berlalu, Angga dan Sinta menikmati obrolan mereka. Sesekali mereka bercanda dan tertawa satu sama lain. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan sore hari.

“Wah tidak terasa ya, sudah sore.” Sinta melihat jam tangannya.

“Iya, ngobrolnya seru, hehehe..” Kata Angga tersenyum.

“Iya, jadi lupa waktu.”

“Kamu mau pulang??” Tanya Angga.

“Iyaa, soalnya masih ada kerjaan di rumah.” Ucap Sinta sambil meminum jus jeruknya.

“Owh, kalau begitu biar saya antar ya.”

“Aduh, gak enak, nanti merepotkan.”

“Ahh tidak ko’, biasa aja.” Kata Angga.

“Aduh, serius gapapa?”

“Iya gapapa, sudahlah santai aja.” Angga mencoba meyakinkan Sinta.

“Okelah, kalau kamu mau.” Balas Sinta.

Angga kemudian beranjak ke kasir, membayar makanan dan minuman yang mereka pesan. Setelah itu Angga menyusul Sinta yang sudah menunggu di tempat parkir.

Angga kemudian mengantar Sinta pulang ke rumahnya.

Beberapa menit berlalu, mereka berdua akhirnya sampai di rumah Sinta.

Terlihat rumah lantai dua yang dekorasi agak tua dan sedikit besar, cat dinding yang mulai pudar, bunga-bunga di pekarangan yang terlihat layu dan tidak terurus, di sebelahnyapun tidak terdapat satupun rumah, ataupun tetangga.

“Ini rumah kamu.” Tanya Angga.

“Iya.” Balas Sinta sambil beranjak turun dari motor.

“Kamu tinggal sendiri?”

“Tinggal sama bapak, tapi bapak jarang pulang, karena kerjaan diluar kota.”

“Oh gitu….”

“Eh iya, saya mau ganti uang kamu tadi, yang di bayar di cafe.” Sinta membuka tas, dan mencari uang di dompet.

“Gak usah Sinta, gapapa sekali-kali saya yang bayar.” Balas Angga.

“Janganlah, gak enak, kamu yang antar saya pulang, kamu juga yang bayar. Kamu masuk dulu yaa ke rumah, soalnya uangku ternyata gak ada di dompet, ada di dalam rumah.” Kata Sinta tersenyum.

“Aduuh… gak enak nanti di liat orang.”

“Ayooo sebentar saja.” Sinta memaksa Angga, dia menarik lengan baju Angga.

“Oke, tapi cuman sebentar ya, soalnya sudah mau maghrib ini.” Kata Angga sambil memarkirkan sepeda motornya.

Mereka berdua kemudian beranjak masuk ke rumah Sinta.

“Assalamu alaikum.” Sinta membuka pintu.

“Saya ke atas dulu ya ambil uang, silahkan duduk ya, anggap rumah sendiri.” Ucap Sinta tersenyum sambil beranjak ke lantai dua kamarnya.

Angga kemudian duduk di ruang tamu.

Beberapa saat kemudian Angga merasa ingin buang air kecil.

“Sinta….sinta wc nya di mana??” Angga berdiri dan mencoba memanggil Sinta. Namun, Sinta yang berada di lantai dua, tapi dia tidak merespon.

Angga merasa kebelet, dia kemudian melihat sebuah kamar. Angga membuka pintu, perlahan masuk, dan langsung ke kamar mandi, lalu buang air kecil di closet duduk.

Setelah selesai, Angga mencuci tangan, akan tetapi dia melihat bayangan seseorang di balik tirai bak mandi.

“Halo….” Angga mencoba memanggil.

“Mohon maaf jika saya tidak sopan langsung masuk.” Ucapnya.

Tetapi tetap tidak ada respon, karena penasaran Angga perlahan mendekat. Jantungnya berdegup kencang, dia mulai berkeringat. Angga perlahan membuka tirai.

Angga terdiam dan kaget, suara napasnya terdengar cepat. Dia merasa syok, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

Dia melihat jasad seorang laki-laki duduk di bak mandi, dengan pisau menancap di leher, tubuh penuh darah dan bekas tusukan benda tajam di sekujur tubuhnya.

Angga perlahan mundur, tanpa sadar dia menabrak seseorang di belakangnya.

Angga berbalik, tiba-tiba kepalanya di pukul dengan keras oleh seseorang dengan palu. Angga terjatuh dan pingsan dengan darah di kepala.

Beberapa menit kemudian, Angga tersadar dengan mulut terbekap kain, dia duduk dengan tangan dan kaki terikat di kursi. Kepalanya terasa sakit, pandangannya kabur, dia tidak bisa melihat dengan jelas dimana dia berada sekarang.

Dia hanya melihat dengan buram seorang perempuan berdiri membelakanginya.

Angga mencoba bergerak melepaskan ikatannya, namun tidak bisa.

Perempuan tersebut kemudian berbalik, mengambil ember di sampingnya, lalu menuangkan air berisi darah dan organ tubuh ke badan Angga.

Cairan darah seidkit masuk ke mulutnya. Angga menggeleng-gelengkan kepala, mencoba melihat dengan jelas ruangan tempat dia berada.

Penglihatannya mulai jelas, dia menoleh dan melihat sekitarnya terasa seperti berada diruangan operasi, terlihat juga beberapa jasad laki-laki terbaring didepan dan di sampingnya, semua organ tubuhnya sudah dikeluarkan.

Angga mencoba berteriak, namun sulit, karena mulutnya dibekap kain.

Perempuan tersebut melepaskan kain di mulut Angga dari belakang.

“TOLOOONG……TOLOOONG!!” Angga berteriak sekeras-kerasnya.

Perempuan tersebut tiba-tiba langsung muncul dihadapan Angga.

“Si..sinta?!!” Angga kaget dan tidak percaya yang dia lihat. Perempuan yang tadinya dia temui, cantik, manis, dan selalu tersenyum itu, berubah menjadi seorang psikopat gila.

“Hey Angga, atau saya panggil kamu fuckboy.” Kata Sinta sambil memegang pisau.

Muka’nya penuh dengan bercak darah, tatapan matanya yang dingin dan kejam, serta senyumannya yang hilang dari wajahnya, membuat Angga semakin takut.

“Tolong Sinta, lepaskan, saya tidak salah apa-apa.” Angga memohon.

“APAA?? Tidak bersalah, tidak bersalah kamu bilang?? Semua laki-laki selalu bilang seperti itu, setelah menyakiti hati seorang wanita. Kalian semua sama.” Sinta Menatap Angga.

“Tolong Sinta, hentikan semua ini, saya hanya ingin pulang. Sa…saya janji, saya tidak akan bilang ke siapa-siapa.” Angga mencoba meyakinkan Sinta.

“APAAA?? Pulang?” Sinta lalu memegang rahang Angga dengan keras.

“Kamu tidak akan bisa pulang.” Sinta berbisik ke telinga Angga, lalu melepaskannya kembali.

“TOLOOONG!!” Angga berteriak.

Sinta berbalik mengambil bor listrik di atas meja.

“Silahkan berteriak sepuas mungkin, kita sekarang berada dibawah tanah, tidak akan nada yang bisa mendengarkanmu.” Ucapnya.

“Please Sinta, saya minta maaf. Tolonglah, saya akan kasih kamu apapun yang kamu minta, uang dan semuanya. Tolonglah Sinta.” Angga menangis dan memohon.

“SHHHH.” Sinta mengisyaratkan Angga untuk diam, dan langsung mem-bor tangan kanan Angga yang terikat.

 Darah bercucuran ke mana-mana.

“AAAAAKKH.” Angga meringis kesakitan.

“Sepertinya ini kurang menarik.” Sinta meletakkan kembali bor listrik di atas meja.

“Saya paling benci dengan laki-laki yang selalu menyakiti seorang wanita. Asal kamu tahu Angga, sudah lama saya memperhatikan mu, di sosial media, dimanapun kamu berada, dan dengan perempuan siapa  kamu selalu menghabiskan waktu.” Kata Sinta. Dia lalu mengambil sebuah Pisau.

“Tolong Sinta ampuni saya, tolong tolong please Sinta, saya akan berhenti menyakiti seorang perempuan.” Angga menangis dan memohon, darah tanpa henti menetes dari tangan Angga.

“Sudahlah Angga, ini akan berakhir dengan cepat.” Sinta memperlihatkan pisaunya.

Dia kemudian menusuk perut Angga dengan cepat, lalu menarik pisaunya kembali.

“AAAKKH.” Angga kembali berteriak.

Tiba-tiba seorang laki-laki berjalan masuk, menuruni tangga menuju ruangan tempat Sinta dan Angga berada. Dia berdiri dibelakang Angga.

“Sintaa??” Kata laki-laki tersebut.

“Sayang?? Kamu kenapa disini??” Sinta membalas.

“Saya cuman khawatir dengan kamu.” Jawab laki-laki itu.

Seketika Angga menyadari sesuatu, suara itu terdengar seperti suara kakaknya, Andi.

“Kak Andi??” Angga mencoba memanggil.

Laki-laki itu kemudian mendatangi Angga, dan berdiri dihadapannya. Dia kaget melihat adiknya terikat di kursi dengan tubuh penuh darah.

“Angga?? Kamu kenapa disini??” Ucapnya.

“Syukurlah itu kamu kak Andi, tolong saya kak.” Kata Angga, sambil menahan rasa sakit.

“Astaga, Angga.” Andi langsung melepaskan ikatan adiknya.

Sementara itu Sinta hanya terdiam dengan memegang pisau.

“Sayaang?? Ini adik kamu??” Tanya Sinta.

Andi tidak menghiraukan perkataan Sinta, dan tetap melepaskan tali yang mengikat adiknya.

“Sayaang?? Kamu jawab? Kamu lebih memilih adik kamu dibanding saya, kekasihmu??” Sinta menarik-narik baju Andi dari belakang.

Andi berbalik, dan menatap tajam Sinta.

“Cukup Sinta, harusnya kamu hentikan kegilaan kamu ini sejak dulu, kamu itu hanyalah perempuan lemah, cengeng, yang sakit hati karena disakiti oleh seorang laki-laki, dan kemudian melampiaskan semua kebencianmu terhadap semua laki-laki, kamu hanyalah perempuan gila.” Kata Andi dihadapan Sinta.

Sinta tertunduk diam, menangis.

Andi kemudian melanjutkan melepaskan ikatan adiknya. Dia perlahan mengangkat membopong Angga adiknya menuju tangga dan keluar dari ruangan.

Angga terlihat menekan luka diperutnya, dan meringis kesakitan.

“Ayo Angga, kakak akan bawa kamu ke rumah sakit.” Andi terus membopong adiknya.

Mereka berdua beranjak meninggalkan ruang bawah tanah rumah Sinta, dan menuju ruang tamu.

“Ayo Angga sedikit lagi.” Andi mencoba menenangkan adiknya.

Sementara itu darah terus mengalir dari luka diperut Angga.

Beberapa langkah menuju pintu keluar rumah, tiba-tiba Andi ditusuk pundaknya dari belakang oleh Sinta.

“Aakh.” Andi meringis.

Sinta lalu menarik pisaunya, dan kemudian menusuk kembali Andi tanpa henti dengan cepat.

Angga terjatuh dan tergeletak. “KAK ANDII!!” Teriaknya.

Andi terjatuh tengkurap, mulutnya mengeluarkan banyak darah.

“Ang..ga la…lariii.” Kata Andi dengan terbatah-batah.

Melihat Andi terjatuh, Sinta membalik tubuh Andi, dan kemudian kembali menusuknya berkali-kali.

“Saya tidak lemah.” Ucap Sinta tersenyum melihat wajah Andi dengan tatapan tajam, matanya meneteskan sedikit air mata, dan terus menusuk badan Andi.

Angga mencoba merangkak, dia tidak mampu berdiri, luka diperutnya terasa sangat sakit. Dia sudah merangkak melewati pintu dan sampai di teras rumah.

Terlihat gelap didepan rumah Sinta, tanpa adanya penerangan dari lampu jalan.

“TOLOOONG!!” Angga berteriak dan terus berusaha merangkak meninggalkan rumah Sinta.

Melihat Angga merangkak keluar, Sinta berdiri, meninggalkan Andi yang sudah tergeletak tak bernyawa, dia lalu datang menghampiri Angga dengan tangan berlumuran darah sambil menggenggam erat pisaunya.

 “TOLOOONG!!” Angga berteriak sekeras-kerasnya, namun tak ada seorangpun yang bisa mendengarnya.

“Saya sudah bilang, kamu tidak akan bisa pergi dari sini.” Kata Sinta.

Dia kemudian membalik tubuh Angga.

“Tolong lepaskan saya Sinta.” Angga menangis dan memohon.

“Shhh….laki-laki tidak pantas menangis.” Balas Sinta.

Sinta lalu menusuk leher Angga dengan cepat.

Angga memuntahkan banyak darah sambil memegang lehernya.

Sinta tersenyum, kemudian menarik tubuh Angga masuk ke dalam rumahnya, lalu menutup pintu dengan kencang.

TAMAT

Terpopuler

Comments

Niisha Vanasha Khasunny

Niisha Vanasha Khasunny

“Tolong ... a ... a ... ampun. Saya tidak akan mengatakan ke siapa siapa. Sa ... ya ... saya janji. Tolonglah, saya hanya ingin pulang.” Rian memohon dengan posisi tengkurap di lantai ruang makan.


Sebelum dan sesudah elipsis ( ... ), dikasih spasi seperti di atas.

2020-10-18

2

Nunuk Pujiati 👻

Nunuk Pujiati 👻

darah darah 🤕🤕🤕🤕🤕🤕

2020-08-31

1

pena emas

pena emas

psyconya kurang nendang si sinta thor.

2020-08-30

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!