Suasana rumah yang begitu sunyi, hening, di tengah malam yang terasa begitu dingin. Rita bangun, dan sadar, penglihatannya yang awalnya sedikit buram mulai jelas, dia sadar dirinya terikat di kursi di ruang makan rumah Kardi.
Tangan Rita penuh dengan bekas darah, yang bukan miliknya, rambut acak-acakan, kakinya tidak bisa dia gerakkan akibat luka tusuk yang dalam.
Kepalanya juga masih sakit akibat pukulan benda tumpul dari ayah Kardi, mulutnya tersumpal kain yang membuat Rita tidak bisa berteriak meminta tolong, darah di dahinya sudah mulai kering, tetapi dia tidak bisa bergerak, dia tidak bisa melepaskan ikatan di tubuhnya yang begitu erat. Rita memberontak, menggerakkan tangan dan kakinya sekuat tenaga, agar bisa membuat ikatannya longgar, namun sekali lagi, dia gagal.
Beberapa detik kemudian, seseorang keluar dari dapur dan menghampiri Rita, dia ayah dari Kardi. Sambil membawa sesuatu di atas piring yang tertutup, dia menyimpan piring tersebut di hadapan Rita yang membuatnya penasaran dengan isi piring tersebut.
"Maaf ya dek Rita menunggu lama." Ucap ayah Kardi dengan suara lembut.
Dia kemudian duduk di meja makan, di hadapan Rita dengan tersenyum menyeringai. Rita bergidik ketakutan.
"Rita belum makan ya, tunggu ya..." Kata ayah Kardi.
Dia lalu menjulurkan tangannya, dan perlahan-lahan membuka penutup makanan yang ada di hadapan Rita.
"AAAAAKH." Rita berteriak keras melepaskan kain yang ada di mulutnya.
Ayak Kardi hanya tersenyum, Rita menangis. Dia kaget melihat beberapa potongan tubuh dan darah yang masih segar ada di atas piring, ada pergelangan tangan dengan cincin masih terpasang di jari manis, dia sangat mengenali orang yang memakai cincin tersebut, Rita syok, dia tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya terdiam, dengan air mata yang perlahan mengalir di pipinya.
#########################################
Beberapa jam yang lalu, di sore hari di rumahnya, Rita duduk di ruang tamu, tanpa sengaja dia melihat foto di sosial medianya yang menandakan dirinya, foto itu di posting oleh akun mantannya dulu, Kardi. Orang terakhir yang dia cintai, dia tinggalkan sebelum menikah dan akhirnya bertemu dengan suaminya sekarang, Ray, seorang karyawan di salah satu perusahaan terbesar di kota tempat mereka tinggal.
Rita dan Kardi sudah lama tidak bertemu, bahkan saat Rita menikah, Kardi tidak hadir, meskipun dia sudah mengundangnya. Rita penasaran dengan kondisi Kardi saat ini, dia tahu kesalahannya, meninggalkan Kardi, mengakhiri hubungannya yang sudah 5 tahun dia dan Kardi jalani, tapi Rita tahu itu harus dia lakukan, agar kehidupannya menjadi lebih baik.
Rita mengingat, saat dia dan Kardi duduk berdua di kursi taman, dan dia memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan mereka, Kardi terlihat sangat tidak menerimanya, Kardi marah, kecewa, tetapi Rita tetap bersikukuh untuk berpisah. Kardi menanyakan alasannya, tetapi Rita dengan alasan yang jelas, bahwa hubungan mereka tidak direstui oleh Ibu Kardi, membuat Kardi terdiam.
Saat ini sudah menjalani hubungan dengan Ray, walaupun rumah tangga mereka masih beranjak satu tahun, tapi Rita bahagia dengan apa yang dia jalani saat ini.
Beberapa saat kemudian, Ray datang membuka pintu.
"Assalamualaikum." Ucapnya sambil berjalan masuk.
"Waalaikum salam." Jawab Rita yang langsung menyambut suaminya itu.
"Ada makanan di meja, sudah saya siapkan kalau lapar." Lanjut Rita.
"Iya makasih, mau mandi dulu sebentar ya, biar lebih fresh, kalu kamu sudah makan?"
"Iya sudah, hemmm....." Rita mencoba mengatakan sesuatu.
Ray merasa aneh dengan Rita yang terlihat bingung.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Ray sambil menatap wajah istrinya itu.
"Enggak, aku cuman kepikiran sama Kardi." Jawab Rita sambil kembali duduk di kursi ruang tamu.
"Owh, mantan kamu itu, kamu belum minta maaf ke dia?"
"Belum."
Ray mendekat dan duduk di samping Rita.
"Ada baiknya, hubungan itu di selesaikan baik-baik, biar silaturahmi tetap bisa jalan." Ray menggenggam tangan Rita dengan lembut dan pelan.
Rita tersenyum melihat Ray, dia merasa sangat senang Ray bisa menenangkan hatinya.
"Sebaiknya aku ke rumah Kardi aja ya sebentar untuk minta maaf, gapapa kan?" Tanya Rita kembali.
"Ya gapapa, ini kan juga demi kita." Ray membelai rambut Rita.
"Terima kasih, kamu selalu ada." Rita menyadarkan kepalanya di dada suaminya tersebut.
"Yaa kan saya suami kamu, bukan tukang becak." Ray menggoda Rita.
Rita tersipu malu di dekapan Ray yang tertawa kecil sambil memeluknya dengan erat.
Beberapa menit berlalu, setelah mempersiapkan dirinya , Rita kemudian berpamitan dengan Ray.
"Aku pergi duluan ya sayang." Ucapnya.
"Iya hati-hati ya." Balas Ray yang berteriak dari ruang makan.
"Iyaa." Kata Rita, sambil membuka pintu rumahnya.
Dia lalu berjalan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di teras rumahnya. Rita menjepit rambutnya ke belakang, menyalakan mobilnya, dan berangkat menuju ke rumah Kardi. Rita tidak tahu apa yang akan menantinya, yang dia inginkan hanya meminta maaf kepada mantannya tersebut, agar perasaan rasa bersalahnya hilang, agar Kardi bisa move on, dan melepaskannya.
Dalam perjalanan Rita sudah mengatur, menyiapkan beberapa kalimat yang akan dia ucapkan sesampainya di sana. Apapun yang terjadi dia harus bisa mengatakannya, tekadnya yang sudah bulat, Rita menyimpan smartphonenya di dalam tas.
Waktu yang begitu singkat di perjalanan, hari yang sudah hampir gelap, Rita yang sudah sangat mengenal jalan menuju ke rumah mantannya itu, dia akhirnya sampai di depan rumah Kardi. Sudah lama dia tidak mampir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments