Ujian: Part 1

Suasana hening menemani Rudi tertidur di kamarnya, sinar matahari yang belum mendobrak masuk gorden kamar, selimut hangat serta suhu AC yang memaksa dirinya bergelut dengan bantal yang empuk, Rudi sangat menikmati mimpinya tatkala dia tidur.

Beberapa menit kemudian alarm smartphonenya berbunyi tanpa henti, di ikuti dengan ibunya yang tiba-tiba datang mengetuk-ngetuk pintu kamar Rudi.

"Rudi banguuuun!!" Kata ibunya dari luar kamar

Seketika Rudi terbangun dari tidurnya, tetapi dia masih enggan bergerak dari dekapan selimut ya yang hangat, Rudi juga tidak merespon teguran ibunya.

"Sudah mau jam tujuh, nanti kamu terlambat." Lanjut ibunya.

Ibu Rudi sudah terbiasa dengan tingkah laku anaknya, dia tahu Rudi sudah bangun, dan meninggalkan Rudi di kamar, bergegas menuruni tangga, dan menyiapkan sarapan di dapur, sementara itu Rudi masih di ranjangnya. Dia mengambil smartphonenya, mematikan alarm, dan menyimpan smartphonenya kembali di atas meja, seperti biasa, baginya tidak ada yang spesial, ini adalah hari yang biasa-biasa saja.

Sejenak di duduk merenung, meratapi hidupnya yang hambar, tak yang bisa di nikmati, tak ada yang bisa dia senangi, hanya rasa pesimis di dalam otaknya, sempat dia berpikir, apakah kematian itu labih baik untuknya saat ini, tetapi dia masih mencintai keluarganya saat ini, walaupun ada keretakan dan jarak di antara ayah dan ibunya.

Dia tidak tahu harus bagaimana, dan harus bersikap apa, yang bisa di lakukan setiap hari, hanya bisa melihat dan menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Rudi lalu mengambil handuk di atas kursi, dan bergerak menuju kamar mandi, bersiap untuk berangkat ke kampus untuk ujian akhir semester.

Beberapa menit kemudian, Rudi selesai mandi dan berpakaian, dia beranjak menuruni tangga sambil membawa tas ransel di punggungnya menuju dapur, terlihat di ruang tamu ayah dan ibunya saling berdebat, berteriak ke arah satu sama lain, mereka bertengkar.

"Pokoknya aku mau cerai." Kata ibu Rudi dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.

"SILAHKAAAN!! SAYA TIDAK PEDULI!!!" Balas ayahnya, dengan berteriak sambil melotot ke arah ibu Rudi.

"Kamu itu laki-laki egois."

Mendengar itu, bapak Rudi melempar vas bunga yang ada di atas meja ke dinding rumah, hingga hancur berantakan. Ibu Rudi menangis. Rudi yang sudah terbiasa dengan hal tersebut sudah tidak peduli, meskipun di dalam hatinya, dia ingin ayah dan ibunya berhenti bertengkar dan kembali rujuk, tetapi Rudi tahu hal tersebut sudah tidak mungkin. Rudi lalu duduk di kursi meja makan, memakan roti dengan selai kaya dan meminum susu yang sudah tersedia di atas meja.

Setelah itu, tanpa pikir panjang dia memakai sepatu hitam, memakai masker hitam, dan berjalan keluar dari rumahnya seperti seolah tidak terjadi apa-apa. Rudi tahu para tetangga sekitar rumahnya merasa terganggu, tapi dia hanya seorang pemeran figuran dalam hubungan ayah dan ibunya yang buruk.

Kampus Rudi tidak jauh dari kompleks rumahnya, hanya butuh beberapa ratus meter untuk sampai, sehingga Rudi tiap hari memilih berjalan kaki, padahal dia punya dua mobil, satu sepeda motor di rumahnya. Dia tinggal di daerah perkotaan yang padat penduduk, sehingga, suara kendaraan, suara orang-orang yang mengganggu di telinganya sudah biasa. Rudi berjalan keluar dari gerbang kompleks perumahan, pak Kasim yang menjadi satpam puluhan tahun di perumahan tersebut berteriak ke arah Rudi.

"Hati-hati di jalan Rudi." Ujarnya sambil tersenyum.

Rudi tidak menggubris perkataan pak Kasim, dia menginjakkan kakinya di atas trotoar jalanan, melewati laki-laki pengemis tua yang setiap hari duduk di trotoar, badan yang kotor dan berbau, baju robek-robek compang camping yang masih dia kenakan, pengemis itu hanya duduk melamun beralaskan kardus tipis sambil melihat orang-orang berlalu lalang di hadapannya. Sedangkan Rudi sudah tidak peduli, dia hanya berjalan melewatinya sambil menempelkan headphone di telinga, walaupun Rudi tidak mendengarkan apa-apa, dia hanya memakainya agar orang lain tidak mengganggu dirinya.

Setelah berjalan beberapa meter, Kevin berlari menghampiri Rudi. Dia adalah sahabatnya sejak kecil, mereka juga bertetangga, tinggal di kompleks perumahan yang sama, kuliah di kampus yang sama, dan berada di satu ruangan yang sama. Kevin sangat berbeda di bandingkan Rudi yang jutek, cuek, dan tidak peduli sekitarnya, Kevin orang yang tiap hari bersemangat, ceria, ramah dan peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

"Pagi broww." Kata Kevin tersenyum kepada Rudi.

"Iya." Balas Rudi sambil menurunkan headphonenya.

"Kau sudah belajar tadi malam??"

"Tidak penting juga ujiannya." Jawab Rudi.

"Ayolah, namanya juga ujian pasti penting."

Tanpa memperhatikan jalanan di sekitarnya, Kevin tersandung sebuah batu, yang membuatnya terjatuh.

"Sepertinya lebih penting melihat jalan di depanmu." Rudi meledek Kevin.

"Hahahaha......awas yaa kau minta contekan nanti." Ucap Kevin yang tertawa.

Kevin memperbaiki dan membersihkan kemejanya yang sedikit kotor. Mereka berdua lalu kembali berjalan menuju kampus.

Beberapa menit kemudian, mereka samping di depan kampus mereka, suasana yang sangat ramai, orang-orang bergegas masuk ke dalam kampus, dan beberapa kendaraan keluar masuk, tiba-tiba terdengar suara perempuan berteriak yang seketika membuat orang-orang di sekitar terkejut.

"AAAAAAKH."

Mereka semua mengarahkan pandangan mereka ke satu mobil di tengah jalan di depan kampus, seorang perempuan tergeletak di depan mobil tersebut dengan darah perlahan keluar dari kepalanya. Orang-orang bergegas menghampirinya termasuk Kevin yang dengan cepat berlari ke tempat mobil itu, mencoba menolong menyadarkannya, laki-laki keluar dari mobil tersebut, dia terlihat panik, sebagian orang menghampiri laki-laki itu, meninjau wajahnya dengan keras sampai laki-laki itu terjatuh, dia mencoba meminta maaf, tetapi mereka terus lanjut memukul dan menendang wajahnya.

Rudi yang sempat kaget melihat kejadian tersebut, kembali berjalan, melewati gerbang dan halaman kampus, yang akhirnya sampai di ruangannya. Rudi mengeluarkan laptop dari dalam tas, membuka beberapa halaman website film yang dia sukai. Di dalam ruangan, Rudi tidak sendirian, ada beberapa teman-teman yang tidak akrab dengan Rudi, karena Rudi tergolong orang yang introvert, tertutup, dan menjauhi orang-orang yang tidak dia kenali.

Ana masuk, bersama dengan seorang laki-laki di belakangnya, dia terlihat menangis, sementara laki-laki itu terus mengikuti Ana sampai Ana duduk di tempatnya di belakang Rudi.

"Sayang aku minta maaf." Kata laki-laki itu mencoba menenangkan Ana yang tertunduk sedih.

Ana merupakan mantan Rudi, tahun mereka pernah menjalin hubungan bersama-sama, meskipun akhirnya Ana selingkuh dan memutuskan meninggalkan Rudi, dia tahu laki-laki itulah penyebabnya. Tetapi Rudi sudah tidak peduli dengan Ana, dia sibuk mengutak atik laptop di hadapannya.

"Aku janji gak akan mengulangi kembali." Lanjut laki-laki tersebut.

Ana langsung berdiri, menatap tajam pacarnya.

"Cowok bajingan, berengsek kau, kita putus." Ana meludahi wajah pacarnya.

Merasa tidak terima, laki-laki itu marah, mengangkat tangan kanannya, dan menampar pipi kanan Ana hingga Ana memalingkan wajahnya. Semua orang melihat mereka berdua bertengkar, sekejap ruangan tersebut menjadi ramai.

"Dasar perempuan tidak tahu diri, semua yang kau dapat selama ini karena aku, dasar pelacur."

Laki-laki itu kemudian pergi keluar, meninggalkan Ana yang tertunduk menangis menyembunyikan wajahnya di atas meja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!