Beberapa saat kemudian seseorang berjalan masuk ke kamarku, sambil memegang sebuah buku.
“Assalamu alaikum,” Ucapnya.
“Waalaikum salam.” Jawab kami serentak.
Baju yang selalu rapi dan masuk kedalam celana, sikapnya yang sopan terlihat culun, pemalu, lalu rambutnya yang tersisi rapih, dia adalah ketua kelas kami, Aldi.
“Iya ada pak ketua??” Sahut Angga, yang terlihat tidak senang melihat kedatangan Aldi.
“Hem…..mohon maaf, apakah saya mengganggu ya??” Tanya Aldi, sambil tersenyum dengan tingkahnya yang sopan.
Aldi memang adaalah seorang ketua kelas, pintar, berprestasi, banyak guru yang suka kepadanya, namun kebanyakan dari kami para siswa-siswi kesal dan tidak menyukai sikapnya, karena dia selalu mencari muka di depan guru, meskipun sebenarnya dia adalah orang yang baik, tapi tidak ada seorang pun yang ingin berteman dengan dia.
“Sedikit mengganggu sih pak ketua.” Balas Angga sambil sedikit tertawa.
Agak sedikit lucu mendengar Angga yang terus memanggil Aldi dengan sebutan pak ketua, sedangkan tingkah Aldi yang terlihat malu untuk maju mendekati kami, dia hanya terus berdiri di dekat pintu kamarku.
Melihat itu, saya menutup mulut, lalu kemudian sedikit tertawa.
“Gak usah di hiraukan itu Aldi, Angga memang begitu orangnya.” Ujar Intan dengan tersenyum.
“Memang ada apa ya Aldi??” Lanjut Intan.
“Hemmm…..” Aldi menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya.
Dia terlihat malu untuk mengatakan sesuatu.
“Sudahlah, kalau tidak penting lebih baik pak ketua keluar saja,” Sahut Angga.
“Hust jangan begitu.” Ucapku sambil menatap tajam Angga.
“Iya iya.” Kata Angga dengan mengalihkan wajahnya.
“Aldi, ada yang bisa saya bantu??” Saya bertanya dengan suara lembut.
Mendengar perkataan ku, Aldi langsung mengangkat wajahnya, lalu menatapku.
“Sa..sa…saya…cuman mau kasih kamu sesuatu.” Kata Aldi sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
“Iya apa??” Tanyaku kembali.
Aldi kemudian perlahan melangkahkan kakinya mendekati ranjangku, dia melihat ku dengan sedikit senyuman lucu di wajahnya, sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
Semua mata tertuju pada Aldi.
Dia mengeluarkan sebuah kardus berbentuk kotak, dengan pembungkus warna kesukaanku, yaitu warna biru langit, dia lalu memberikan ku dengan menjulur kan tangannya secara pelan.
“Semoga cepat sembuh yaa.” Ucapnya dengan suara halus.
“Iya terima kasih ya Aldi.” Balas ku sambil menerima pemberiannya.
Dia kemudian perlahan melangkah mundur.
“Kalau begitu saya pamit pulang dulu, cepat sembuh ya Hana.” Kata Aldi dengan suara pelan.
“Iya iya makasih,” Balasku dengan tersenyum
“Iya iya silahkan keluar pak ketua, terima kasih.” Kata Angga dengan wajah sedikit kesal.
Aldi kemudian berjalan keluar, lalu perlahan menutup kamarku.
“Kamu bisa gak sih, sopan sedikit.” Intan menatap Angga sambil memeperbaiki kacamatanya.
“Iya nih, kamu memangnya ada masalah apa sama Aldi??” Saya bertanya kepada Angga dengan perasaan kesal.
“Yaa tau kan ini Aldi orangnya, palsu, suka cari muka,” Ujar Angga.
“Iya tapi kan dia niatnya baik,” Balasku.
“Iya iya maaf.” Kata Angga dengan ekspresi kesal.
Tiba-tiba Intan dengan cepat merebut kardus berbentuk kotak pemberian Aldi dari tangan ku.
“Kita buka yuk hadiahnya.” Ujar Intan.
“Ini orang tidak sabaran ya.” Ucapku melihat Intan.
“Hehe….” Intan tertawa sambil merobek pembungkus kotaknya.
Dia kemudian mencoba membuka kotak tersebut dengan perlahan.
“Mari kita lihat hadiah dari si pak ketua kelas kita,” Ujarnya.
“Paling isinya buku tulis dan pulpen,” Sahut Angga.
“Hust jangan suudzon lah.” Ucapku menatap Angga.
Intan kemudian mengeluarkan sesuatu dari kotak pemberian Aldi.
Barang tersebut juga berbentuk kotak, dengan terbungkus pelastik bening.
“Ini….jam weker??” Kata Intan dengan ekspresi bingung sambil menggenggamnya.
Saya kemudian merebut barang tersebut dari tangan Intan, lalu memperhatikannya dengan seksama.
“Iya ini jam weker.” Ucapku dalam hati.
“Hahahaha…..” Angga tertawa melihatku.
“Ngeledek tuh orang, sudah ku bilang kan dia itu orangnya menyebalkan,” Lanjut Angga.
“Apapun itu positif thinking saja,” Balasku, sambil menyimpan jam weker tersebut di atas meja, di samping ranjangku.
“Gimana kalau nanti malam kita keluar Hana??” Ajak Intan, dengan memegang kedua tangan ku.
“Boleh….. tapi gimana ya.” Ucapku dengan sedikit ragu.
Bukannya saya tidak ingin menghabiskan waktu dengan mereka, akan tetapi saya sedikit khawatir dengan kelainan Hypersomnia ini, jangan sampai ini terjadi seperti saat terakhir kali.
“Tenang, kami ada di samping kamu.” Intan menggenggam erat tangan ku, dia tersenyum.
“Kamu kan suka makan es krim sambil dengar musik klasik,” Sambung Angga sambil menatapku.
Saya lalu tersenyum melihat mereka berdua. Saya bersyukur memiliki mereka yang terus ada di sampingku.
“Iya iya saya ikut,” Ucapku pelan.
“Akhirnya si princes kembali ceria lagi.” Intan memegang pipiku.
“Tunggu dulu, ini sebenarnya yang jadi pacarnya si princes, Intan atau saya??” Kata Angga sambil menunjuk Intan lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Intan lah, kamu kan pangeranku.” Saya mencoba merayu Angga.
Angga tersenyum melihatku.
“Kalian ini, jangan di depanku lah, saya kan jadi iri.” Kata Intan dengan ekspresi cemberut.
“Iya iya cantip.” Saya kemudian membelai rambut Intan.
“Oke kalau begitu nanti saya jemput jam 8 ya,” Ujar Angga.
Saya mengangguk pelan.
“Iya, jangan lupa pakai make up ya, saya rindu liat princes dengan wajahnya yang cantik.” Kata Intan.
“Iya iya….” Ucapku sambil tersenyum.
“Oke sampai ketemu nanti malam ya, kami pulang dulu.” Balas Intan, sambil berjalan keluar dari kamarku bersama Angga.
Hari ini mungkin jadi hari yang terburuk dalam hidupku, akan tetapi dengan adanya mereka membuat perasaanku menjadi lebih baik.
Saya kemudian bangun dari ranjangku, lalu mencoba melihat pemandangan di balik jendela kamarku sendiri.
Terlihat beberapa anak bermain di pinggir jalan, beberapa kendaraan yang berlalu lalang, cuaca yang sedikit mendung, pemandangan yang selama satu minggu tidak pernah saya lihat.
Sedikit rindu merasakan suasana di luar rumah ini seperti apa, akan tetapi, saya juga mulai berpikir resiko yang akan terjadi jika Hypersomnia ku kambuh lagi, pasti akan sangat sedih bagi ibuku jika sesuatu terjadi kepadaku, anak satu-satunya.
Tiba-tiba terlihat Angga dengan Intan berjalan keluar dari rumahku, tapi ada sesuatu yang aneh.
Angga terlihat menggandeng tangan Intan.
Ini baru pertama kalinya saya melihat Angga pacarku sendiri menggandeng tangan Intan.
Saya merasa sedikit bingung dan penasaran dengan mereka berdua, tapi saya mencoba untuk tidak memikirkan hal-hal yang negatif, karena saya yakin dengan mereka berdua tidak akan mencoba menyakiti perasaanku.
Angga dan Intan kemudian beranjak masuk ke dalam mobil Intan, lalu mereka pergi berdua bersama.
Saya agak sedikit bingung dengan Angga, baru kali ini dia tidak membawa motor maticnya, dari dulu bahkan sejak pertama kali kami bertemu, dia selalu memakai motornya, kemanapun dia pergi.
Namun sekali lagi saya mencoba untuk tidak menduga-duga sesuatu yang negatif.
Saya kemudian beranjak bangun dari tempat tidur, akan tetapi ada sesuatu yang aneh yang saya rasakan dengan celanaku.
Saya mencoba mengintip di balik celanaku, dan benar saja. Saya memakai popok. Saya lalu beranjak masuk ke kamar mandi, dan mempersiapkan diri ku untuk nanti malam.
*****
“TOK…TOK….TOK…”
Suara ketukan pintu terdengar.
“Itu pasti mereka,” Gumamku pelan.
Saya kemudian bergegas pergi untuk membuka pintu.
“Assalamu alaikum.” Kata Intan dan Angga serentak.
“Waalaiku salam,” Jawabku.
Mereka berdua terlihat memakai baju dengan warna yang sama, warna biru.
“Mohon maaf apakah ini rumahnya si putri tidur yang cantik itu?” Kata Angga, mencoba merayu ku.
“Iya benar ini rumahnya.” Balasku sambil tersenyum.
“Tentu saja ini rumahnya, karena dia sekarang berdiri di hadapan kita.” Ujar Intan yang langsung memelukku.
“Gimana, kita jadikan keluar sekarang?” Sambung Intan sambil melepaskan pelukannya.
“Iya jadilah,” Jawabku.
“Oke ayo.” Sahut Angga.
“Buu saya keluar dulu yaa.” Ucapku dengan suara tinggi kepada ibuku yang berada di ruang tamu.
“Oke hati-hati yaa,” Balasnya.
Kami bertiga kemudian beranjak masuk ke dalam mobil Intan.
Saya dan Intan duduk di belakang, sedangkan Angga di depan menyetir mobil.
Hal yang lagi-lagi membuatku bingung dan bertanya-tanya adalah, sejak kapan Angga bisa menyetir membawa mobil, sejak kami jalan bersama pertama kali, saya ingat dia pernah bilang dia tidak bisa menyetir mobil.
Apakah dia belajar di kantor polisi untuk mendapatkan SIM, ataukah dia di ajari oleh Intan.
Lagi-lagi pikiranku mulai kemana-mana, menduga sesuatu antara Intan dan Angga, namun lagi-lagi saya mencoba untuk melupakan itu semua.
“Tidak mungkin,” Gumamku.
Angga kemudian menyalakan mobil, lalu beranjak membawa kami ke sebuah cafe yang terlihat meriah dan ramai.
Terlihat di cafe tersebut, terdapat acara live musik, orang mulai berdatangan dan menikmati acara tersebut.
Sesampainya, kami bertiga keluar dari mobil, dn memesan sebuah tempat yang berada sedikit lebih dengan panggung.
Kami bertiga kemudian duduk.
Terlihat sebuah band memainkan musik jazz di atas panggung, menghibur setiap orang yang hadir dan datang ke tempat tersebut.
Saya sangat suka mendengarkan music tersebut, membuat saya lebih tenang. Akan tetapi, music tersebut membuat saya semakin lama semakin mengantuk, tentu saja itu adalah hal saya takutkan, apabila Hypersomnia ku kambuh dan saya tertidur lagi.
Saya tidak ingin kembali tertidur memakai pokok, dan menghabiskan waktuku sepanjang waktu di atas tempat tidur.
Beberapa saat kemudian seorang pelayan lalu datang menghampiri kami dan memberikan buku menu kepada Angga sambil mengeluarkan buku catatannya.
“Kamu mau pesan apa Hana??” Tanya Intan.
“Saya pesan kopi hangat saja satu,” Jawabku.
“Kamu gak mau pesan es krim, kamu kan suka es krim?” Ujar Angga sambil melihatku.
“Gak usah untuk sekarang.” Balasku sambil tersenyum kepada Angga.
“Kamu gak apa-apa kan sayang??” Kata Angga dengan ekspresi khawatir.
“Kalau kamu merasa gak mood, kita bisa kok balik pulang,” Lanjut Intan.
“Hemm….iya gapapa, saya baik-baik saja,” Ucapku.
“Kamu yakin??” Tanya Intan kembali.
“Iya saya gak apa-apa.” Ucapku kembali meyakinkan mereka.
“Kalau begitu kami pesan dua lemon tea, satu kopi hangat. Dan kripik kentangnya dua porsi,” Kata Angga.
Pelayan tersebut mencatat pesanan kami, Angga kemudian mengembalikan buku menu kepada pelayan yang berdiri di sampingnya, lalu pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan kami.
Waktu berjalan begitu lambat, musik suasana yang santai semakin lama semakin membuat beberapa orang menikmati malam ini dengan senyuman di wajahnya, termasuk Intan dan Angga, namun tidak bagiku.
Perasaanku semakin lama semakin membuatku merasa tidak enak, membuat badanku semakin lemas, semakin kurang bertenaga, rasa ngantuk pun mulai kurasakan, perasaan yang sama kurasakan saat berada di kelas satu minggu yang lalu.
Saya mencoba untuk menahan rasa kantuk, tapi semakin ku coba menahannya, semakin lelah ku rasakan, semakin ingin kupejamkan mataku. Kopi yang tadi ku pesan pun juga tak kunjung datang.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke WC dan membasuh wajahku.
“Saya ke kantin dullu yaa.” Ucapku sambil berdiri dari kursi.
“Kamu mau di temani??” Ujar Intan.
“Saya bisa sendiri,” Lanjutku sambil tersenyum.
Intan membalas senyumanku, ekspresi khawatir di wajahnya saat melihatku tadi mulai menghilang, membuatku merasa lega, untuk tidak merepotkan dan menjadi beban bagi mereka.
Saya lalu berjalan cepat menuju WC, mencoba menghilangkan perasaan ngantuk ini.
Sesampainya di dalam WC saya langsung menghadap ke cermin, mengalirkan di wastafel, lalu membasuh wajahku tiga kali, make up mulai luntur, akan tetapi rasa ngantuk ini tetap masih ada.
“Tidak ada gunanya,” Gumamku.
“Ayolah Hana, kamu harus bisa tahan.” Ucapku terhadap diri sendiri, sambil menghadap ke cermin.
Saya lalu mengeluarkan tisu dari tasku, mengeringkan wajahku dengan tisu tersebut, memakai listik yang ada di tasku, kemudian bergegas keluar dari WC dan pergi kembali menemui Intan dan Angga.
Dari jauh terlihat mereka saling berhadapan dan bercanda satu sama lain, sangat menyenangkan melihat mereka seperti itu. Saya perlahan melangkah menghampiri mereka.
Namun, mereka akhirnya berhenti bercanda, lalu saling menatap satu sama lain. Angga kemudian mengeluskan tangannya ke pipi Intan, dan perlahan membuka kacamata Intan. Tatapan dari mata mereka masing-masing memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa ku ungkapkan, tapi membuat ku sedih.
Saya menghentikan langkahku, karena begitu terkejut dengan apa yang kulihat saat ini.
Tiba-tiba dengan cepat Angga mencium Intan.
Intan tidak menghindarinya, dia pasrah dan menutup matanya, seakan-akan ciuman itu adalah sesuatu yang dia nantikan selama ini, layaknya Jack dan Rose di film Titanic, mereka menikmatinya.
Orang-orang di sekitar yang melihat mereka berdua, bersorak, dan mendukung mereka.
Beberapa saat kemudian mereka ciuman mesra tersebut, saling tersenyum satu sama lain, dan tersipu malu.
Apa yang salah dengan sepasang anak muda berumur 17 tahun saling berciuman di area publik, tidak ada yang salah dengan itu, yang salah adalah ketika pacarmu sendiri dan sahabatmu yang selalu ada di dekatmu melakukan hal itu.
Saya tidak bisa berkutik melihat hal tersebut, saya hanya berdiri terdiam, mataku mulai berkaca-kaca, air mataku pun perlahan menetes.
Badanku mulai terasa lemas kembali, pandangan ku juga sudah terlihat buram melihat Intan dan Angga yang duduk berdua ataupun di sekitarku, rasa ngantuk mulai kurasakan.
Seketika aku terjatuh dan tergeletak di lantai, mataku terpejam dan berharap untuk tidak lagi melihat mereka kembali.
Saya lebih memilih untuk tidur dan tidak bangun lagi, daripada bangun dan merasakan sakit hati yang begitu menyiksa.
Terdengar suara samar-samar beberapa orang berteriak, lalu akhirnya saya terlelap tidur.
*****
“KRIIIIING”
Suara jam weker berbunyi begiitu lenting.
Saya langsung kaget, dan sontak terbangun dari tidurku, suara napasku terengah-engah, keringat bercucuran di dahi dan leherku.
Saya mencoba melihat sekitar, dan betapa kagetnya saya melihat Aldi yang duduk sendiri di sampingku ranjangku.
“Hemm….hey Hana, selamat malam.” Ucapnya sambil tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Muslim-sunnah
lanjutkan thor, keren ceritax
2020-09-07
1
Gamers Bad
keren
2020-09-07
2
kiki rizki
semangat..
saling dukung yaa
basecamp
2020-09-06
2