Tiga hari berlalu,
Kondisi Nyonya Min terlihat membaik, wanita paruh baya itu juga telah nampak menjalankan aktivitas nya seperti biasa,
"Yuna!"
"Saya disini Nyonya!" gadis pelayan nan santun itu nampak menghampiri sang Nyonya besar yang duduk di kursi taman.
"Kenapa masih memanggilku dengan sebutan seperti itu Nak? panggil aku dengan sebutan ibu mertua! dirimu juga menantu bagiku,"
"Saya, maaf Nyonya saya masih belum terbiasa," Yuna tersenyum lembut menanggapi majikan yang juga menjadi ibu mertua nya.
"Apa dirimu yang merawat tanaman di halaman belakang ini Yuna?"
"Ibu benar! dia bahkan berkali-kali mengabaikan ku hanya karena tanaman-tanaman itu ibu!"
Suara berat dari Min Suga seketika membuat Yuna mengurungkan niatnya untuk membuka suara.
"Benarkah?" Nyonya Min mengalihkan pandangannya pada sang putra yang tersenyum cerah dihadapan nya,
Pria berwajah pucat itu pun kembali mengangguk dengan senyum yang tak luntur saat menanggapi kalimat pertanyaan dari ibunya.
"Dari semua menantu yang kumiliki, sepertinya hanya kau yang gemar berkutat dengan tanaman, bukankah begitu Yuna?"
"I-itu, mungkin karena para istri Tuan Muda yang lain sibuk dengan kegiatan mereka yang begitu berkelas, sedangkan saya ..., saya suka bermain tanah karena saya memang berasal dari keluarga berekonomi rendah,"
Hwang Yuna, gadis itu tersenyum sembari menuangkan minuman hangat untuk ibu mertuanya.
"Kenapa kau berkata seperti itu Nak?"
"Maaf Nyonya, jika saya terlalu banyak berbicara!" gadis bermata hazel itu kembali tersenyum dan menundukkan kepala dihadapan suami juga ibu mertuanya.
"Saya permisi, sepertinya bunga anggrek di taman halaman samping juga membutuhkan pupuk cair! anggrek bintang milik Nyonya juga sepertinya akan segera berbunga,"
"Baiklah Nak! terima kasih karena telah bersedia dengan tulus merawat tanaman ku," senyum Nyonya Min kembali mengembang karena sikap manis Hwang Yuna.
Apa maksudmu Yuna?
Min Suga, pria itu tampak memalingkan pandangan dan melonggarkan dasi pada kerah kemeja putihnya.
"Oppa! ibu, bolehkah aku mengunjungi rumah orang tuaku besok pagi? aku sungguh merindukan ayah juga ibuku."
"Tentu saja Jini, kau bisa mengunjungi mereka kapanpun kau mau!" Nyonya Min kembali tersenyum dan membelai surai menantu ke empatnya yang terlihat begitu manja.
"Oppa akan mengantar ku bukan?"
"Kita lihat saja besok pagi!"
"Apa Oppa ada pekerjaan yang mendesak?" Jini kembali meraih lengan tangan suaminya yang hendak melangkah pergi,
"Entah lah Jini, aku lelah!"
Nyonya Min serta Jini nampak heran melihat perubahan ekspresi pada wajah pria dingin itu.
"Apa terjadi sesuatu pada Oppa, ibu? kenapa dia bersikap acuh seperti ini dihadapan ku?"
Apa yang terjadi pada putraku? bukankah dia baru saja berwajah cerah beberapa menit lalu?
Tak menanggapi kalimat Jini, sang ibu mertua justru hanyut dalam pemikiran nya sendiri.
...**********...
Cafe Malais, aku akan menunggumu disini.
Sebuah pesan singkat dari seseorang seketika membuat Kimberly terperanjat dengan senyum yang nampak begitu merekah.
Wanita itu pun seketika meraih kunci mobil dan berlalu keluar dari kamar besar miliknya.
"Oppa! aku pergi, ada teman yang menawarkan untuk bekerjasama dengan ku! kau tak akan melarang bukan?" Kimberly tampak menuruni anak tangga dan membelai paras tampan suaminya yang selalu nampak beku saat berpapasan dengannya.
"Terserah kau saja,"
Wanita dengan tubuh molek itupun akhirnya melenggang pergi dengan begitu mudah tanpa kecurigaan apapun dari suaminya.
Sudah kuduga, kau pasti tak bisa menolak pesona dariku Seokjin, akan ku buat dirimu kembali bertekuk lutut padaku, bagaimana pun caranya! hanya dirimu senjata paling ampuh untuk bisa melumpuhkan Min Suga juga ibunya.
Tak lebih dari lima belas menit, Kimberly telah berada di cafe yang disebutkan oleh Seokjin.
"Dirimu benar-benar kemari?"
"Tentu saja honey! aku merindukanmu," wanita itu seketika terduduk dipangkuan kakak iparnya.
"Haruskah kita mencari lounge terdekat? disini terlalu beresiko bukan?" Seokjin kembali menatap Kimberly dengan tatapan nakalnya.
**
"Baju-baju ini kenapa sudah menumpuk kembali? bukankah baru kemarin aku mengantarkan pakaian milik Tuan Muda ke kamarnya?"
Yuna, gadis pelayan itu nampak lesu saat mendapati tumpukan pakaian yang harus kembali ia rapikan di kamar sang suami.
Tok tok tok,
"Masuk lah!"
Hwang Yuna kembali melangkah dengan mantap memasuki ruang kamar Min Suga tanpa menghiraukan tatapan suaminya yang terlihat begitu lekat menatap gerak-gerik nya.
"Kau kemari?" suara pria itu kembali terdengar begitu lembut.
"Saya harus merapikan pakaian milik mu Tuan! jadi mau tak mau saya harus kemari ...,"
"Jadi sebenarnya kau tak ingin kemari?"
Yuna kembali diam, jemarinya tampak sibuk memasukkan pakaian kerja milik suaminya.
Min Suga, pria itu akhirnya beranjak mendekati Yuna yang masih sibuk dengan seluruh laundry'an bersih dihadapannya.
"Apa kau marah padaku? nada suara mu terlihat begitu berbeda Yuna."
"Maaf Tuan, saya sudah selesai! saya harus pergi sekarang."
"Jawab pertanyaan ku Min Yuna!" pria berwajah dingin itu kembali mendorong kasar tubuh Yuna dan menghimpit sang istri diantara almari dengan tubuh kekarnya.
"Saya Hwang Yuna! tolong jangan mengganti nama saya!" suara lirih dengan wajah datar, itulah yang terlampir dari paras Yuna.
"Kau istriku! aku berhak melakukan nya!"
"Tuan hanya ingin membeli rahim saya, benar begitu bukan?" gadis itu kembali tertunduk dalam kungkungan Min Suga.
"A-apa? apa maksudmu?"
"Apa Tuan akan membiarkan saya pergi jika saya memohon pada Tuan sekarang?"
"Tidak Yuna! tolong jangan berkata seperti ini! setelah apa yang kulakukan padamu! aku tak mungkin membiarkan mu pergi dari sini!" pria berwajah dingin itu seketika memeluk erat tubuh istri kelima nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments