Sepanjang mengendarai mobilnya, Min Suga tampak melayang kan tatapan matanya kesana-kemari, raut wajah yang semula terlihat selalu dingin beku itu kini nampak dilanda kecemasan.
Gawai yang bergetar di dalam saku kantong nya kembali membuat pria itu tak fokus, dan memilih untuk menepikan kuda besinya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu?"
Aku membutuhkan dirimu Oppa, kenapa kau tak hadir tadi malam?
"Jini, maaf! aku sungguh terlalu lelah sehingga tak bisa kembali ke rumah sakit tadi malam! kau sudah baik-baik saja bukan?"
Mungkin nanti sore dokter sudah mengizinkan ku untuk kembali ke rumah, Oppa akan menjemput ku kan?
"Ehm- ..., akan ku hubungi dirimu lagi nanti Jini! maaf, aku sedang berada di jalan sekarang!" atensi pria itu nampak teralihkan seketika oleh paras manis dari seseorang.
Dijalan? Oppa? apa kau ...,
Sambungan terputus secara sepihak,
Jini nampak kembali menghela nafasnya begitu dalam, raut wajah kecewa nampak begitu nyata pada paras cantiknya.
"Ada apa Jini? apa nak Suga tak bisa kembali kemari untuk menjemput mu sore ini? apa dia terlalu sibuk?"
"Tidak ayah, Oppa masih berada dijalan! mungkin dia akan datang kemari."
"Kenapa kau ini ngotot sekali Nak? kenapa kau mau menikah dengan pria yang telah memiliki banyak istri sepertinya?" sang Ayah nampak turut kesal dengan perlakuan Suga terhadap putrinya.
"Tapi dia selalu berlaku adil padaku dan juga istrinya yang lain ayah!"
"Adil? lihat lah untuk berbicara dengan mu saja dia tampak enggan dan terkesan tak memiliki waktu seperti ini! apa itu yang dikatakan adil?" suara sang Ayah kembali menggema di ruang kamar rumah sakit.
...*******...
Sebuah mobil berwarna silver nampak menghentikan langkah Yuna, gadis itu pun terhenti dengan raut wajah penuh tanya.
Ekspresi gadis bermata hazel itu kembali menegang saat mendapati pria dingin yang melangkah mendekat sekaligus menyambar dengan kasar pergelangan tangannya.
"Darimana saja kau ini? apa kau tahu semua orang menunggu mu di rumah?"
"Tuan, tolong lepas! saya akan segera kembali pulang sendiri." Yuna tampak menarik kasar genggaman tangan sang putra majikan dari pergelangan tangannya.
"Apa kau tersesat? kenapa lama sekali?"
"Saya tidak tersesat Tuan! hanya saja terlalu banyak barang yang harus saya dapatkan di pasar, dan letak kedai antara satu dan lainnya cukup berjauhan, jadi saya sedikit kesulitan."
Pria itu kembali diam dan memperhatikan Yuna dari ujung kaki hingga kepala, sebelum akhirnya kembali berujar tanya,
"Benarkah kau mengingat jalan untuk kembali pulang ke rumah ku?"
Yuna mengangguk tanpa ragu, gadis itu juga nampak tersenyum untuk menyembunyikan rasa takutnya pada sang majikan.
"Saya permisi Tuan! bibi Mirah mungkin sudah menunggu saya," Yuna kembali melangkah dengan menenteng belanjaan di kedua tangannya tanpa menghiraukan tatapan dari putra majikan nya.
Ternyata dia memang cukup cerdik, meskipun berasal dari kampung! dia terlihat cukup tenang untuk beradaptasi di tempat baru nan riuh seperti ini, apa diriku terlalu meremehkan nya?
Tanpa ia sadari, senyum simpul tampak terukir indah di wajah yang semula selalu terlihat dingin sebelumnya.
Dengan busana santai nya, Min Suga nampak menuju rumah sakit tanpa ragu, pria itu juga menyambangi dokter yang menangani Jini untuk memastikan kondisi serta meminta informasi perihal kepulangan istri ke empat nya.
"Oppa! kau kemari?" Jini seketika tersenyum cerah dan menghamburkan pelukan pada suaminya.
"Tentu saja! aku datang untuk menjemput mu,"
"Bukankah jadwal kepulangan ku masih nanti sore?"
"Tak apa! aku sudah memastikan semuanya pada dokter yang menangani mu sebelumnya, dan dia mengizinkan untuk diriku membawa mu pulang sekarang,"
Tuan Willy nampak terdiam, pria paruh baya itu nampak enggan untuk bertegur sapa dengan Min Suga, menantunya.
"Ayah! maaf saya harus segera kembali pulang dan membawa Jini bersama saya! ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan."
"Baiklah! yang penting putri ku bahagia bersama mu!"
Kepulangan Jini pagi itu kembali mendapatkan sambutan hangat dari seluruh penghuni rumah mewah di kediaman suaminya,
"Ternyata itu bukan sebuah kecelakaan, hanya rahim mu saja yang lemah!" Nyonya Min nampak bergumam sembari melayangkan tatapan matanya pada sang menantu.
Diriku harus kembali memeriksa gadis pelayan baru itu, siapa tahu dia bisa menjadi harapan bagiku? aku tak ingin menyerah sampai disini, kutukan itu pasti tak selamanya terjadi.
"Ibu, aku akan mengantar Jini ke kamar nya terlebih dahulu,"
"Baiklah Nak! segera temui Ibu di ruang tengah, jangan lupakan tentang perkataan ibu sebelumnya!"
Min Suga, pria berwajah pucat itu kembali menghela nafas dengan rona kekhawatiran.
"Apa Oppa baik-baik saja?" Jini akhirnya membuka suara saat mendapati suaminya yang terlihat berjalan diam sepanjang menuju ruang kamar nya dengan tatapan kosong.
"Kau beristirahat lah! jangan memikirkan apapun, aku menyayangimu!"
"Terima kasih Oppa! aku juga sangat mencintai mu,"
Kedua insan manusia itu nampak tersenyum dan saling menggenggam jemari tangan satu sama lain,
"Maaf Tuan dan juga Nyonya, Nyonya besar meminta saya untuk membawa dan merapikan ini semua di kamar Nyonya Jini, apa saya boleh masuk?"
Kehadiran Yuna di ambang pintu membuat pasangan suami istri itu nampak terkejut,
"Masuk lah Yuna! kau bisa merapikan nya sekarang," Jini, wanita itu mengalihkan perhatian nya dan tersenyum menanggapi kalimat pelayan di rumah suaminya.
"Terima kasih Nyonya Jini,"
Dengan cekatan Yuna membongkar sebuah koper, mengeluarkan serta memilih dan menata kembali beberapa pakaian ganti milik Jini ke dalam almari di ruangan kamar sang majikan.
"Oppa, kenapa kau menjemput ku lebih awal? apa ada sesuatu? atau dirimu memang merindukan ku?" Jini kembali melontarkan pertanyaan pada sang suami yang justru nampak diam seribu bahasa.
"Ibu meminta ku untuk segera menjemput mu!"
"Maaf karena tak bisa mempertahankan janin dalam kandungan ku, Oppa! aku sungguh minta maaf,"
Pergerakan tangan Yuna seketika terhenti, gadis itu nampak merasa bersalah karena tragedi kecelakaan yang menimpa majikan wanita nya.
Semua itu terjadi karena diriku, apa Nyonya Jini bisa memaafkan ku?
"Jangan pikirkan kembali tentang hal itu, lagipula kondisi rahim mu memang terlalu lemah! aku tak ingin membuat mu semakin terbebani karena keinginan ibuku Jini," pria itu kembali berucap dengan jelas, cukup jelas untuk terdengar dan sampai di telinga semua orang dalam ruangan tersebut.
"Oppa, kau tak marah padaku?"
Min Suga hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya,
"Kau beristirahat lah sekarang, ingat untuk tidak melakukan aktivitas berat apapun untuk beberapa hari ke depan! kau paham?"
"Baik Oppa!" senyum indah nampak tersungging wajah cantik Jini, wanita itu merasa bahagia karena perlakuan hangat dari sang suami.
Tak berselang lama, Yuna turut beranjak dan meminta izin untuk meninggalkan ruangan Jini.
"Yuna! tolong kau tutup pintunya, aku ingin tidur sekarang,"
"Baik Nyonya," gadis itu pun menuruti semua perintah sang majikan dan berlalu dengan santun.
"Kita harus bicara!"
Langkah kaki Yuna kembali terhenti, gadis itu juga nampak terkejut saat mendapati Min Suga yang tiba-tiba nampak muncul dan berdiri dihadapan nya dengan wajah datar.
"Tuan! kenapa selalu membuat saya terkejut seperti ini?"
"Kenapa? apa yang salah? ini rumah ku! dan aku berhak muncul dimana pun aku mau!"
Yuna hanya mampu menghela nafas perlahan sembari mengusap dadanya,
"Apa Tuan membutuhkan sesuatu? saya sudah merapikan dan memilih baju-baju milik Tuan bukan? saya bahkan menyelesaikan nya tadi malam?"
"Siapa yang mengizinkan mu untuk berbicara sebanyak ini?"
"Maafkan saya Tuan," gadis itu berucap lemah, ia juga kembali tertunduk dengan wajah cemas.
Sementara Min Suga, pria itu justru menikmati saat melihat pelayan baru nya nampak ketakutan.
"Ibu meminta dirimu untuk menemui nya di ruang tengah! sepertinya kau akan dimintai pertanggungjawaban!"
"Pertanggungjawaban?" gadis kampung bermata hazel itu pun kembali menatap wajah putra majikannya.
Bagaimana ini? apa Nyonya besar akan benar-benar memecat ku dari sini?
Tuhan , tolong bantu lah hamba mu ini,
"Lekas turun sekarang! atau Nyonya besar di rumah ini akan semakin memaki dirimu dengan kasar!"
"B-baik Tuan!"
Lamunan Yuna nampak buyar seketika, gadis itu juga terlihat buru-buru menuruni anak tangga hingga membuat ia hampir terjatuh karena tubuhnya yang gemetar.
"Mmmmmmhhh" teriakan Yuna nampak tertahan.
"Kau ini sungguh ceroboh sekali!" jemari kekar itu nampak telah membelenggu tubuh ramping dari sang pelayan baru.
"M-maaf, saya sungguh minta maaf Tuan!" Yuna kembali melepas dekapan tangan sang putra majikan dari tubuhnya dan kembali melangkah cepat untuk menghindar dari tatapan tajam seorang Min Suga.
Apa dia tak ingin mengucapkan terima kasih padaku? dasar gadis culun,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments