Masih nampak termenung dan tak percaya dengan keputusan yang diambilnya, membuat Yuna menjadi semakin banyak melamun, hingga atensinya teralihkan saat suaminya serta istri keduanya nampak menuruni anak tangga.
"Oppa seharusnya tidak mengambil pekerjaan dulu untuk beberapa hari ini,"
"Tak apa Wendy, aku harus bekerja semaksimal mungkin! kau tahu kan istriku semakin bertambah?"
"Aku mengerti Oppa! tapi tetaplah ingat untuk menjaga kesehatan mu, diriku tak ingin melihat mu jatuh sakit."
Wendy kembali terlihat membenahi dasi suaminya, gadis itu tersenyum lembut hingga akhirnya Suga berpamitan dengan menyematkan sebuah ciuman di kening istri keduanya.
Tuhan? apa diriku mampu untuk menjalani ini semua? pria yang ku nikahi, diriku bahkan tak mengetahui apapun tentang dirinya, bagaimana aku bisa memberikan keturunan untuk nya?
Suga yang sekilas menatap wajah lesu dari paras istri barunya, nampak menghentikan langkah seketika sebelum akhirnya menghampiri Hwang Yuna.
"Aku akan pergi ke kantor sekarang! apa kau membutuhkan atau menginginkan sesuatu?"
"Tidak Tuan, terima kasih."
"Tak bisakah kau menyebut ku dengan panggilan selain itu? aku ini suami mu!"
"Maaf, saya hanya belum terbiasa Tuan," lagi-lagi Yuna nampak meremas jemari tangannya dengan tetap tertunduk.
"Baiklah! aku akan memaklumi hal itu, tapi apa kau tak ingin membawakan tas kerja untuk ku? aku ini suami mu! sudah seharusnya kau melayani ku! dimana kah bakti mu sebagai seorang istri? tatap mataku saat aku berbicara padamu Min Yuna!"
Gadis itu pun tersentak saat Suga meninggikan suara, bukan hanya Yuna, Zena dan pelayan lain yang nampak membereskan ruang tengah turut tak percaya dengan kalimat yang terlontar dari putra pewaris di kediaman tersebut.
"Jangan membuat ku berlaku kasar terhadap mu! apa susahnya menuruti perkataan dariku? sudah terlalu banyak pelayan di rumah ini, kenapa kau masih saja turut mengerjakan hal-hal yang seharusnya sudah tak menjadi tugas mu sekarang?"
Dia memarahi ku? bahkan dihadapan semua orang, ibu ..., Yuna takut!
Gadis itu masih saja bungkam dengan tertunduk dan menutup matanya,
"Oppa, kenapa memarahi Yuna seperti ini? dia mungkin hanya jenuh," sang istri kedua nampak turut iba dan membuka suara untuk membela madu barunya.
"Diam lah Wendy! jangan menyela kalimat ku! aku sedang berbicara dengannya!"
Keributan itu nampak di saksikan oleh semua orang,
Irene nampak tersenyum puas, Jini dan Wendy nampak menampilkan raut wajah khawatir namun berbeda dengan Nyonya Min,
Wanita itu justru tersenyum hangat sembari melayangkan pandangan matanya ke arah paras manis menantu ke lima di kediaman itu.
Ternyata dari awal kau telah menaruh hati padanya Nak? dirimu bahkan se protektif ini?
"Min Suga! putra kebanggaan ku, sepertinya kita harus mengambil cuti panjang! mood mu terlihat begitu berantakan honey! kita adakan liburan keluarga, pasti akan menyenangkan untuk bisa berlibur dengan seluruh anggota keluarga!"
Kalimat pernyataan dari Nyonya Min seketika membuat semua orang kembali menatap ke arahnya dengan penuh heran.
Hari itu Min Suga benar-benar hanya mengambil pekerjaan setengah hari, pria itu terlihat menuruti perkataan dari sang ibu dan nampak kembali pulang ke rumah jauh sebelum jam makan malam.
"Kenapa jalanan begitu padat sekali? apa terjadi sesuatu?" pria itu kembali memijit kepala nya dan bergumam seorang diri.
Tak berselang lama pria itu kembali terlihat melajukan mobil berwarna silver miliknya hingga tiba di halaman luas kediaman mewahnya.
Oppa, maaf aku terpaksa pergi tanpa menunggu kepulangan dirimu, aku harus ke rumah sakit sekarang.
Sebuah pesan singkat nampak membuat layar gawai milik pria berwajah pucat itu kembali menyala dan menghentikan pergerakan langkah lebar seorang Min Suga.
"Hallo! Wendy? apa yang terjadi? apa kau baik-baik saja?"
"Hallo Wen? apa kau mendengar ku?" suara serta raut wajah cemas tampak kembali terukir dengan jelas di wajah Suga.
"Aaaaaghh sial! apa yang terjadi padanya? kenapa ponsel nya tak lagi bisa di hubungi?"
"Tuan Muda sudah kembali? apa Tuan membutuhkan sesuatu?" bibi Mirah menyambut kehadiran Suga dengan begitu hormat.
"Kemana ibuku?"
"Nyonya besar pergi bersama Nyonya Wendy, Tuan! Nyonya Irene dan juga Nyonya Kimberly masih belum juga kembali dari tadi pagi."
"Apa ibuku tak memberi tahu kemana mereka akan pergi?"
"Tidak Tuan, Nyonya tidak meninggalkan pesan apapun."
Min Suga, nampak menghela nafas dan berpikir dalam diam.
"Apa Tuan menginginkan saya untuk menyiapkan makan siang?"
"Tidak perlu bi, jadi siapa diantara istriku yang berada di rumah ini?"
"Nyonya Jini sedang tertidur di kamarnya Tuan,"
"Yuna?" pria itu kembali melontarkan pertanyaan seketika saat bibi Mirah menghentikan kalimat nya.
"Dia ..., gadis itu tengah merapikan tanaman dihalaman belakang Tuan, apa perlu saya memanggil nya untuk Tuan Muda?"
Min Suga kembali mengangkat telapak tangannya, bibi Mirah pun seketika diam, wanita itu cukup mengerti bahasa isyarat yang Suga tunjukkan padanya.
"Ibu, apa ayah sudah kembali ke rumah? apa semua baik-baik saja disana? aku sungguh merindukan kalian,"
Dia tersenyum? siapa yang tengah berbicara dengannya?
Pria berwajah pucat itu nampak melonggarkan dasi yang terpasang pada kerah kemeja nya, tanpa ragu ia melangkah mendekati Hwang Yuna.
"Ayah sudah sehat kan? mulai sekarang tolong jaga pola makan ayah, berhenti mengkonsumsi makan makanan manis ayah," suara Yuna terdengar lembut, raut wajah tulus juga terukir dengan begitu nyata di paras manisnya.
"Apa salahnya dengan makanan manis, diriku pun menyukainya!"
Yuna seketika terkejut, gadis itu akhirnya mendongak dan mendapati Min Suga yang tengah berdiri dan menguping pembicaraan nya dengan keluarga nya di kampung.
"Maaf ayah, aku harus menutup teleponnya sekarang! aku janji akan menghubungi ayah lain kali, aku menyayangimu ayah."
Gadis bermata hazel itupun masih nampak terkejut, ia bahkan segera memasukkan gawai nya di dalam saku celana training gombrong yang ia kenakan.
"Kenapa menyudahi panggilan? bukankah ayah mu masih ingin bicara?" pria itu kembali berujar tanya dengan sesuka hatinya.
"Apa yang Tuan lakukan disini? apa Tuan membutuhkan sesuatu?"
"Ini rumah ku, aku bebas melakukan apapun! apa kau lupa?"
Hwang Yuna, gadis itu kembali menghela nafas dan mencoba untuk meredam kekesalan hatinya, ia justru beralih dan mencoba mendorong pot bunga yang sempat ia pindahkan.
"Ternyata kau cukup kuat untuk menjadi seorang gadis!" Min Suga nampak memperhatikan gerak-gerik istri kelima nya yang kembali berkutat dengan tanaman dalam pot besar.
"Saya harus kuat demi keluarga saya Tuan! kehidupan saya tidak lah semudah kehidupan anak para bangsawan,"
"Apa maksudmu? apa kau sedang membicarakan diriku!"
"Saya hanya membicarakan diri saya sendiri, kehidupan saya memang sudah sulit dari dulu!" Yuna menanggapi kalimat Suga dengan tangan yang tetap mendorong dan menarik pot besar dihadapan nya tanpa menghiraukan tatapan Suga.
"Apa kau tak ingin meminta bantuan ku? aku lebih kuat darimu Yuna!"
Gadis itu kembali tersenyum dengan menggelengkan kepala,
"Lihatlah Tuan! jika saya mampu memindahkan nya saya pasti juga mampu untuk mengembalikan nya ke tempat semula, seberat apapun sebuah pekerjaan, pasti akan terselesaikan jika kita benar-benar memiliki niat untuk mengerjakan nya."
Dia tersenyum? lagi? gadis ini, apa pemikirannya memang seluas ini?
Untuk sesaat pria itu nampak terpaku melihat paras manis Hwang Yuna yang penuh dengan keringat,
"Siapkan makanan dan antar ke kamar ku! secepatnya!"
Kenapa dia kembali berucap ketus seperti itu? sabar lah Yuna, mungkin pria itu memiliki kepribadian ganda.
Hwang Yuna kembali menggerutu sembari menatap kesal punggung suaminya yang tampak telah jauh dari pandangan mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments