Suasana di ruang meja makan malam itu nampak berbeda, ketidak hadiran Nyonya Min membuat para menantunya berlomba-lomba mengambil perhatian dari sang ibu mertua dengan menyambangi ruang kamarnya,
Hening,
Itulah yang terjadi di ruang makan, Wendy dan juga Suga nampak saling diam dan mengacuhkan.
"Kenapa Oppa bersikap se_kasar itu pada adikku? aku sungguh tak bisa mempercayai ini semua," wanita itu akhirnya berujar setelah menghela nafas yang begitu dalam.
"Adikmu terlalu susah diberitahu Wendy! aku hanya ingin membuat nya menghormati orang yang lebih tua!"
"Apa salahnya jika Tae bersahabat dengan Yuna Oppa? bahkan Yuna tak keberatan dengan hal itu!"
Dia memang tak keberatan, tapi diriku ..., aku sama sekali tak ingin jika gadis pelayan itu dekat dengan siapapun.
Min Suga, pria dengan paras pucat itu kembali bungkam karena kalimat pernyataan dari Wendy.
"Kenapa dirimu berubah akhir-akhir ini Oppa? aku hampir tak mengenali mu lagi, kau bisa begitu hangat padaku, tapi dalam sekejap kau juga begitu kasar dan dingin terhadap diriku! apa aku membuat kesalahan hingga kau meluapkan nya pada Taehyung?" suara wanita itu kian terbata, buliran air mata kembali luruh begitu saja membasahi pipinya.
Maafkan aku Wen, aku juga tak tahu kenapa diriku seperti ini,
Bukan menanggapi kalimat istri keduanya, Min Suga justru kembali beranjak dan meninggalkan Wendy seorang diri di ruang meja makan.
Kenapa diriku masih saja bertahan di rumah ini? masa-masa indah itu, aku selalu berharap masa indah bersama suami ku yang dulu bisa terulang kembali,
Tuhan, apakah hidup ku akan selamanya seperti ini? menelan apapun seorang diri padahal dia milikku Tuhan,
Min Suga, aku menginginkan Min Suga ku yang dulu,
Malam berlalu, pagi itu seluruh pelayan nampak terlihat sibuk, beberapa saudara Nyonya Min yang tinggal dan menginap di kediaman mewah itu membuat para pelayan harus ekstra dalam melayani semua tamunya.
"Kau mau kemana?"
"T-tuan, bisakah Tuan tidak mengagetkan saya seperti ini?"
Pria itu justru terkekeh melihat ekspresi sang istri kelima,
A-apa, Tuan Muda tersenyum? kenapa dia manis sekali?
"Aku sedang mencoba untuk membuat jantung mu berdebar Min Yuna! apa kau tak mengerti?" pria itu kembali berbisik di telinga istrinya yang nampak melamun.
"Hentikan Tuan! jantung saya tidak lagi berdebar, saya justru bisa terkena serangan jantung jika Tuan selalu melakukan hal semacam ini!" gadis itu kembali mendorong tubuh Suga dari hadapannya.
"Waaah! kau ini kuat sekali ternyata!"
"Saya harus pergi sekarang!"
"Hey, kau mau kemana?" Suga kembali tersenyum melihat kekesalan dalam raut wajah Hwang Yuna yang telah berlalu pergi dengan membawa keranjang belanjaan.
👤: Tidak biasanya Tuan Muda bertingkah seperti ini ...
🗣️: Kau benar! saat bersama istri-istri nya yang lain Tuan Muda selalu terlihat dingin juga garang bukan? tapi kenapa kali ini berbeda? atau ini hanya perasaan ku saja?
👤: Ternyata bukan cuma diriku yang memiliki pemikiran seperti ini, Yuna! semenjak ia muncul di rumah ini, tingkah laku Tuan Muda sangat jauh berbeda dalam menghadapi gadis itu,
"Apa yang kalian lakukan? lekas bereskan pekerjaan kalian!" bibi Mirah sang ketua pelayan nampak menghardik bawahan nya dengan seketika.
*
Langkah kaki Yuna kembali melambat saat ia mendapati seseorang tengah berdiri dengan tersenyum dan menatap ke arahnya.
"Diriku sengaja menunggu mu disini Yuna, jadi bisakah kita bicara?"
"Apa Tuan baik-baik saja?" gadis itu kembali berujar tanya dengan nada cemas.
"I-ini, bukan lah hal yang besar bagiku Yuna! apa kau mengkhawatirkan ku?" senyum kotak memikat itu kembali terukir indah di wajah Taehyung.
"Bagaimana saya tidak khawatir, pertikaian Tuan dan juga Tuan Muda terjadi karena saya! seharusnya saya tidak muncul kemarin."
"Apa yang kau katakan? hubungan ku dengan pria dingin itu memang tidak berjalan baik dari dulu! jadi jangan menyalahkan dirimu,"
Taehyung, pria itu perlahan menggenggam jemari gadis yang tertunduk dihadapan nya,
"Aku akan kembali ke Canada, mungkin lusa!"
"Benarkah?" Yuna kembali mengalihkan pandangan dan menatap wajah Taehyung seketika.
"Yuna! aku ingin memberikan sesuatu untuk mu, aku harap kau tak akan melupakan ku!"
"Apa Tuan tidak akan kembali ke tempat ini? padahal saya berharap kita bisa benar-benar berteman,"
Senyum tulus itu, kenapa kita harus bertemu disaat dirimu telah menjadi milik orang lain Yuna?
"Aku mohon terimalah!" pria itu menyodorkan sebuah cincin dengan ukiran kalimat friends di tengahnya.
"Ini? apa maksudmu Tuan?"
"Maukah kau menjadi teman hidup ku?" Taehyung, pria itu nampak berlutut setelah membuat Yuna terduduk di kursi taman.
"Apa Tuan sedang demam?"
Yuna yang masih menampilkan raut wajah bingung nya justru membuat Taehyung kembali terkekeh,
"Saya harus pulang sekarang! maaf ...,"
"Tunggu Yuna! ayolah aku hanya bercanda," Taehyung kembali menghentikan langkah kaki Yuna yang bergegas menjauh darinya.
"Tuan sungguh membuat saya takut!"
"Takut? apa wajahku se menyeramkan itu?" pria itu tetap saja mengiringi langkah kaki Yuna yang tak ingin menghiraukan perkataan nya.
"Tuan memang tampan! tapi sikap Tuan susah ditebak, saya takut Tuan merupakan seorang psikopat,"
"A-apa? darimana kau memiliki pemikiran seperti itu Yuna?" pria itu kembali tertawa saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Hwang Yuna.
"Saya sering melihatnya di dalam drama Tuan! pria tampan yang begitu manis nyatanya dia seorang pembunuh berdarah dingin, sudah lah Tuan saya harus segera kembali ke rumah sekarang!"
"Aku menyukai mu! dari awal kita bertemu pada pagi yang berkabut itu!" suara Taehyung terdengar begitu tegas,
Yuna, gadis pemilik mata hazel itu seketika menghentikan langkahnya, ia terdiam beku dengan kalimat pria tampan yang tak melepas genggaman tangan pada lengan tubuhnya.
"A-ku, aku tak tahu apapun Yuna! aku tahu kau telah menjadi istri di rumah itu! tapi apa dirimu juga mencintai pria pengecut itu? aku bisa menunggu mu, kau tak perlu buru-buru memberikan jawaban! aku akan bersabar, sungguh ...,"
Tak memberikan jawaban apapun, Yuna hanya kembali tertunduk dengan perasaan yang campur aduk,
**
Wendy, wanita itu masih nampak termenung diam seorang diri.
"Apa kau masih marah padaku? aku sungguh minta maaf atas perlakuan kasar ku terhadap adikmu kemarin Wen,"
"Bagaimana aku bisa marah padamu? rasa cinta ku telah habis hanya padamu Oppa!" gadis itu kembali tertunduk dengan buliran air mata.
"Kau menangis? aku sungguh minta maaf Wendy,"
Kesibukan di dapur mewah itu masih saja belum terhenti, bibi Mirah yang melihat kehadiran Yuna seketika menghampiri gadis itu,
"Tolong antar minuman herbal ini ke taman di halaman samping untuk Nyonya Wendy, apa kau keberatan Yuna?"
"Baiklah Bi, tak apa lagipula yang lain juga tengah sibuk bukan?"
Hwang Yuna, gadis itu selalu melangkah dengan cepat karena rasa tanggung jawabnya dalam melakukan suatu pekerjaan,
Deggh,
Tuan Muda, dia berada disini?
"Maaf Nyonya, bibi Mirah meminta saya untuk mengantar minuman herbal ini untuk Nyonya!" dengan cekatan gadis pelayan itu menyajikan minuman di atas meja.
"Yuna? kau disini? terima kasih atas minuman nya,"
Gadis itu menunduk dan seketika berlalu pergi,
Ada apa dengan diriku? bukankah hal itu wajar terjadi antara Tuan Muda dan Nyonya Wendy? kenapa rasanya sangat nyeri saat melihat mereka berpelukan? astaga Yuna! sadar lah ... dirimu bukanlah siapa-siapa! kenapa kau ini bodoh sekali?
Hwang Yuna nampak kembali mengetuk-ngetuk kan jemari tangannya di kepala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments