Nyonya Min serta Wendy menantunya nampak berjalan beriringan keluar dari sebuah kamar rawat di rumah sakit.
"Untuk sementara, kau jagalah terlebih dahulu adikmu Wen! aku akan meminta Suga untuk menyusul mu nanti, kau akan butuh beberapa perlengkapan dan pakaian ganti bukan?"
"Terima kasih ibu, maaf karena tak bisa menemani ibu untuk kembali ke rumah," istri kedua dari Min Suga itu nampak menampilkan raut wajah kecewa nya.
"Tak apa Wendy, adikmu lebih membutuhkan dirimu sekarang! kau segeralah masuk! jangan sampai ia merasa kesepian saat membuka mata karena kau tak berada di sampingnya."
"Baik ibu,"
Wendy, wanita lemah lembut itu nampak tersenyum sebelum akhirnya kembali memasuki ruang rawat saudara lelakinya.
...********...
Selesai menyiapkan hidangan makan siang Suga, Yuna terlihat sangat memperhatikan langkah kakinya saat ia memasuki kamar pria itu, ia pun buru-buru melangkah pergi setelah meletakkan nampan berisi beberapa sajian untuk sang suami.
Dia benar-benar menyiapkan makanan kemari, tapi kenapa dengan mengendap-endap seperti itu? apa dia pikir aku tak melihatnya? sungguh gadis aneh,
Pria berwajah pucat itu nampak meraih bathrobe berwarna putih dan bergegas membersihkan diri.
"Yuna! apa kau sibuk? bisakah kau menemaniku untuk minum teh?"
"Tapi Nyonya Jini, saya ...,"
"Ayolah! aku merasa sangat kesepian! kak Wendy entah pergi kemana," Jini kembali menampilkan wajah memelas dan seketika menarik perlahan tangan Yuna untuk mengikuti langkahnya.
Keduanya nampak berhenti di halaman taman yang begitu asri di samping kediaman mewah milik keluarga Min.
"Apa Nyonya membutuhkan sesuatu yang lain?"
"Tak ada! kau bisa pergi sekarang Zena!"
Jini nampak antusias, wanita itu juga terlihat menuangkan teh untuk Yuna,
"Yuna kenapa kau hanya berdiri di situ? duduk lah!"
"Baik Nyonya!" gadis bermata hazel itu kembali terlihat kikuk dihadapan Jini.
"Duduklah disini! dan satu hal lagi, jangan menyebut ku dengan kata Nyonya! panggil saja namaku, lagipula kau juga merupakan istri dari Oppa Suga bukan?"
"I-itu, saya sungguh minta maaf." Yuna tertunduk dihadapan wanita yang kini memberikan secangkir teh hangat untuk nya.
"Hey, kau ini kenapa Yuna? jangan meminta maaf seperti itu, jika ibu mertua sudah memilih mu sebagai menantu nya, itu berarti kami juga harus bisa menerima mu sebagai istri dari suami kita! kak Wendy, dia cinta pertama dari Oppa! tapi dia merelakan cinta nya untuk dibagi dengan beberapa wanita termasuk diriku ...," suara Jini kian lirih, wanita itu juga tampak tersenyum getir sembari meletakkan kembali cangkir teh di atas meja.
"Jadi, sekali lagi ku ucapkan selamat untukmu atas pernikahan ini, dan berusaha lah untuk menjadi istri yang baik! kita pasti bisa membahagiakan Oppa sama-sama."
Bagaimana bisa ada begitu banyak ratu didalam satu rumah? Nyonya Wendy, apa benar dia baik-baik saja?
Yuna nampak diam memperhatikan Jini yang tersenyum dihadapan nya,
"Kalian disini?"
"Oppa? kau sudah kembali?" Jini terperanjat seketika, wanita itu nampak bergelayut manja di lengan sang suami.
"Begitu lah!" Suga nampak mengangguk menanggapi kalimat istri keempat nya,
"Apa Wendy ada meninggalkan pesan sebelum dia pergi?"
"Kak Wendy? apa dia keluar? aku baru saja terbangun dan meminta Yuna untuk menemaniku disini,"
Min Suga, pria dingin itu kembali mengalihkan pandangannya.
"Yuna! apa ibu meninggalkan pesan sebelumnya?"
"Nyonya Wendy tadi terlihat menerima sebuah panggilan, saya tidak tahu pasti kemana Nyonya pergi, tapi wajah nya terlihat begitu panik, Tuan!"
"Benarkah Yuna?" Jini kembali turut melontarkan pertanyaan dengan raut wajah khawatir.
"Apa Oppa sudah menghubunginya?"
"Nomor ponselnya tak lagi aktif!"
Yuna yang terlihat tak nyaman berada di ruangan itu pun akhirnya memilih membereskan gelas serta cangkir sebagai alibi untuk meninggalkan suami serta istri keempat nya.
"Oppa! bagaimana dengan liburan yang ibu mertua utarakan kemarin? apa kita akan benar-benar berlibur bersama?"
"Aku masih harus memikirkan nya, Jini!"
"Tapi aku jenuh karena terus berada di rumah Oppa!" rengekan dari Jini kembali terdengar begitu manja.
"Maaf Nyonya, Tuan! saya permisi."
"Baiklah Yuna! terima kasih karena telah menemani ku!" suara lembut nan ceria nampak terpancar dari wajah Jini.
Hwang Yuna, gadis itu menunduk sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan area taman.
Kenapa diriku merasa bersalah padanya?
Min Suga pria itu perlahan melepas belenggu jemari tangan istri keempat dari lengannya,
"Apa kau sudah menghabiskan sisa antibiotik yang diberikan dokter untuk mu?"
"Tentu saja Oppa! a-ku ...,"
"Bagus kalau begitu!" pria itu meninggalkan Jini tanpa memperhatikan raut wajah kecewa dari sang istri.
Kenapa Oppa selalu terlihat buru-buru untuk mengakhiri percakapan dengan ku? apa dia masih kecewa padaku?
Tak berselang lama, Nyonya Min terlihat memasuki ruang tamu, wanita itu seketika mendaratkan bokongnya dengan memijit pelipisnya.
"Ibu? apa yang terjadi?"
"Apa kau benar-benar mengambil pekerjaan setengah hari Nak?"
"Ibu yang meminta, tentu saja aku menuruti nya!" sang pewaris nampak tersenyum sembari duduk di samping tubuh sang ibu.
"Taehyung! dia telah kembali, dan sekarang bocah congkak itu masuk rumah sakit!"
"Jadi Wendy ke rumah sakit karena nya?"
"Siapa lagi kalau bukan Wendy? kau tahu kan, cuma Wendy yang di dengar oleh adik ipar mu itu! Tuan dan Nyonya Kim nampaknya kewalahan menghadapi putranya sendiri."
"Apa dia kembali bermain dengan motor besarnya? seberapa parah luka yang dialaminya ibu?"
"Apa kau sedang menertawakannya nak?" Nyonya Min melontarkan pertanyaan sembari menyematkan senyum tipis di wajah.
"Bagaimana bisa aku menertawakan nya? dia adik kesayangan dari istri ku sendiri bukan?"
"Kau datang lah ke rumah sakit bersama Yuna! suruh dia menyiapkan beberapa perlengkapan dan pakaian untuk Wendy! rasanya ibu terlalu lelah untuk hari ini," Nyonya Min beranjak dan terlihat melenggang meninggalkan sang putra yang masih duduk diam seorang diri.
Atensi sang Tuan Muda kembali teralihkan saat mendapati gadis dengan rambut lurus bergelombang nampak berjalan dengan sedikit melompat dari samping pintu kediaman nya, kaca yang tembus pandang dari dalam ruang tamu cukup mampu membuat pria itu memperhatikan gerak-gerik sang pelayan dengan leluasa.
Apa yang dia lakukan?
Pria berwajah pucat itu seketika melangkah cepat keluar menuju halaman depan kediaman mewahnya.
"Mau kemana kau?"
"Astaga! T-tuan???"
"Kenapa kau terkejut seperti itu? apa kau pikir aku ini hantu?"
Bagaimana diriku tidak terkejut jika dia selalu tiba-tiba muncul dengan wajah pucat vampir nya itu?
Yuna, gadis itu sama sekali tak menanggapi kalimat suami sekaligus putra majikannya, ia hanya menghela nafas sembari menunduk dan memejamkan mata untuk menyembunyikan kekesalan di wajahnya.
"Katakan! apa kau mau kabur? aku sudah membayar biaya pengobatan ayahmu bukan?"
"Saya tidak mungkin kabur Tuan! saya bukan tipe orang yang suka mengingkari janji," gadis itu pun akhirnya berucap dengan nada ketus untuk pertama kalinya.
"Aa-haaaa! benarkah? jadi kau siap melayani ku malam ini? aku belum mengambil jatah malam pertama ku bukan?"
Wajah serius itu kembali membuat Yuna bergidik ketakutan,
Apa dia seorang penjahat seksual? andai saja diriku ini bukan seorang pelayan, ingin rasanya tangan ini melayangkan sebuah pukulan terhadap wajah pucat nya itu,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments