Yuna terlihat membungkuk, ia kembali memeriksa dan tampak celingukan saat mengacak lemari pendingin yang begitu besar dihadapan nya.
Buah apa yang Tuan Muda inginkan? disini terlalu banyak macam buah.
"Kau! gadis kampung! apa yang kau lakukan?"
"Nyonya? apa Nyonya membutuhkan sesuatu?"
"Siapkan teh hangat untuk ku! ingat teh hijau hangat tanpa gula! bawa ke ruang tengah! kau paham?"
"Baik Nyonya! saya mengerti,"
Wanita dengan postur tinggi serta tubuh yang begitu molek itu kembali melangkah meninggalkan Yuna di dapur.
Nyonya Kimberly, dia ternyata sekuat itu? aku sungguh merasa iba padanya,
Pandangan Yuna nampak tak beralih dari sang wanita cantik ternama,
"Yuna! apa Tuan Muda menginginkan sesuatu? dia kembali memanggil ku dan menyuruh ku untuk mencari mu!"
"Aaa, Zena! maaf, bisakah kau mengantar kan ini untuk Tuan Muda? aku harus menyiapkan teh hangat untuk Nyonya Kim!"
"Baiklah, tak apa ...,"
"Terima kasih Zena!"
"Sudah lah! kau tak perlu sungkan, lagipula kita sama-sama bekerja di rumah ini bukan?"
Yuna tersenyum lega, selain bibi Mirah, Zena merupakan orang kedua yang nampak berperilaku begitu hangat padanya, itu membuatnya sedikit merasa bahagia saat merindukan keluarga nya.
"Kenapa kau lama sekali?"
"Maaf Nyonya,"
Kimberly tampak memperhatikan pergerakan Yuna yang tengah menyajikan teh hangat untuk dirinya.
"Segera pergi dari sini! aku tak ingin melihat gadis kampungan seperti mu! cara berpakaian mu itu membuat mataku sakit!"
"Tunggu! apa kau benar-benar dari pelosok?" wanita itu kembali melontarkan pertanyaan dengan nada remeh dan semaunya.
"Saya? saya memang dari kampung Nyonya." Yuna kembali menanggapi kalimat majikan nya dengan tertunduk.
"Heeemm, pantas saja! pergilah!"
"Kau pelayan baru! aku butuh berbicara dengan mu!" suara seseorang nampak menghentikan percakapan antara Kimberly dan juga Yuna.
Min Suga nampak muncul, dan melangkah perlahan menuruni anak tangga.
"Oppa? kenapa belum beristirahat juga? apa kau masih marah padaku?"
Suara lembut dari Kimberly nampak nya tak jua meluluhkan kekerasan hati Min Suga yang tengah berselisih paham dengan nya, pria itu justru kembali berlalu dan menarik Yuna untuk mengikuti langkahnya.
"Apa yang kau lakukan? kenapa meminta orang lain untuk memasuki kamar ku?" wajah datar dengan suara berat itu pun mampu membuat siapapun bergidik ketakutan.
"Maksud Tuan?"
"Bukankah aku meminta dirimu untuk menyiapkan buah untuk ku?"
"I-itu ..., saya tadi harus melayani Nyonya terlebih dahulu Tuan! saya takut Tuan akan marah jika menunggu terlalu lama, jadi saya meminta bantuan Zena untuk mengantar pesanan ke kamar Tuan."
"Kau tahu? tidak semua pelayan di rumah ini bisa memasuki ruang kamar ku, terlebih tanpa se izin dariku!"
"Saya minta maaf Tuan, saya sungguh tidak bermaksud untuk berbuat lancang seperti ini ...," sorot mata tajam dari sang putra majikan kembali membuat Yuna tertunduk dengan rasa bersalah.
"Haaaaaaghh! siapkan ulang buah untuk ku! aku akan menunggumu di kamar!"
"A-apa? tapi Tuan!"
"Kau ingin membantah? apa kau bersedia di pecat? sudah berapa banyak kesalahan yang kau lakukan hari ini?"
Yuna akhirnya kembali bungkam, ia bahkan tak berani menatap sang putra majikan.
Kenapa dia menyebalkan sekali? kenapa selalu meminta ku untuk melakukan pekerjaan secara berulang-ulang? hanya karena dia mampu menggaji ku, bukan berarti dia boleh bertindak semena-mena seperti ini bukan?
Lagi-lagi Yuna hanya mampu mengungkapkan kekesalannya dalam hati.
Fajar kembali menampilkan cakrawala berwarna oranye kekuningan, dinginnya langit malam pun telah berlalu dan berganti dengan sejuknya udara pagi.
"Yuna! kau pergilah ke pasar tradisional di sekitar area lingkungan ini, kita kehabisan beberapa stok buah dan bahan makanan lainnya! pastikan kau mengunjungi kedai yang telah ku tulis dalam buku catatan! jangan sampai membuat kesalahan! aku mengandalkan mu,"
"Baik bi,"
Bibi Mirah nampak memberikan instruksi dengan tegas pada para bawahannya tak terkecuali pada Yuna,
Dengan menenteng tas belanjaan di tangan kirinya, gadis manis dengan rambut lurus bergelombang itu akhirnya melangkah dengan mantap menuju pasar tradisional yang diberitahukan oleh sang pelayan senior.
"Apa benar ini jalannya?" Yuna tampak kembali melangkah dengan keraguan saat tak mendapati pasar di sekeliling nya.
Kabut pagi yang masih nampak begitu tebal membuat gadis itu sedikit kesulitan untuk melayangkan pandangan menuju ke seberang taman.
Bruugh,
"Aaaawwwhhhh!"
"Maaf, apa kau baik-baik saja? aku sungguh tak sengaja! apa kau terluka nona?"
"Tidak apa-apa Tuan! maaf tidak seharusnya juga saya berhenti dan mematung disini," Yuna nampak kembali bangkit dan mengabaikan uluran tangan dari seorang pria yang telah menabrak tubuhnya.
"Saya permisi!" gadis itu kembali menunduk dan berlalu dengan melangkah cepat.
"Tunggu ..., nona!"
Pria bertubuh tinggi itu nampak kembali menahan langkah Yuna dengan mendahului langkahnya.
"Apa kau tinggal di sekitar sini? sepertinya baru kali ini aku melihat mu!"
Haruskah aku berbicara dengan nya? tapi dia orang asing bukan?
"Maaf saya harus segera pergi Tuan! permisi!"
"Hey, nona! tunggu!" pria itu kembali mencoba mengejar langkah Yuna, namun ia kembali terhenti karena suara dari dering nada gawai miliknya.
Jangan kelayapan kemana-mana! apa kau tak ingin mengunjungi kakak mu?
Sebuah pesan singkat nampak terlampir di ponsel pria itu, namun ia kembali mengacuhkan nya dan kembali beralih pandang menatap Yuna yang semakin tak nampak di pelupuk mata.
"Aaaaaghh! kenapa dia berlari, apa wajah ku begitu menyeramkan baginya?"
...********...
"Mirah! dimana gadis itu?" suara melengking dari Nyonya Min seketika membuat pelayan senior itu tergopoh-gopoh menyambangi Nyonya Besar di kediaman itu.
"Maaf Nyonya saya tidak mengerti?"
"Pelayan baru yang kemarin membuat kericuhan di rumah ini! apa dia kabur?"
Seluruh pelayan di dapur nampak menghentikan aktivitas mereka, dan kembali memperhatikan sang Nyonya Besar.
"Tidak Nyonya, Yuna saya tugaskan untuk berbelanja ke pasar tradisional di area lingkungan ini. Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?"
"Kau membiarkan dia pergi seorang diri bi?"
Min Suga, putra sang pewaris tahta itu pun turut muncul dan melontarkan pertanyaan dengan wajah datarnya.
"I-iya Tuan Muda, saya pikir Yuna cukup cerdik untuk menemukan suatu tempat! dia bahkan mampu menemukan kediaman ini hanya melalui petunjuk pesan suara dari saya, jadi saya sengaja meminta nya untuk keluar pagi ini,"
Min Suga pria itu seketika berlalu pergi dari hadapan ibu juga para pelayan di rumahnya.
Ada apa dengan Oppa? kenapa dia terlihat begitu serius?
Wendy yang baru selesai berolahraga dan baru memasuki rumah akhirnya kembali mengikuti langkah suaminya dengan terburu-buru.
"Oppa! apa terjadi sesuatu? apa Jini sudah bisa kembali hari ini?"
"Bukankah kau semalam dari rumah sakit bersama ibu? apa kau tak menanyakan keadaan nya?"
"A-aku,"
"Aku harus pergi sekarang!" pria pucat itu kembali membanting pintu mobil dan melajukan mobilnya seketika.
Apa yang terjadi? kenapa sepertinya Oppa memendam amarah seperti itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments