"Mas kenapa disini?" Aku memicingkan mata saat masuk kedalam apartemen, sudah ada Mas Bima yang sedang minum air putih di depan kulkas.
Dia menutup kulkas lalu menghampiriku.
"Untung kamu datang." Ucapnya sambil menuntunku ke sofa. Aku duduk di pangkuannya.
"Ponselmu nggak aktif." Protesnya sambil mencium leherku.
"Sengaja aku matikan. Sebenarnya aku lagi pingin sendiri. Ku pikir, kamu pasti sibuk dengan Rama."
"Aku juga lagi pingin sendiri. Ku pikir juga, kamu lagi sibuk sama adikmu." Sahut Mas Bima.
"Jadi judulnya kita saling mengganggu?" Ucapanku membuat Bima terkekeh lalu kami sama-sama terdiam.
"Menurut Mas, dari sudut pandang seorang bapak, aku harus gimana?" Cicitku lirih.
"Umm... jika aku bapakmu, sudah ku pasung kamu di rumah. Berani-beraninya jual diri."
"Iiihh, kok jual diri sih?" Protesku tak terima ucapan kasar darinya. Andai Bima tahu, jangankan jual diri, aku mati saja Papaku nggak bakalan peduli.
Mas Bima terkekeh melihat aku cemberut.
"Pada dasarnya, nggak ada orang tua yang terima anaknya berada di jalan yang salah. Profesi kamu ini salah. Jadi mending kamu terima lamaranku tempo hari. Kita bisa menikah dan halal. Gimana?" Mas Bima mencubit daguku.
"Mas, jangan bercanda dong. Aku lagi galau nih. Dewan beneran minta aku berhenti."
Orang tuaku nggak akan peduli, Mas. Mau jalanku salah, mau bener. Tapi Dewan...
Aku menghela nafas.
"Loh, bagus dong. Cocok sama momentnya. kontrak kita berakhir, kamu nggak sama Daddy yang baru, kita bisa nikah."
"Dewan nggak akan setuju sodaraan sama Rama. Mereka nggak cocok."
"Itu bisa diusahakan, aku pastikan Dewan dan Rama setuju."
Aku memukul dada Mas Bima.
"Apa aku terlalu tua untuk jadi suamimu, hm?" Mendadak Mas Bima alay.
"Aku seumuran anakmu lho, Mas."
"Anak sulungku baru seumuran Dewan. So?" Bima menaikkan alisnya.
Aku menelisik wajah Bima. Untuk seumurannya memang wajah Mas Bima masih terlihat tampan. Badannya gagah dan berotot. Bukan perut besar dan buncit yang mendominasi sebagian besar pria seusianya.
Aku memeluknya.
"Jadi bapakku aja mau nggak Mas?"
Mas Bima membelai rambutku, ia merapatkan pelukanku. Aku tahu dia juga lagi galau.
"Kamu ini anak seorang konglomerat, ngapain sih jadi baby?" Bisik Mas Bima. "Kalau tahu dari awal, kamu anaknya Agung Adiguna, sudah ku culik, ku minta tebusan yang banyak. Hehehe..."
"Kenapa nggak sekarang nyuliknya?" Tanyaku.
"Ck, sekarang walimu Brian Darmawan, dia ribet orangnya."
Aku mendongak menatap Mas Bima, "Mas kenal Brian?"
Bima terkekeh, "siapa yang nggak kenal si tengil bau kencur itu? Saat Agung Adiguna mangkat, publik langsung heboh karena si tiran memilih dia. Ditambah posisinya sekarang, dia penyumbang pajak terbesar negara ini. Mana berani elit politik mengusiknya."
Lalu aku terdiam, ingin bertanya lebih lanjut, takut Mas Bima malah nanya yang lainnya. Termasuk nanya kenapa aku jadi baby.
Aku memilih membiarkan dia tetap pada pikirannya, bahwa aku hanya anak konglomerat yang haus kasih sayang dan iseng dengan pekerjaanku ini.
Aku memilih menyurukkan kepalaku didadanya, sama sekali nggak pingin cerita bagaimana perjalanan hidupku yang menyedihkan ini. Pelukan ini cukup, aku memang sedang butuh di peluk.
Sepertinya Mas Bima paham, dia pun nggak bertanya macam-macam lagi. Ia hanya membelai kepalaku perlahan.
Cukup lama kami berpelukan diatas sofa. Sampai Mas Bima duduk dengan gelisah. Aku tahu dia pasti pegel memangku aku cukup lama.
"Mel, pindah ke kamar yuk." Bisiknya.
Ku lirik bagian bawah tubuhnya, astaga dari tadi gelisah kirain pegel, nggak tahunya senjata laras panjangnya sudah berdiri tegak.
Dasar Jendral mesum!
Aku cemberut saat Mas Bima menggendongku ke dalam kamar.
"Katanya berhubungan intim bisa menurunkan tingkat stres loh." Bisiknya sambil menciumi leherku.
Aku tetap cemberut.
***
"Bradeerr... gue dengar, lo digebukin?" Datang-datang Zain menubruk Dewan. "Anjay, muka lo tambah macho, sumpah!" Pekik Zain kagum.
"Muka gue bonyok, woy!" Dewan menoyor kepala Zain. Heran ni anak kadang punya faham nyeleneh sendiri. Ancur gini dibilang keren.
"Sorry bro, tahu lo bakal dihadang, kita pasti batu." Jeffry menepuk bahu Dewan.
"Yoi, lama juga nih nggak nonjokin orang." Sahut Zain.
"It's oke" Dewan tersenyum.
"Tapi lo sempat hajar tu anak kan?" Jeffry mengambil duduk di depan Dewan. Zain disamping kanannya.
"Gue keburu dikeroyok, mana sempet hajar?"
"Harus banget kita bales ni bocah, enak aja." Zain melemaskan otot-otot tangannya.
"Mana nih biangnya? Beraninya keroyokan." Cibir Zain, dia celingukan nyari muka Rama. Masih pacaran dulu, si curut sering banget mondar-mandir di cafetaria ini.
"Sudahlah, nggak penting nanggepin Rama." Cegah Dewan.
"Kalau menurut gue sih, mending lo ambil sekalian deh si Shinta, terlanjur bonyok ini." Saran konyol dari Jeffry.
"Yeps... gue setuju, jomblo ini, kan lo? Mayan lah buat sampingan." Sambung Zain.
"Wiiihh... ini dia adiknya si ja lang." Tiba-tiba saja Rama sudah berdiri di belakang Jeffry.
Kali ini anak itu sendiri, Dewan menatap wajah Rama yang juga bonyok. Wah, bapaknya oke juga nih. Kemarin Dewan belum sempat ninggalin tanda sedikitpun di wajah bocah itu, malah keburu di keroyok antek-anteknya.
Sepertinya Pak Jendral mengerti jika ini harus impas.
Dewan tersenyum kecil sambil melengos.
"Nah, ini bonyok juga. Lo bilang belum sempet nyentuh..." Zain mengamati wajah Rama.
"Kerjaan bokapnya." Sahut Dewan.
Rama mencebik, ia duduk di samping kiri Dewan.
"Mau apa lo? Nggak usah minta maaf, kita selesaiin ini sepulang kuliah di lapangan belakang kampus." Zain menatap Rama galak.
"Lapangan belakang kampus bukannya lagi dipake festival jajanan kuliner ya?" Jeffry mengingat-ingat.
"Yaa kan disana emang mau makan, emang lo pikir ngapain?"
"Gue kesini nggak mau berantem, gue mau menawarkan kerjasama." Rama tidak menggubris omongan Zain. Wajah seriusnya menatap Dewan lurus.
Dewan sama sekali tidak terlihat tertarik. Ia balik menatap Rama dengan pandangan malas.
"Urusan Shinta, gue nggak ikutan. Lo boleh kejar tu anak kalau emang dia mau. Gue nggak pernah ada rasa sama dia." Jawab Dewan.
"Tapi Shinta suka sama lo." Tembak Rama.
"Itu hak Shinta, bukan urusan gue!"
"Gue tahu lo butuh sesuatu dari gue." Rama menyeringai. Wajahnya yang songong bikin Zain dan Jeffry pingin banget nimpukin pake kulit kacang asin cemilan mereka siang ini.
Dewan memiringkan kepalanya menatap Rama.
"Meski gue udah kasih file-nya ke bokap, tentu saja gue masih punya soft copy nya." Seringai Rama sambil memutar-mutar ponselnya didepan muka Dewan.
"Lo nggak mau kan aib Kakak tercinta lo, gue umbar ke publik? Wah, sekalian mengobrak-abrik Indoguna, seru kali, ya? Hehehe..." Rama menggertak Dewan.
Zain dan Jeffry saling pandang, ni orang ngomong apaan sih? Kira-kira gitu arti tatapan keduanya.
Alih-alih emosi atau marah, seperti yang di inginkan Rama, Dewan malah terkekeh geli sambil menggelengkan kepala. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Rama.
"Oh ya?" Desis Dewan, ia agak menipiskan bibirnya menahan geram. "Gue diem aja, kalau lo umbar ini ke publik, otomatis karir bapak lo hancur. Kita lihat, sejauh mana anak manja ini bertingkah!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Alena
weh dewan keren.. bisa nanggepin ancaman rama dengan tenang
2024-01-31
0
Rahmawati
dewaan keren👍
2023-11-29
0
Afternoon Honey
Dewan smart ⭐
2023-11-20
0