Pagi hari yang cerah, tapi badanku terasa remuk. Bak habis ketimpa pisang plus monyetnya sekaligus.
Tulang-tulang rasanya lepas dan tak bersambung sebagaimana mestinya. Membuatku mengerang sambil menahan sakit.
Kepalaku nyut-nyutan, sungguh aku membutuhkan aspirin kali ini.
Hal seperti ini sudah biasa sebenarnya, aku sering begini saat pra menstruasi. Ini seperti alarm untukku. Biasanya besok atau malam nanti datang haid.
Sempoyongan aku menghampiri kotak obatku. Aku tak pernah telat mengisi stok obat. Yang ringan-ringan saja, yang sering aku butuhkan, seperti paracetamol, ibuprofen, ceterizine, aspirin sampai norethisterone.
Norethisterone merupakan obat dengan kandungan hormon progesteron buatan yang sering digunakan untuk menunda haid.
Saat menjelang haid, terjadi penurunan kadar hormon progesteron dalam tubuh. Ketika jumlah hormon ini menurun pada batas tertentu, lapisan rahim akan meluruh sebagai tanda periode menstruasi tiba.
Dengan mengonsumsi obat yang berisi progesteron, lapisan rahim akan dipertahankan atau haid dapat dihindari sampai obat ini berhenti dikonsumsi.
Biasanya, obat ini aku minum 3 kali sehari, dimulai 14 hari sebelum haid berikutnya datang atau diminum pada hari ke-5 siklus menstruasi. Menstruasi umumnya akan tiba 2–3 hari setelah berhenti mengonsumsi obat ini.
Sekilas info aja sih bagi yang bertanya-tanya apa kegunaan norethisterone. Obat ini sudah nggak asing lagi, sering dikonsumsi para atlit atau jaman haji yang tak ingin ibadahnya terganggu.
Kegunaannya untukku sendiri...
Yah, kalian tahu laaahhh apa profesiku.
Kadang Daddyku nggak bisa kalau disuruh puasa lebih dari seminggu.
Hmmm...
Baiklah, kita nyari aspirin ya, obat sakit kepala, bukan norethisterone.
Bulan ini jadwal Mas Bima cukup padat, jadi dia mengijinkan aku haid. Haid aja pake ijin, itulah nasib gundik sepertiku.
Ribet nggak sih?
Nggak kok, biasa aja di aku. Hehehe...
Duh, pas habis. Aku menepuk jidatku sendiri. Kotak obatku kosong, tinggal salep sama cairan luka. Bahkan Paracetamol pun tak ada.
Bagaimana bisa habis? Sepertinya sudah ku beli kemarin waktu mampir ke apotek beli pembalut.
Apa mungkin terlewat ya?
Kepalaku semakin pusing. Kalau sudah begini nggak mungkin ke apotek dulu, pesan online juga kelamaan.
Akhirnya aku memutuskan keluar dan menuju unit milik Dara. Hanya dia tetangga yang ku ketahui. Maksudnya yang pernah bertegur sapa denganku selain security.
Juga yang paling dekat. Berharap Dara punya simpanan obat. Kalau tidak, terpaksa aku beli online. Nggak mungkin dengan keadaan seperti ini jalan sendiri ke apotek. Bisa-bisa belum sampai tujuan aku sudah tumbang.
Pandanganku sudah berputar, tapi aku masih bisa melihat dan berjalan dengan baik.
Ku tekan bel didekat pintu sambil memegangi pelipisku. Mudah-mudahan Dara di rumah.
Dara keluar dengan senyum lebarnya. Wajah ramahnya langsung menyapaku. Aku lega.
"Hai Mel..." Sambut Dara ceria, sepertinya dia senang dengan kedatanganku kesini. Baguslah...
Aku nyengir nahan nyut-nyutan, "hai Dar... sorry, to the poin aja nih ya, aku butuh aspirin. Kamu ada stok?"
"Oh, masuklah biar ku ambilkan." Ajak Dara sambil melebarkan daun pintunya agar aku bisa masuk.
"Tidak, aku tunggu disini aja." Tolakku halus.
"Masuklah." Dara meraih tanganku, memaksaku mengikuti langkahnya.
Tak ada pilihan, terpaksa aku nurut. Aku butuh obat secepatnya.
Dara membawaku ke pantry.
"Tunggu ya, kamu duduklah dulu. Biar aku siapkan makan."
Kepalaku semakin sakit.
"Duh, Dar... aku butuh obatnya cepat. Pusing banget nggak tahan." Keluhku.
"Tidak, kamu harus sarapan lebih dulu. Lambungmu bisa menjerit kalau langsung minum obat. Mukamu juga pucet banget, kamu butuh makan, Mel." Dara bersikeras.
"Kan ada yang bisa diminum kapan saja." Tawarku lagi masih belum menyerah.
"Makanlah, tidak akan kuberi obat jika kamu nggak makan." Pupus dara akhirnya.
Sebentar kemudian dia meletakkan sepiring omelette dan segelas jus berwarna hijau ke hadapanku. Entahlah itu jus alpukat atau sayuran, belum ku cicipi.
Terpaksa aku mengunyah makananku perlahan. Enak, padahal ini hanya omelette biasa loh. Kenapa bisa enak gini sih?
Semalam waktu Brian memberiku makanan yang dimasak Dara juga enak. Aku sampai lupa kalau sudah malam. Sepiring rendang ku makan semua tanpa nasi. Masih ku sisakan sedikit, ku simpan di lemari pendingin.
Ku akui, Dara memang pandai memasak. Tiga kali aku makan makanan darinya, tak ada yang membuatku kecewa. Beruntungnya pria yang memiliki istri seperti Dara.
Omong-omong soal pria, dimana pria itu? Tak kulihat barang hidungnya. Masih tidur atau sudah berangkat kerja.
Jam berapa sih ini? Aku melirik jam digital yang terpasang di dinding pantry.
10.00
Oh ya ampun, pantas saja, ini sudah siang.
Baguslah, aku tak perlu bertemu dulu dengannya. Jujur pikiranku masih kalut.
Dara senang melihatku makan dengan lahap, dia sendiri menungguiku makan sambil menyesap secangkir teh, dari baunya sih sepertinya teh camomile.
"Kamu nggak makan?" Tanyaku disela kunyahan.
"Sudah tadi bareng Mas Brian. Tunggu aku ambilkan obatnya ya..." Ucap Dara saat melihat omeletteku sudah hampir habis.
Dara membuka kabinet atas. Tubuhnya yang mungil menggapai dengan berjinjit-jinjit susah payah.
Alih-alih membantu, aku malah asyik bengong sambil mengamatinya.
Aku sempat berfikir, jika sedang bersama Brian, apakah laki-laki itu akan membantu istrinya mengambilkan kotak itu?
Dara yang kesusahan meraih karena letaknya yang agak tinggi lalu Brian datang dari belakang membantu meraih benda yang ingin di ambil istrinya. Mereka saling tatap dan tersenyum.
Lalu Dara mencium Brian sebagai ucapan terima kasih. Brian balas memeluknya dengan hangat. Lalu mereka terbawa suasana dan dapur ini sebagai saksi pertumpahan cairan suci itu.
Duh, dasar otakku nggak bisa jauh-jauh dari hal mesum.
Sah-sah saja sebenarnya, toh mereka suami istri. Sah di mata agama dan negara.
Tapi membayangkan adegan itu, kenapa aku jadi tambah mumet sendiri ya?
Beruntung Dara segera datang membawa kotak putih itu ke meja, membukanya, lalu menyodorkan aspirin didepanku.
Aku meraih pisang di atas meja dan memakannya bersama obat.
"Berbaringlah dahulu sampai agak baikan." Saran Dara. Ia merapikan kembali isi kotak obatnya.
Aku memandangnya dengan tatapan 'apa boleh?' begitu kira-kira arti tatapanku.
Dara tersenyum, "aku senang jika kamu disini lebih lama. Mas Brian sudah berangkat kerja. Kalau dia di rumah, aku nggak akan rela melihat kamu dengan pakaian begitu."
Ada apa dengan pakaianku? Aku menatap lingerie jaring yang ku kenakan. Bukankah ini cantik? Pas digunakan ditengah kota yang panas begini.
Dara geleng-geleng kepala sambil terkikik. Sepertinya aku terlihat aneh di matanya. Atau dia menganggapku lucu?
Aku sendiri, mana peduli.
Ku rebahkan badanku di sofa, ku pejamkan mata sebentar agar kepalaku cepat membaik.
Dara sendiri tidak berniat menggangguku. Dia sibuk sendiri di pantrynya, mencetak adonan kue. Baunya mengiringiku memejamkan mata dan kembali tertidur.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Erna Yunita
Dara.... kau sepertinya istri yg baik
2024-11-19
0
Afternoon Honey
⭐⭐⭐
2023-11-02
0