Hari ini rencananya aku mau balik dulu ke apartemen, sore ini Mas Bima membutuhkanku. Jadi aku harus standby sebelum dia datang.
Saat ini masih pagi, aku baru selesai mandi saat pintu kamarku diketuk. Aku masih berbalut bathrobe dengan handuk kecil membungkus rambut panjangku.
"Masuk..." Jawabku.
"Mbak, ditunggu Mas Brian sarapan di bawah." Kepala Marni nonggol sedikit.
"Marni, sini..." Aku melambaikan tanganku menyuruh Marni masuk.
"Apa?" Tanya Marni penasaran.
"Apa Brian tinggal disini?"
"Nggak sih, tapi Mas Brian dikasih kamar juga sama Bapak di depan." Jawab Marni, seperti dugaanku.
"Dia sering nginep sini?"
"Sering."
"Apa dia tak punya keluarga?"
"Nggak tahu Mbak."
Hmm, aku salah nanyain beginian sama Marni.
Aku manggut-manggut, "apa Dewan sudah berangkat kuliah?"
"Mas Dewan pergi pagi-pagi Mbak, kegiatan kampus, katanya mau menyerukan dukungan untuk Palestine atau apaaa gitu, aku lupa."
"Oke..." Cukup pertanyaanku untuk Marni.
Aku mengganti handukku dengan dress saat Marni sudah keluar kamar. Nggak perlu pake daleman, gerah.
Kubiarkan rambutku sedikit basah, sedikit memoles riasan tipis di wajahku biar lebih fresh dan melangkah keluar.
Dari atas tangga, kulihat Brian menatapku. Entah menilai atau terpesona. Ekspresinya hampir sama. Aku sengaja berjalan perlahan menuruni anak tangga satu persatu.
Kubiarkan Brian puas menatapku. Enak kan dapat bonus?
Aku tahu aku cantik, juga sexy. Tapi emang boleh Brian memandangku semupeng itu?
Aku sengaja duduk disebelahnya, sedikit menundukkan badan agar dadaku yang tidak berpenyangga ini terlihat tepat didepan wajahnya.
Aku tidak menggoda, aku hanya mencoba mengambil nasi yang agak jauh dari jangkauanku. Salah siapa nasinya jauh?
Brian tidak mengalihkan pandangannya. Aku tersenyum senang.
Setelah aku duduk, Brian berdehem dan mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Apa kamu akan keluar dengan baju seperti itu?"
"Yes, of course?" Jawabku percaya diri. Saat ini aku yakin, dia pasti ingin sekali mengurungku di dalam kamar seharian saking pinginnya. Dara bukan sainganku ya, maaf...
"Bahkan kucing saja malu pakai sobekan kain seperti itu." Ucap Brian sadis, dia meraih sendoknya dan makan dengan tenang. Seolah apa yang dikatakannya barusan adalah hal yang wajar untuk di utarakan.
Aku melongo, tak menyangka mulutnya pedes juga nih laki.
Aku mengibaskan rambutku, lalu menyangga kepalaku dengan tangan kiri menghadap ke arahnya. Ku elus paha Brian perlahan naik turun sampai pangkal paha dengan tangan kanan. Kumainkan kuku panjangku untuk memberikan rang sangan.
"Oh ya? Apa kamu segitu biksunya sampai suka sekali melihat wanita berpakaian tertutup? Hei, kamu pelihara baby sayang, apa istrimu kurang sexy saat di ranjang, hm?" Aku menyeringai nakal saat Brian menangkap tanganku dan menatapku tajam.
Aku menikmati pandangan itu, seolah-olah Brian ingin menelanku hidup-hidup.
Aku melepaskan cengkramannya, dia masih menatapku dengan muka merah. Entah menahan amarah atau menahan gairah.
Kita lihat saat aku memasang wajah paling enak yang ku punya. Apa dia masih bertahan?
Kugigit bibir bawah sambil menurunkan tali spaghetti di pundakku perlahan, aku yakin dadaku sudah separuh terbuka.
Brian mengunyah makanannya kasar.
Mam pus! Aku puas menggodanya. Berani apa dia sekarang? Sedikit lagi ku turunkan tali ini, dadaku terbuka sempurna.
Tanpa disangka, Brian bergerak cepat menangkap bibirku dan me lu matnya, lidahnya mengobrak-abrik dalam mulutku. Tangan kanannya meremas dadaku kasar sekali. Badanku kepentok sandaran kursi. Aku hanya bisa mencengkram lengannya kuat-kuat.
Ini mendadak, aku belum siap dengan reaksinya.
Kurasakan tangan Brian menyusup kedalam dan memelintir pucuk dadaku. Meski sakit, tapi malah membuatku menginginkan lebih. Tubuhku merespon bagus sentuhan kasarnya.
Brian melepaskan bibirnya, juga menarik tangannya dari dadaku. Aku terengah sambil mencengkram sisi meja. Sedikit lagi intiku berkedut, tapi Brian melepaskannya begitu saja. Ada sedikit rasa kecewa, tapi aku cukup tahu diri untuk tidak mengakuinya.
"Belajarlah untuk berpakaian tertutup jika pergi keluar dan te lan jang jika di depanku." Bisik Brian sambil menjilat daun telingaku. Aku merinding.
Brian melap mulutnya dengan serbet dan beranjak pergi meninggalkan meja makan dan aku yang masih mematung di kursi dengan nafas yang ku buat senormal mungkin.
Kurasakan sesuatu mengganjal dibawah lidahku. Ya Tuhan, benar-benar kurang ajar, pria itu meninggalkan gigitan tempe didalam mulutku.
***
Siang ini aku melenggang santai menuju unit apartemenku. Ku sampirkan tas tali ke belakang sambil bersiul kecil.
Meski memakai celana jeans dan tank top putih, aku tetap memakai boots tinggi sepuluh centi. Aku suka memakai alas kaki yang tinggi. Ini membuat kepercayaan diriku naik berlipat-lipat.
Kau tahu, wanita akan terlihat lebih cantik jika dia percaya diri.
Nggak percaya? nggak maksa juga sih...
Kubiarkan rambut coklatku tergerai bebas.
"Mel..." Aku menghentikan langkah saat kudengar seseorang memanggilku tepat di depan pintu.
Itu suara Dara.
Aku agak malas sebenarnya, tapi kepalang tanggung ku putar juga tubuhku.
"Hai Dar, dari mana?" tanyaku malas. Dia tampak kerepotan dengan barang belanjaannya. Tapi aku tak berniat membantu, disampingnya ada Brian.
Cih... sok sweet banget, biar dikira suami siaga, jam makan siang dibela-belain nganter istri belanja.
"Aku belanja banyak hari ini, rencananya mau bikin klappertaart, kalau nggak sibuk kamu bisa main." Tawar Dara, mungkin dikiranya aku wanita nganggur yang butuh hiburan masak kali yaa...
"Sorry, aku agak sibuk hari ini." Aku melirik Brian. "Sepertinya suami kamu cukup waktu untuk menemanimu masak." Kunaikkan alisku sebelah, mengejek Brian.
Pria itu melengos, ia membuka unitnya lalu masuk.
Dara tertawa kecil, giginya yang putih dan kecil-kecil itu menggemaskan sebenarnya, tapi aku tak suka.
"Mas Brian harus balik kerja. Baiklah kami masuk dulu ya Mel..."
Aku melambaikan tangan saat Dara menyusul Brian masuk.
Aku kesal, baru tadi pagi menciumku pake extra tempe. Sekarang sok cool di depan istri.
Lihat aja, suatu saat kucium balas di depan istrimu, tahu rasa! Biasanya pembalasanku lebih nikmat.
Aku membuka unitku dengan kasar. Ku banting pintu begitu saja lalu berkacak pinggang, kesal.
"Hey, datang-datang kok emosi? Ada apa, hm?"
Aku agak kaget saat Mas Bima muncul dari dalam kamar. Tubuh atletisnya begitu sexy dengan undakan otot dada dan perut yang keras. Ia hanya membalut pinggangnya dengan handuk putih. Sepertinya habis mandi. Bau sabun masih sangat segar menempel ditubuhnya.
Untung mulutku belum sempat mengumpat macam-macam. Aku malas nyari alasan.
Bima meraih pinggangku dan mencium bibirku dalam-dalam. Tangannya sudah pro banget menyusup dan membelai punggungku sampai pan tat.
Pertanyaannya nggak butuh jawaban, saat aku menyisipkan jari-jariku kedalam rambutnya yang masih basah, ia sudah terlena dengan sentuhanku.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Ersa
🌹 dulu sebelum baca
2023-11-11
0
Ersa
🤣🤣
2023-11-09
0
Vlink Bataragunadi 👑
aku jadi penasaran alasan Brian menikahi Dara tp kok mau pelihara Mel /Left Bah!/
2023-11-08
1