Episode kehidupanku akan dimulai lagi dengan tergoresnya pena hitam ini di atas materai.
Aku sudah menekuni pekerjaanku ini hampir separuh hidupku. Hal seperti ini sudah biasa. Awalnya memang berat, tapi ku nikmati saja.
Aku hanya membolak-balikkan kertas itu tanpa berniat membacanya. Paling hanya beberapa poin yang diubah dan sepertinya tidak ada yang merugikanku.
Ku bubuhkan tanda tanganku di kertas itu.
Saat ini aku berhadapan dengan orang kepercayaan calon Daddyku.
Dari awal memang aku belum pernah bersua dengan bos-nya.
Tapi dilihat dari cara pegawainya yang begitu teliti dan waspada, sepertinya orang ini cukup berpengaruh.
Aku penasaran, seperti apa wajahnya. Apakah sudah berumur atau malah sebaliknya?
Hmm... bagaimanapun rupanya, aku sudah terlanjur tanda tangan. Tidak bisa mundur lagi atau aku kena pinalti.
Meskipun orang itu jelek, tua, bangkotan, aku tetap harus melayaninya.
Sudah resiko ya menjadi boneka pemuas sepertiku ini, tidak bisa memilih, hanya bisa dipilih. Tidak bisa menolak, hanya bisa pasrah.
Yang jelas sejauh ini, sejelek-jeleknya orang kaya, mereka tidak bau. Aku paling tidak bisa bercumbu jika bau badannya menyengat.
Dan syarat ini yang selalu aku ajukan diperjanjian, salah satunya TIDAK BAU BADAN.
Hmm, ya kali banyak duit badannya bau, nggak banget deh!
Yang lebih membuatku bersemangat adalah calon Daddyku ini menawarkan gaji pokok yang fantastis, hunian eksklusif dan kendaraan pribadi yang...
Ah... aku bahkan tidak berani bermimpi menaiki mobil dengan harga yang begitu mengejutkan. Mungkin nanti aku akan bertanya jika terjadi apa-apa dengan mobil itu apakah ada kompensasi untukku? Semisal nggak sengaja tergores gitu.
"Silahkan tunggu sebentar, bapak akan datang, kami permisi." Orang itu pamit mengundurkan diri setelah membereskan berkas-berkas diatas meja.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Ku edarkan pandanganku menyusuri kamar ini. Baru kusadari, kamar ini lumayan mewah. Lebih mirip penthouse tapi dalam versi mini dan di buat sesimpel mungkin.
Meski begitu, furniturenya nggak kaleng-kaleng doooong...
Baru kali ini aku menjumpai kamar yang begitu unik.
Aku mendekati jendela, ku intip sedikit pemandangan diluar sana.
Sama saja seperti pemandangan tengah kota pada umumnya.
Aku diam disitu lumayan lama. Sampai tak kudengar seseorang telah membuka pintu kamar.
"Apa yang kamu pikirkan?" Suara laki-laki dari arah belakangku.
Aku menoleh lalu refleks mundur dua langkah.
"Brian?" Tanyaku.
"Kamu? Ada apa?" Aku masih heran dengan keberadaan Brian disini, mungkinkah dia menguntitku? Duh gawat, Daddyku datang sebentar lagi.
Brian terkekeh, ia melepas jasnya lalu berjalan menghampiriku.
"Welcome to my life..." Ucap Brian mengulurkan tangannya.
Aku masih mencerna ucapannya, sedetik kemudian menutup mulutku dengan tangan.
Astaga!
Ini bukan mimpi kan?
Aku harus bagaimana? Jingkrak-jingkrak? Lompat-lompat? atau langsung kupeluk saja?
Ini layaknya dreams come true nggak sih? Kebaikan apa sih yang ku lakukan sampai mendapat jackpot seindah ini?
Tidak, aku malah sampai tak bisa berkata-kata. Sampai Brian mengayunkan tangannya di depan mukaku.
"Eh, sorry..." Aku gelagapan karena tertangkap basah menatapnya dengan mupeng (muka pengen).
Dia hanya tersenyum, lesung pipinya nampak begitu nyata. Mataku turun ke dada bidangnya. Dari balik kemeja saja sudah tampak kokoh dan kuat. Pasti sangat nyaman bersadar disana.
"Apa ini kebetulan?" Gumamku pelan, meski begitu Brian masih bisa mendengarnya.
"Kebetulan?" Ulangnya.
Aku duduk di atas ranjang dengan bersilang kaki. Tidak berniat menjawab pertanyaannya.
Justru pikiran ini menggangguku, mengapa pria seperti dia memelihara baby? Sekali jentik saja akan banyak sekali perempuan yang mendekat, tapi entah mengapa instingku mengatakan belum saatnya bertanya hal itu.
"Aku punya istri." Ucap Brian sambil melangkah mendekati jendela, pandangannya menerawang lurus menembus kaca.
Aku cukup kecewa dengan pernyataan Brian. Hatiku yang paling dalam berharap pria ini single.
Aku mengrenyit memikirkan apa ada poin yang lupa ku minta jika aku tak ingin berhubungan dengan laki-laki yang beristri ya?
"Tapi aku mau kamu." Lanjut Brian, ia berbalik menatapku.
Aku menyilangkan tangan di depan dada, "aku baru saja berfikir kamu pria serakah." Ucapku akhirnya.
"Selama ini aku menghindari pria beristri. Aku tak ingin menyakiti hati sesama wanita. Maaf, aku tidak bisa melanjutkan ini." Tegasku.
Bagaimanapun, aku seorang wanita. Meskipun pekerjaanku sebagai gundik, tapi aku masih punya hati.
Kuraih tasku dan melangkah menuju pintu.
Brian terkekeh, "kamu sudah setuju, apa yang membuatmu begitu percaya diri mengingkari perjanjian kita? Apa kamu siap membayar pinaltinya, hm?"
Seketika langkahku terhenti, sialan! Kali ini aku ceroboh tak membaca poin perjanjian dengan benar. Ku pijit pangkal hidungku.
"Sebulan lagi. Ah, tidak... dua puluh tiga hari lagi. Bersiaplah, aku menunggumu di tempat ini." Bisik Brian lalu berlalu pergi. Aku masih mematung ditempatku.
***
Ku hempaskan badanku diatas ranjang kamar. Ku lempar heelsku sembarangan, pikiranku kacau.
Bagaimana tidak? Aku senang mengetahui kenyataan bahwa Daddyku dua tahun kedepan adalah Brian. Pria yang membuatku terpesona pada pandangan pertama.
Appolo-ku yang tampan dan bercahaya.
Tapi juga bingung, bagaimana prinsipku soal pria beristri itu?
Aku tak ingin menyakiti, tapi sudah terlanjur setuju.
Sedangkan jika aku mundur, tabunganku pasti akan terkuras habis jika harus bayar pinalti.
aku merutuki kebodohanku. Kututupi wajahku dengan bantal, biar buntu sekalian otakku.
Samar-samar kudengar bel rumahku berbunyi.
Malas aku menyeret kakiku melangkah.
Mungkin si Dara, tetangga baru itu. Kalau Mas Bima nggak mungkin, dia bisa masuk sesuka hatinya.
Aku melongokkan kepalaku begitu saja.
"Hai Dar..." Aku terkesiap, Brian ada di sana, memakai kaos oblong dan celana kolor training.
Aku memekik tertahan, "Ngapaiinnn?" aku melotot. Benar-benar nggak nyangka Brian nyamperin kemari.
Brian nyelonong masuk apartmenku begitu saja, melewatiku yang masih panik.
Panik takut ketahuan Mas Bima, CCTV ada di mana-mana loh ini. Eh malah pria ini asyik menyusuri rumah ini.
Brian berkeliling sampai ke dapur. Matanya awas menelisik setiap sudut.
"Bagus." Gumamnya nggak jelas. "Nih..." Dia memberikanku kantong yang ditentengnya dari tadi.
Aku melirik waspada, "please keluar. Aku bisa kena masalah gara-gara kamu." Geramku.
"Dimakan ya, itu istriku yang masak. Dia yang menyuruhku kesini nganterin itu." Ujar Brian sambil berlalu pergi. Dia sama sekali nggak mengerti ketakutanku.
Aku mengintip sedikit isi bungkusan itu. Dari wanginya sih kelihatannya enak.
Tunggu...
Istrinya?
Maksudnya Dara? Yang tinggal disebelah?
"Hei..." Aku berteriak memanggil Brian, tapi laki-laki itu sudah lebih dulu menutup pintu sebelum aku sempat bertanya.
Aku mengejarnya, meraih handle pintu dan melongok keluar. Brian Jelas-jelas berbelok masuk ke dalam unit milik Dara.
Aku tertegun.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Erna Yunita
hmmm..... apakah ada alasan lain... sehingga si B.... melakukan pengkhianatan
2024-11-19
0
Rahmawati
lah gmn ini mel, brian udah pnya istri, km dah trlanjur tanda tangan kontrak
2023-11-28
0
Afternoon Honey
ih seru juga ternyata
2023-11-02
0