"Ada yang mencarimu di lobi." Gio meletakkan dua bantex didepan Brian.
"Siapa?" Gumam Brian tanpa mengalihkan fokusnya pada komputer.
"Lisa."
"Ck..." Brian berdecak. "Masih aja ganggu pria beristri."
"Sikat aja lah bro, Mayan kan dapat gratisan. Nggak usah repot-repot pelihara gundik."
"Sudah ku bilang, kan?" Dengus Brian kesal.
"Sudah ku usir, bos. Tenang saja."
Brian manggut-manggut, "untuk apartemen yang kemarin kita bicarakan, sudah ku cek langsung. Unit ini masih di sewa dan sebentar lagi selesai. Kita bisa ambil alih."
"Mau kita sewa atau kita beli?"
"Beli saja, atas namakan Melati."
Gio mengrenyit tak suka, "Dia bahkan belum kau apa-apakan. Sudah dapat ponsel keluaran terbaru ditambah apartemen. Apalagi nanti kalau sudah buka baju di depanmu? Yakin banget dia wanita amanah."
Brian menyeringai, 'wanita amanah' yang keluar dari mulut Gio cukup menggelitik telinganya. Ini lucu mengingat Melati adalah seorang baby.
"Lakukan saja."
"Ck, keterlaluan. Enak sekali jadi dia, aku yang sudah bekerja bertahun-tahun disini, jangankan apartemen. Ponsel saja masih kamera berkabut." Gerutu Gio.
Brian melempar Gio dengan pena.
"Nggak usah ngeluh, malu ama gaji. Mau ku tukar semua aset kamu sama satu apartemen, hah?"
Gio garuk-garuk kepala bekas kena pena, "nggak gitu juga kaliiiiikk..." Cibirnya sambil ngeloyor pergi.
***
"Eh, Mel... Gimana, sudah baikan?" Dara menyapaku saat ku hampiri dia di pantry.
Aku hanya tersenyum kecil sambil duduk di depannya.
Dia sedang menyusun kue kering didalam beberapa toples yang berjajar rapi di atas meja. Aku mencomot sebiji dan mengulumnya.
"Kalian tinggal hanya berdua kan?" Tanyaku.
"Iya..." Jawab Dara sambil ikut menggigit kue buatannya sendiri.
"Lalu buat apa bikin kue sebanyak ini? Apa kalian nggak makan nasi? Hanya makan kue?" Jujur aku penasaran.
"Pada dasarnya aku suka bikin sesuatu, meski nggak habis dimakan sendiri, nanti bisa ku bagikan dengan tetangga atau keluarga."
Aku manggut-manggut.
"Kenapa nggak buka toko kue aja? Kue buatanmu enak loh." Pujiku. Jarang-jarang aku memuji orang loh. Dara beruntung.
Dara tersenyum, "aku hanya menyalurkan hobi, bukan ingin nyari uang. Toh membagikan makanan malah dapat pahala."
"Loh, buka toko malah dapat dua keuntungan sekaligus. Istilah kerennya, hobi yang di bayar. Eh iya, kamu nggak kerja kantoran, kan? Atau punya bisnis lain?"
Dara menggeleng, "sejak menikah, aku putuskan untuk fokus mengurus suamiku saja. Begini aku sudah bahagia."
Kue yang ku telan seret, sumpah. Susah payah aku mendorongnya agar masuk.
"Bawalah jika kamu mau." Dara menyodorkan setoples kue kering di depanku.
"Yang kemarin aja masih." Aku mendorong lagi toples itu, mengembalikannya ke Dara. Aku tak bohong, yang kemarin beneran masih banyak. Paling aku makan sepotong dua potong, sedangkan Dara memberi dua toples.
Aku meneguk air putihku sambil mataku berkeliling menyusuri setiap sudut rumah ini.
Baru kusadari semua berkilau, waktu masuk tadi aku tidak terlalu memperhatikan karena kepalaku sedang sakit-sakitnya.
Sekarang aku terpana melihat keindahan rumah ini. Aku merasa nyaman berada disini. Dara benar-benar pintar membuat rumah ini terasa homey.
Di beberapa titik, Dara menempatkan tanaman hidup. Ini menambah adem mata yang memandang.
Juga banyak sekali benda pecah belah seperti guci, set peralatan makan yang dibuat khusus hanya untuk pajangan.
Beberapa barang terbuat dari batu mulia juga.
Soal harga, pasti sangat mahal. Vas bunga kecil yang di letakan di atas meja itu saja bisa milyaran dan jelas made in negeri tirai bambu. Belum ongkos kirim kemari.
"Kenapa kamu pilih tinggal di disini? Isi apartemenmu saja lebih mahal dari harga beli tempat ini." Kupandangi wajah Dara, penasaran.
Kulihat wajahnya sedikit tersipu. Atau karena kepanasan setelah mengangkat loyang dari dalam oven?
"Mas Brian yang minta, katanya agar lebih intim. Tinggal terpisah dari orang tua, hidup mandiri berdua. Kenapa di apartemen? Umm... katanya sih ini tempat yang menurutnya paling romantis. Dekat dengan kantor dan punya fasilitas lengkap. Keamanannya juga bagus."
Romantis dari mana coba? Aku melengos. Sepertinya Dara amat mencintai Brian. Setiap membicarakan laki-laki itu, pipinya otomatis memerah.
"Kapan Brian membeli apartemen ini?" Tanyaku memastikan.
Dara mengrenyit, "gedung ini miliknya. Dia bebas memilih unit yang mana." Jawab Dara ringan, tanpa ada nada curiga sedikitpun.
Aku semakin gelisah.
Apa maksud laki-laki itu? Kalau dia mau bahkan bisa menempati penthouse. Unit paling mewah yang terletak paling atas gedung ini.
Kenapa harus memilih unit tepat disebelahku?
Bukannya ge er ya, tapi aku meras ganjil dengan semua ini.
"Ehem, aneh ya, kenapa kalian pilih unit yang ini? Toh diatas ada penthouse. Lebih luas dan nyaman untuk kalian." Ku buat suaraku sewajar mungkin. Agar nggak terlalu kentara kalau aku sedang kepo.
"Mas Brian bilang yang ini cukup. Toh kita masih berdua. Belum ada anak-anak."
Aku semakin menegang.
Sialan, aku cemburu mendengar kata anak keluar dari mulut Dara. Tiba-tiba perutku mual.
kuremas ujung lingerieku kuat-kuat. Breng sek si Brian. Kehidupan pernikahannya terdengar begitu harmonis, lalu apa maksudnya memelihara aku? Apa masih kurang dapat istri sebaik Dara.
Aku makin nggak tega jika harus menyakiti Dara. Wanita ini baik hati dan juga terlihat sangat mencintai Brian.
Jahatnya aku jika tetap masuk ditengah-tengah keluarga harmonis yang sedang hangat-hangatnya ini.
Aku beranjak dari dudukku, pikiranku semakin galau.
"Aku balik deh Dar, belum sempet mandi juga, thanks obatnya ya." Ucapku tulus. Dara meraih paper bag di atas meja.
"Bawalah, ini untuk makan siang." Ucapnya sambil menyerahkan bag itu padaku.
Aku menggeleng, "tidak, aku masih ada makanan kok." Jelas aku berbohong. Hanya ada sisa sedikit rendang di kulkas. Nasipun aku tak punya.
"Ayolah..." Paksa Dara.
Aku nggak tega menolak Dara, akhirnya terpaksa aku membawanya.
Lihatlah, bagaimana bisa aku menyakiti wanita sebaik ini?
Aku harus tahu apa yang mendasari Brian ingin denganku. Akan ku pastikan jika dia tak punya alasan yang masuk akal, berapapun akan ku bayar dendanya meski harus menguras isi tabunganku.
Sebelum semua terjadi, sebelum semua terlanjur basah. Aku harus cepat mengambil keputusan.
Jadi, saat sampai didalam kamar, kucari ponsel yang masih ku charger. Ku cari nomor Brian lalu mengiriminya pesan singkat.
Cafe Jingga pukul 7, datang atau tidak, tetap akan ku tunggu.
Send.
Aku menghela nafas, seandainya Brian pria single, pasti nggak akan seribet ini.
Ku sadari sudah menyukainya saat pertama bertemu, hanya melihat punggungnya saja aku berdebar. Apalagi mengetahui dia adalah calon Daddyku nanti.
Tapi Dara...
Aku meraup wajahku kasar.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Mamah Aish
awal nya maju mundur mau lanjut baca ,,tapi dari sini udah enak dibaca ,,aku suka thorr
2024-12-26
0
Erna Yunita
Ah..... proud of you🥰
2024-11-19
0
Erna Yunita
hmmm.... g tega.... sungguh.... masih menunggu kepastiaan.... mengapa si B.... harus bermain api
2024-11-19
0