Zain melotot saat Jeffry mengambil telur siomaynya yang ke dua.
"Beli sendiri, Jupriii..." Geram Zain. Meski sebal tapi ia tidak mencoba menyembunyikan piringnya.
"Enakan juga minta." Jeffry menjawab dengan mulut penuh telur.
"Cih, kemarin dibawain Cindy gratis malah lo kasih gue." Sahut Dewan.
"Nah, bener. Lo minta dah, ame Cindy. Pasti dikasih sama Mamang yang jual sekalian."
"Duh gaeess... nggak kuat gue kalo makan makanan dari dia. Takut kena pelet." Jawab Jeffry dengan mimik muka bergidik ngeri.
"Bukan pelet sih kalau menurut gue." Zain menimpali.
"Apa?" Tanya Dewan.
"Obat kuat. Hahaha..." Lanjut Zain.
"Nah, itu juga." Jeffry menjentikkan jarinya.
Dewan nimpuk jidat Jeffry pake kulit kuaci punya Zain.
"Maunyaaaa..." Cibir Dewan.
"Jeffry mau dikasih obat kuat juga udah ada tempat buat menyalurkan. Kalau Dewan yang makan, kan repot? Disalurkan kemana coba? Hahaha..." Zain geli membayangkan nasib Dewan yang jomblo akut ini.
"Banyak jalan menuju Roma, bro..." Kekeh Dewan. "Nah, apa kabar kalo lo yang makan?"
"Hahaha, gue ikut jalan elo deh ." Seru Zain.
"Suee emang lo pada." Umpat Jeffry.
"Gue lihat kemarin lo jalan bareng Shinta?" Tanya Jeffry ke Dewan.
"Dia nebeng doang, buru-buru ketemu dosen pembimbing, dijalan ban mobilnya kempes. Kebetulan gue lewat." Dewan menjawab santai sambil nyemil kuaci sisa si Zainal.
Bagi Dewan, udah biasa sih, kasih tumpangan ke temen. Kenapa jadi orang nyangkanya yang nggak-nggak?
"Alah modus dia, palingan sengaja mepet ke elu. Gue denger sih habis putus sama cowoknya." Sahut Jeffry.
"Dengar darimana lo?"
"Dari rumput yang bergoyang..."
"Si Jeffry kan spec emak-emak, doyan banget ngerumpi cyiiinn..."
"By the way, emang cowoknya Shinta siapa?" Dewan beneran nggak tahu kalau yang ini.
"Wah parah lu, mata lu taroh mana, ma meeennn? Tiap hari berduaan depan kita macem penganten baru, lu kagak lihat?"
Dewan mengrenyitkan jidatnya. Dia tetap nggak ingat meski jidatnya berkerut sampai keriting.
"Si Rama." Celetuk Jeffry.
"Rama adik tingkat itu?" Tebak dewan tak yakin.
"Iyaa, siapa lagi yang mukanya paling songong mentang-mentang bokapnya Jendral." Cibir Zain.
Dewan manggut-manggut, ntah paham atau ngantuk.
"Eh ini udah kelar kan? Gue harus cabut nih." Jeffry melirik jam di layar ponselnya.
"Kemana lo?" Teriak Zain
"Ada janji sama istri." Jeffry menaik turunkan alisnya.
"Iyeee, pahaaaammm... yang penganten baru." Nyinyir Zain.
Jeffry memang sudah menikah sebulan yang lalu, istrinya nggak kaleng-kaleng, artis cuy. Cindy mah lewat, kagak ada apa-apanya, bener dah.
Sayangnya pernikahan ini memang belum dipublikasikan. Cuma kunyuk bertiga yang tahu. Makannya Cindy masih gencar banget ngejar-ngejar si Jeffry.
Kalau tahu istrinya Jeffry itu Sofia Anna, hmmm... auto minder dah.
"Gue ikutan, Jeff..." Seru Zain sambil meletakkan piring somaynya yang sudah kosong diatas kursi plastik plus uang goban. Zain langsung ngacir nyusulin Jeffry.
Si Mamang siomay bengong sambil megangin duit kertas berwarna biru gambar pahlawan berkaca mata itu.
"Kembalinya ambil aja, Mang. Nih, aku bayar punyaku ya." Dewan meletakkan duit kertas yang sama sambil berlalu pergi.
Mamang siomay langsung menempelkan duit kertas di jidatnya.
"Ya Allah, hamba ikhlas dikasih pembeli model begini tiap hari, ya Allah. Aamiin."
Ya elah, si Mamang ngelunjak.
Baru juga Dewan menjalankan motornya menjauhi Monas, melewati jalan tikus biar cepet nyampe, seseorang menghadang jalannya.
Rama.
"Halo brother..." Rama menyapa sinis. Bener kata Zain, ni anak mukanya songong bener.
Dia tidak sendiri, temannya ada kali sepuluh orang di belakangnya. Mereka berpencar mengepung Dewan.
Dewan menyampirkan tas ranselnya ke pundak. Apa-apaan ini?
"Selama ini gue diem, bukan tak tahu..." Rama menatap Dewan tajam.
"Elaaahh bos, kagak usah dangdutan." Seru teman Rama dari belakang.
Rama tersenyum sinis, "tapi lo berani-beraninya deketin cewek gue."
"Gue?" Tanya Dewan menunjuk dadanya sendiri. "Deketin cewek lo? Yang bener aja?!" Jawab Dewan santai. Dia tidak merasa bersalah, jadi buat apa takut.
"Nggak usah berlagak, gue lihat pake mata kepala gue, lo dipeluk ceweknya bos Rama." Teman Rama yang lain menyahut.
Dewan menengadahkan kepalanya menahan geli.
"Shinta itu bonceng motor gue, lo lihat modelan motor gue gimana nggak sih? Dia bakal jatoh kalo nggak pegangan." Dewan menunjuk motor sport merah miliknya.
"Maksud lo, gue harus makhlum gitu?" Rama makin ngegas.
"Ya memangnya apa yang salah?" sahut Dewan. Dia heran dengan laki-laki model Rama ini, cemburu nggak tahu keadaan.
Bisa aja dia tinggal Shinta sendiri di pinggir jalan dengan resiko telat ketemu dosen pembimbing lalu harus ngulang lagi skripsinya. Eh, lakinya bukannya makasih malah nyari gara-gara.
"Bukannya kalian sudah putus?" Tanya Dewan, sengaja menyulut api sekalian. Enek juga lama-lama.
"Nggak ada salahnya dong, Shinta mau deket sama siapa juga." Lanjut Dewan.
"Wah bos, nantangin bos!"
Rahang Rama mengeras, "Shinta masih cewek gue. Lo jangan macem-macem." Desisnya marah.
"Oh ya?" Dewan menaikkan alisnya sebelah. "Gue jadi pingin tahu Shinta maunya sama siapa." Bukan niat kepedean Shinta bakal memilih Dewan, ia hanya ingin menggertak Rama.
Rama mengayunkan kepalan tangannya ke wajah Dewan. Sigap Dewan menahannya, dia balik mencengkeram tangan Rama kuat lalu memelintirnya.
"Kalau berani satu lawan satu, nggak pake keroyokan." Tantang Dewan sambil melepaskan cengkramannya.
Rama maju menyerang Dewan, sigap anak itu berkelit kesamping menghindari Rama. Tubuh Rama oleng, Dewan menggunakan kesempatan itu untuk menendang pinggul Rama.
Rama yang belum siap, jatuh ke tanah. Dia semakin marah, malu sumpah dilihatin anak buahnya.
"Hajar bos!" Seru teman-teman Rama.
Sebenarnya Rama murid terlatih soal bela diri, tapi emosinya yang tinggi membuat hilang fokus, malah merugikan dirinya sendiri. Belajar bela diri buat sok-sokan ya gini.
Ini digunakan Dewan untuk membully Rama dengan gerakan-gerakannya. Mengecoh kesana kemari sampai Rama kelelahan sendiri.
Dewan sama sekali tidak memukul, dia tak ingin menyakiti siapapun.
Sampai akhirnya Rama terengah-engah, Dewan menghampiri sambil menepuk pundak pria itu.
"Obsesi boleh saja, tapi kamu salah mengekang Shinta. Jika sifatmu masih begini, sampai kapanpun, Shinta nggak akan mau." Bisik Brian setengah menunduk di dekat telinga Rama.
Rama menatap tajam, sambil tersenyum sinis dia membalas ucapan Dewan. "Nggak usah sok suci, gue pegang kartu AS Kakak lo. Gue bisa hancurin elo kalau masih berani deketin Shinta."
Dewan mengrenyit, apa hubungannya Kak Lia sama Rama? Suka mengada-ada ni bocah.
Dewan mengulum senyum, "belajar yang bener aja, nggak usah urusin hidup orang lain."
Dewan beranjak berdiri, hendak menaiki motornya saat anak buah Rama maju mengeroyok Dewan.
Satu dua serangan bisa Dewan tangkis, tapi menghadapi sepuluh orang sendirian, sudah pasti dia kalah.
Beruntung polisi datang sebelum Dewan tumbang. Teman-teman Rama diciduk, saat polisi menangkap Rama, anak itu membisikkan sesuatu kepada polisi.
Polisi mengiyakan, lalu Rama berjalan mendekati Dewan yang tersungkur dijalan, dengan punggung bertumpu pada tembok pagar beton.
Giliran Rama yang berjongkok didepan Dewan. Dia memegang ponsel, mengarahkan layar didepan Dewan. Menampilkan slide demi slide foto Kakaknya dengan seorang pria sedang beradegan intim.
Rama mendekatkan bibirnya didekat telinga Dewan. "Dia bokap gue!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Ersa
lah pegimane ceritanya rama dapat foto2 itu?... masuk ke apartemem Mel? ato Bokapnya sering diem2 merekam kegiatan panas mrk?🤔
2023-11-16
0
Madonna Donna
woow 😊😘
wiiw 🤭😀
weew 😁😂
2023-11-16
0