Pelatih Yoga

Pulang dari kantor polisi, Dewan langsung masuk kamar. Dia tahu Melia dan Brian sedang adu mulut di luar sana.

Bukan dia nggak peduli, tapi Dewan pikir dia perlu mandi, menjernihkan pikirannya lebih dulu. Dia bisa saja emosi melihat Kakaknya dalam keadaan kepala panas seperti ini

Sepanjang jalan pulang, dia lebih banyak diam. Nggak nanya apa-apa ke Melia ataupun ke Brian.

Meski beribu pertanyaan bercokol di kepalanya.

Melihat foto di ponsel Rama tadi, seolah menjawab sudah bagaimana kakaknya hidup dengan baik selama ini. Tubuh cantik terawat, outfit branded yang nggak murah, juga kendaraan mentereng.

Dewan pikir Melia benar-benar pelatih yoga, seperti yang dikatakan Kakaknya itu tempo hari, saat Dewan tanya kemana perginya Lia selama ini.

Bentuk tubuh Lia yang bagus, membuat dewan percaya begitu saja.

Dan ternyata, Melia tidak sepenuhnya bohong, Melia memang melatih yoga. Tapi khusus melatih yoga suami orang.

Eh, apa ini berarti Kakaknya seorang pelakor?

Dewan menyalakan shower, ia mengguyur kepalanya yang panas dengan air shower yang dingin. Ia memejamkan matanya menahan perih luka di wajahnya.

Dewan mencoba kuat selama ini, dari awal berusaha menjadi laki-laki sejati yang tidak ingin mencontoh setiap perbuatan atau perkataan bapaknya yang kasar.

Ia sakit setiap melihat ibu dan Kakaknya disakiti.

Saat Lia pergi dari rumah ini, Dewan senang. Bukan karena membenci Melia, tapi ia berharap dengan pergi, Lia akan bahagia diluar sana.

Lalu bapaknya sakit, meninggal sampai ibunya menyusul.

Bukan dia tak ingin menangis, bukan dia tak punya hati. Tapi dia hanya ingin terlihat kuat. Ia masih punya Melia di dunia ini. Jika ia lemah, bagaimana dengan Kakaknya?

***

Aku berdiri didepan pintu kamar Dewan. Tangan kananku membelai daun pintu bercat putih itu perlahan.

Sudah setengah jam seperti ini, aku belum juga memiliki keberanian untuk membuka pintu ini dan menjelaskan semua ke Dewan.

Dua belas tahun terakhir aku tak pernah mengawatirkan hidupku. Kujalani semua tanpa beban, meski aku tahu ini semua nggak bener.

Aku tak peduli dengan orang lain selain diriku sendiri.

Tapi melihat mata Dewan yang menatapku penuh kecewa...

Hatiku sakit.

Bagaimana bisa sesakit ini?

Ku tekan-tekan dadaku yang berdesir nyeri. Aku takut Dewan menjauhiku. Yang lebih buruk lagi, dia membenciku.

Dadaku tambah sakit.

Brian datang, aku melengos.

Kami baru saja berdebat sengit. Aku masih sakit hati dia menyebutku pecun dang, hanya gara-gara kubilang akan memberikan pengertian ke Dewan besok saja.

Selain belum siap, aku juga bingung harus bicara apa. Dewan masih anak-anak, ya Tuhan!

"Kenapa masih disini? pintunya dikunci?" Tanya Brian setengah mengejek.

Dia mengulurkan tangan, meraih handle pintu.

Saat pintu terbuka, dia tersenyum sinis ke arahku. Sumpah mukanya berkali-kali lebih nyebelin kali ini.

Tapi, gaimana bisa aku marah, kalau saat ini hanya dia orang yang bisa ku andalkan.

Aku mengikuti Brian masuk.

Dewan terlihat merenung di balkon kamarnya. Pandangannya menerawang jauh kedepan.

Pintu geser dari kaca menuju balkon, terbuka lebar-lebar. Membuat gorden putih yang menjuntai kebawah berkibar-kibar di tiup angin malam.

Dia menoleh sekilas saat melihatku dan Brian masuk.

"Kak Brian, bisa tinggalin kita berdua bentar nggak?" Ucap Dewan sambil masuk kedalam dan duduk di ranjangnya.

Brian tersenyum, "tentu saja. Aku kemari cuma mau pinjam ini." Brian mengangkat gitar yang tergeletak disamping ranjang.

Pinter banget ngelesnya si Yayan. Aku mengumpat dalam hati.

Brian keluar meninggalkan aku yang berdiri canggung ditengah kamar Dewan yang luas ini.

Dewan menatapku miring. Poni ikalnya yang setengah basah, menjuntai menutupi sebagian matanya. Tangan kirinya memegang kaleng soda. Tangan kanannya menepuk-nepuk ranjang disampingnya, menyuruhku duduk.

Perlahan aku mendekati Dewan.

"Kakak minum apa?"

Aku memutar mataku menelisik kamar Dewan. Untuk ukuran cowok, kamar ini cukup rapi. Catnya warna biru laut yang meneduhkan. Barang-barang Dewan juga nggak terlalu banyak, jadi kamar ini terasa lega.

Ada ring basket menempel ditembok, juga bolanya yang tersimpan rapi di keranjang pojok, khas anak laki.

Beberapa alat musik seperti gitar dan drum, meja belajar dan kursi, juga kulkas dua pintu.

Dewan membuka kulkas, mengambil botol jus berwarna merah, atau ungu ya? Dan memberikan padaku.

"Ini jus buah naga. Aku yakin Kakak belum pernah minum ini." Jelas Dewan.

"Apa rasanya aneh?" Aku mengamati botol jus ini sambil mengernyit.

"Enak dong, kan udah di mix sama pisang. Cobain deh."

"Ini kebanyakan, Kakak takut nggak habis. Ada gelas?"

Dewan terkekeh, ia meraih gelas disamping kulkas."

Aku menuang sedikit, lalu mencecapnya.

"Wow, ini enak." Mataku berbinar. Jujur aku memang belum pernah makan buah naga.

Kalau bikin jus paling apel, jeruk, melon, pisang, mangga, di mix pake sayur atau apalah. Yah, yang gitu-gitu aja.

Buah naga menurutku rasanya pasti akan aneh seperti wortel. Hambar dan aneh. Makannya aku nggak berniat mencoba. Aku nggak suka wortel.

"Kakak pasti nggak percaya, kalau nggak di mix pake pisang, buah naga rasanya mirip-mirip wortel loh, tapi sedikit manis dan berair."

"Masaaa??" Tanyaku tak percaya sambil menghabiskan jus yang ku tuang tadi.

Dewan terkekeh.

Aku memicingkan mata melihat benda aneh di dekat meja belajar.

"Kamu bisa main Biola?" Tunjukku ke benda yang kumaksud.

"Sedikit... yang ini punya temanku, Jeffry namanya. Gara-gara pernah jatuh cinta sama wanita namanya Violin, dia sampai beli alat musik ini." Dewan meraih benda itu, lalu menempelkannya dipundak, perlahan dia menggesek biola itu dan memainkan sedikit nada.

"Oiya, apa Kakak suka musik?" Tanya Dewan sambil mengembalikan Violin ke tempatnya.

"Pasti Kakak suka, kan pelatih senam. Masa nggak suka musik, aneh kan?" Dewan terkekeh.

Aku terdiam, lalu sedikit menghela nafas.

"Dewan... Kakak minta maaf."

Dewan mengangkat tangannya, meminta aku berhenti bicara.

"Please, jangan minta maaf. Kakak cukup bilang, semua yang dikatakan Rama itu bohong, aku percaya loh ini."

Aku menggenggam tangan Dewan.

"Kakak tahu kamu kecewa, tapi beginilah adanya. Kakak bisa hidup selama ini juga dari bekerja seperti itu."

"Dari begitu banyak pilihan pekerjaan, kenapa Kakak mau jadi wanita panggilan?"

Dadaku berdenyut lagi saat Dewan memanggilku dengan sebutan wanita panggilan. Kenapa jabatanku jadi berasa rendah ya?

Aku menunduk.

"Apa tujuan Kakak membayar kontan karma untuk Papa?" Tanya Dewan lagi, kali ini dia menatapku penuh selidik.

Ku palingkan wajahku, tak berniat menjawab pertanyaan Dewan, karena semua yang dikatakannya benar. Hanya aku cukup risih bicara gamblang seperti ini dihadapan anak, yang menurutku masih bau kencur.

"Aku mau Kakak berhenti. Mulai semua dari awal."

"Nggak semudah itu." Cicitku.

"Atau selamanya Kakak nggak usah pulang kerumah ini lagi."

***

Terpopuler

Comments

Rahmawati

Rahmawati

dewan udah dewasa jd gk meledak ledak saat ngomong sm kakaknya

2023-11-29

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!