Aku menatap nanar tubuh yang sudah terbujur kaku di hadapanku itu. Berselimutkan kain putih dari ujung kepala hingga kakinya.
Ada Dewan disana, menatapku tanpa ekspresi. Pandangannya hampa, lalu dia mundur dan terduduk lemas diujung bangku rumah sakit.
Ku hampiri jasad Mamaku, kubuka penutup wajahnya perlahan.
Terakhir kalinya, aku ingin melihat senyum terukir di wajah lelah Mamaku.
Aku menutup mulut. Perlahan ku tutup lagi wajah yang memang tertidur dengan senyuman diwajahnya itu.
Aku tahu Mamaku sudah bahagia disana, bebannya sudah selesai, rasa sakitnya sudah hilang. Dia bisa tersenyum selamanya diatas sana.
Aku yang terlambat.
Iya benar, aku yang terlambat.
Terlambat untuk apa?
Untuk mendengar permintaan maafnya? Terlambat melihatnya untuk yang terakhir kali di penghujung hidupnya? Atau terlambat mendengar penyesalannya?
Aku pun tak tahu. Hanya ku pikir, aku terlambat.
Aku tak tahu Mama sakit. Sejak aku minggat dari rumah...
Tidak.
Aku di usir, bukan minggat.
Aku memblokir orang-orang yang kemungkinan bisa menyambungkanku dengannya, dengan keluargaku.
Semuanya.
Alasan itu pula yang membuatku malas bersosialisasi dengan banyak orang. Karena ujung-ujungnya pasti ada satu dua yang sok pahlawan, sok-sokan mendamaikan kami.
Sori, aku sudah terlanjur sakit hati.
Papaku yang kaya, arogan dan tamak itu, masih kurang menumpuk hartanya dengan menjualku.
Sialan.
Dia berencana menikahkanku dengan relasinya. Katanya jika mempunyai mantu yang lebih kaya, dia akan mati dengan tenang.
Aku bersumpah saat itu, sampai Papaku mati, aku tidak akan sudi menikah.
Biar bandot tua itu sengsara bahkan setelah kematiannya. Sengsara di alam kubur sana karena perbuatannya.
Jahatkah aku seperti itu? Hanya Tuhan yang tahu. Tapi dimataku, ini adalah konsekuensi dari perbuatan Papa.
Ada asap ada api, ada sebab ada akibat.
Kau tidak tahu bagaimana perlakuannya padaku, pada Mamaku. Dia seperti hewan, menjijikan!
Tapi kini bukan hanya Papa yang mati, Mama juga ikut menyusul.
Aku tidak membunuh mereka. Tapi aku pastikan, Papaku mati dengan membawa beban dan penyesalan.
Mamaku orang baik, dia satu-satunya yang membelaku. Meski harus merasakan sakitnya di hajar Papa. Katanya sakit di tubuhnya bisa diobati, tapi aku tahu sakit di hatinya tidak akan pernah bisa hilang.
Mama...
Wanita bodoh, ia mengabdikan hidupnya untuk laki-laki yang salah.
Meskipun hidupnya terjamin, dilimpahi harta dan kehormatan. Tapi perlakuan Papa semena-mena kepadanya.
Dipukul, ditendang sampai diludahi, itu sudah biasa ku lihat. Tapi Mama selalu tersenyum didepan kami, dia tak ingin aku dan Dewan melihat air matanya.
Saat aku beranjak remaja, aku baru tahu selain perangainya yang buruk, ternyata Papa juga punya wanita lain di belakang Mama. Bukan hanya satu, tapi banyak.
Aku mengutuknya kala itu. Tapi Mama masih tetap bertahan.
"Jika Mama menyerah, bagaimana nasipmu dan Dewan? Asal Papa tidak menyakiti kalian, Mama akan baik-baik saja."
Masih ku ingat kata-kata itu. Mamaku yang malang, Mamakku yang bodoh.
Papa memang tidak memukulku dan Dewan, tapi perlakuannya padaku semena-mena.
Dia jelas menyayangi Dewan, karena dia anak laki-laki penerus keluarga ini. Penerus perusahaan yang Papa punya.
Kini lihatlah perjuanganmu, Ma... kenapa kau tak memilih membunuh bandot tua itu diam-diam alih-alih hanya pasrah dengan keadaan.
Sekarang Papa mati, kau malah ikut pergi. Apa yang bisa kau nikmati?
Aku memijit pelipisku. Ku lirik Dewan yang duduk di pojokan sambil menundukkan kepalanya. Jenazah Mamaku sedang disucikan didalam.
Perlahan ku hampiri adikku itu. Kini ia sepenuhnya menjadi tanggung jawabku.
Aku tahu anak ini menangis dalam diam. Hatinya memang lebih lembut dari pada aku yang perempuan.
Mungkin benar jika anak sulung itu kebanyakan mempunyai hati yang kuat, juga keras kepala.
Kuraih tangan Dewan perlahan, ku genggam dengan lembut.
Dewan mendongak, matanya merah. Aku tahu anak ini sedang pura-pura baik-baik saja. Dasar bocah!
"Kak Brian..." Gumam Dewan lirih. Matanya malah fokus menelisik Brian, yang akupun lupa jika kesini dengannya.
Aku menatap mereka bergantian. "Kalian saling kenal?" Tanyaku.
Dewan menatapku tak percaya.
"Kak Lia tadi kesini dengan Kak Brian?"
Aku mengangguk.
"Kakak beneran nggak tahu siapa Kak Brian?" Lanjut Dewan lagi.
Aku mengrenyit, "dia temanku." Jawabku singkat dan tak yakin.
"Iya, teman SMA Kakak, lalu..." Pancing Dewan.
Aku memiringkan kepalaku sambil menatap Brian. Sialan! Aku malah gagal fokus. Beneran minta di hajar di atas ranjang laki-laki ini.
"Ck...dia orang yang ingin Papa jodohkan dengan Kakak. Relasinya Papa!"
Aku melengos, dalam keadaan seperti ini masih aja bercanda.
"Sudahlah, Kakak tahu kamu pasti terpukul, sama, Kakak juga. Tapi jangan terlalu terbawa suasana, semua sudah takdir. Kita pun harus melangkah maju." Ucapku sambil mengelus-elus tangan Dewan.
"Kakak ngomong apa sih?"
Ku tempelkan ujung jari telunjukku di depan bibir.
"Ssstt... Ayo kita bawa Mama pulang."
Aku beranjak berdiri, ku gandeng tangan Dewan. Seperti dulu saat dia menangis ketakutan karena melihat Papa membentakku.
Dewan melepaskan pegangan tanganku, kini anak itu menahan pundakku dengan kedua tangannya.
Astaga, aku lupa adikku ini sudah beranjak dewasa. Bahkan tingginya sudah melebihi aku.
"Kakak tahu siapa orang itu? Orang yang membuat Kakak di usir dari rumah?"
Kudengar Brian berdecak. "nggak usah bikin cerita, seolah-olah aku yang jahat dong..." Protesnya.
Aku menatap Dewan yang tersenyum miring, mengejek Brian.
Hey, mereka berdua sepertinya terlihat akrab. Apa sih sebenarnya yang sudah terjadi?
Aku tahu persis siapa yang ingin Papa pinang untuk jadi menantunya. Seorang laki-laki tua seumuran Papa.
Malam itu diam-diam aku menguping percakapan mereka. Malam hari saat aku terbangun karena tenggorokanku kering.
Aku lupa membawa tumbler ke kamar. Jadi mau nggak mau harus turun ke dapur. Kamarku dilantai dua.
Aku melewati ruang kerja Papa, masih terang dengan suara orang bercakap-cakap cukup keras karena pintu tidak tertutup sempurna.
Awalnya aku cuek, tapi saat mendengar namaku disebut, aku penasaran juga.
Selesai minum dan mengisi penuh tumblerku, aku melipir nguping di dekat pintu.
"Tapi apa Lia mau?" Suara laki-laki asing.
"Harus mau, siapa yang bisa menolakmu sih? Hahaha..." Ini suara Papa.
"Kau atur lah bagaimana baiknya. Masih ada waktu, anak itu juga masih sekolah, kan?"
Lalu aku berlari ke kamar, tak mau lagi mendengar omong kosong itu.
"Kak..." Dewan menatap Brian penuh tanya. Ia menyadari ketidaktahuanku.
"Ehem, Lia..." Brian memposisikan tubuhnya menghadap ke arahku.
"...kamu ingin tahu kan sejak kapan aku jadi penguntit?"
Aku mengangkat tangan kiriku, menginterupsi ucapan Brian.
"Jelaskan semua setelah pemakaman Mama, Dewan ayo kita pulang."
Aku melangkah menuju pintu keluar.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Erna Yunita
trus gmn nasib Dara...... 🤫
2024-11-19
0
Erna Yunita
Jedderrrrrrrrrrr...... samber gleeeedeeeekkkkkk
2024-11-19
0
Natania tsani
oalah.. klo tau yg di jodohin ke kamu itu brian bukan bandot pasti kamu g akan kabur
2024-01-31
0