Aku menatap Dewan tajam saat sampai di kantor polisi. Dengan tangan berlipat didepan dada, aku ngomel-ngomel tentu saja.
Tidak peduli beberapa pasang mata polisi yang jaga di depan memandangku. Aku tetap ngomel.
Polisi tidak mengijinkanku membawa pulang Dewan dengan alasan aku bukan walinya. Sial, aku nggak bawa bukti apapun kesini.
Terpaksa ku hubungi Brian. Dia on the way kesini.
"Jadi begini kerjaan kamu selain kuliah? Tawuran? Berantem? Hm?"
"Tawuran sama berantem, sama aja Kak."
Dewan terlihat santuy tanpa merasa bersalah. Anak itu menyandarkan punggungnya di kursi tunggu. Padahal bibirnya sobek, jidatnya juga bonyok tak karuhan. Sesekali anak itu meringis memegangi tangannya.
"Lagian aku hanya membela diri." Lanjut Dewan lagi.
"Jangan kasih alasan nggak masuk akal, tunggu sampai lawanmu itu keluar. Kakak mau dengar versi dia."
"Cih, lebih percaya sama orang lain." Cibir Dewan.
Aku menyipitkan mata menatap adikku ini, "kenapa? Takut, hm? Pasti Kakak bela kamu kalau benar, tapi kalau kamu yang salah, jangan harap selamat dari ini." Ku kepalkan tangan didepan wajah Dewan.
Anak itu malah terkekeh, aku tambah kesal.
Kalau bukan di kantor polisi, sudah habis ku bantai anak ini. Sekalian saja ku bikin bonyok.
Aku mendengus tak sabar. Berkali-kali aku mondar mandir menunggu anak itu keluar.
Saat aku datang, Dewan sudah duduk disini, saat kutanya polisi, 'temannya' tawuran sudah bubar. Tersisa satu yang masih di interogasi didalam bersama walinya. Anak ini yang katanya biang kerusuhan. Pingin lihat muka walinya, gimana bisa punya anak sial an gini?
***
Jam delapan tepat saat Brian sampai di kantor polisi.
Melia terlihat berdiri dipojokan sambil melipat tangannya di depan dada. Wanita itu masih memakai baju yang sama seperti tadi siang.
Celana jeans-nya memang tidak terlalu mengganggu, meski tetap membentuk pan tatnya yang bulat berisi itu. Tapi bisa nggak sih, pake jaket apa cardigan? Ya kali ke kantor polisi pake tank top doang. Sue emang si Lia.
Brian ingin mengumpat, tapi ia tahan.
Disamping Lia, Dewan duduk sambil memejamkan mata. Ujung bibirnya sedikit sobek, juga pelipis dekat mata terlihat biru-biru.
Brian menghampiri mereka.
"Kak Brian..." Cicit Dewan. Ia terlihat sungkan saat Brian agak berlutut di depannya.
"Kamu nggak papa kan?" Tanya Brian sambil menelisik wajah Dewan, lalu beralih ke tubuhnya.
"Errr... nggak papa." Jawab Dewan sambil melirik Melia.
Brian menghela nafas, ia cukup lega melihat kondisi Dewan yang baik-baik saja. Setidaknya hanya luka-luka yang nggak terlalu serius, bisa diobati sendiri di rumah.
"Apa kata polisi?" Brian berdiri di depan Melia.
"Biasalah, anak muda. Kaya yang nggak pernah muda aja." Jawab Lia.
"Mana anak lain yang terlibat tawuran? Kenapa cuma Dewan yang ditangkap?" Brian celingukan.
"Satu masih didalam, yang lainnya sudah dijemput wali masing-masing." Jawab Dewan.
"Dewan sudah selesai di interogasi, tinggal nunggu walinya." Melia melirik Brian sinis.
Ia sedikit sakit hati saat polisi tidak memberikan ijin saat akan membawa Dewan pulang. Posisinya memang nggak penting sih di keluarga ini. Kalah sama Brian yang notabene bukan siapa-siapa.
Brian berjalan menghampiri polisi, ia merogoh dompet di saku belakang celananya. Kurang paham apa yang diberikan Brian kepada polisi itu sehingga si polisi menganggukkan kepalanya patuh.
Cih, birokrasi negara berflower. Yang kaya yang berkuasa. Mirip hukum rimba, yang kuat adalah raja, memuakkan sekali. Maki Lia dalam hati.
"Ayo, kita pulang." Seru Brian sambil mengulurkan tangannya di depan Dewan.
"Tunggu!" Sela Lia. Dia merasa harus menahan Dewan dan Brian pulang sebelum melihat anak yang masih ada didalam itu.
"Ada yang masih ku tunggu." Ucapnya menjawab pandangan penuh tanya dari Dewan dan Brian.
"Nggak usah ribut-ribut di kantor polisi." Brian mengingatkan.
"Cuma pingin lihat doang." Sahut Melia keras kepala. Entah nanti kalau ketemu tu bocah, mungkin bisa ia hadiahi bogem mentah sekalian.
Saat Brian ingin memapah Dewan, pintu ruangan yang ditunggu terbuka. Anak laki-laki meneteng jas almamater itu keluar, bersama seseorang berseragam polisi. dan...
Mas Bima.
Melia membeku di tempatnya.
Tadi sebelum terima telfon dari Dewan, memang Bima terlebih dahulu pergi terburu-buru. Ada hal penting pamitnya.
Bagi Lia, sudah biasa Mas Bima pergi karena pekerjaannya memang menuntut waktu 24 jam, tujuh hari tanpa kompromi. Dimanapun, kapanpun ia harus siaga.
Tapi nyatanya, ketemu disini dengan keadaan yang berbeda membuatnya sedikit takut.
Takut identitasnya terbuka didepan Dewan. Walaupun ia yakin tidak ada yang tahu hubungannya dengan Bima kecuali Brian, mungkin saja.
Brian terang-terangan menatap Melia dengan pandangan mengejek.
Bima terlihat berjalan menghampiri.
"Halo, saya Bima, wali dari Rama." Suaranya yang berat seperti mengintimidasi. Berbeda sekali dengan Mas Bima yang diatas ranjang, Melia merinding.
Brian menjabat tangan Bima yang di abaikan Melia.
"Oh, hai Pak Bima, saya Brian, wali dari Dewan." Balas Brian dengan wajah full senyum kepalsuan.
"Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, saya rasa ini hanya bentuk kenakalan remaja pada umumnya. Mohon di maafkan jika memang anak saya yang bersalah." Ucap Mas Bima tulus.
"Sudahlah Pak, namanya anak-anak. Saya hanya berharap ini tidak berlanjut dikemudian hari." Jawab Brian sambil menatap tajam ke wajah Rama.
Bukannya takut, anak itu malah tersenyum bengal. Melihat wajahnya yang menantang, Melia emosi.
"Pak, bisa minta tolong anak bapak minta maaf ke adik saya?" Ucap Lia menyela obrolan basa basi kedua bapak-bapak di depannya ini.
Kelamaan deh.
Mas Bima tersenyum, ia melambaikan tangannya memanggil Rama.
"Cih, nggak sudi." Cibir Rama masih dengan senyum mengejek di bibirnya. Gemes banget bikin pingin meremas mulutnya itu.
"Rama..." Mas Bima mengeram, tapi Rama malah semakin menyeringai.
Anak itu mendekat, lalu berhenti pas di depan Melia. Ia menatap Dewan penuh kebencian. Dewan membalasnya dengan pandangan yang sama.
"Nggak sudi minta maaf sama adiknya pe la cur. Bagiku kalian sama. Sama-sama suka mengganggu hidup orang. Dasar nggak tahu malu!"
Buugghh!
Lia memekik saat Dewan meninju mulut Rama sekuat tenaga. Rama hampir jatuh saat Bima berhasil menangkap tubuhnya.
Tubuh Melia gemetaran melihat darah mengalir dari bibir Rama. Mungkin juga efek syok mendengar ucapan Rama barusan.
Beberapa polisi datang mendekat.
Mas Bima memberi tanda untuk jangan ikut campur. Dengan wajah meyakinkan bahwa ini bisa ia urus sendiri. Ketiga polisi itu memberi hormat lalu berbalik kembali ke tempatnya masing-masing.
Muka Lia memerah, ia mengalihkan pandangannya menatap Bima. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala pelan sambil menyusul Rama yang sudah menjauh meninggalkannya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Ersa
rama mungkin tahu klo Mel itu sugar ayahnya
2023-11-16
1