Warisan

Aku menatap berkas yang dibawa Om Hotmarito sambil cuek menyilangkan kaki.

Ku lihat beberapa kali Om Hotma melap keringat dinginnya. Gerah darimana coba? Full AC sejuk manja gini.

Apakah segitu beratnya beban si pengacara kondang itu? Bukankah dia sudah biasa menangani kasus yang lebih pelik dari sekedar membacakan wasiat orang yang sudah mati.

Kasus terakhir yang ku tahu dan masih saja nongol di media cetak ataupun elektronik, tentu saja kasus KDRT artis yutum yang dipukuli suaminya, siapa lagi kalau bukan si bule Sofia Anna.

Aku tidak mengikuti akun gosip ya, hanya beritanya suka muncul dan kulihat secara tak sengaja.

Om Hotma menang telak dong, si tersangka dapat hukuman setimpal tentu saja.

Nggak bisa di bayangkan berapa Sofia menghargai jerih payah si pengacara. Sudah pasti bertambah lah deretan koleksi kendaraan mewah milik Om Hotma di garasi rumahnya.

Sebenarnya aku tak peduli pada isi wasiat Papaku. Jika memang semua untuk Dewan, aku pun tak akan protes apa-apa. Aku ikhlas untuk adikku itu.

Toh aku bisa nyari duit sendiri, bisa berdiri tegak dengan kedua kakiku. Sudah biasa bagiku. Dengan dagu terangkat akan ku buktikan jika aku mampu hidup tanpa harta Papa.

Pengajian baru saja kelar, selain kerabat dan tetangga yang datang tanpa diminta, aku juga mengundang anak yatim dari panti asuhan dekat sini. Kedatangan mereka cukup menghiburku.

Setelah usai, semua pamit pulang kecuali kami, yang berkumpul di ruang tengah rumah Papaku ini.

Om Hotmarito dan asistennya, aku, Dewan, satu perwakilan keluarga pihak Papaku dan satu perwakilan pihak keluarga Mamaku.

Dan juga...

Brian.

Agak janggal sebenarnya laki-laki itu ada di sini. Tapi aku memilih mengacuhkannya.

Kulihat Brian masuk kedalam sebentar, dan kembali dengan membawa selimut kain Bali berwarna hijau.

Wah wah, apa-apaan ini? Hapal betul tata letak rumah ini, apa jangan-jangan dia juga punya kamar sendiri disini?

Dia menutupkan kain itu di pangkuanku.

"Ck..." Aku berdecak tak suka. Dia bukan siapa-siapaku, tapi yang kepanasan saat belahan pahaku ku umbar kemana-mana.

Aku hendak menyingkirkan kain itu saat dia menahan tanganku dan sedikit menekannya, lalu berbisik sepelan mungkin disamping telingaku.

"Jangan perlihatkan jika kamu sekelas ja la ng disini, atau Dewan akan kecewa pada kakaknya yang cantik dan sukses ini." Geram Brian lirih.

Aku mengumpat dalam hati, lalu kembali duduk tenang di tempatku. Sialan, dia memegang kartu AS ku.

***

"Wasiat apa-apaan ini?" Aku berdiri tegang sampai kain Bali yang menutupi pahaku teronggok naas di lantai. Tanganku mengepal kuat, yang ku inginkan saat ini adalah meninju muka Om Hotmarito.

Biar ku anggap muka itu muka bapakku yang sudah mati.

Sudah kubilang, tak jadi soal jika aku nggak dapat apa-apa. Tapi jika aset dan saham perusahaan semua di alihkan dan dikelola atas nama Brian sampai aku menikah sah dimata hukum dan agama, aku tak terima.

Ini merugikan aku yang notabene penganut faham liberal.

Jika aku tetap pada pendirianku, maka bagianku akan tetap untuk Brian. Dan punya Dewan akan dikelola anak itu saat sudah siap. Dan tetap dibawah pengawasan Brian.

Sialan! Siapa Brian ini sampai bisa membuat Papaku begitu percaya padanya?

Dia orang asing! Bisa saja menjilat Papa untuk menghancurkan aku dan Dewan.

Aku menatap sinis padanya, laki-laki yang kini menatapku dengan pongah. Ada senyuman licik di wajahnya.

Seandainya bagianku disumbangkan untuk panti atau yayasan yang memang membutuhkan, aku tak masalah. Itu malah lebih baik, sekalian membersihkan harta Papa.

Tapi jatuh ke tangan orang asing?

Owh, tidak bisa. Aku tak akan biarkan ini terjadi.

Aku meninggalkan ruang tengah dengan seribu rencana di kepalaku.

***

Aku sedang mondar-mandir di dalam kamar saat Dewan masuk dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang yang bahkan belum sempat ku buat tidur.

Kupikir setelah kematian Papa, semua akan berjalan normal kembali sebagai mana mestinya.

Tapi aku lupa, ada banyak hal yang harus di urus setelahnya. Termasuk mengenai harta warisan.

"Kakak gelisah?" Dewan menatapku yang duduk di ujung ranjang. Dia terlihat tenang.

Aku diam saja, tak ingin salah mengeluarkan statemen. Di mataku, Dewan masih saja anak-anak yang belum bisa di ajak ngobrol masalah seserius ini. Tugasnya hanya belajar yang bener, dah itu aja.

Anak itu melipat kedua tangannya di belakang kepala. Pandangannya menerawang, menembus atap plafon.

"Kakak mau tau nggak seberapa besar perjuangan Kak Brian untuk keluarga ini?"

Aku mendengus kesal, entah mengapa aku sedang tak suka mendengar nama itu disebut di depanku.

"Katakan dulu, seberapa besar arti Brian untukmu?" Tanyaku akhirnya. Kulihat Dewan terlalu dekat dengan Brian. Apa anak ini sudah di cuci juga otaknya?

"Kami dekat, dia lebih berarti dari Kak Lia."

Aku melempar bantal ke muka Dewan. Dia cekikikan sambil memindahkan bantal ke belakang kepalanya.

"Serius... Kak Brian itu seperti dewa."

"Cih..."

"Dengar dulu Kak, aku bukannya membual. Ini kenyataan." Sepertinya Dewan tak suka aku meremehkan Brian, dewanya itu.

"Papa sakit sejak Kakak pergi. Sejak itu dia tak lagi bermain perempuan, juga lebih banyak menghabiskan waktu sama Mama dirumah. Walaupun masih suka marah-marah nggak jelas, tapi Papa jelas banyak berubah.

Kak Brian, Papa anggap seperti anaknya sendiri, melebihi aku."

Dewan menjeda kalimatnya, ia duduk disebelahku.

"Tapi aku tak apa, aku malah senang."

Aku melirik Dewan.

"Papa meninggal sebulan sebelum Mama menyusul. Kak Lia mau tahu mereka sakit apa?" Dewan menatapku.

Aku memiringkan kepala. Ini yang belum ku tahu.

"Mereka terkena AIDS. Ini akibat dari perilaku Papa yang doyan gonta-ganti wanita. Saat tahu, Papa langsung di karantina di paviliun belakang. Tidak ada yang tahu soal ini kecuali aku dan Kak Brian."

"Lalu Mama? Jangan bilang..." Aku menutup mulutku, tak kuasa membayangkan kebodohan Mama.

Dewan menunduk, "persis seperti apa yang Kakak pikirkan."

Hatiku mencelos, aku sakit membayangkannya.

Sudah pasti Mama akan tetap melayani Papa meskipun nyawa taruhannya. Dan itu benar. Astaga...

"Dari Papa sakit, dari A sampai Z, Kak Brian yang urus. Dari perusahaan sampai urusan pembayaran listrik, belanja dapur dan gaji ART, semua. Aku hanya boleh belajar.

Awalnya Papa melarang semua orang mencari Kak Lia. Papa akan hukum jika sampai ketahuan ada yang mencari Kakak diam-diam."

Aku memejamkan mata menahan geram.

"Tapi di penghujung hidupnya, Papa meminta Kak Brian mencari Kak Lia, harus sampai ketemu bagaimanapun caranya."

Termasuk menjadikanku baby saat dia sendiri sudah punya istri.

Apa maunya Brian? Apa dia sakit hati saat ku tolak dulu? Baiknya kutanyakan nanti.

"Jadi Kakak jangan galak-galak kalau sama Kak Brian, dia banyak berjasa di sini." Dewan menasehatiku. Aku mencubit pipinya gemas.

Dewan begitu memuja Brian sebagai laki-laki panutan yang sempurna. Jika memang dia seperti dewa, aku akan lihat sejauh mana dewa itu mengkhianati istrinya.

Cih...

"Omong-omong, Kak Lia kemana aja selama ini?"

Aku mendadak gagu.

***

Terpopuler

Comments

Afternoon Honey

Afternoon Honey

menyimak bacaan

2023-11-07

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!