Aku tertegun melihat isi dalam kamarku yang sama sekali tidak berubah seperti saat terakhir aku di sini.
Hanya lebih rapi dan bersih.
Buku dan tas sekolahku juga masih ada.
Seprai dan gorden berwarna biru laut yang seirama, warna kesukaanku.
Perlahan aku duduk diatas ranjang. Ku belai ranjang itu perlahan sambil memejamkan mata. Meresapi wangi parfum ABG ku yang masih tertinggal di sini.
Mama benar-benar merawat kamar ini dengan baik. Detailnya, bahkan cat temboknya pun tetap sama.
Bagaimana aku bisa tidur jika semua kenanganku dan Mama ada di kamar ini? Dan seperti film, semua terasa diputar ulang di kepalaku.
Mama yang suka membelai rambutku saat aku sedang curhat sambil nangis gara-gara berantem sama teman.
Mama yang masih suka membacakan buku cerita sampai aku dewasa, padahal aku lebih suka baca novel sendiri.
Saat aku tertidur, Mama pasti memastikan aku tidur dengan nyaman.
Mama...
Tiba-tiba air mataku jatuh, aku menangis.
Aku tak kuasa lagi, susah payah aku terlihat kuat dan ikhlas melepas Mama. Tapi nyatanya kamar ini membuatku sedih. Atau karena aku sedang sendirian?
Aku mengusap air mata yang jatuh ke pipiku, bergegas aku keluar kamar menuju kamar belakang dapur.
"Mbok, numpang tidur." Pamitku ke Mbok Ira yang sepertinya sedang sibuk mengurus snack pengajian dengan beberapa asisten lainnya di dapur.
Mereka saling berpandangan saat aku masuk dan menutup pintu kamar Mbok Ira.
***
"Wah, ini beneran Mbak Lia. Lihat aja tangan sebelah kanannya ada bekas luka bakar. Itu kena minyak waktu main masak-masakan sama aku dulu."
"Tapi kenapa wajahnya berubah ya? Dulu ada tahi lalat di dagu bawah sini."
"Alah, si Mbok, kan bisa di laser itu tahi lalat biar nggak ganggu."
"Lah kalau bibirnya itu kenapa makin tebal sih? Perasaan dulu tak setebal itu."
"Kan bisa di buat pake lipstik biar makin seksi."
"Dadanya juga sekarang tambah besar..."
Hening.
"Tambah cantik yo Mbak Lia..." Suara Marni memecah kesunyian.
"Simbok lega anak ini baik-baik saja. Tak pikir..." Mbok Ira terdiam, lalu terdengar isakan kecilnya.
Aku ingin membuka mataku, tapi ku tahan. Aku juga pasti akan nangis kalau melihat mereka sedih. Jadi ku biarkan saja dulu.
"Ndak usah dipikir Mbok, Mbak Lia sudah kembali. Nanti kalau bangun lihat simbok nangis malah Mbak Lia ikutan sedih." Suara Siti.
"Yo Ndak bisa to Sit, pingin tak peluk sebenernya. Tapi kok pules gitu tidurnya. Kayak nggak tidur lamaaa banget."
Kembali hening.
"Yok balik dapur aja Mbok, nanti juga bangun."
Mereka menggunjingku, para asisten rumah tangga menungguiku tidur di ranjang Mbok Ira sambil menilai setiap inci tubuhku yang sudah banyak berubah setelah dua belas tahun tak bertemu.
Tidurku memang terganggu, tapi jujur malah pingin ngakak.
Sumpah Mbok Ira nggak kenal aku?
Juga Siti dan Marni.
Sungguh teganya mereka.
Aku menggeliat, meregangkan otot tubuhku yang kaku. Sungguh nyaman bisa berada di kamar ini.
Dulu kalau aku sakit, aku tidur di ranjang ini, kamar Mbok Ira, ditunggui Marni dan Siti sampai aku tertidur dan sampai aku bangun lagi.
Uniknya mereka diam sambil bertopang dagu memandangi aku. Entah apa yang mereka pikirkan.
Saat aku pergi juga, mereka bertiga yang paling histeris.
Singkatnya, temanku yang paling dekat adalah mereka.
Aku duduk di tepi ranjang, ku gulung rambut panjangku lalu berjalan keluar kamar.
"Mbok... lapar." Aku meringis menatap Mbok Ira. Ku ambil kursi tinggi di sampingnya.
Mbok Ira diam menatap aku, juga Siti dan Mira.
Simbok sigap mengambil panci kecil, mengisinya dengan air dan membuatkan aku Indomie rebus plus telur.
Marni mengambilkan keju dan Siti menata mangkoknya. Semua sibuk hanya masalah aku lapar.
Sebentar kemudian semangkok Indomie telur keju siap di depanku. Telurnya dua, aku tersenyum membelah telur setengah matang berwarna orange itu. Ku aduk menjadi satu biar gurihnya merata. Begini cukup, aku kurang suka kornet soalnya.
Aku makan dengan lahap.
Siti, Marni dan Mbok Ira menungguiku makan. Mereka menatapku seolah-olah aku ini sesuatu yang tidak nyata.
Aku cuek aja, ku selesaikan acara makanku.
"Mbak, mau jus wortel?" Tanya Marni sambil meraih mangkok kosong di depanku.
Aku mengrenyit, mereka kan tahu aku nggak suka wortel.
"Air putih aja." Jawabku.
Mereka malah saling berpandangan.
"Opo Simbok bilang, iki Mbak Lia tenan to? Ndak suka wortel. Cocok ." Mbok Ira tertawa lebar.
"Iya beneerrrr... Suaranya cedal, nggak bisa ngomong 'R'." Siti memegang tangan Marni kegirangan.
Aku berkacak pinggang pura-pura marah. Jadi mereka sedang mengetes aku rupanya.
"Jadi dari tadi kalian anggap aku apa? Astral?"
Mbok Ira menubrukku, aku gelagapan. Tubuhku oleng dan hampir jatuh dari kursi tinggi. Beruntung aku sempat pegangan ujung meja.
Disusul Marni dan Siti, mereka bertiga melingkar memelukku. Kami tertawa bersama-sama.
"Akhirnya... " Mbok Ira mengucap syukur sambil memelukku. "Kamu pulang Nduk, anakku..."
Dibelainya rambutku penuh sayang. Aku terharu. Aku menangkup pipi Mbok Ira yang semakin bertambah banyak keriput disana sini.
"Maafkan Simbok, hari ini ndak masak. Kamu pulang-pulang cuma tak kasih Indomie tok." Mbok Ira terisak.
Aku memeluk tubuh tuanya, "itu sudah cukup Mbok, tapi besok aku mau Soto Madura ya..." Gurauku.
Tangis Mbok Ira makin kencang.
Kami menunggunya sampai tenang. Mbok Ira kalau lagi nangis, makin diajak ngomong makin jadi. Ku elus punggungnya sampai Simbok jengah sendiri dan beranjak mencuci mukanya.
"Mbaakk, tambah ayu lhooo. Nanti ajarin aku bikin sayap mata seperti itu yaaa..." Siti senyum-senyum sambil menunjuk ujung mataku.
"Itu eye liner, Sitiiii! Bukan sayap mata!" Geram Marni. Dan terjawab sudah apa yang dimaksud sayap mata, aku juga baru tahu. Hahaha...
"Marni sekarang kamu kuliah, kan?" Tanyaku. Aku ingat Marni seumuran Dewan. Dan Siti lebih kecil lagi. Mungkin saat ini masih SMA.
Marni manggut-manggut ceria, matanya selalu bersemangat. Aku kadang iri dengan matanya yang bulat dan besar itu.
"Matanya biar apa pake sayap, Sit?" Mbok Ira menelisik mata Siti. Sekarang Simbok sudah sibuk menata snack lagi.
"Ya biar cantik kayak Mbak Lia to Mbok..." rengek Siti.
"Mbak Lia udah cantik dari dulu biar matanya nggak pake sayap juga. Lah kamu, takutnya yang terbang cuma matanya loh." Mbok Ira menggoda Siti.
Marni ikut terkikik.
"Iiihh, Simbok! Ngeledek teruuuusss...." Siti memonyongkan bibirnya kekanan, kekiri.
"Sudah, sudaahh... ayo ku bantu menata snack." Leraiku sambil beranjak mendekati tumpukan makanan ringan yang berderet diatas meja.
"Wah, ada kroket kentang." Aku mencomot satu dan mengunyahnya.
"Ini enaaakkk, pasti buatan Marni, kan?" Aku langsung tahu ini bikinan Marni, dia jago bikin snack basah seperti ini. Dan rasanya benar-benar khas tangan Marni.
Seperti merk kecap, sama-sama kecap tapi beda merk beda rasa.
Marni tersipu senang makanannya ku puji.
"Mbak cobain juga dong buatanku." Siti menyodorkan satu cup puding lumut berwarna hijau kehadapanku.
"Puding mah dimana-mana sama aja, manis doang, nggak ada rasa lain." Cibir Marni.
"Dih, kroket jugaa, sama aja cuma gurih asin manis nggak ada yang lain." Siti nggak mau kalah.
"Ada pedesnya juga kalau makannya lalap cabe rawit, komplit kan?"
"Sudaaahh... kalian ini ribuuuttt terus. Pusing Simbok dengernya." Mbok Ira melerai perdebatan antara kroket kentang dan puding lumut.
"Nih, kue kering bikinan Simbok, dijamin endul." Simbok mengajukan makanan andalannya.
"Iiiihhhhh Simboookkk... itu bikinan Marni!"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Erna Yunita
Ruuuuaaameeeee poollllll.... temu kangen yg seru
2024-11-19
0
Madonna Donna
anyway..
aku membayangkan situasi mereka ngobrol di dapur .. in my version 😁
but .. how is melati look like ?
beautiful woman with sex appeal and exotic Indonesian skin .
2023-11-07
1
Afternoon Honey
💐💖💐
2023-11-06
0