Dewan membanting kaleng soda yang sudah penyok ia remas-remas, lalu berteriak sekuat-kuatnya. Menumpahkan kekesalannya ke Melia yang nggak mampu ia tunjukkan di hadapan sang Kakak.
Samsak yang tergelantung dipojokan kamar, jadi sasaran kekesalannya. Ia memukuli samsak itu sampai kelelahan. Sampai tangannya yang luka, merembes keluar darah lagi.
Beruntung kamarnya ini kedap suara. Sekeras apapun dia teriak, nggak akan terdengar sampai luar.
Dulu Mama yang pasang kedap suara ini, karena Dewan suka berisik kalau sudah main alat musik. Dibuatkan studio musik sendiri di atas, masih aja bandel mainnya di kamar.
Sekarang setelah beranjak dewasa, kamar ini beralih fungsi jadi tempat penumpahan segala masalah galau labil anak muda.
Dewan masih jarang pakai, Zain juga, palingan Jeffry, tuh anak diem-diem tingkat stresnya melebihi presiden.
Jeffry suka ke pantai kalau lagi galau. Gara-gara pernah teriak-teriak di pantai, tu anak ditangkap penjaga pantai. Dikiranya orang minta tolong karena ada yang tenggelam. Nggak tahunya si Jupri. Auto kena denda sebungkus nasi Padang kan dia.
Jadi daripada kena masalah lagi, Jeffry pindah ke kamar Dewan deh. Mau teriak, nangis, guling-guling pun nggak bakal ada yang melarang. Paling diketawain doang sama duo sohibnya.
Ujung-ujungnya stelin musik dangdut, hilang semua perkara di dunia ini. Hobaaahh, tarik sisss, semongkooo...
Akhir-akhir ini aja Jeffry agak kalem terkendali. Udah ada pawang soalnya.
Melia baru saja keluar, Kakaknya itu tidak mengiyakan atau menolak permintaan Dewan untuk berhenti dari profesinya.
Lia hanya diam, ia minta waktu sedikit lagi. Sampai kapan? Itu yang membuat Dewan emosi.
Sudah tahu pekerjaan buruk, masih saja dipertahankan.
Toh mereka masih bisa hidup lebih dari cukup dari harta Papa. Apa susahnya meninggalkan pekerjaan seperti itu?
Pintu kamarnya diketuk tiga kali dengan pelan. Dewan diam saja, bunyi ketukan ini adalah kode. Ia langsung tahu siapa yang datang.
Sebentar kemudian seorang wanita masuk kedalam kamar, meneteng keranjang rotan kecil dan menguncinya. Buru-buru ia menghampiri Dewan.
"Mas, nggak papa to? Aku khawatir, tadi pulang kok nggak mampir ke dapur dulu sih?" Ucapnya sambil memasukkan beberapa botol jus buah kedalam kulkas. Botol-botol lain yang sudah kosong ganti memenuhi keranjangnya. Wanita itu juga memungut kaleng yang barusan Dewan banting.
Dewan diam tanpa expresi, ia meraih tangan wanita itu, menariknya perlahan lalu meluknya. Dihirupnya aroma wanita ini dalam-dalam.
Ia suka wangi ini, wangi tubuh yang menenangkan. Ia membenamkan wajahnya kedalam ceruk leher lebih dalam, mencari kedamaian disana.
Wanita itu membelai punggung Dewan, seolah mencoba mengatakan bahwa semua pasti baik-baik saja.
"Coba, sini lihat lukanya..." Si wanita mengurai pelukan Dewan, setelah beberapa saat mereka berpelukan. Ia membimbing Dewan duduk di bibir ranjang lalu mengamati wajah kekasihnya ini.
"Tahu dari siapa aku terluka?"
"Tadi dengar sedikit pas Mbak Lia sama mas Brian berantem diluar."
"Astaga, sudah bonyok begini kenapa masih aja ganteng, sih?" Gerutu wanita itu. Dewan tersenyum kecil, ia meraih pinggul kekasihnya lalu membenamkan wajahnya kedalam perut kecil itu.
"Sebentar, biar ku obati." Ucap wanita itu sambil membelai rambut Dewan.
Lincah si wanita meraih kotak P3K di laci meja paling bawah. Membasahi kassa dengan cairan pembersih luka, perlahan ia mulai membersihkan luka Dewan dari wajah sampai tangan dan kaki, terakhir ia mengoleskan salep luka.
"Mas, tadi mandi, ya?"
"Iya."
"Jangan kena air dulu, besok di lap-lap aja."
"Hmm..."
"Butuh pain killer?"
"Nggak, aku butuhnya kamu."
"Kan udah disini... Mas belum makan malam, kan? Nanti biar tak bawa kesini."
"Aku maunya makan sama kamu."
"Iya, nanti ditemenin. Aku ke dapur dulu. Kerjaanku masih belum beres."
Dewan meraih tangan wanita itu saat hendak beranjak pergi.
"Nggak usah capek-capek, pergilah tidur, ini sudah larut."
"Tinggal sedikit, Mas. Tunggu ya."
Sambil tersenyum, wanita itu melenggang meninggalkan Dewan.
***
"RUPS berapa hari lagi, Fel?" Brian memasang dasinya buru-buru, juga jam tangannya.
RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Dikarenakan pemiliknya, Agung Adiguna sudah meninggal, jadi perlu dilakukan pemilihan hasil suara oleh pemegang saham untuk memilih direksi.
Untuk saat ini posisi Brian adalah komisaris. Posisi direktur masih kosong, jadi tugasnya merangkap sesuai mandat owner.
RUPS besok adalah sebagai bentuk peneguhan sesuai wasiat agung Adiguna.
Meski sepeninggalan Agung, saham Indoguna sempat turun, tapi Brian memastikan masih diposisi aman.
Saat ini ia sedang berada di kantor PT Inti Indoguna, kantornya Agung Adiguna, bapaknya Melia.
Pagi-pagi banget rapat dikantornya sendiri, langsung cus kesini. Jangankan sarapan, ngopi aja nggak sempet.
Bajunya kotor karena kehujanan pas ngasih kunci ke valet parking, Brian main lari aja, padahal hujan lagi gemes-gemesnya. Nunggu jasnya kering kelamaan, ia harus ketemu vendor. Mereka sudah menunggu di ruang meeting.
"Tiga hari lagi, Pak." Feli membantu menyingkirkan handuk kecil dan membereskan peralatan lainnya.
"Baguslah, kita bisa umumkan secepatnya biar saham Indoguna cepat stabil." Jawab Brian sambil menyisir rambutnya kebelakang.
Brian sedikit mematut dirinya di kaca, lalu melangkah keluar dari walk in closet dengan langkah lebar.
Feli mengangguk, dia mengekori Brian menuju ruang meeting. Mau tak mau Feli ikut mengimbangi ritme kerja Brian yang serba cepat. Semua diusahakan harus selesai sesuai jadwal.
Brian memegang kendali dua perusahaan raksasa sekaligus. Punyanya dan milik pak Agung. Meski punya Brian sendiri sedikit banyak masih dibantu Pak Dermawan, Feli tahu ini tak mudah, tapi Brian mampu mengendalikannya dengan baik.
Dulu saat masih kerja dengan Pak Agung, kerjaan Feli cukup santai. Nggak terlalu yang tegang tegang gimana gitu. Setidaknya, ia masih bisa ngopi cantik pas coffe break.
Pas dipegang Brian, jangankan ngopi, tidur aja nggak sempet. Hiperbolanya gitu ya gaess yaaa...
Bukan Feli mengeluh, ia hanya sedang menyesuaikan. Tubuhnya memang meronta meminta istirahat, tapi setiap melihat Brian, ia jadi malu sendiri.
"Setelah ini saya ada urusan sebentar, mungkin habis makan siang baru kembali."
"Oke Pak." Jawab Feli singkat.
Feli tahu, jadwal makan siang selalu Bosnya sempatkan untuk pulang, makan siang bareng istrinya.
Sweet banget nggak sih? Seolah semua yang dilakukan Brian, sempurna di mata Feli.
Bos mudanya yang ganteng, tegas, pintar dan berwibawa. Plus familly man banget. Paket komplit deh. Idaman wanita banget, sayang sudah berkeluarga. Kelihatannya Pak Brian bucin parah ke istri.
Pupus sudah harapan Feli. Susah menggoda laki-laki tipe Brian ini.
Sambil membuka pintu meeting room, Feli membiarkan Brian masuk duluan, ia menyusul sambil menutupnya lagi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Ersa
feelingku sbg pembaca Si Yayan. dg Dara menikah krn sesuatu mgk Dara sakit atau Yayan berhutang budi atau apa gitu lah....
2023-11-18
1
Ersa
aku lgsg cuus ke part mel ngobrol sama ART nya , penasaran yg jadi kekasih dewan
2023-11-18
2