Pria Lalim

Pemakaman Mama berlangsung singkat. Hanya dihadiri beberapa kerabat dan relasi saja.

Itupun yang benar-benar berdiri mendukung dibelakang Mama selama ini.

Andai Mama tahu, teman-teman arisan sosialitanya bahkan tak ada satupun yang menampakkan batang hidungnya.

Miris sekali, di dunia berteman karena harta. Setelah mati tetap doa yang menjadi teman setianya. Sedangkan temannya di dunia, sudah pergi, karena tak ada lagi harta yang menguntungkan bagi mereka.

Aku dan Dewan berdiri berdampingan. Kami mengenakan pakaian putih dan kaca mata hitam.

Sama-sama menatap dua gundukan tanah merah yang masih basah dan bertabur bunga didepan sana dengan pikiran masing-masing.

Mama dimakamkan tepat disamping Papa. Di pemakaman artis paling mahal di kota ini.

Aku tak heran, mengingat Papaku arogan dia pasti akan membeli lahan seluas 200 meter persegi di atas bukit ini untuk tempat istirahat terakhirnya, area mercy mansion peak of the peak estate.

Setiap unit peak estate bisa di isi sampai 8 lubang. Yang artinya masih ada slot untukku dan juga Dewan.

Tunggu, aku bahkan tak yakin Papa memberikan slot untukku juga.

Memang indah pemandangan dari sini, letaknya paling tinggi diatas bukit. Suasananya sejuk dan tenang. Ada jalan khusus untuk sampai disini, jadi memudahkan proses pemakaman atau keluarga yang ingin ziarah dengan tenang.

Dan ku amati, sepertinya Papa mendesign ini sendiri, ada gazebo kecil dan juga kolam ikan buatan. Ada sentuhan khas yang membuat aku langsung tahu, sentuhan ini khas Papa.

Sekali lagi aku tidak perduli. Jika sudah mati urusannya sama akhirat. Jangankan menikmati keindahan pemakaman ini, untuk selamat dari pertanyaan malaikat saja kita tak tahu.

Ia membeli tempat paling mahal dan nyaman untuknya istirahat, tapi lupa kelakuannya di dunia lah penentuan nyaman atau tidaknya dia tidur disini.

Jangan heran pemikiranku sedalam ini, biarpun ja lang, aku juga punya impian ingin hidup lurus suatu saat nanti, sebelum Tuhan mencabut nyawaku. Berharap ada surga tersisa untukku nanti.

Dewan menyentuh pundakku. Aku mengangguk lalu berjalan beriringan kembali ke dalam mobil.

***

Aku masih tertegun di depan teras rumah. Dewan sudah mendahuluiku masuk kedalam.

Semua seperti mimpi bagiku.

Kupikir aku tak akan pernah menginjakkan kakiku lagi di rumah mewah ini. Dua belas tahun ku tinggalkan, banyak yang berubah.

Waran cat, penataan taman, letak garasi. Semuanya seperti baru ku lihat kali ini.

Perlahan aku membuka pintu dan masuk menyusul Dewan.

Saat ku hampiri dia di dapur, Dewan sedang bercakap-cakap dengan seseorang.

Brian.

Mereka menatapku saat aku datang.

Aku duduk di kursi makan dan melipat tanganku diatas meja.

Brian menghampiri, dia duduk tepat disamping kananku.

"Ngapain disini? Istrimu ditinggal sendirian di rumah, nggak takut diambil orang?" Ucapku ketus.

Dia malah menyeringai senang, alis sebelah kanannya sedikit terangkat.

"Seharusnya istriku kamu, pakai kabur segala sih." Jawabnya balas mencibirku.

"Aku di usir woy, bukannya kabur. Itu dua hal yang berbeda ya, tolong dipahami." Aku tak terima dibilang kabur. Nyatanya memang Papa yang menyuruhku angkat kaki dari rumah ini.

Kurang drama apalagi coba hidupku ini?

Lulus sekolah menengah atas, bukannya kuliah malah disuruh kawin.

Ku tolak dengan tegas malah aku diusir. Papa pikir aku akan menyerah begitu saja? Cih, jangan harap. Aku juga tak sudi hidup terlalu lama dibawah tekanannya.

Dasar Papaku keras, ketemu aku yang juga keras, nggak akan pernah bisa sejalan.

Aku keluar dari rumah ini dengan gagah berani. Yang dengan yakin, pasti hidupku lebih bahagia di luar sana.

Yang ku bawa hanya baju sekoper kecil dan uang tabungan yang tak seberapa.

Sampai sekarang percuma tabungan itu ku bawa, nyatanya Papa gerak cepat membekukannya.

Benar-benar orang tua yang lalim terhadap anaknya, darah dagingnya sendiri.

Praktis hanya uang di saku yang membuatku masih tetap hidup sampai detik ini.

Dan penyebab semua ini baru ketemu setelah dua belas tahun lamanya.

Pingin banget ku tonjok muka Brian saat ini. Untung ganteng, jadi rencana nonjok pake tangan, sementara di ubah pake bibir.

Tapi aku hanya bisa mendengus kesal. Pria ini beristri, aku bisa apa? Kalah sebelum nyosor judulnya.

"Kakak nggak usah galak-galak, disini yang salah Kak Lia, bukan Kak Brian. Jangan playing victim deh." Omel Dewan.

"Kamu ada di pihak yang mana sih?" Tanyaku galak. Heran, yang Kakaknya yang mana sebenarnya.

Dewan nyengir, "mana aja yang penting nguntungin. Hehehe..."

"Sekarang bukan saatnya ribut soal siapa yang salah dan benar. Apa pengacara keluarga ini sudah menghubungi kalian?" Brian menatapku dan Dewan bergantian.

"Tadi ketemu di pemakaman, Om Hotmarito bilang akan kesini saat pengajian habis magrib."

"Mengingat bagaimana kiprah bapak kalian, sebagai penerus sebaiknya kalian berhati-hati. Mudah-mudahan tidak ada yang ganjil dengan harta peninggalan mendiang."

"Sudah pasti banyak keganjilan, Papaku ambisius dan licik. Dia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau." Kataku sinis.

"Dewan, kamu harus siap-siap membersihkan harta Papa, semua ini sudah pasti jatuh ke tanganmu." Lanjutku lagi sambil menyesap Vape.

Aku sudah yakin, namaku pasti sudah dicoret dari daftar penerima warisan sejak aku jadi pembangkang. Aku tak masalah, malah lebih baik seperti itu.

Wajah Dewan tampak murung. Serasa beban berat tiba-tiba disampirkan di pundaknya yang masih belia.

Ia masih kuliah semester akhir. Masih ingin nongkrong bareng temen-temennya di cafe, masih ingin pacaran, masih ingin traveling menjelajahi tempat-tempat asyik di negeri ini.

Aku paham apa yang Dewan rasakan.

Brian menepuk bahu Dewan, "jangan pesimis dulu. Kita tidak bisa percaya begitu saja pada spekulasi orang yang sudah pernah meleset memprediksi sesuatu sebelumnya."

Dia jelas menyindirku.

Dewan yang sedang banyak pikiran cuma bengong mendengar petuah Brian.

Aku diam saja, sedang tak ingin berdebat, aku lelah. Ku lirik jam tanganku, masih ada waktu lumayan lama untuk istirahat sebelum acara pengajian dimulai.

Haruskah aku ke kamarku?

Kamar yang dulu ku tempati delapan belas tahun lamanya? Aku tak yakin.

Tapi jika harus pulang ke apartemen, akan sangat memakan waktu, belum macetnya. Tubuhku sudah lelah, benar-benar merindukan kasur.

Dan lagi kasihan Dewan, di rumah ini hanya bersama para asisten rumah tangga. Meski jumlahnya sepuluh orang dan sudah mengabdi pada bapakku sejak lama, tapi tetap saja aku tak tega.

Sudah tak ada Mama, jadi aku yang seharusnya menjaga Dewan.

Aku beranjak dari duduk dan melangkah menuju tangga, menuju kamarku.

Ku tinggalkan Brian dan Dewan yang masih sibuk kasak kusuk di meja dapur.

***

Terpopuler

Comments

Ersa

Ersa

🌹🌹🌹🌹

2023-11-03

0

Afternoon Honey

Afternoon Honey

ngopi dulu biar semangat bacanya ☕

2023-11-03

4

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!